Rahula adalah anak dari Pangeran Sidharta, sedangkan Buddha tidak memiliki
anak.

salam metta


Pada tanggal 1/29/06, Michael suswanto <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> Rahula
> Unggul Dalam Ketenangan Latihan
>
> Anak yang tidak tahu siapa ayahnya
> Rahula adalah anak satu-satunya dari Buddha. Sebelum Sakyamuni
> meninggalkan
> keluarga-Nya, ia menikah dengan Yasodhara yang cantik. Ayah-Nya, Raja
> Shuddhodana, berkata, "Kalau engkau tidak memberiku cucu untuk mewarisi
> kerajaan ini pada masa depan, engkau tidak boleh meninggalkan keluarga."
> Agar tidak mengecewakan ayah-Nya, Buddha menjadi ayah pada usia 29 tahun.
> Anaknya dinamakan "Rahula".
>
> Segera setelah Rahula lahir, Buddha meninggalkan keluarga-Nya untuk
> mencari
> kebenaran, jadi Rahula tidak pernah melihat ayahnya sejak kecil. Kakek
> Rahula, Raja Shuddhodana memanjakannya dan ibunya sangat mencintainya.
>
> Ketika Rahula cukup umur untuk mengerti, ia sering bertanya kepada ibunya,
>
> "Ibu, bagaimanakah rupa Ayah?"
> "Ayahmu, Pangeran Siddhattha, adalah orang paling berani dan paling pintar
>
> di seluruh India," Yasodhara selalu menjawab seperti itu.
>
> Rahula juga sering bertanya kepada kakeknya, "Kakek, ke mana ayah pergi?
> Kenapa ia tidak pulang?"
>
> Raja Shuddhodana tidak begitu mengerti kenapa Pangeran Siddhattha
> meninggalkan keluarga untuk menemukan kebenaran. Ia hanya dapat menjawab,
> "Ia pergi ke pegunungan dan daerah terpencil untuk berperang dengan sakit,
>
> umur tua, dan kematian. Jika ia memenangkan pertempuran ini, kita tidak
> akan
> menderita lagi."
>
> Oleh karena itu, sejak kecil, Rahula percaya bahwa ayahnya adalah seorang
> pahlawan pemberani. Setiap hari, ia menunggu ayahnya untuk segera pulang.
>
> Ayah Pulang
> Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi dan menjadi Buddha.
> Berita ini mencengangkan semua penduduk di seluruh India. Semua orang ikut
>
> berbahagia atas keberhasilannya. Semua orang mengungkapkan rasa hormat
> yang
> sangat kepada beliau.
>
> Buddha pergi dari suatu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan kebenaran.
>
> Tiga tahun kemudian, akhirnya Beliau pulang ke kampung halamannya,
> Kapilavatthu.
>
> Semua penduduk Kapilavatthu, dari Raja Shuddhodana sampai ke rakyat jelata
>
> dan para budak, penuh dengan luapan kegembiraan. Yang muda dan yang tua,
> beramai-ramai menyambut kedatangan Buddha.
>
> Rahula bahkan lebih gembira. Ia berdiri di tempat tertinggi di istana dan
> menyaksikan ayahnya dari kejauhan. Ia melihat ribuan orang berlutut di
> tanah
> untuk menghormat kepada Buddha. Orang-orang menaburkan bunga segar ke
> tubuh
> Buddha dan menyerukan perasaan sukacita dan bangga.
>
> Ketika Buddha berjalan menuju istana, Rahula bersujud dengan membaringkan
> tubuhnya di atas tanah, cara ini adalah bentuk penghormatan yang tertinggi
>
> dalam budaya India, seperti kita memberikan hormat dengan membungkuk
> sembilan puluh derajat.
>
> Buddha menyentuh Rahula dan berkata, "Nak, kamu sudah besar".
>
> Rahula berkata pada ayahnya, "Ayah, saya ingin bersamamu. Saya juga ingin
> menjadi bhikkhu untuk mempelajari kebenaran."
>
> "Suatu hari, kamu boleh ikut saya," Buddha berkata dengan penuh belas
> kasih.
>
> Samanera Pertama
> Buddha melihat bahwa Rahula anak yang pintar, baik hati, dan dapat menjadi
>
> anak Buddhis yang baik, sehingga Buddha meminta Moggallana untuk mencukur
> kepala Rahula dan meminta Sariputta menjadi guru Rahula. Rahula menjadi
> siswa Buddha. Dalam sejarah ajaran Buddha, ia adalah samanera pertama.
> Samanera adalah bhikkhu yang di bawah umur 20 tahun.
>
> Segera setelah Rahula menjadi Samanera, ibunya, Yasodhara, bersama dengan
> bibi Buddha, Pajapati, juga meninggalkan kehidupan keluarga dan menjadi
> bhikkhuni.
>
> Walaupun Rahula telah mencukur kepalanya untuk menjadi samanera, ia masih
> muda dan kadang nakal dan badung. Ia suka bercanda dan mengolok-olok orang
>
> lain sampai mereka bingung, sementara ia bertepuk tangan dan tertawa keras
>
> kegirangan.
>
> Ketika Buddha mengetahui hal ini, Beliau sendiri pergi mencari Rahula.
> Ketika Rahula melihat Buddha, ia segera menyadari bahwa ada hal yang tidak
>
> benar dan ia segera membawa sebaskom air untuk mencuci kaki Buddha.
> Setelah
> itu, Buddha berkata kepada Rahula, "Rahula, dapatkah air di baskom ini
> digunakan untuk minum?"
>
> "AIr ini terlalu kotor, bagaimana mungkit dapat diminum?" jawab Rahula.
>
> "Rahula, sekarang kamu seperti air ini." Buddha menatap Rahula, lalu
> melanjutkan, "air ini awalnya bersih, tetapi menjadi kotor setelah dipakai
>
> untuk mencuci kaki. Demikian pula, kamu juga awalnya anggota kerajaan yang
>
> akan mewarisi kerajaan. Engkau melepaskan tahta dan menjadi bhikkhu untuk
> memperaktikkan Dhamma. Citta-cittamu sungguh hebat! Tetapi, kamu suka
> bermain setiap hari. Engkau tidak mau menjadi rajin. Semua orang tidak
> suka
> melihatmu, seperti melihat air baskom berisi air kotor yang telah
> digunakan
> untuk mencuci kaki!"
>
> Setelah mendengarkan kata-kata Buddha, bagaimana Rahula tidak merasa malu
> pada dirinya sendiri? Sejak itu, Rahula tidak lagi nakal dan badung, Ia
> mengikuti ajaran Buddha dan mempraktikkannya dalam diam.
>
> Bermalam di Kakus
> Suatu hari, Rahula pergi mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Buddha.
> Ketika ia kembali, ia mendapati bahwa kamarnya telah dipakai oleh bhikkhu
> lain. Pada waktu itu, ada peraturan di dalam Sangha bahwa samanera muda
> harus menghormati bhikkhu yang lebih tua dan mengalah padanya.
>
> Rahula lalu beristirahat di bawah pohon, tetapi tidak lama kemudian, hujan
>
> turun lebat. Rahula tidak punya pilihan lain kecuali lari ke kakus untuk
> berteduh.
>
> Buddha memiliki kekuatan gaib. Beliau tahu tentang tekad Rahula pada waktu
>
> itu, sehingga Buddha pergi menemui Rahula pada waktu itu, sehingga Buddha
> pergi menemui Rahula di tengah hujan lebat. Rahula yang tidak punya siapa
> pun untuk bercerita, saat melihat Buddha datang ke arahnya, ia segera
> memeluk buddha dan menangis sedih.
>
> Buddha menenangkan Rahula, "Rahula, kamu mau mendahulukan orang lain.
> Latihan Dhamma kamu sudah lebih maju."
>
> Pukulan di Kepala
> Dalam peristiwa lain, Rahula mengukuti gurunya, Sariputta, dalam suatu
> perjalanan untuk mengajarkan Dhamma. Pada siang hari, mereka mengumpulkan
> dana makanan di pinggiran Rajagaha. Mereka bertemu seorang pembuat onar
> yang
> dengan sengaja menuangkan pasir ke mangkuk Sariputta dan memukul kepala
> Rahula dengan sebuah tongkat. Darah mengucur dari kepala Rahula yang
> terluka.
>
> Sariputta menenangkan Rahula dan berkata, "Rahula, sebagai siswa Buddha,
> kita harus melatih kesabaran. Kita tidak perlu marah terhadap orang yang
> berbuat buruk. Bahkan kita harus mengasihani mereka, karena mereka tidak
> tahu bahwa setiap perbuatan akan berakibat, sehingga mereka melakukan
> perbuatan buruk."
>
> Setelah mendengarkan Sariputta, Rahula menjadi tenang dan tidak kesal
> lagi.
> Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi sendiri ke tepi sungai dan
> mencuci darah di kepala dan wajahnya. Kemudian ia menggunakan sapu
> tangannya
> untuk membalut luka dan melanjutkan mengumpulkan dana dari umat,
> seolah-olah
> ia tidak terluka sama sekali.
>
> Dipuji Semua Orang
> Di antara para siswa Buddha, yang paling menonjol adalah Sariputta,
> Moggallana, Kassapa, Ananda, Punna, Kaccana, Subhuti, dan lainnya. Namun
> demikian, siswa yang paling muda, Rahula, tidak suka muncul di keramaian.
> Ia
> belajar Dhamma dengan tenang dan berlatih Dhamma dengan rajin. Akhirnya,
> ia
> mencapai Pencerahan. Pada saat itu, dia baru berumur 20 tahun.
>
> Buddha berkata kepada Rahula dengan gembira, "Rahula, di antara para
> siswa-Ku, kamulah yang paling unggul dalam berlatih dengan tenang". Ini
> berarti Rahula mempraktikkan Dhamma sendiri, tanpa membiarkan orang tahu
> tentang itu. Dialah siswa yang paling randah hati dan paling sabar.
>
> Setelah mencapai Pencerahan, Rahula tetap mengikuti Buddha dan Sariputta,
> berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Dhamma. Ia
> tidak
> suka memuji diri sendiri atau memamerkan diri. Ia serius dan bertanggung
> jawab dalam melakukan tugasnya. Seperti ayahnya, Buddha yang Mahamulia,
> Rahula juga dikenang dan sangat dihormati oleh generasi berikutnya.
>
> Rahula disukai oleh banyak roang, bukan karena ia adalah putera Buddha,
> tetapi karena cinta kasih, belas kasih, latihan kesabaran, dan
> ketenangannya. Semua ini mengundang pujian tulus dari hati terdalam setiap
>
> orang.
>
> _________________________________________________________________
> realestate.com.au: the biggest address in property
> http://ninemsn.realestate.com.au
>
>
>
> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
>
> ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
>
>
>  ------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
>    -  Visit your group "MABINDO <http://groups.yahoo.com/group/MABINDO>"
>    on the web.
>
>    -  To unsubscribe from this group, send an email to:
>     [EMAIL PROTECTED]<[EMAIL PROTECTED]>
>
>    -  Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
>    Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/>.
>
>
>  ------------------------------
>


[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke