Menerbitkan buku secara benar
Apakah artinya menerbitkan buku?
Menerbitkan buku artinya ialah mula-mula menulis
atikel lalu disusun, ada juga menerjemahkan buku dari
bahasa lain ke dalam bahasa kita Indonesia, lalu
disusun dengan baik dan benar, terus di edit oleh
editor kalau ada, setelah cukup sempurna dan selesai,
barulah di seting atau dibuat seukuran buku yang kita
mau, bisa juga ditambah dengan foto-foto untuk
menambah semarak agar lebih menarik, ketika semuanya
telah rapung baru masuk percetakan dan di cetak
menjadi sebuah buku yang siap di baca dan di bagikan
atau di jual.
Menerbitkan buku bisa dikatakan mudah juga sulit,
artinya mudah kalau bahan tulisannya sudah siap
rampung isinya baik dan menarik di baca, lalu dananya
cukup dan mudah di dapat, maka menerbitkan buku itu
mudah, namun jika sebaliknya, maka menerbitkan buku
itu sulit, bahkan tidak begitu mudah.
Bagi saya dari Penerbit Sri Manggala untuk bisa
menerbitkan buku Dhamma, harus menunggu dulu bantuan
dana dari para donatur yang berhati mulia, sebab saya
belum cukup kuat memiliki dana untuk menerbitkan
langsung, kadang dana dari hasil Kathina dll yang
langsung saya terima sebenarnya bukan untuk dana buku
terpaksa saya pakai, semua ini saya lakukan demi
menerbitkan buku Dhamma dan hasrat untuk menyebarkan
serta melestarikannya.
Karena itu saya sangat berterima kasih sekali atas
segala bantuan para donatur yang setia untuk bersama
meneruskan misi yang mulia ini, tak lupa saya doakan
semoga kebajikan yang tulus itu akan segera berbuah
dalam bentuk kehidupan yang damai, aman tenang dan
bahagia bersama keluarganya.
Tetapi ada juga yang sangat mudahnya menerbitkan buku,
karena dananya sudah ada dan mudah di dapatkan, juga
naskahnya sudah ada hanya tinggal di perbaiki dan
disempurnakan, cuma sayangnya sembarangan atau
sembrono, tanpa konsultasi dengan yang lain,
menganggap dirinya paling pinter yang lain bodoh,
padahal setelah terbit ternyata kecele, sebab
menimbulkan masalah.
Apalagi banyak buku Dhammadi dalamnya tidak terdapat
susunan misalnya judul aslinya apa dan siapa penulis
aslinya, siapa editornya, pinata letak & gambar
sampul, siapa yang bertanggung jawab? Jadi kalau di
kaji dan di nilai secara umum buku itu banyak
melanggar, baik secara etika menulis maupun secara
etika menerbitkan sebuah buku yang baik dan benar.
Meskipun buku itu tidak ada yang berkeberatan atau
menuntut secara hukum, namun kerjaan sepeti itu sudah
salah besar dan sembrono, sepertinya tidak beretika,
kelak akan membawa pengaruh yang akhirnya kurang
berguna atau tak memberi manfaat bagi pembacanya,
bahkan boleh jadi merugikan dan membingungkan, kacau.
Dari sekian banyaknya kesalahan dan kekurangan para
penulis buku Dhamma, masih ada lagi misalnya seperti
tulisan bahasa pali, yang kita tahu bahwa bahasa pali
itu ada tandanya untuk menunjukkan cara membacanya.
Saya dapati banyak sekali buku Dhamma yang menggunakan
bahasa pali tetapi tidak diberi tandanya, sehingga
bukan saja salah justru malah membingungkan dan kacau
balau, misalnya panna bahasa pali yang ada tanda
cacing diatas huruf nn dibaca panya, namun tidak ada
diberi tanda palinya, juga nana dibaca nyana, sangha
ada titik diatas huruf n dibaca sanggha, panca ada
tanda cacing diatas n dibaca panyca dan masih banyak
lagi.
Secara sepintas memang tidak nampak jelas kalau tidak
di perhatikan secara cermat, tapi cobalah mulai saat
ini para pembaca buku Dhamma agar lebih perhatian dan
meneliti dengan seksama, lalu berikan kritik dan
koreksi sampaikan kepada alamat penerbitnya, agar
dikemudian hari dapat lebih disempurnakan, semua
kritikan tidak bisa disalahkan, apalagi kini sudah
zaman keterbukaan, justru kritikan adalah harus
dihargai, karena tanpa kritikan kerjaan apapun tak
akan dapat berkembang maju, alasannya orang lainlah
yang bisa menilai hasil satu pekerjaan, baik atau
buruk, maka berterima kasihlah kepada pihak yang suka
kritik bukan sebaliknya.
Kritik itu berguna dan bagai cermin
Kritik itu sangat berguna selain memberi masukkan demi
perbaikkan kritik juga bagaikan cermin diri, artinya
kita tak akan pernah tahu atau melihat muka kita
sendiri tanpa adanya cermin, siapakah orangnya di
dunia ini yang tidak pernah menggunakan cermin dalam
kehidupannya, cobalah renungkan!
Bahkan Presiden Amerika Geoge W Bush saja sering
dikritik oleh rakyatnya sendiri secara tajam sekali
bahkan gambarnya di bakar, di injak-injak, dengan
tulisan yang menghina, begitu juga di Indonesia dan di
Negara lainnya sering para demonstran membakar gambar
presiden amerika, namun orangnya tak pernah marah atau
menuntut balas, semuanya diterima sebagai alam
demokrasi yang bebas menyampaikan pendapat dan
kritikan demi perbaikkan bersama dan kemajuan.
Seandainya Presiden Amerika itu tidak terima dikritik
seperti itu, mungkin cerita menjadi lain karena
Amerika adalah Negara super power, memliki
persenjataan yang sangat canggih, sungguh amat
berbahaya.
Bulan desember 2004-2005 adalah bulan yang penuh
gejolak, coba saja kita putar kembali ingatan ke masa
lalu pada desember 2004 tanggal 26 terjadi bencana
alam gempa dan tsunami di Aceh, wartawan dan juru
kamera, relawan dan LSM dibuat sibuk bukan main, boleh
jadi kurang tidur-makan. Begitupula desember 2005 para
wartawan, juru kamera, LSM dan para relawan disibukkan
kembali dengan peristiwa kelaparan di Yahukimo yang
menelan korban nyawa 55 orang.
Peristiwa di Aceh dan di Yahukimo tentu berbeda bukan
karena besarnya jumlah korban, tetapi peristiwa di
Yahukimo jurtru para wartawan dan juru kamera dari
stasion televisi swasta malah di pukuli oleh para
pejabat setempat yang merasa dipermalukan dengan
adanya berita tersebut, seakan berita itu adalah
kritikan dengan motif-tujuan untuk menjatuhkan wibawa
para pejabat di seluruh Indonesia yang dianggap tidak
bertanggung jawab atas kejadian di Yahukimo itu.
Namun, jika kita telaah secara benar, dengan pikiran
jernih-tenang, mestinya kita berterima kasih yang tak
terhingga kepada para wartawan dan juru kamera serta
LSM, sebab, justru kerjaan wartawan, juru kamera
televisi, dan LSM itu adalah kerjaan mulia dan sangat
berharga mungkin tidak ternilai, alasannya ialah coba
saja seandainya mereka tidak mengeluarkan berita itu,
atau tidak di ekspos di televisi boleh jadi korbannya
akan terus bertambah banyak, sekaligus masyarakat
tidak akan pernah tahu bahwa di Papua itu ada
kehidupan yang amat menyedihkan, menyayat hati ketika
kita semua menyaksikan rangkaian berita gambar
kejadian di Yahukimo itu.
Bisa dibayangkan bagaimana seandainya dunia kehidupan
ini tanpa berita dan Televisi sehari saja, rasanya
cukup sepi-buta dan bodoh, secara sadar dan jujur kita
tahu berita dan peristiwa baik Nasional maupun
Internasional, adalah berkat kerja mulia para warawan,
juru kamera dan LSM, mengapa kita melecehkan mereka?
Bukan sebaliknya justru kita harus bangga, kagum dan
berterima kasih banyak, berapa biaya tenaga, waktu dan
pikiran mereka yang di tumpahkan hanya sekedar demi
keadilan, kesejahteraan dan kemajuan kita bersama,
renungkanlah dengan benar, dengan akal sehat, jangan
dengan emosi setan.
Andai saja kita mau jujur misalnya, Negara lain sudah
bisa pergi bertamsya ke Bulan, Angkasa luar (Nasa),
dapat membuat kereta api super cepat, ada stasion
kereta api bawah tanah, dan segudang kemajuan lain
yang tak cukup waktunya untuk diungkapkan semua,
namun, ternyata di Yahukmo masih banyak yang
kelaparan, berpakaian Koteka hampir telanjang,
sungguh aneh tapi nyata.
Alasanya, karena Papua adalah daerah yang memiliki
sumber daya alam tak ternilai kekayaannya, tapi
sungguh tragis dan betapa ironisnya jika penduduknya
saja masih kelaparan hingga menelan korban nyawa tidak
sedikit, kita menyaksikan fakta kehidupan di Yahukimo
melalui tayangan Televisi, sayapun tak tahan
melihatnya sampai menitikkan air mata, oh, sungguh
kasihan, andai saja dekat tempatnya rasanya saya ingin
pergi memberikan sesuatu sebagai rasa kepedulian
sesama manusia
Cobalah sejenak kita renungkan, mengapa hal itu bisa
terjadi di Yahukimo, tidak lain menurut saya adalah
karena Kelalaian kita semua, lalai sebab kita hanya
mementingkan perutnya sendiri (rakus-serakah) tanpa
peduli terhadap saudara sesama.
Dengan alasan ini sebenarnya kritikan itu sangat
berguna, bahkan bermanfaat bagi banyak orang yang
akhirnya bisa menyadarkan kita sebagai manusia yang
memang masih penuh dengan kekurangan-alpa, yang kadang
orang merasa dirinya paling benar, paling suci, paling
tinggi dari yang lain, akhirnya lupa diri siapa
sesungguhnya orang itu.
Sebaliknya, alangkah dungunya jika orang tidak mau
dikritik, bahkan balas menyerang yang mengkritik,
seperti halnya katak dalam sumur, pikirannya cupet,
sempit wawasannya, akhirnya mau benar sendiri, maunya
menang sendiri, lihai menyalahkan yang lain tapi
dirinya sendiri justru banyak kesalahan, hal ini yang
sering disebut dengan istilah pembenaran bukan
kebenaran, orang yang tidak mau dikritik berarti
sama dengan katak jadi artinya kelihatan luarnya
manusia tapi sebenarnya Katak bukan manusia secara
utuh, begitulah sesungguhnya.
Kemudian yang terakhir, yang disebut melanggar hak
cipta ialah kalau buku atau vcd, cd, lagu-lagu itu di
copy ulang lalu dijual, yang istilahnya dikomersilkan
hingga mendapatkan keuntungan, maka hal itu harus
mendapatkan ijin resmi dari pencipta karya yang
pertama, tapi sebaliknya jika buku, vcd. cd. Lagu-lagu
itu tidak dijual, tidak untuk komersil, hanya sekedar
untuk dibagikan demi manfaat orang banyak, maka
kerjaan menerjemahkan buku, mengcopy ulang vcd, cd,
lagu-lagu, tidak termasuk pelanggaran hukum, juga
tidak perlu minta ijin secara tertulis dari pencipta
karya pertamanya, hanya saja ada syaratnya ialah
paling tidak orang yang menerjemahkan dan mengcopy
ulang harus mencatumkan, nama penulis (sumbernya) dan
judul aslinya, maksudnya untuk menghargai dan
menghormati karya cipta orang lain yang sudah
jerih-payah bekerja siang-malam, inilah yang saya
sebut Etika Menulis & Menerbitkan Buku.
Bersambung........3/4
Oleh: Bhikkhu Sudhammocaro Thera
Bila ada komentar atas tulisan ini akan dikumpulkan
terlebih dahulu, dan kemudian diserahkan ke Bhante
untuk dijawab di posting berikutnya.
__________________________________________
Yahoo! DSL Something to write home about.
Just $16.99/mo. or less.
dsl.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/