Fenomena Dhamma                                              (Untuk Kalangan 
sendiri)                           
                        


Seorang bhikkhu yang bodoh mengharapkan : “ Menonjol
diantara para bhikkhu, menjadi pemimpin di Wihara,
disambut, disanjung dan di Dewa-dewakan oleh umat “

                                        Sabda Buddha dalam 
                                Dhammapada: 73. Bab. Orang Dungu.


Etika menulis & menerbitkan buku                      


Etika 

Apakah artinya Etika? 
Etika artinya moralitas atau prilaku yang baik dan
pantas-patut, secara luasnya ialah tata-kerama,
tata-tertib, displin-aturan, sopan-santun, mau
menghormati orang lain, tunduk dan patuh pada
hukum-aturan pemerintah, juga aturan di masyarakat dan
adat, sungguh banyak pengertiannya.
        Kalau mau jujur dan seandainya tidak lupa, sebenarnya
Etika ini sudah diajarkan oleh orang-tua kepada
anaknya sejak baru lahir, coba diingat kembali
bagaimana ketika seorang bayi baru lahir? Meskipun
masih merah dan berlumuran darah dan air tuban, bayi
itu dimandikan agar bersih dari segala kotoran,
setelah bersih lalu di bungkus dengan kain bernama
popok, tangan dan kakinya di bungkus.
        Pekerjaan tersebut tentu ada maksudnya, yakni selain
bersih-aman dan sehat juga ada satu bentuk etika, yang
tujuannya ialah agar tubuhnya tertutup rapih oleh kain
popok, hingga tidak telanjang bulat memalukan jika
dilihat, juga kelihatan sopan, tertib, inilah alasan
yang dipakai hingga bisa disebut sebagai Etika.
        Dari hari ke hari orang tuanya selalu memberikan
perhatian penuh terhadap anaknya, baik secara jasmani
maupun batin (moralitas), disamping menyusui langsung
atau tidak, dengan kasih sayangnya kepada anaknya,
seorang ibu juga mendidik, menuntun, mengarahkan dan
menasihati anaknya apa yang baik dan buruk, apa yang
boleh diambil dan digunakan maupun yang tidak.
        Secara sadar atau tidak, terutama ibu telah
mengajarkan Etika kepada anaknya, kecuali ibunya
‘gila’ atau sakit parah dan lain-lain.
        Hingga cukup umur anaknya mulai dimasukkan sekolah,
hal ini tentu juga ada maksudnya, disamping anak itu
agar memperoleh ilmu pengetahuan tapi juga agar anak
itu mendapat tambahan pendidikan moralitas atau etika,
yang akhirnya kelak anak itu bisa diharapkan menjadi
orang yang berguna baik bagi dirinya sendiri maupun
orang tua, juga masyarakat dan Negara. Mampu
memberikan sumbangan yang berarti bagi keseluruhan,
terutama sekali tidak merusak dan mencemarkan nama
baik orang tua, dengan prilaku yang bertentangan
dengan hukum Negara dan masyarakat atau adat, yang
akibatnya merugikan drinya sendiri dan orang tua,
serta kelompok.
        Kemudian setelah sekolah hingga dapat gelar misalkan,
tentunya anak itu telah memiliki bekal pendidikan ilmu
pengetahuan dan etika, jadi sungguh lengkap, lalu
untuk apakah semua itu?
        Sudah pasti bekalnya amat berguna dalam lingkup hidup
bermasyarakat, karena jika seseorang yang bergaul
dimasyarakat tidak beretika berarti tidak tahu diri
alias seperti orang primitive, bagaimanapun hidup
bermasyarakat meskipun tidak berpendidikan tinggi
dapat gelar, namun jika tahu etika dan beretika dalam
bermasyarakat, niscaya orang itu akan dihargai,
dihormati bahkan jadi contoh suri tauladan yang baik
bagi yang lain, inilah salah satu keuntungannya jika
orang beretika (bermoral). Namun sebaliknya kalau
orang itu tidak beretika (bermoral) maka sudah pasti
dikecam, dicela, terhina, tidak dihargai dan tidak
dihormati, meskipun orangnya berpendidikan tinggi,
bergelar akademik dan memiliki kekayaan berlimpah,
apalagi jika kurang pendidikannya.
        Kehidupan menusia sudah turun-temurun sejak zaman
dulu menggunakan etika, sebagai sarana berhubungan
antar sesamanya, mulai di rumahnya sendiri hingga
keluar dan di manapun dia berada, etika selalu harus
di gunakan, jika tidak maka akan di lecehkan, ini
sudah hukum masyarakat yang sudah demikian adanya.

Etika menulis    
                               
Apakah menulis juga ada etikanya?
        Etika menulis secara sederhana ialah paragraph
tulisan, misalnya harus tahu menggunakan titik, koma,
tanda-tanda baca, kata pembuka, kata penutup, lalu isi
tulisan dan rangkaian kalimatnya yang baik dan
teratur, enak dibaca, mudah dipahami, dapat dimengerti
oleh para pembacanya.
        Demikianpula, jika mau menerjemahkan buku dari bahasa
asing, baik dari bahasa inggris, jerman, belanda,
china, atau thailand, sebaiknya memperhatikan tentang
Etika apalagi menerjemahkan karya orang lain, harus
lebih hati-hati, cermat, dan bertanggung jawab atas
hasilnya nanti, artinya tidak asal-asalan.  
        Selain itu, tulisan dan isinya jelas, ada buktinya
dan bisa dibuktikan, tidak asal nulis tanpa ada bukti
yang berdasar dan dapat diterima oleh pembaca, artinya
tulisan itu tidak boleh bohong, ngawur tidak berdasar,
karena bisa berakibat fatal bagi kehidupan
bermasyarakat, merugikan orang lain dan akhirnya boleh
jadi meresahkan, kacau balau, berbahaya.
        Sebaliknya, jika tulisan itu jelas ada buktinya, bisa
dipertanggung-jawabkan, maka tulisan tersebut memiliki
kekuatan hukum tetap, artinya kebenaran dan hal ini
pasti akan mendapatkan dukungan, baik dari masyarkat
pembaca, juga dari penegak hukum atau pemerintah 
        Dari segi peraturan dan hukum jika tulisan itu milik
orang lain, paling tidak harus dijelaskan bahwa
tulisan itu sumbernya dari mana siapa penulisnya,
misalkan judulnya apa dan oleh siapa penulis pertama,
hal ini harus disertakan baik diawal lembaran halaman
ataupun dibagian belakang, apa maksudnya?
        Maksudnya tidak lain ialah agar penulis tidak disebut
melanggar hukum etika menulis, selanjutnya para
pembaca akan memahami dan menilai isi tulisan serta
etika menulisnya, hal ini untuk menjaga agar tidak
terjadi tuntutan secara hukum dari penulis pertama
yang memiliki hak cipta, maka tulisan tersebut akan
lebih dihargai dan dihormati bahkan menjadi contoh
suri tauladan yang amat baik dan berguna. 
        Meskipun seandainya penulis pertama tidak menuntut
secara hukum, jika menulis atau menyususun atau
menerjemahkan buku tidak menjelaskan atau tidak
disertakan dalam buku itu apa judul asli, siapa
penulis asli dll.
namun tetap secara etika menulis hal ini sudah
melanggar dan mengabaikan etika menulis, maka para
pembacanya akan memahami dan menilainya sangat rendah
dan hina terhadap tulisan itu, seakan tulisan tersebut
tidak berguna, boleh jadi tidak dihargai sebagai karya
yang baik dan berguna, sesuai hukum karmanya.  
        Apalagi kalau tulisannya melarang orang lain
menjiplak, mencetak ulang tanpa seijin penerbit,
sedangkan tulisannya sendiri hasil menjiplak tanpa
mencantumkan penulisnya yang pertama, betapa
sembrononya, sunguh tak tahu diri manusia seperti itu.
        Dengan demikian, akhirnya orang akan berpikir
alangkah sia-sianya orang tua merawat, mendidik,
membesarkan hingga sekolah tinggi-tinggi dapat gelar,
tetapi tak tahu diri, tidak beretika (bermoral), maka
rusaklah nama baik orang tua, guru, apalagi jika orang
itu seorang rohaniwan Buddha, pasti akan ditanya
siapakah gurunya?.
        Wah, sangat memalukan menurut pandangan umum yang
beretika (bermoral), karena untuk apa dapat gelar itu?
Dan apa gunanya jadi rohaniwan Buddha? Kalau tidak
beretika (bermoral), sedangkan yang berpendidikan
rendah tak bergelar saja tahu dan mengerti, kenapa
orang sudah sekolah jauh-jauh dapat gelar dan sudah
jadi rohaniwan Buddha tapi masih sembrono begitu,
keterlaluan.
        Saya menulis hal ini untuk mengingatkan demi
kebaikkan bersama, bukan untuk tujuan jahat, tapi
dengan alasan karena sudah sangat banyak buku Dhamma
yang tidak memenuhi aturan disiplin etika menulis,
sedangkan yang menulisnya itu adalah orang
berpendidikan tinggi dan bergelar lagi, lalu ada juga
tokoh agama, tokoh masyarakat, apalagi yang kurang
berpendidikan.
        Meskipun saya berpendidikan rendah tak bergelar,
namun saya terpanggil untuk membahas hal ini bersama
sesama umat Buddha, karena saya punya rasa
tanggung-jawab secara moral akan hal ini, sekaligus
menyangkut ajaran Buddha yang selayaknya kita
tegakkan, kita jaga seutuhnya bersama-sama, sebab
kalau terus dibiarkan, alangkah sedihnya melihat
ajaran Buddha yang begitu ‘Agung dan Sempurna’, lalu
tiba-tiba menjadi semrawut, teu pararuguh kitu, tidak
karuan, padahal yang menulis itu adalah mereka yang
teori Dhammanya sudah setinggi langit istilahnya.

Bersambung........1/4

Oleh: Bhikkhu Sudhammocaro Thera
Bila ada komentar atas tulisan ini akan dikumpulkan
terlebih dahulu, dan kemudian diserahkan ke Bhante
untuk dijawab di posting berikutnya.



                
__________________________________________ 
Yahoo! DSL – Something to write home about. 
Just $16.99/mo. or less. 
dsl.yahoo.com 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke