Mengenai Editor   

Apakah artinya Editor dan apa fungsinya?
        Editor artinya orang yang bertugas dan beranggung
jawab untuk meneliti, menilai lalu memperbaiki isi
tulisan yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku,
baik itu buku Dhamma, buku agama, buku majalah juga
buku umum. Hal ini juga tentunya ada maksudnya, yaitu
agar tulisan yang akan diterbitkan akan lebih baik,
sempurna juga berbobot, yang akhirnya tulisan itu
dapat berguna memberikan manfaat bagi banyak orang
yang membacanya, hingga tulisan itu akan dikenang dan
dihargai, dihormati bahkan dipuja serta diagungkan,
dikeramatkan, seperti halnya buku Tipitaka, buku
Alkitab-Injil, buku Al Qur’an.
        Namun, sayang sekali bagi buku Dhamma yang sering
saya baca dan teliti, ternyata begitu banyaknya buku
Dhamma ada editor, tapi isinya tidak di edit secara
benar dan teliti, bahkan yang amat menyedihkan tidak
di edit sama sekali, nama editor hanya sebagai lambang
kepercayaan untuk simbul, agar buku itu dihargai,
disukai, digemari juga banyak yang mau berdana secara
komersil, sungguh memprihatinkan gaya kampungan yang
bodoh dan dungu seperti itu.
        Kadang saya tak habis pikir, mengapa hingga sehina
itu prilaku manusia yang berpendidikan, bergelar dan
pandai Dhammanya hingga terkenal kemana-mana, tapi
masih saja mau dikelabui, atau ada unsur lainnya, saya
tak mengerti. 
        Kelalaian seorang editor yang tidak serius mengedit,
memeriksa, meneliti dan memperbaiki sebuah tulisan
yang akan diterbitkan sungguh amat berbahaya, satu
contoh buku Dhammapada Atthakatha yang diterbitkan
Vidyasena Yogyakarta, disitu ada kata sambutan dari
Bhante Panyawaro, tapi dibagian bawah kata penutup dan
tanda-tangannya ternyata ditulis “Maha Sangha Nayaka”,
yang seharusnya “Maha Nayaka”, hanya karena tulisan
yang sedikit salah itu saja akibatnya fatal, hingga
menimbulkan perguncingan di kalangan anggota Sanggha
Therawada Indonesia ketika pesamuhan (rapat) mulai  di
wihara Dhammasoka Banjarmasin bulan Juni 2003, lalu
berlanjut ke  wihara Dhammacakkajaya jakarta bulan
Juni 2004. 
Yang akhirnya Bhante Panyawaro harus menerima
kekalahan dalam perdebatan sengit dengan para bhikkhu
muda, agar dengan rela hati Bhante Panyawaro sudi
“Lengser” dari Jabatannya yakni ‘Maha Nayaka’, suka
atau tidak dan amat menyakitkan memang, bagaikan buah
simalakama, bisa dibayangkan selama 25 tahun merintis,
membina, memajukan dan mempertahankan Sanggha
Therawada Indonesia, namun akhirnya harus menelan pil
pahit dari anak buahnya sendiri, semua itu tidak lain
hanyalah kesalahan kecil dari kelalaian seorang
editor. 
Tidak berhenti sampai disitu akibat kelalaian seorang
editor, nyatanya sejak saat Bhante Panyawaro turun
tahta, bukan sedikit para pendukungnya protes baik
melalui surat yang ditujukan ke kantor  sekertariat
Sanggha, maupun melalui email di internet, perdebatan
panjang antara pendukung dan yang kontra terus
berlanjut demi mempertahankan argument, yang
sebenarnya tak perlu terjadi andai saja salah satu
pihak mau menerimanya, bahwa setiap orang bagaimanapun
juga tetap masih memiliki banyak kekurangan, sebelum
ia mencapai tingkat kesucian tertinggi Arahat.
Maka, mulailah kelihatan gep atau pemisah diantara
yang berseteru, rupanya kisah tersebut akan masih
panjang entah sampai kapan? Yang jelas akhirnya banyak
bhikkhu senior meninggalkan atau lepas tanggung
jawabnya baik sebagai anggota Sanggha Therawada
Indonesia maupun kedudukkannya dalam jabatan, kita
tunggu saja perkembangannya nanti, apakah kelak akan
muncul Sanggha Therawada Baru atau sebaliknya yang
nyaris …?
Termasuk tulisan inilah sebuah alasan yang ingin saya
sampaikan kepada seluruh umat, tokoh, cendikiawan,
akademika Buddhis, yang akhirnya saya tergerak menulis
artikel ini:”Etika Menulis & Menerbitkan Buku”, yang
isinya sangat perlu dicamkan, di ingat, lalu digunakan
sebagai pedoman dalam menulis dan menerbitkan sebuah
buku, paling tidak marilah kita mulai memperbaiki
kelalaian masing-masing, sekaligus menata ulang
kedepan untuk lebih baik, lebih sempurna.
Dan apa yang kita kerjakan dalam pengabdian Dhamma
hanya satu yakni demi manfaat orang banyak, demi
melestarikan Dhamma, demi kesejahteraan dan
kebahagiaan semua mkhluk, karena itulah sebenarnya
tugas kita selanjutnya, bukan terus menerus menyimpan
dedam-benci, marah dan lainnya. 
Yang meskipun seandainya kelak dikemudian hari terjadi
perpecahan yang pada titik akhirnya harus membentuk
Sanggha Therawada Baru, rasanya tak ada masalah sejauh
tujuannya murni dari pada bergabung dalam satu wadah
namun, bersengketa, tak bisa akur bahkan bertambah
runcing, terutama dampaknya terahadap umat menimbulkan
kebingungan dan meresahkan dan harus ingat bahwa jika
terus dipertahankan malah bertentangan dengan Dhamma
Winaya yakni Saraniya Dhamma.
Sebab itu, alangkah indahnya Dhamma itu jika
disampaikan dengan tujuan mulia dan ‘Tanpa Pamrih
Apapun’ ya...kan, perguncingan, perseteruan,
perpecahan, pertengkaran, hingga peperangan adalah
buah dari “Pamrih-apapun bentuknya”. Semua yang saya
sampaikan adalah ada buktinya!
Kalau mau lebih mudah menerimanya ialah bahwa semua
apapun yang terjadi tidak lain akibat “Hukum
Karmanya”, udah rebes, namun sayangnya tidak semudah
itu untuk menerima kenyataan.   
        
Kaidah bahasa Dhamma
      
Apakah artinya kaidah bahasa Dhamma?
        Kaidah bahasa Dhamma ialah tulisan yang berbahasa
Dhamma, bahasa itu antara lain ada bahasa tulisan,
bahasa percakapan, bahasa umum dan bahasa agama atau
Dhamma, menurut kita yang beragama Buddha. Yang kita
tahu di Indonesia ada 5 agama yakni Islam, Katholik,
Kristen, Hindu dan Buddha.
        Tentunya bagi para pembaca dan penulis buku, pasti
tahu dan mengerti, mana bahasa yang pantas-layak dan
sesuai bila digunakan dalam bahasa agama kita yaitu
bahasa Dhamma, dengan istilah yang sering digunakan
dan mana bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa agama
kita Buddha yakni Dhamma.
        Diantara para penulis buku agama pasti tahu dan
mengerti hal itu, dan tak mungkin akan keliru
menggunakan istilah bahasa agamanya masing-masing,
misalnya umat Kriten dan Katholik biasa menggunakan
istilah bahasanya ‘ Tuhan,  Bapa, anak Allah, Yesus
Kristus, kitab suci, roh suci, jiwa, gembala,
penyelamat, pengampunan dosa, diangkat ke surga, misa,
kudus dll’. Umat Islam biasa menggunakan istilah
bahasanya seperti ‘Allah, Nabi, Muhamad, Alhamdulilah,
Bismilah, Astagfirloh Al’ ajim, sunah, ramadhan, idul’
fitri, serambi mekah, mekah tanah suci, kitab suci,
jiwa, pengampunan dosa, dll’.
        Demikian pula umat Buddha biasa menggunakan istilah
bahasa Dhamma misalnya Buddha, Dhamma, Sanggha, batin,
panyca khandha, kesadaran, pencerapan, anicca, dukkha,
anatta, tingkat kesucian, sotapatti, sakadagami,
anagami, arahat, Nibbana, khanti, dst…
        Tapi jangan salah menggunakan istilah bahasa Dhamma
yang sekiranya tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Dhamma, seperti contohnya ‘kitab suci’, ‘paritta
suci’, jiwa, dst…Alasannya ialah kita harus dapat
membedakan objek dan subjek, mana bahasa untuk objek
dan mana bahasa untuk subjek.
        Ambil contoh tadi seperti ‘kitab suci’ dan ‘paritta
suci’, coba renungkan dan pikirkan baik-baik, secara
cermat dan benar, apakah kitab itu bisa mencapai
kesucian, dan apakah paritta itu bisa mencapai tingkat
kesucian? Tentu tidak kan.
        Lalu apakah yang dapat mencapai tingkat kesucian itu?
Tentunya batin kan, bukan kitab atau buku atau
parittanya. Batin yang dapat mencapai tingkat kesucian
berarti ini adalah subjek, dan kitab atau buku adalah
benda mati yang tak dapat mencapai tingkat kesucian
berarti objek, kan begitu.
        Namun, mengapa ada judul buku ‘Paritta Suci’ dan
‘Kitab Suci Udana’ ‘Kitab Suci Majjhima Nikaya’ ?
dst…’. Inilah sebabnya saya yang bodoh ini ingin
berbagi kesedihan dan keprihatinan nilai-nilai istilah
kaidah bahasa Dhamma, yang sudah sangat merisaukan
kita yang berakibat fatal kepada regenerasi yang akan
datang, lalu apa jawabnya nanti kelak dikemudian hari
jika seandainya, anak-cucu kita menanyakan hal itu
kepada kita yang sudah mendapat gelar akademik dan
mengantongi bermacam gelar kehormatan dari sesepuhnya
tapi buktinya seperti itu, cobalah renungkan dan
pikirkan secara benar dan cermat, lalu perbaiki.

Bersambung........2/4

Oleh: Bhikkhu Sudhammocaro Thera
Bila ada komentar atas tulisan ini akan dikumpulkan
terlebih dahulu, dan kemudian diserahkan ke Bhante
untuk dijawab di posting berikutnya.



                
__________________________________________ 
Yahoo! DSL – Something to write home about. 
Just $16.99/mo. or less. 
dsl.yahoo.com 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke