Kita semua tahu atau paling tidak pernah membaca kisah hidup Pangeran Siddharta yang lalu disebut Samma Sambuddha karena kegigihan dan keteguhannya yang lalu mengantarkan beliau pada pencerahan sejati dengan upayanya sendiri.
Namun kita tidaklah lalu mesti lupa bahwa beliau sendiri itu punya guru dan yang paling terkenal - paling tidak yang masih saya ingat :) adalah Alara Kalama dan Udakka Ramaputta. Dari para gurunya termasuk kedua guru yang saya sebutkan tadi, Sang Buddha memperoleh tuntunan yang sedikit banyak merupakan dasar atau fondasi bagi beliau untuk lalu menemukan titik-titik, jejak-jejak yang akhirnya setelah ditelusuri mengantarkan beliau pada pemahaman yang menyeluruh, lengkap dan tuntas akan makna, esensi dan arti kehidupan.
Anda pernahkah bertanya, apakah dengan mencapai pencerahan itu beliau lalu telah menemukan obat atas empat fenomena yang beliau saksikan sebelum beliau meninggalkan istana dan menjalani kehidupan pertapaan. Apa hubungan pencerahan - pemahaman yang menyeluruh, lengkap dan tuntas akan makna, esensi dan arti kehidupan.
Pernahkah anda bertanya? Hehehehe anda pasti tidak bisa menemukannya di buku manapun :) kalaupun ada tentu itu pandangan orang lain. Sekarang cobalah kita jadikan itu pekerjaan rumah alias PR dalam hidup anda. He he he .
Kita lanjut sedikit untuk hari ini. Masih soal guru, nah, Sang Buddha sendiri dalam menyampaikan ajarannya menggunakan pola perguruan atau ada guru ada murid dan kemudian murid-murid Sang Buddha ini disebut perkumpulan para murid alias Sangha atau klo nggak salah Bhikkhu Sangha, mungkin ada definisi lain soal Sangha ini, dan itu boleh saja anda kemukakan namun secara sederhana bisa dikatakan Sangha ini lalu merupakan kumpulan murid langsung Sang Buddha dan lalu mungkin juga mewakili Sang Buddha untuk mengajarkan apa yang telah dibabarkan beliau.
Mungkin, :) hehehe, ya, kalau ndak salah ingat di salah satu sutta Sang Buddha ada menjelaskan ini, tapi saya lupa detailnya, jadi saya katakan saja mungkin. Yang pasti adalah pola pembabaran Dhamma itu sebetulnya, seharusnya masih dalam urutan Guru-murid dan dalam hal ini Sang Guru diwakilkan oleh Bhikku - Sangha.
Lalu anda mengatakan bahwa Para Bhikku sekarang itu ada yang tingkah lakunya itu tidak sesuai untuk mewakili Sang Buddha, lalu bagaimana?
Yah, betul sekali dan saya pernah mendengar dari guru saya yang pertama - klo nggak salah ingat, beliau seorang Bhikkhu walaupun sekarang telah lepas jubah, dan bilang kalau seorang bhikkhu itu mesti memahami filsafat seorang bhikkhu, contoh gampang saja tentang gundulnya kepalanya, kepala gundul hati pun mesti gundul; gundul dari nafsu dan dari keinginan-keinginan yang bersifat pribadi, egoisme dan si bhikkhu akan selalu diingatkan akan tekadnya menjadi bhikkhu ini yaitu menggundulkan hati setiap kali memegang kepalanya hehehehe. Ya, sederhana sekali, namun sayang tidak banyak yang mempraktekkan. Dan beliau lepas jubah itu saya kira bagian dari komitmennya pada apa yang pernah beliau katakan ke saya, itu telah saya tanyakan dan itu juga yang menjadikan hormat saya ke beliau tidak berkurang, hehehehe. Kalau memang tidak bisa lagi menjalankan aturan kebhikkhuan, tentu dengan jantan mestilah kita mengakui dan melepaskan kebhikkhuan kita hehehehe, salut dan hormat guru.
Nah, jadi kembali lagi, ajaran Sang Buddha itu semestinya dipelajari dalam konteks Guru-Murid, hehehehe. Dalam kondisi jaman yang berat seperti sekarang ini dan perilaku manusia yang cenderung amoral memang kelihatannya agak lebih sulit dari jaman Sang Buddha, namun kita semestinya tidak lalu menyalahkan kondisi di luar diri kita. Amoral dari jaman Sang Buddha itu telah ada, hanya memang jumlahnya mungkin jauh lebih banyak di jaman ini, sehingga lebih mudah bagi kita untuk terseret arus dan lebih banyak gesekan dengan ketidak benaran yang kita alami dalam hidup kita. Termasuk di dalamnya urusan guru - murid ini yang ketika telah berhadapan dengan para guru yang perilakunya tidak pantas menurut pandangan kita, semangat dan niat kita untuk berjuang dalam Buddha Dhamma itu agak terganggu, ini terutama sekali terjadi bagi orang-orang yang senang menggali, senang berpikir dan mencari tahu lebih jauh dan merenung lebih dalam akan esensi, makna dan rahasia ajaran Buddha.
Semangat untuk maju itu mestilah tetap dijaga dan kita mesti menggantungkan diri kepada para Bhikkhu Sangha dan menuntut terlalu banyak dari mereka, kita mestilah memperbaiki diri kita sendiri dan menjaga laku kita sendiri, kalau pada akhirnya anggota Sangha yang kurang pantas itu sadar dan lalu memperbaiki diri, tentu mereka menjadi bagian dari kita juga yang sama-sama bergerak maju, kalaupun tidak demikian anda telah memperbaiki diri anda sendiri dan kalau diantara generasi anda yaitu anak-anak sebaya anda itu banyak yang sepandangan dan kemudian di antara mereka itu ada yang menjadi Bhikkhu Sangha, tentulah mereka telah memiliki idealisme tersendiri dalam diri mereka dan lalu mereka bisa menjadi motor penggerak perubahan di dalam Sangha, paling tidak mereka bisa mewakili kita belajar dan memperdalam Buddha Dhamma dan lalu mengajarkan generasi di bawah kita ajaran yang benar dan cara yang lebih tepat.
Evolusi namanya dan itu mestilah di mulai dari diri kita sendiri, dari anda dan saya. Dan jangan kira dengan menulis ini saya telah berhenti berevolusi dan lebih bijak dari anda, tidak, saya masihlah sama seperti anda, bedanya hanya saya mau menuliskan apa yang saya pikirkan dan amati, mungkin anda belum mau, bukan belum berani, hanya belum mau. Pada suatu saat, anda merasa perlu menulis, tuliskanlah dengan baik dan dengan demikian anda dan saya telah bersama-sama mendorong perubahan di dalam belajar Buddha Dhamma ....
Nah, sampai di sini apa ada yang bertanya, lalu bagai mana kita mencoba membangun hubungan Guru - murid? hehehe masih bingung yah? ya gini saja. Anda pilih lah salah satu aliran di antara Mahayana, Theravadha atau Tantrayana dan pilihlah salah satu cara/teknik meditasi dalam aliran yang anda pilih itu, Liam keng/Nien Cing itu termasuk teknik meditasi, loh (kalau anda tidak jelas akan ini, silahkan japri, hehehe) dan tekunlah berlatih dan raihlah kemajuan anda sendiri karena ada ujaran yang mengatakan "Pada saatnya, Guru akan menemukan murid, bukan murid yang menemukan Guru" salah satu contoh yang paling baik adalah Milarepa ditemukan oleh Gurunya dan jadilah dia.
Sebagai tips yang bisa saya share kali ini; meditasi itu bukan duduknya, bukan nafasnya, bukan lafalnya, itu hanya cara tuntunan dan bentuk latihan......
dan ingat di Dhammapada Sang Buddha mengatakan bahwa Meditasi tertinggi adalah SABAR..... selain itu bisa di baca ditulisan saya "Lalu, bagaimana..." hehehe :)
salam bclt.
Serpong, duapuluh tiga april duaribu enam
bclt
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.
[Non-text portions of this message have been removed]
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
SPONSORED LINKS
| Buddha | Buddhism | Buddhism religion |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "MABINDO" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
