Berpikir Cara Buddhis KAYA atau MISKIN Oleh: Siwu
Siapa di antara kita yang gak pingin kaya? Hampir semua orang milih kaya daripada miskin, tetapi apa benar kaya lebih baik daripada miskin? Bicara soal kaya, yang muncul dalam benak kita adalah rumah yang megah, villa yang indah, mobil yang mewah, perusahaan yang besar dan lain sebagainya. Kalau menginginkan semua ini, berarti kita tergolong manusia pengejar harta duniawi. Ya, kaya secara duniawi bukan sesuatu yang salah kalau kita memperolehnya dengan cara yang benar. Sebaliknya, kalau bicara soal miskin, … jangan bicara yang satu ini ah, yakin tidak akan ada yang mau mendengar. Inilah fenomena dunia, semua mencari kekayaan, semua menjauhi kemiskinan. Kaya itu adalah sesuatu yang menyenangkan, karena itu banyak dicari orang. Tetapi, sekali lagi, apa benar kaya lebih baik daripada miskin? Antara kaya yang menyenangkan dan miskin yang tidak menyenangkan, mari kita bicarakan yang tidak menyenangkan lebih dahulu. Miskin membuat kita akrab dengan lapar, dingin, kurang gizi, penyakit dan semua hal tidak menyenangkan yang bersifat jamani. Tetapi penderitaan jasmaniah ini ternyata tidak hanya berhenti di sini saja, masih berlanjut dengan berjangkitnya wabah penyakit batiniah, dari yang paling rendah kadarnya yakni rendah diri hingga meningkat menjadi kebencian, bahkan hilangnya moralitas yang berganti dengan perbuatan buruk seperti mencuri, merampok dan membunuh. Kita tahu, miskin adalah buah dari perbuatan buruk yang pernah kita lakukan, jadi kalau sesuatu yang sudah buruk di masa lalu ditambah lagi dengan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini, wah jadi buruk kuadrat nih. Tidak perlu dikomentari lagi, sesuatu yang semula sudah buruk itu menjadi lebih buruk lagi. Entah mengerti atau tidak sumber penyebab kemiskinan, yang pasti kebanyakan orang tak ingin akrab dengan kemiskinan. Bila banyak yang tidak mau, berarti kemiskinan itu akan semakin berkurang di muka bumi ini. Secara jasmaniah kemiskinan memang tampak semakin berkurang di bumi yang bundar ini, tetapi apakah secara batiniah juga berkurang? Orang yang pedoman hidupnya hanya mengejar kekayaan, dia akan rela mengorbankan segalanya demi mendapatkan kekayaan itu. Ternyata kesehatan, keluarga, persahabatan dan bahkan moralitas dipandang tak sepadan dan patut dikorbankan demi yang namanya harta kekayaan. Bukan itu saja, mereka yang sudah kaya masih merasa kurang kaya. Demi rasa gengsi dan keangkuhan, mereka terus mengejar kekayaan, bila perlu menghalalkan segala macam cara. Akibatnya, kekayaan yang seharusnya menunjang peningkatan kualitas kehidupan justru membangkitkan sisi buruk batiniah manusia. Untuk menjadi kaya, mereka melakukan hal-hal yang tidak bermoral, penjelasan mereka hanya satu: bagaimana bisa menjadi kaya kalau tidak dengan cara demikian? Jadi perbuatan amoral itu hanya merupakan sarana untuk menjadi kaya. Tetapi lucunya, setelah kaya perbuatan amoral itu justru semakin menjadi-jadi. Jadi tidak benar kalau dibilang amoral adalah sarana. Buddha menjelaskan perbuatan amoral yang kita lakukan adalah buah dari tiga racun atau tiga akar kejahatan, yakni keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Sungguh sayang, kekayaan yang seharusnya merupakan hal yang baik justru berbalik menjadi bumerang akibat perbuatan tiga dalang akar kejahatan. Ternyata bumerang itu tidak hanya ada di Afrika. Jelasnya, yang miskin tak tahan godaan untuk menjadi kaya dan yang sudah kaya tak tahan untuk menjadi lebih kaya, kemudian mereka melakukan perbuatan amoral untuk mengejar kekayaan itu. Setelah kaya, orang-orang yang tak tahan godaan ini menikmati kekayaan itu dengan cara amoral pula. Jadi, baik yang miskin ataupun yang kaya, ujung-ujungnya banyak yang berbuat amoral. Apa sih sebenarnya amoral itu? Mungkin kita bisa mencari arti kata ini di dalam kamus, tetapi tak perlu repot-repot membuka kamus. Menurut pemahaman Buddhis, amoral adalah perbuatan secara tindakan jasmani, ucapan atau pikiran yang merugikan orang lain, yang pada akhirnya juga akan merugikan diri sendiri, entah disadari atau tidak oleh si pelaku amoral ini. Hidup ini sudah cukup melelahkan, kita lahir dengan rasa tidak nyaman yang luar biasa. Lingkungan di luar kandungan ibu bukan sesuatu yang nyaman dibanding saat berada dalam kandungan. Sayang kita tidak bisa mengingatnya sehingga mungkin ada yang berpendapat bahwa ungkapan penderitaan kelahiran ini hanya mengada-ada saja. Tidak apa, kita lanjutkan terus pembicaraan ini. Setelah lahir, kalau kita bisa bertahan dari penderitaan cengkeraman kehidupan dunia ini, maka kita berangsur-angsur tumbuh dewasa. Kita harus menuntut ilmu, belajar segala macam ketrampilan dan tentu saja semua itu untuk menjamin agar perut kita selalu terisi dan tubuh ini terawat dengan baik. Setelah beranjak dewasa, mulai lirik ke sana ke mari berebut mencari pasangan, bersaing dalam pekerjaan ataupun bisnis. Ini semua bukan hal yang datang dengan sendirinya, memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perjuangan yang tidak mudah ini kenapa masih harus ditambah lagi ketidakmudahannya dengan perbuatan amoral kita terhadap orang lain? Jadi pertanyaannya, kenapa berbuat amoral? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya sudah kita diskusikan sebelumnya, yakni semua ini terjadi karena kita selalu merasa tidak cukup, semua ini karena kita tidak senang melihat kebahagiaan orang lain, semua ini karena belenggu kebodohan kita sendiri. Buddhisme tidak anti pada kekayaan, juga tidak menganjurkan kemiskinan. Para Buddha menekankan pada ajaran “memberi manfaat bagi kebahagiaan semua makhluk”. Jadi demi memberi manfaat bagi semua makhluk, sebagai siswa umat perumah tangga, kita jangan berhenti dalam kemiskinan. Harta kekayaan dapat juga digunakan untuk meringankan penderitaan makhluk lain, jadi apa salahnya kalau menjadi kaya, asal kekayaan itu diperoleh dan dipergunakan dengan cara yang bermoral. Bicara begitu panjang lebar masih belum menjawab pertanyaan: apa benar kaya lebih baik daripada miskin? Bicara begitu panjang lebar sebenarnya sudah menjawab pertanyaan tersebut, hanya jawabannya masih tersirat. Untuk lebih jelasnya, kaya atau miskin itu merupakan buah dari benih perbuatan kehidupan masa lalu dan perbuatan masa sekarang. Sedang benih dan buah itu merupakan hubungan yang berbanding lurus. Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik, pun benih yang buruk akan mendatangkan buah yang buruk. Dengan kata lain, kalau ingin kaya maka tanamlah benih yang menghasilkan kekayaan yakni berdana serta jangan lupa memupukinya dengan usaha keras. Kalau menanam benih kikir serta malas berusaha, jangan membenci siapapun kalau kemudian kita selalu didatangi oleh kemiskinan. Intermezzo, ada seorang gadis kecil dari keluarga tidak begitu mampu yang ingin ikut kegiatan berdana bagi fakir miskin yang diadakan oleh sekolahnya. Orang tua gadis kecil ini tidak mendukung, hingga kerabat mereka berkata, “Kalau tidak mendukungnya berdana hanya karena alasan diri sendiri juga miskin, maka dia selamanya akan bermental sebagai orang miskin yang tidak akan pernah berusaha membantu meringankan penderitaan sesama. Kita boleh miskin, tetapi jangan membuat generasi penerus menjadi generasi bermental miskin dan kikir.” Bodhisattva tekun meningkatkan kewaspadaaan mempertahankan kemurnian benih perbuatan (jasmani, ucapan, pikiran), sedang makhluk awam mati-matian berusaha memanipulasi buah yang dipanennya. Yang satu dari awal mencegah terjadinya kebakaran, yang satu lagi hanya berusaha memadamkan api yang telah membakar. Yang mencegah memfokuskan diri pada perbuatan moral sehingga benih api yang buruk tak pernah muncul, sedang yang memadamkan justru menambah besarnya api dengan perbuatan amoral mereka. Jadi dalam pandangan Buddhis, yang penting bukan pada persoalan kaya atau miskin, melainkan adakah kita memiliki pemahaman yang benar mengenai dari mana datangnya kekayaan dan kemiskinan itu. Dengan adanya pemahaman dan penerapan yang benar ini maka kemiskinan tidak akan mampu membelenggu kita lagi, perbuatan berdana dan bermoral yang kita lakukan akan membebaskan kita dari kemiskinan duniawi. Kekayaan pun tidak akan mampu lagi menjerumuskan kita. Tidak akan ada lagi fire fighter yang justru menambah besarnya kobaran api, bumerang batiniah juga dengan sendirinya lenyap dari kehidupan kita. Ada yang mengatakan, seorang kaya yang bermental rendah adalah seorang miskin, sedang orang miskin yang bermoral adalah orang kaya. Selangkah lebih maju lagi, bagi yang telah benar-benar memahami ajaran mulia Buddha, maka dalam pandangan mereka tak ada lagi kaya ataupun miskin, yang ada hanyalah: bagaimana membahagiakan semua makhluk, baik secara jasmaniah ataupun batiniah. Bagi seorang Bodhisattva pemula, bukan sesuatu hal yang mudah untuk dapat memiliki pandangan yang tidak lagi terikat pada kaya dan miskin, tetapi dua renungan berikut ini mungkin dapat membantu. Saat miskin, renungkan: mengapa kita miskin? Saat mengejar kekayaan ataupun dalam kecukupan, renungkan: apa yang dapat dilakukan dengan kekayaan itu? Sumber: Sinar Dharma 11 Kathina 2549BE/2005 DISCLAIMER : The information contained in this communication (including any attachments) is priveleged and confidential, and may be legally exempt from disclosure under applicable law. It is intended only for the specific purpose of being used by the individual or entity to whom it is addressed. If you are not the addressee indicated in this message (or are responsible for delivery of the message to such person), you must not disclose, disseminate, distribute, deliver, copy, circulate, rely on or use any of the information contained in this transmission. We apologize if you have received this communication in error; kindly inform the sender accordingly. Please also ensure that this original message and any record of it is permanently deleted from your computer system. We do not give or endorse any opinions, conclusions and other information in this message that do not relate to our official business. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
