Sad Paramita atau enam kesempurnaan adalah sarana untuk merealisasikan empat sumpah besar dan menyelesaikan latihan Bodhisattva. Mereka adalah: 1. Dana, kemurahan hati atau derma 2. Sila, moralitas 3. Ksanti, kesabaran atau menahan nafsu 4. Virya, kekuatan dan semangat 5. Dhyana, latihan perenungan atau meditasi 6. Prajna, kebijaksanaan atau kemampuan untuk melihat kenyataan.
Ketika seseorang telah mendengar Mahayana Dharma dan mengembangkan welas asih yang mulia, praktek dari Sad Paramita adalah langkah alami yang selanjutnya pada Jalan Bodhisattva. Sumpah besar Bodhisattva sedalam samudera, harus disertai dengan praktek Sad Paramita dan memenuhi sumpah tersebut berarti mencapai ke-Buddha-an. Jalan dari Bodhisattva Dharma adalah praktek dari Sad Paramita. Paramita yang pertama adalah Dana, atau derma dan kemurahan hati. Bentuk duniawi terginggi dari ini adalah memberikan tubuh atau bahkan nyawa bagi keuntungan orang lain. Hal ini digambarkan sebagai derma internal, sementara jenis lain dari kemurahan hati berkaitan dengan milik pribadi, uang, waktu, dan lain-lain, disebut derma eksternal. Ada pula bentuk transendental, misalnya pemanfaatan bakat, intelektual, kepandaian berbicara dari seseorang untuk menyebarkan pesan dari Buddhadharma. Hal ini disebut pemberian dana berupa Kebenaran Buddha. Dasar dari Dana adalah semangat rela berkorban bagi keuntungan mahluk lain. Paramita kedua adalah Sila, atau moralityas. Sebagaimana dinyatakan di atas, aturan dari Bodhisattva DHarma tidak hanya berhubungan dengan larangan negatif, tetapi juga perimbangan positifnya. Sila berarti musnahnya kejahatan dan berdirinya kebenaran. SIla ini tersusun dalam 5, 8, 10, atau 250 sila. Prinsip dari disiplin moral Bodhisattva adalah untuk mencapai tingkat dimana tidak ada kemunduran dari perilaku moral dari seseorang sehingga pengawasan dari sila menjadi otomatis. Paramita ketiga adalah Ksanti, atau kesabaran dan menahan nafsu. Berpegang pada cita-cita untuk melakukan hal yang baik, terutama di jaman kekacauan dan ketidakmurnian di enam alam, bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak hal-hal merugikan yang menghambat praktek dari Bodhisattva Dharma. Bodhisattva dilengkapi dengan pandangan yang benar dan praktek dari Ksanti Paramita, mampu mengatasi dengan baik semua keadaan ini, mempengaruhi pembebasan dirinya sendiri dan seluruh makhluk. Bodhisattva juga harus mengembangkan kemampuan untuk memaafkan, yang muncul dari kebijaksanaan. Kebijaksanaan merasakan bahwa semua makhluk dihasilkan oleh kondisi sebab-akibat, tanpa adanya 'aku' dan pembedaan. Paramita keempat adalah Virya, atau kekuatan. Istilah kekuatan dimaksudkan mengeluarkan seluruh kekuatan untuk praktek Bodhisattva Dharma dan memegang teguh Bodhicitta. Tanpa mengembangkan Virya Paramita, seseorang hanya akan sementara saja berpegang teguh pada Bodhicitta. Pada saat menghadapi hambatan, ia kecewa dan menghentikan latihannya. Jadi Virya digunakan untuk dengan tegas menghadapi kekecewaan dan berusaha keras menyelesaikan Jalan Bodhi dan mencapai ke-Buddha-an. Paramita kelima adalah Dhyana, latihan perenungan. Dhyana dalam bahasa Sansekerta berarti latihan berkonsentrasi dan sinonim dengan samadhi. Dengan menggabungkan kedua kata tersebut kita memperoleh frase dalam bahasa Mandarin Ch'an-Ting. Arti sebenarnya dari Ch'an-Ting adalah memusatkan pikiran pada satu titik. Usaha untuk bermeditasi adalah tonik bagi kesehatan spiritual. Seseorang yang mempelajari Jalan Bodhisattva namun pikirannya bingung dan kacau harus mempraktekkan Ch'an-Ting dan mengembangkan cahaya, kekuatan dan kemampuan untuk menahan nafsu. Ch'an-Ting adalah sumber dari semua kebijaksanaan, ketenangan hati dan sarana untuk menyelesaikan Jalan Bodhisattva. Paramita keenam adalah Prajna, atau kebijaksanaan. Walaupun seluruh pengetahuan duniawi dianggap kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan dalam tradisi Buddhadharma tidaklah sama dengan hal tersebut. Menurut Buddha, kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menyadari kebenaran di balik penampakan sementara dan keyakinan akan kebenaran ini. Metode latihan yang membawa pada kebijaksanaan disebut Ch'an-Ting, mendorong kita tidak untuk mencari apapun tetapi untuk mempersatukan diri kita dengan Kebenaran. Hal ini disebut Kebijaksanaan Sejati dan mencakup kebijaksanaan membeda-bedakan. Walaupun demikian, cara pandang dan pendekatan terhadap hal tersebut berbeda. Kebijaksanaan Sejati adalah keprihatinan dari kebenaran bahwa semua hal timbul dari kondisi sebab akibat, dan hampa adanya. Inti dari Sad Paramita adalah kebijaksanaan. Dan jalan dari kebijaksanaan adalah jalan Bodhisattva. Istilah Sansekerta "Paramita" berarti "Pergi menyeberang ke pantai lain". Praktek dari paramita paramita ini dapat membawa seseorang menyeberang samudera kelahiran, kematian, dan kesukaran ke pantai lain - yaitu Nirvana. Pikiran yang telah disucikan dan perilaku yang mulia yang muncul dari praktek dari Sad Paramita dipuji oleh banyak orang bijaksana. Dengan pemahaman,. dahulu sekali Chuang T'se telah mengamati: "Tubuh sebagai kayu yang membusuk, pikiran sebagai abu dingin, kehilangan semua hal, melebihi dunia." Orang bijaksana dari Cina lainnya, Lao T'se juga dengan mendalam menulis, "Perbuatan bagaikan aliran air, pikiran setenang cermin, suara dunia tampak sebagai gema. Sumber: Web _________________________________________________________________ mycareer.com.au: http://www.mycareer.com.au/?s_cid=213596 Land the Job ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
