Metode koan dalam mempelajari Zen, seperti yang saya utarakan sebelumnya, 
bermula di Cina pada abad ke dua belas oelh para master dinasti SUng, 
seperti Wu-tsu Fa-yen (1024-1104), Yuan-wu K'o-ch'in (1063-1135), dan Ta-hui 
Tsung-kao (1089-1163). Tetapi sistematisasinya berlangsung di Jepang segera 
setelah Zen diperkenalkan pada abad ke tiga belas.

Pada awalnya koan diklasifikasikan dalam tiga kelompok: prajna-intuisional 
(richi), aksional (kikwan), dan pamungkas (kojo). Belakangan, pada abad 
tujuh belas, Hakuin (1689 - 1769) dan para pengikutnya memperkuatnya menjadi 
lima atau enam, namun pada intinya ketiga yang lama masih tetap berlaku. 
Akan tetapi, sejah skema tersebut lengkap, semua murid Zen yang tergolong 
dalam aliran Lin-chi dewasa ini mempelajari Zen mengikuti skema tersebut, 
dan studi tersebut menjadi kurang lebih stereotipe dan dalam beberapa segi 
menunjukkan tanda-tanda kemerosotan.

Contoh umum dan klasik murid koan adalah Bukko Kokushi (1226 - 86) di Cina 
dan oleh Hakuin (1685 - 1768) di Jepang. Pendekatan Zen yang bukan memakai 
sistem koan dicontohkan - sejauh catatan yang kita miliki -- oleh Lin chi 
(wafat 867) di Cina dan Bankei (1622 - 93) di Jepang. Para cendekiawan yang 
tertarik pada studi psikologis lebih jauh tentang Zen disarankan untuk 
membaca dengan teliti beberapa karya saya tentang subyek tersebut.

Akan saya tambahkan beberapa kata di sini. Istilah Sanskrit Jnana biasa 
diterjemahkan sebagai: 'pengetahuan' tetapi tepatnya mungkin lebih baik 
diterjemahkan sebagai 'intuisi'. Saya kadang menterjemahkannya 
'kebijaksanaan transenden' (transcendental wisdom), khususnya bila dengan 
awalan pra, menjadi prajna.

Faktanya adalah, bahkan bila kita punya suatu intuisi, obyeknya masih di 
depan kita dan kita merasakannya, atau mempersepsikannya, atau melihatnya. 
Di sini ada dikotomi subyek-dan-obyek. Dalam prajna dikotomi ini tidak lagi 
eksis. Prajna tidak berurusan dengan obyek-obyek yang terhingga (finite) 
saja; ia adalah totalitas dari segala sesuatu yang menjadi sadar akan 
dirinya. Dan totalitas ini tidak terbatas sama sekali. Suatu totalitas 
tak-terbatas adalah di luar pemahaman manusia biasa.

Tetapi prajna-intuisi adalah intuisi totalistik tentang yang tak-terhingga 
(infinite) yang 'tak terpahami' ini, yang merupakan sesuatu yang tidak 
pernah bisa terjadi dalam pengalaman sehari-hari kita yang terbatas pada 
obyek-obyek atau event-event yang terhingga. Dengan kata lain, prajna, 
karenanya, bisa berlangsung hanya bila obyek-obyek rasa dan intelek yang 
finite beridentifikasi (menyatu) dengan yang infinite itu sendiri.

Daripada mengatakan bahwa yang tak-terhingga tersebut melihat diri sendiri 
di dalam dirinya sendiri, akan jauh lebih dekat dengan pengalaman manusia 
kita jika dikatakan bahwa: sebuah obyek yang dianggap sebagai terhingga, 
yang tegolong dalam dunia dikotomi subyek-dan-obyek, dipersepsi oleh prajna 
dari sudut pandang ketakterhinggaan. Secara simbolis, yang-terhingga 
kemudian melihat dirinya sendiri tercermin dalam cermin ketak-terhinggaan. 
Secara simbolis, yang-terhingga kemudian melihat dirinya sendiri tercermin 
dalam cermin ketak-terhinggaan. Intelek memberitahu kita bahwa obyek 
tersebut terhingga, tetapi prajna menentang, menyatakannya sebagai 
tak-terhingga di luar lingkup relativitas. Secara ontologis, ini berarti 
bahwa semua obyek atau keberadaan yang terhingga menjadi mungkin karena yang 
tak-terhingga mendasarinya, atau bahwa obyek-obyek tersebut tersusun secara 
relatif dan karenanya terbatas dalam medan ketakterhingaan yang tanpanya 
semuanya tidak mempunyai tambatan.

Ini mengingatkan kita tentang surat Paulus kepada orang Korintia (I Korintus 
13:12) dimana ia mengatakan: "Saat ini, kita sedang menatap suatu bayangan 
kabur di cermin; nantinya, kita akan melihat dengan berhadapan muka 
(langsung); sekarang, aku hanya mempunyai kilas-kilas pengetahuan; nantinya 
aku akan mengenal Tuhan sebagaimana ia mengenal aku." "Saat ini" atau 
"sekarang" mengacu pada rangkaina-waktu yang relatif dan terhingga, 
sementara "nanti" adalah kekal, yang, dalam terminologi saya, adalah 
prajna-intuisi. Dalam prajna-intuisi atau 'pengetahuan' aku melihat Tuhan 
sebagaimana adanya di dalam dirinya sendiri, bukan "bayangan kabur"-nya atau 
"kilasan-kilasan" yang terpenggal-pnggal tentangnya, karena aku berdiri di 
hadapannya "berhadapan muka" -- eh bukan, tapi karena: aku adalah sebagai 
dia.

Adarsanajnana yang menyingkapkan diri ketika dasar dari bawah-sadar, yakni, 
dasar dari alaya-vijnana, terterobos, bukan lain adalah prajna-intuisi. 
Kehendak-primer yang merupakan asal dari segala keberadaan sesungguhnya 
tidaklah buta dan bawah-sadar; ia nampak demikian karena kebodohan (avidya) 
kita yang mengaburkan cerminnya -- yang membuat kita terlupa bahkan pada 
fakta tentang eksistensinya. Yang uta adalah kita dan bukan di pihak 
kehendak, yang terutama dan fundamentalnya neotik (intelektif) serta 
konatif. Kehendak adalah prajna plus karuna, kebijaksanaan plus kasih 
(wisdom & compassion). Pada tataran yang relatif, terbatas, terhingga, 
kehendak dipandang sebagai terungkap secara sepotong-potong; maksudnya, kita 
cenderung menangkapnya sebagai sesuatu yangterpisah dari aktivitas-pikiran 
kita. Tetapi ketika ia menyingkapkan diri dalam cermin adarsanajnana, ia 
adalah "Tuhan sebagaimana adanya." Di dalam diri-Nya prajna tidak dipisahkan 
dari karuna. Bila yang satu disebut, yang satunya lagi tak-terelakkan 
menyertai.

Saya tak bisa tidak menambahkan satu atau dua kata lagi di sini. Suatu 
hubungan antar-pribadi (inter-personal) kadang disebut-sebut sehubungan 
dengan latihan koan ketika sang master mengajukan suatu pertanyaan dan sang 
murid membahasnya dalam wawancara dengan sang master. Khususnya ketika sang 
master berdiri dengan kaku serta pantang-mundur menghadapi pendekatan 
intelektual sang murid, sedang sang murid, yang gagal menemukan apa yang 
harus diperbuat dalam situasi tersebut, merasa seolah ia bergantung 
sepenuhnya pada uluran tangan sang master untuk mengangkatnya. Dalam Zen 
hubungan antara guru dan siswa semacam ini ditolak, oleh karena hal ini 
tidaklah kondusif bagi pengalaman pencerahan sang siswa. Karena hanya koan 
"Mu!" itulah [yang menyimbolkan realita pamungkas itu sendiri, dan bukan 
sang guru] yang sesungguhnya bakal muncul dari bawah-sadar sang siswa.

Adalah koan "Mu!" yang membuat master memukul roboh sang siswa, yang, ketika 
tercerahkan, pada gilirannya menampar wajah sang master. Tidak ada Diri 
dalam fase terhingganya yang terbatas pada perjumpaan mirip pegulat ini. 
Yang terpenting adalah bahwa hal ini dipahami secara gamblang dalam studi 
Zen.

_________________________________________________________________
New year, new job – there's more than 100,00 jobs at SEEK 
http://a.ninemsn.com.au/b.aspx?URL=http%3A%2F%2Fninemsn%2Eseek%2Ecom%2Eau&_t=752315885&_r=Jan05_tagline&_m=EXT





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke