Kebenarannya adalah bahwa apa yang melibatkan totalitas eksistensi manusia bukanlah masalah pengintelekan tetapi adalah pada: kehendak (dalam pengertian yang paling primer) dari kata tersebut. Intelek bisa memunculkan segala macam pertanyaan -- dan memang sah-sah saja baginya untuk berbuat begitu, -- tetapi mengharapkan jawaban final dari intelek adalah suatu permintaan yang berlebihan, karena ini tak berada dalam hakekat-dasar pengintelekan. Jawabannya terkubur dalam-dalam di bawah hamparan keberadaan kita. Untuk membelahnya diperlukan geletar dari kehendak (the will) yang paling mendasar. Apabila ini dirasakan, pintu persepsi membuka dan hadirlah sebuah panorama baru yang selama ini tak termimpikan. Intelek mengusulkan, dan yang menentukan bukanlah sang pengusul sendiri. Apa pun yang bisa kita katakan tentang intelek, pada akhirnya tetaplah superficial (dangkal); intelek adalah sesuatu yang mengapung di lapis permukaan consciousness (kesadaran). Permukaan tersebut harus diterobos untuk menjangkau bawah-sadar. Tetapi selama bawah-sadar ini masuk dalam domain psikologi, tidak mungkin ada satori apa pun dalam pengertian Zen. Psikologi musti dilampaui dan apa yang bisa disebut 'bawah-sadar ontologis' harus diangkat keluar.
Para master [di masa dinasti] Sung tadi pasti telah memahami hal ini dengan pengalaman panjang mereka dan juga dalam penanganan terhadap murid-murid mereka. Mereka ingin memutus aporia (kemacetan) intelektual tersebut dengan menggunakan "Mu" -- dimana tiada lagi jejak inteleksi, yang ada tinggal kekuatan kehendak belaka yang mengesampingkan intelek. Tetapi harus saya ingatkan kepada pembaca untuk tidak menganggap saya sebagai seorang angti-intelektualist total. Yang saya tolak adalah: pandangan bahwa intelek sebagai realita pamungkas itu sendiri. Intelek memang berguna untuk menentukan, walau betapapun samarnya, dimana realita itu. Namun demikian: realita dipahami hanya bila intelek melepaskan klaim atasnya. Zen memahami hal ini dan mengusulkan, sebagai koan, sebuah pernyataan yang memiliki suatu aroma inteleksi, suatu yang secara kabur nampak seolah menuntut pembahasan logis, atau nampak seolah ada ruang untuk pembahasan semacam itu. COntoh-contoh berikut akan mendemonstrasikan apa yang saya maksud: Hui-neng (Yeno), sang Patriakh Keenam, konon menuntut dari orang yang bertanya kepadanya: "tunjukkan wajah-asli yang kamu miliki sebelum lahir". Nangaku Yejo, salah seorang murid Yeno, menanyai seseorang yang menginginkan pencerahan, "Siapakah orang yang datang padaku ini?" Salah seorang master Sung ingin tahu, "Dimana kita bertemu setelah engkau mati, dikremasi, dan abunya tersebar kemana-mana?" Hakuin, seorang master Zen besar Jepang modern, biasa mengangkat sebelah tangan di hadapan para pengikutnya, sambil menuntut, "AYo, perdengarkan pada saya bunyi tepukan satu tangan." Dalam Zen ada banyak permintaan aneh dan mustahil sejenis itu: "Gunakanlah sekop yang dipegang di tanganmu yang kosong" "Berbicaralah tanpa menggunakan lidahmu" "Mainkan kecapi mu yang tak berdawai." "Hentikan hujan lebat ini". Proposisi-proposisi yang paradoks ini tak diragukan akan membebani intelek seseorang sampai ke derajat ketegangan tertinggi, yang akhirnya membuatnya menggolongkan semuanya sebagai sungguh tak masuk akal dan tiada guna menyia-nyiakan energi pikiran untuknya. Tetapi tak seorangpun akan menyangkal kerasionalan pertanyaan berikut yang telah membingungkan bermacam filsuf, penyair, dan pemikir sejak terbangkitkannya kesadaran manusia. "Darimanakah kita datang dan kemana kita pergi?" Segala pertanyaan atau pernyataan "mustahil" yang diberikan oleh para master Zen sebenarnya tidak lebih dari variasi "tak logis" dari pertanyaan paling "rasional" yang baru saja disebut tadi. Nyatanya, bila anda maju menyajikan pandangan logis tentang sebuah koan, sang master pasti menolaknya -- secara kategoris atau bahkan secara sarkastis -- tanpa member dasar penjelasan apa pun atas perbuatannya itu. Setelah beberapa wawancara anda mungkin menjadi tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan kecuali mengalah padaya sebagai "seorang fanatik tua bodoh" atau sebagai "orang yang tak tahu apa-apa tentang cara berpikir yang 'rasionalistik-modern' itu." Tetapi sebenarnya sang master Zen memahami urusannya jauh lebih dari yang anda kira. Karena Zen, bagaimanapun, bukanlah suatu permainan intelektual atau dialektika apa pun. Zen berkutat dengan sesuatu yang berlangsung di luar kelogisan, dimana ia tahu bahwa: ada 'kebenaran yang membuat orang menjadi bebas'. Segala pernyataan yang bisa kita buat tentang hal apa pun juga, ini pastilah terbatas berada di permukaan lapis kesadaran sepanjang pernyataan tersebut cocok dengan suatu pernyataan logis. Intelek memang berlaku melayani beragam maksud dalam kehidupan sehari-hari kita, bahkan meski sampai titik ekstrim hingga justru untuk membinasakan manusia, secara perorangan ataupun massal (!). Tak diragukan intelek memang merupakan sesuatu hal yang paling berguna, namun ia tih tidak mampu memecahkan problem ultimit -- yang cepat atau lambat -- bakal dijumpai setiap orang semasa hidupnya. Ini adalah masalah kehidupan-dan-kematian, menyangkut: makna hidup ini. Kalau tiba waktu harus menghadapi, intelek musti mengakui ketakberdayaannya dalam menanggulangi problem tersebut; karena hampir pasti akan sampai pada jalan buntu atau aporia yang pada hakekatnya tiada dapat dihindari. Jalan buntu intelektual - ke arah mana kita sekarang sedang digiring ini -- adalah bagai 'gunung perak' atau 'tembok baja' yang berdiri tegak di hadapan kita. Bukan lagi manuver intelektual atau otak-atik logika, tetapi seluruh keberadaan (whole being) kita dibutuhkan guna melakukan penembusan. Ini, kata sang master Zen, bagaikan memanjat sampai ke ujung sebuah tiang setinggi seratus kaki namun toh didesak untuk terus memanjat, sampai anda harus melakukan suatu loncatan putus-asa, sama sekali tak mempedulikan keselamatan eksistensial anda sendiri, -- dan saat hal ini dilakukan, anda dapati: diri anda ternyata aman di atas "bantalan teratai yang mekar-penuh." Lompatan semacam ini tak pernah bisa diusahakan dengan inteleksi atau dengan kelogisan. Yang belakangan ini hanya mendukung kontinyitas dan tak pernah mendukung suatu lompatan melalui jurang yang menganga. Namun justru inilah sebenarnya yang diharapkan Zen untuk dicapai oleh masing-masing diri kita meskipun nampaknya mustahil secara logika. Karena alasan ini, Zen justru selalu mendorong, menyodok kita dari belakang untuk coba meneruskan saja kebiasaan merasionalisasi agar membuat kita menyaksikan sendiri seberapa jauh kita bisa melangkah dalam usaha yang sia-sia ini. Zen tahu pasti dimana letak batasnya. Tetapi kita umumnya tidak mengetahui fakta ini sampai kita menemui jalan buntu. Pengalaman pribadi ini diperlukan guna membangunkan totalitas keberadaan kita, karena kita biasanya terlalu mudah puas dengan prestasi intelektual kita yang, bagaimanapun, cuma berkutat dengan secuil batas pinggir-pinggir luar (periphery) kehidupan. Adalah bukan latihan-filosofi atau keteguhan-bertapa (ascetic), bukan pula kontrol-keras moral yang akhirnya bisa membawa sang Buddha ke pengalaman pencerahan. Sang Buddha mencapainya justru tatkala ia melepaskan semua praktek superfisial yang hanya tempelan-tempelan luar eksistensi kita ini. Inteleksi atau moralisasi atau konseptualisasi dibutuhkan hanya agar kita menyadari keterbatasan dari semua itu. Latihan koan bertujuan memulangkan semua ini kepada kita. Kehendak (the will) dalam pengertian primernya, seperti yang saya katakan sebelumnya, adalah lebih mendasar dibanding intelek, karena ia adalah prinsip yang melandasi semua eksistensi serta menyatukan semuanya dalam kesatuan keberadaan. Batu ada di tempatnya -- ini adalah kehendak batu. Sungai mengalir -- ini adalah kehendak sungai. Tanaman tumbuh -- ini adalah kehendak tanaman. Burung terbang -- ini adalah kehendak burung. Manusia berbicara -- ini adalah kehendak manusia. Musim berganti, langit menurunkan hujan atau salju, bumi kadang berguncang, ombak bergulung, bintang bersinar -- masing-masing mengikuti kehendaknya sendiri. Mengada (to be) berarti berkehendak dan dengan demikian berarti menjadi (becoming). Tiada apapun di dunia ini yang tak memiliki kehendak. Satu kehendak agung darimana semua kehendak yang bervariasi tanpa-batas ini mengalir adalah yang saya sebut "Bawah-sadar Kosmik (atau ontologis)", yang merupakan sebuah sumber tak-terhingga kemungkinan-kemungkinan. "Mu!" dengan demikian terhubung ke bawah-sadar dengan bekerja di tataran konatif (kehendak) dari lapis kesadaran. Koan yang nampak intelektual atau dialektikal akhirnya juga membawa orang secara psikologis ke pusat konotatif dari kesadaran dan kemungkinan ke sang Sumber itu sendiri. _________________________________________________________________ Shopping made easy @ tradingpost.com.au http://a.ninemsn.com.au/b.aspx?URL=http%3A%2F%2Fwww%2Etradingpost%2Ecom%2Eau%2F%3Freferrer%3DnmsnHMetagv1&_t=753082530&_r=emailtagline&_m=EXT ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
