Rahula Unggul Dalam Ketenangan Latihan Anak yang tidak tahu siapa ayahnya Rahula adalah anak satu-satunya dari Buddha. Sebelum Sakyamuni meninggalkan keluarga-Nya, ia menikah dengan Yasodhara yang cantik. Ayah-Nya, Raja Shuddhodana, berkata, "Kalau engkau tidak memberiku cucu untuk mewarisi kerajaan ini pada masa depan, engkau tidak boleh meninggalkan keluarga." Agar tidak mengecewakan ayah-Nya, Buddha menjadi ayah pada usia 29 tahun. Anaknya dinamakan "Rahula".
Segera setelah Rahula lahir, Buddha meninggalkan keluarga-Nya untuk mencari kebenaran, jadi Rahula tidak pernah melihat ayahnya sejak kecil. Kakek Rahula, Raja Shuddhodana memanjakannya dan ibunya sangat mencintainya. Ketika Rahula cukup umur untuk mengerti, ia sering bertanya kepada ibunya, "Ibu, bagaimanakah rupa Ayah?" "Ayahmu, Pangeran Siddhattha, adalah orang paling berani dan paling pintar di seluruh India," Yasodhara selalu menjawab seperti itu. Rahula juga sering bertanya kepada kakeknya, "Kakek, ke mana ayah pergi? Kenapa ia tidak pulang?" Raja Shuddhodana tidak begitu mengerti kenapa Pangeran Siddhattha meninggalkan keluarga untuk menemukan kebenaran. Ia hanya dapat menjawab, "Ia pergi ke pegunungan dan daerah terpencil untuk berperang dengan sakit, umur tua, dan kematian. Jika ia memenangkan pertempuran ini, kita tidak akan menderita lagi." Oleh karena itu, sejak kecil, Rahula percaya bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan pemberani. Setiap hari, ia menunggu ayahnya untuk segera pulang. Ayah Pulang Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi dan menjadi Buddha. Berita ini mencengangkan semua penduduk di seluruh India. Semua orang ikut berbahagia atas keberhasilannya. Semua orang mengungkapkan rasa hormat yang sangat kepada beliau. Buddha pergi dari suatu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan kebenaran. Tiga tahun kemudian, akhirnya Beliau pulang ke kampung halamannya, Kapilavatthu. Semua penduduk Kapilavatthu, dari Raja Shuddhodana sampai ke rakyat jelata dan para budak, penuh dengan luapan kegembiraan. Yang muda dan yang tua, beramai-ramai menyambut kedatangan Buddha. Rahula bahkan lebih gembira. Ia berdiri di tempat tertinggi di istana dan menyaksikan ayahnya dari kejauhan. Ia melihat ribuan orang berlutut di tanah untuk menghormat kepada Buddha. Orang-orang menaburkan bunga segar ke tubuh Buddha dan menyerukan perasaan sukacita dan bangga. Ketika Buddha berjalan menuju istana, Rahula bersujud dengan membaringkan tubuhnya di atas tanah, cara ini adalah bentuk penghormatan yang tertinggi dalam budaya India, seperti kita memberikan hormat dengan membungkuk sembilan puluh derajat. Buddha menyentuh Rahula dan berkata, "Nak, kamu sudah besar". Rahula berkata pada ayahnya, "Ayah, saya ingin bersamamu. Saya juga ingin menjadi bhikkhu untuk mempelajari kebenaran." "Suatu hari, kamu boleh ikut saya," Buddha berkata dengan penuh belas kasih. Samanera Pertama Buddha melihat bahwa Rahula anak yang pintar, baik hati, dan dapat menjadi anak Buddhis yang baik, sehingga Buddha meminta Moggallana untuk mencukur kepala Rahula dan meminta Sariputta menjadi guru Rahula. Rahula menjadi siswa Buddha. Dalam sejarah ajaran Buddha, ia adalah samanera pertama. Samanera adalah bhikkhu yang di bawah umur 20 tahun. Segera setelah Rahula menjadi Samanera, ibunya, Yasodhara, bersama dengan bibi Buddha, Pajapati, juga meninggalkan kehidupan keluarga dan menjadi bhikkhuni. Walaupun Rahula telah mencukur kepalanya untuk menjadi samanera, ia masih muda dan kadang nakal dan badung. Ia suka bercanda dan mengolok-olok orang lain sampai mereka bingung, sementara ia bertepuk tangan dan tertawa keras kegirangan. Ketika Buddha mengetahui hal ini, Beliau sendiri pergi mencari Rahula. Ketika Rahula melihat Buddha, ia segera menyadari bahwa ada hal yang tidak benar dan ia segera membawa sebaskom air untuk mencuci kaki Buddha. Setelah itu, Buddha berkata kepada Rahula, "Rahula, dapatkah air di baskom ini digunakan untuk minum?" "AIr ini terlalu kotor, bagaimana mungkit dapat diminum?" jawab Rahula. "Rahula, sekarang kamu seperti air ini." Buddha menatap Rahula, lalu melanjutkan, "air ini awalnya bersih, tetapi menjadi kotor setelah dipakai untuk mencuci kaki. Demikian pula, kamu juga awalnya anggota kerajaan yang akan mewarisi kerajaan. Engkau melepaskan tahta dan menjadi bhikkhu untuk memperaktikkan Dhamma. Citta-cittamu sungguh hebat! Tetapi, kamu suka bermain setiap hari. Engkau tidak mau menjadi rajin. Semua orang tidak suka melihatmu, seperti melihat air baskom berisi air kotor yang telah digunakan untuk mencuci kaki!" Setelah mendengarkan kata-kata Buddha, bagaimana Rahula tidak merasa malu pada dirinya sendiri? Sejak itu, Rahula tidak lagi nakal dan badung, Ia mengikuti ajaran Buddha dan mempraktikkannya dalam diam. Bermalam di Kakus Suatu hari, Rahula pergi mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Buddha. Ketika ia kembali, ia mendapati bahwa kamarnya telah dipakai oleh bhikkhu lain. Pada waktu itu, ada peraturan di dalam Sangha bahwa samanera muda harus menghormati bhikkhu yang lebih tua dan mengalah padanya. Rahula lalu beristirahat di bawah pohon, tetapi tidak lama kemudian, hujan turun lebat. Rahula tidak punya pilihan lain kecuali lari ke kakus untuk berteduh. Buddha memiliki kekuatan gaib. Beliau tahu tentang tekad Rahula pada waktu itu, sehingga Buddha pergi menemui Rahula pada waktu itu, sehingga Buddha pergi menemui Rahula di tengah hujan lebat. Rahula yang tidak punya siapa pun untuk bercerita, saat melihat Buddha datang ke arahnya, ia segera memeluk buddha dan menangis sedih. Buddha menenangkan Rahula, "Rahula, kamu mau mendahulukan orang lain. Latihan Dhamma kamu sudah lebih maju." Pukulan di Kepala Dalam peristiwa lain, Rahula mengukuti gurunya, Sariputta, dalam suatu perjalanan untuk mengajarkan Dhamma. Pada siang hari, mereka mengumpulkan dana makanan di pinggiran Rajagaha. Mereka bertemu seorang pembuat onar yang dengan sengaja menuangkan pasir ke mangkuk Sariputta dan memukul kepala Rahula dengan sebuah tongkat. Darah mengucur dari kepala Rahula yang terluka. Sariputta menenangkan Rahula dan berkata, "Rahula, sebagai siswa Buddha, kita harus melatih kesabaran. Kita tidak perlu marah terhadap orang yang berbuat buruk. Bahkan kita harus mengasihani mereka, karena mereka tidak tahu bahwa setiap perbuatan akan berakibat, sehingga mereka melakukan perbuatan buruk." Setelah mendengarkan Sariputta, Rahula menjadi tenang dan tidak kesal lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi sendiri ke tepi sungai dan mencuci darah di kepala dan wajahnya. Kemudian ia menggunakan sapu tangannya untuk membalut luka dan melanjutkan mengumpulkan dana dari umat, seolah-olah ia tidak terluka sama sekali. Dipuji Semua Orang Di antara para siswa Buddha, yang paling menonjol adalah Sariputta, Moggallana, Kassapa, Ananda, Punna, Kaccana, Subhuti, dan lainnya. Namun demikian, siswa yang paling muda, Rahula, tidak suka muncul di keramaian. Ia belajar Dhamma dengan tenang dan berlatih Dhamma dengan rajin. Akhirnya, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu, dia baru berumur 20 tahun. Buddha berkata kepada Rahula dengan gembira, "Rahula, di antara para siswa-Ku, kamulah yang paling unggul dalam berlatih dengan tenang". Ini berarti Rahula mempraktikkan Dhamma sendiri, tanpa membiarkan orang tahu tentang itu. Dialah siswa yang paling randah hati dan paling sabar. Setelah mencapai Pencerahan, Rahula tetap mengikuti Buddha dan Sariputta, berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Dhamma. Ia tidak suka memuji diri sendiri atau memamerkan diri. Ia serius dan bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya. Seperti ayahnya, Buddha yang Mahamulia, Rahula juga dikenang dan sangat dihormati oleh generasi berikutnya. Rahula disukai oleh banyak roang, bukan karena ia adalah putera Buddha, tetapi karena cinta kasih, belas kasih, latihan kesabaran, dan ketenangannya. Semua ini mengundang pujian tulus dari hati terdalam setiap orang. _________________________________________________________________ realestate.com.au: the biggest address in property http://ninemsn.realestate.com.au ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
