Namo Buddhaya,
  Saya kira member milis Buddhist harus benar2 wise menyikapi hal ini. Benar atau tidaknya masalah2 ini, hendaknya jangan digembar gemborkan dan menjadi sasaran empuk pihak lain yang hendak menjelekkan Buddhisme.Bgmanapun juga sosok figur yg jelek akan berdampak negatif di masyarakat. Tolong moderator pikirkan hal ini. Saya  takut ada  member milis yg berasal dr pihak luar...........
  
  regards
  beng

Lusiana Aryani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Membaca surat pernyataan Bhikkhu Suddhamacaro di bawah ini, saya terkejut, merinding, kecewa, sedih, nelangsa, dan banyak perasaan lain bercampur aduk, susah dijelaskan. Tapi saya merasa lega juga karena kebenaran akhirnya terungkap juga ke masyarakat yang lebih luas. Kita semua sebagai umat awam dari vihara-vihara yang berbeda pasti akhir-akhir ini juga banyak mendengar konflik dan gossip mengenai bhikhhu-bhikkhu terutama yang senior. Ada yang menggelapkan dana, bahkan hingga bhikkhu  ketua vihara Dhammajaya yang selama ini dikenal sebagai upajaya, yang punya hubungan asmara dengan seorang janda. Oh tragis sungguh tragis…. Tak tahu lagi harus bagaimana dengan mereka yang berjubah itu tapi kelakuannya menyedihkan…..
  
  Sebenarnya sih saya menulis surat ini karena terpancing oleh pujian Bhikkhu Suddhamacaro terhadap Andrie Wongso. Kesannya kok Andrie Wongso lebih baik daripada seorang Bhikkhu. Padahal setau saya kalau soal perempuan Andrie Wongso itu mana ada bedanya dengan bhikkhu2 palsu itu…. Saya tahu Andrie Wongso hobi sekali merayu2 dan menggoda perempuan terutama penggemar2nya. Bahkan saya pernah dengar khabar ada seorang wanita yang murka karena mengalami pelecehan seksual oleh Andrie Wongso. Saya jelas tidak heran dengan berita itu karena saya punya teman cewek (cukup akrab) yang juga menjalin hubungan gelap dengan Andrie Wongso beberapa lama, ia beragama Buddha juga. SAYA MELIHAT SENDIRI sms2 yang dikirim oleh Andrie Wongso (karena ditunjuki oleh teman saya itu) yang bernada mesra, merayu2 hingga mengajak melakukan hubungan seks (cek-in) di sebuah hotel berbintang. Pokoknya sinting bin gila deeeeh…!! Aneh tapi nyata…!!! Dasar hidung belang…! Padahal Andrie Wongso punya anak
perempuan kan ya, tapi kok kelakuannya seperti tidak kenal/takut pada hukum karma gitu sih. Saya pernah membujuk teman saya itu untuk melaporkan sms2 kiriman Andrie Wongso (yang setau saya sampai sekarang masih dia simpan semua) ke bhikkhu2 senior STI karena teman saya itu merasa dirugikan akibat hubungan tersebut. Tapi kalo sekarang fakta sudah terungkap begini kan sama saja dengan melaporkan maling kepada maling…. Ancur lah ini tokoh2 Buddhis kita ini. Lain kali saya akan menyarankan teman saya ini untuk lapor ke bu Lenny istri Andrie Wongso saja, pasti lebih ada manfaatnya. Well lets see......
  
  Nah sekarang bagaimana perasaan anda semua membaca surat saya? Bingung? Terkejut? Percaya? Tidak percaya? Pokoknya believe it or not, kejadian2 ini menggugah kesadaran kita semua bahwa ternyata organisasi agama Buddha hanya dipenuhi dengan tokoh2 yang tidak bersungguh2 punya tanggung jawab moral, baik yang bertitel bhikkhu maupun motivator. Semuanya hanya musang berbulu domba. Pada akhirnya kita umat awam biasa harus pandai-pandai memilah dan memilih, jangan sampai terjebak dan mendukung perbuatan2 tidak terpuji mereka tanpa kita sadari. Saya membayangkan setelah ini pasti bhikkhu2 yang tersindir akan membela diri mati2an di hadapan umat terutama yang biasa memberi sumbangan dana dalam jumlah besar. Sedangkan Andrie Wongso akan tetap pede tampil di depan umum, dan akan semakin bicara soal keharmonisan hubungan keluarga/suami istri, dsb. Wajarlah semua itu kan karena ingin mempertahankan “sumber mata pencaharian”. Tapi kita bisa melihat masalah ini sebagai fenomena Dhamma
(meminjam istilah Bhikkhu Suddhamacaro), di mana perbuatan buruk itu tidak akan pernah dapat ditutupi selamanya. Sang Buddha juga pernah berkata hal yang sama.
  
  Akhir kata, mari kita berhati-hati sendiri dalam bertindak karena percayalah kita tidak lagi punya panutan selain sabda2 asli Sang Buddha. Dan semoga dengan terungkapnya fakta2 menyedihkan ini, semua orang yang mengaku mengenal/memahami Dhamma, mau dan mampu melaksanakannya dengan benar demi ketenteraman dan kebahagiaan semua mahluk, baik itu Bhikkhu2 STI, Bhikkhu Suddhamacaro sendiri, Andrie Wongso, umat2 sekalian dan juga saya. Karena karma kan tanggung jawab masing-masing penumpang…….
  
  Namo Buddhaya,
  Lusi


sutedja tj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   --- Bhikkhu Sudhammacaro <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Date: Wed, 19 Apr 2006 19:28:24 -0700 (PDT)
> From: Bhikkhu Sudhammacaro
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Klarifikasi, Kronologis pengunduran diri
> bhikkhu Sudhammacaro dari STI
> To: [EMAIL PROTECTED]
>
> FENOMENA DHAMMA
>   (UNTUK KALANGAN SENDIRI)
>   
>   
>   Klarifikasi
>   Kronologis pengunduran diri bhikkhu Sudhammacaro
> dari STI
>   ( Yang perlu diketahui oleh semua Umat Buddha)
>   
>               Aparihaniya Dhamma ada 7 macam :
>   
>    “Berusahalah”
>    
>    Sering atau banyak membuat perjumpaan (rapat)
> Sanggha. 
>    Dalam Rapat harus bersama sehati dan sepikiran
> (setujuan) dalam memecahkan segala masalah/persoalan
> dengan cara yang benar, adil dan bijak bukan
> sebaliknya, berkumpul dan berpisah secara bersama. 
>    Tidak menambah dan membuat Peraturan Baru yang
> sudah ditentukan oleh Buddha (sebagai Guru
> Junjungan), dan tidak Menguranginya, namun tetap
> menjaga/melestarikan dan melaksanakan tugas yang
> sudah digariskan oleh Buddha dalam Dhamma Winaya
> (227.peraturan disiplin bhikkhu). 
>    Selalu menghormati bhikkhu senior (Thera) yang
> hidup sesuai dengan Dhamma Winaya, yang dianggap
> sebagai orang tua bagi para bhikkhu yunior, mau
> mende ngar petuahnya. 
>    Tidak bertujuan untuk menguasai Tanha (nafsu
> keinginan) yang akan membawa kelahiran kembali (ke
> alam rendah dan menderita). 
>    Masih memliki semangat untuk bertinggal di hutan
> dalam menyepi. 
>    Menjaga Sati (perhatian murni) dan berpikir
> bagaimana untuk membuat kecintaan bagi para bhikkhu
> yang disiplin, baik yang sudah bersama juga bagi
> yang belum datang.      
>   
>         Seorang bhikkhu yang hidup tidak sesuai
> dengan Dhamma Winaya adalah Penipu terbesar dan
> yang paling jahat di dunia ini, apalagi
> membuat/menambah peraturan baru diluar Dhamma
> Winaya.(tempatnya Neraka, Peta, Asura, Hewan,
> setelah mati)
>                                                    
>                      “ Sabda Buddha Gotama”.
>   
>   
>   Secara singkat saya tulis disini
>   Pada tanggal 13 Maret 2006, saya (Bhikkhu
> Sudhammacaro) diundang rapim STI di Wihara
> Dhammacakkajaya Jakarta Utara, saya belum tahu apa
> tujuannya? Begitu masuk ruang serba guna Narada,
> saya dipersilahkan duduk dibagian depan dalam rapim
> STI, saya duduk dan mengeluarkan buku Paritta Mantra
> & Nama Buddhis yang saya terbitkan (Sri Manggala)
> karena saya telah punya firasat ada permasalahan
> menyangkut buku itu.
>   Dibagian meja pimpinan rapim STI duduk sejajar 4
> orang Bhikkhu senior.
>   
>   Rapim STI itu dibuka oleh Bhikkhu ke-1 tersebut
> dengan menyampaikan permasalahan berkenaan dengan
> penerbitan buku yang saya cetak penerbit “Sri
> Manggala”, lalu disambung oleh Bhikkhu ke-2 yang
> langsung menunjukkan buku-buku Dhamma terbitan Sri
> Manggala khususnya buku Paritta Mantra & Nama
> Buddhis itu, yang menurutnya banyak menimbulkan
> keresahan dikalangan umat Buddha di Indonesia.
>   Antara lain terjemahannya tidak sama dengan isi
> dari terbitan STI, padahal STI baru saja menerbitkan
> buku “Paritta Suci”, juga ada Mantra bermacam corak
> yang selama ini belum pernah ada, dan selain isi
> terjemahan ada juga kata pengantar yang isinya
> banyak menyinggung seorang bhikkhu dll.
>   
>   Selanjutnya pembicara: Bhikkhu ke-3 sambil membawa
> catatan kecil membacakan tuntutan antara lain bahwa
> isi buku Paritta Mantra & Nama Buddhis melanggar
> Dhamma boleh disebut ADhamma yang akibatnya bisa
> menyesatkan orang banyak, bisa berakibat masuk ke
> alam neraka, sebab Mantra itu berbahaya, juga
> mengatakan : Kamu ini belum belajar bahasa Pali
> kenapa berani menerjemahkan buku Dhamma, maka isi
> terjemahannya banyak yang salah, kamu (B.
> Sudhammacaro) menulis, bahwa: Umat Buddha tidak
> perlu bikin wihara, sekolah apalagi universitas,
> kalau begitu kamu mau tinggal dimana? Apa kamu hanya
> mau menerbitkan buku saja? Dengan kenyataan ini kamu
> bertentangan dengan progam STI. (padahal Bhikkhu
> ke-3 ini pacaran dengan janda kelapa gading
> bertahun-tahun, umat Jakarta hampir semua tahu
> sampai rebutan dengan pria lain, hal ini justru
> contoh paling jahat, tapi tidak disebut ADhamma…?).
>   
>   Bhikkhu ke-2 dan Bhikkhu ke-3 menyatakan bahwa
> Bhikkhu Sudhammacaro sudah tidak dapat diterima lagi
> sebagai anggota STI, dengan demikian maka Bhikkhu
> Sudhammacaro harus dikeluarkan dari STI, tapi untuk
> menjaga nama, maka sebaiknya Bhikkhu Sudhammacaro
> menyatakan “Pengunduran Diri” saja, mereka meminta
> agar saya menulis surat pernyataan pengunduran diri
> langsung dengan tulisan tangan, yang kemudian saya
> jawab saya tidak berniat keluar dari STI, tapi jika
> dipaksa maka saya minta waktu tiga bulan, dengan
> pertimbangan bahwa, barangkali pada saat itu (rapim)
> mereka STI dalam keadaan emosi, terhasut dan
> dikompori oleh gerakan umat yang tidak suka/benci
> kepada saya akibat tulisan saya di buku itu, yang
> merasa terhalang ambisinya untuk membangun sekolah
> dan universitas. Terutama bagi sekelompok bhikkhu
> dan umat yang berambisi ingin membangun sekolah dan
> universitas yang hanya dengan modal “Dengkul”, hal
> ini sangat berbahaya juga bisa dikategorikan
> “Anantariya Kamma” atau 5 garuka
>  kamma yakni: 1. Membunuh Ibu. 2. Membunuh Ayah. 3.
> Membunuh Arahat. 4. Melukai Buddha. 5. Memecah belah
> Sanggha. Sebab itu umat juga harus belajar Dhamma
> dengan baik dan benar.
>   
>   Setelah saya meminta waktu tiga bulan tidak
> diterima saya dengan hati pedih, rela menulis surat
> yang isinya menyatakan “Pengunduran Diri dari STI”,
> padahal saya memberi waktu tiga bulan itu untuk
> memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpikir
> secara jernih dan tenang dengan kepala dingin, bukan
> dengan cara emosi dalam menyelesaikan segala
> permasalahan, saya ingin sekali mendidik dan
> mengajar atau membimbing mereka dalam kehidupan
> bhikkhu yang benar harus sesuai dengan Dhamma
> Winaya, agar hasilnya maksimal, membawa berkah bagi
> umat dan membawa kemajuan batin bagi para
> bhikkhunya, namun apa boleh buat.
>   Tapi rupanya ditanggapi salah pengertian, sungguh
> kasihan sekali kelak akibatnya wah berat… Saat ini
> kammanya belum berbuah, tapi ingat! Kamma atau
> perbuatan apapun tidak akan meleset terhadap si
> pembuatnya, hanya tinggal tunggu waktu saja.
>   
>   Jawaban dari saya (bhikkhu Sudhammacaro)
>   Dalam Rapim tsb, saya diberi kesempatan untuk
> menjawab, lalu yang pertama saya jawab ialah bahwa:
> “ Isi kata pengantar dalam buku Paritta Mantra &
> Nama Buddhis itu sebenarnya “Cerita Basi” artinya
> peristiwa/kejadiannya itu sudah berlalu lama bahkan
> bertahun-tahun dan semua tulisan itu ada buktinya,
> saya hanya merangkum dan menuliskan dalam sebuah
> buku hasil dari penelitian/riset dan survey saya ke
> beberapa kota dan daerah di Indonesia dan luar
> negri, yang tujuannya untuk mengingatkan semua pihak
> yakni umat, bhikkhu, pandita, cendikiawan, tokoh,
> pemuka Buddhis, bahwa kejadian seperti misalnya yang
> ditulis tentang pembagian “Dana Kathina” itu harus
> terbuka (transparant) pakai catatan, berapa
> pendapatannya, lalu dibagi sesuai peraturan yang
> telah diputuskan oleh STI, namun kenyataan telah
> berulang kali setiap Kathina dana pembagiannya tidak
> jelas, tidak teratur, tidak sama rata, karena tidak
> menggunakan catatan secara terbuka dan benar, setiap
> bhikkhu yang ikut hadir ada
>  yang diberi dana alakadarnya mereka tidak berani
> menuntut, tapi dibelakang selalu
> mengeluh/menggerutu.
>   Padahal pengelolanya adalah para bhikkhu senior
> yang harus bertanggung jawab, seperti kepala dan
> wakil wihara Dhammacakkajaya Jakarta itu, wihara
> Ratana Graha Jakarta kepala wiharanya, juga wihara
> Dhammadipa Arama batu Malang kepala wiharanya,
> wihara Samaggi Jaya kepala wiharanya, wihara Buddha
> Sasana desa Baro Buneng, Blitar kepala wiharanya,
> wihara Dharma Jaya Surabaya, wihara Dhammadipa
> Pandegiling-Surabaya, dan masih ada yang lainnya.
>   
>   Saya menerjemahkan buku Paritta Mantra & Nama
> Buddhis dari bahasa Thailand dan bukan dari bahasa
> Pali, sedangkan isi terjemahan itu secara bebas,
> namun pokok dan intinya tetap sama, utuh, sebab
> menerjemahkan buku dari bahasa asing terutama Pali
> tidak mudah, saya sendiri tidak berani sebab merasa
> belum belajar bahasa Pali, tapi saya menerjemahkan
> dari bahasa Thailand, lagipula terjemahan secara
> leterlek/kata perkata hasilnya kurang tepat dan
> susah tidak dapat dimengerti oleh umat, bahkan oleh
> orang pandai sekalipun, contohnya mengapa buku
> Tipitaka terjemahannya ada Tika dan Matika atau
> Komentar dan Sub Komentar? Hal ini untuk menguraikan
> pokok-pokok inti Dhamma yang terkandung didalam
> kata-kata itu (sabda Buddha yang sangat dalam,
> halus, sulit).
>   : Jawaban saya membuktikan bahwa Bhikkhu ke-3
> salah menuduh, dengan mengatakan bahwa Bhikkhu
> Sudhammacaro belum belajar bahasa Pali tapi berani
> menerjemahkan buku Dhamma bahasa Pali, hal ini pasti
> membacanya karena dengan emosi atau iri-hati, sirik,
> atau Arogansi tidak mau kalah, hanya berlagak suci
> dan pinter merasa punya title M.A. padahal kosong
> melompong bagaikan “Tong Kosong tapi Nyaring
> Bunyinya”.
>   Karena sampai saat ini tidak punya hasil karya
> buku yang ditulisnya, hanya bermulut besar bersilat
> lidah dan hidung merah dan hanya pandai pacaran
> dengan Janda (sudah mati stress mungkin karena tidak
> dikawin dan sedang menunggunya), mengumpulkan uang
> untuk jalan-jalan keluar Negri itulah karyanya.
>   Kalah dengan “Andrie Wongso” yang menyatakan
> bahkan tidak Tamat S.D (TTSD), tapi hasil karyanya
> melejit hingga bisa disebut sebagai Motivator no.1
> di Indonesia, dan bukunya bagus digemari oleh banyak
> orang sekaligus bermanfaat. Pikirkan!
>   
>   Di Thailand Negara Buddhis yang ketat saja di satu
> wihara banyak buku Paritta tapi saling berbeda isi
> terjemahannya, juga alunan suaranya tidak sama satu
> wihara dengan yang lain, tapi tidak membuat para
> bhikkhu jadi Arogan, sebab yang pentingnya adalah
> bahasanya bisa dimengerti, semua umat tetap
> menggunakan. Mereka sangat memahami bahwa hasil
> terjemahan setiap orang pasti ada sedikit perbedaan
> dalam penafsiran, namun pada pokok intinya tetap
> sama, inilah yang belum disadari oleh para bhikkhu
> STI karena kurangnya apa… .? Atau saking …?
>   Buku Paritta Mantra & Nama Buddhis ini banyak
> beredar di wihara-wihara di Thailand dan bercorak
> ragam isinya bahkan ada ramalan nasib, hong shui,
> perjodohan, cari nomor lotre/togel, shio, dst…Bhante
> Win Vijjano (Phra Rajwaracharn) bhikkhu Dhammaduta
> Thailand bertinggal di wihara Buddha Metta Jakarta,
> juga mencetak buku Paritta & Mantra bahasa Thailand
> saya ada bukunya disimpan sebagai bukti.
>   Tapi saya seleksi dengan menyesuaikan sikon umat
> Buddha di Indonesia, berdasarkan laporan dan
> permohonan serta keluhan umat dalam menghadapi
> segala macam kesulitan hidup dan mengharapkan bisa
> ada bantuan dari cara agama Buddha, melalui apa saja
> yang penting sesuai dengan Dhamma, inilah sebenarnya
> latar belakang saya mengapa berani menerbitkan buku
> Paritta Mantra & Nama Buddhis, dengan tujuan demi
> kemajuan dan perkembangan agama Buddha, yang
> sementara ini saya melihat dan menilai masih jauh
> dari harapan saya, sungguh kasihan...  
>   
>   Saya tidak melarang umat membangun wihara dan
> sekolah tapi yang dimaksudkan ialah bahwa umat
> “Belum Waktunya” membangun wihara megah, mewah,
> mahal, dan membangun sekolah, apalagi universitas
> karena SDM (tenaga pengajar dll belum siap,
> contohnya banyak sekolah Buddhis yang sudah ada
> setelah berjalan 2-5 th saja sudah dikuasai oleh
> yang lain (Bukan Buddhis), umat Buddha hanya pandai
> membangun sekolah dan wihara tapi belum cermat
> mengelola).
>   Demikian pula wihara dibangun besar, mewah, megah
> dengan biaya mahal tapi setelah selesai terjadi
> konflik sebab ada peraturan yang dibuat/tambahan
> oleh STI diluar Dhamma Winaya dan tidak mengikuti
> Dhamma Winaya akhirnya muncul konflik lalu wihara
> ditinggalkan terlantar contoh: Wihara di Gorontalo,
> wihara di Menado, wihara Karuna dipa di Palu, wihara
> di Paguyaman Sulteng, wihara Buddhagaya Watu Gong
> Semarang, wihara Dhamma Jaya Surabaya dan ada 4
> wihara besar, megah, tapi  bhikkhu “tertentu” tidak
> boleh tinggal, dilarang oleh Padesanayaka Jatim
> (bhikkhu X), padahal Pengurusnya memohon dengan
> sabar akhirnya bertengkar dengan bhikkhu
> Padesanayaka Jatim tsb (saksi kunci; 1. Bpk.Edi, 2.
> Bpk.Hartono, 3. Bpk.Hendri Prakasa, mereka semua
> Pengurus wihara Eka Dharma Loka Surabaya, mereka
> melapor kepada B. Saddhaviro), alasannya karena umat
> terus bertambah dan membutuhkan pembinaan dari
> bhikkhu, namun sayang terhalang dengan peraturan STI
> yang dibuat/tambahan sendiri diluar Dhamma
>  Winaya itulah, akhirnya terlantar.  
>   
>   Wihara Girinaga Makasar lebih parah lagi
> masalahnya yang hampir saja timbul kekerasan antara
> umat Buddha Therawada sendiri, saya tahu persis dan
> akhirnya saya sendirilah yang berkorban meredakan
> dan sampai saat ini saya bertanggung jawab untuk
> membinanya, padahal yang menciptakan konflik para
> bhikkhu STI, karena membuat/menambah peraturan
> sendiri diluar Dhamma Winaya dan masih banyak lagi
> wihara yang tidak berfungsi dengan benar sesuai
> dengan Dhamma Winaya sebagaimana mestinya, sebab ada
> peraturan yang dibuat/tambahan dari STI. 
>   Dengan bukti inilah saya mengungkapkan langsung
> dalam buku agar dapat dimengerti oleh semua umat
> Buddha di seluruh lndonesia, dengan tujuan murni
> agar segera diperbaiki hal-hal yang tidak sesuai
> dengan Dhamma Winaya terutama peraturan tambahan
> yang dibuat STI sendiri diluar Dhamma Winaya ajaran
> Buddha sebagai Guru Junjungan, saya berpikir mengapa
> STI repot-repot membuat/menambah peraturan sendiri,
> sedangkan Peraturan Dhamma Winaya saja 227 sudah
> mabuk belum dapat dilaksanakan dengan baik dan
> benar.
>   Mengapa saya mau meneruskan pembinaan di wihara
> Girinaga Makasar? Alasannya ialah jumlah umatnya
> lebih dari 1,500 orang, dari anak sekolah minggu,
> remaja sekolah, dewasa dan orang tua, coba bayangkan
> andaikata mereka tidak dibina lalu berpindah agama
> sebab umat membutuhkan figure bhikkhu, siapakah yang
> bersalah?   Maukah bertanggung jawab secara Moral?
> Hanya karena berebut uang hasil Kathina dana atau
> selisih paham hingga patah arang! Yang anehnya lagi
> jika satu bhikkhu STI konflik dengan pengurus
> wihara, hingga tegang dan patah arang, kenapa harus
> membawa dan mengajak konflik tanggung renteng dengan
> bhikkhu teman lainnya, sedangkan yang lain tidak ada
> konflik dengan pengurus itu, hal ini banyak terjadi
> yang dampaknya membawa seluruh anggota STI, padahal
> yang lainnya tidak tahu menahu. Cara kerja yang
> sistimatis jelek ini harus dibuang segera kalau
> tidak mau masuk neraka kelak, jangan main-main.
>   
>   
>          Uraian terperinci agar lebih jelas demi
> perbaikan dan penyempurnaan
>    
>    Alasan pembagian Kathina dana ini saya ungkapkan
> bukan karena saya mau uang, yang paling pokok ialah
> sebabnya menyangkut masalah uang yang berhubungan
> dengan pelanggaran Winaya sangat berat yakni
> “PARAJIKA” (artinya: TAKLUK harus lepas jubah
> kembali jadi umat, ini sudah harga mati), lain
> halnya dengan umat biasa jika melakukan penipuan,
> penggelapan uang dll, mereka bisa berdalih meskipun
> sampai di meja pengadilan, bahkan di zaman ini yang
> benar bisa jadi salah dan sebaliknya. Namun harus
> diingat seorang bhikkhu tahu atau tidak tahu tentang
> peraturan Dhamma Winaya ditulis bahwa dalam Winaya,
> jika seorang bhikkhu melanggar winaya salah satu
> saja dari 4 Parajika : 1. Berhubungan seks dengan
> lawan jenis, sesama jenis, hewan, mayat, 
>                  makhluk halus (setan-peta).
>        2. Mencuri uang, barang dll sejenisnya,
> menggelapkannya  yang hingga bisa  
>            termasuk criminal dan di penjarakan.
>        3. Membunuh manusia (bukan hewan) baik
> langsung atau menyuruh termasuk 
>          Santet.
>       4. Mengaku suci, sakti dll, padahal tidak
> memilikinya, berarti menipu.
>        Jika Bhikkhu melanggar salah satu dari 4
> pelanggaran Parajika maka dia  
>       (bhikkhu itu) harus lepas jubah dengan suka
> rela tanpa sarat apapun ini harga
>       mati tidak ada tawar-menawar, dan meskipun dia
> tidak mau lepas jubah atau 
>    bandel maka dia sudah bukan bhikkhu lagi alias
> bhikkhu Palsu atau bhikkhu Gadungan, di Negara
> Buddhis seperti Thailand bisa minta tolong polisi
> atau tentara untuk menangkapnya lalu di penjarakan
> karena boleh dianggap sebagai Penipuan berat
> terhadap umat Buddha diseluruh Dunia, tidak
> main-main, contohnya mantan bhikkhu Yantra Amaro
> dari Thailand, yang saat ini entah kemana...
>   
>    
>    Sama halnya orang tidak tahu peraturan hukum atau
> kelaparan, lalu mencuri atau menipu, menggelapkan
> uang lalu tertangkap polisi, dengan berdalih tidak
> tahu hukum atau karena kelaparan dari pada anak
> istri mati maka dia lebih baik mencuri, menipu dst..
> apakah polisi akan melepaskan pencuri atau penjahat
> itu? Yang pasti hukum tetap berjalan sesuai
> peraturan yang sudah ditetapkan, maka penjahat atau
> pencuri itu bisa dihukum sesuai dengan perbuatannya,
> demikian juga Peraturan Dhamma Winaya tidak berbeda.
>   
>    
>     Alasan lain seperti STI membuat/menambah
> peraturan sendiri di luar Dhamma Winaya contoh; umat
> membangun wihara diminta agar diserahkan kepada
> Sanggha Theravada Indonesia untuk dikelola, setelah
> diserahkan dijadikan milik/aset STI yang khususnya
> untuk tempat tinggal bhikkhu anggota STI, jika
> bhikkhu bukan anggota STI hanya boleh tinggal dalam
> batas waktu tiga (3) bulan, setelah lewat maka
> bhikkhu tersebut sudah termasuk Finalti dan dilarang
> tinggal di semua wihara milik STI.  Padahal menurut
> Dhamma Winaya wihara itu tempat tinggal bhikkhu dari
> empat penjuru yang sudah datang dan tinggal maupun
> yang belum datang.
>   Kalau bhikkhu dilarang tinggal di wihara milik
> STI, berarti STI ini melanggar Dhamma Winaya
> (Aparihaniya Dhamma-lihat di atas),  lalu dimanakah
> bhikkhu itu harus tinggal?  Di Hotel? Memang justru
> bhikkhu Gadungan zaman sekarang lebih suka memilih
> tinggal di hotel apalagi kalau keluar negri.
>   
>    
>    Saya pernah bertinggal di wihara Metta Palmerah
> Jakarta karena saya bhikkhu dan pengurusnya memberi
> ijin tinggal, tapi kenyataan dalam setiap rapat STI
> saya dilarang tinggal di wihara Metta Palmerah
> Jakarta dengan alasan bahwa wihara itu bukan milik
> STI, saya selalu dicerca, di serang dan dikeroyok
> banyak bhikkhu dalam argumentasi, sambil memberikan
> pandangan benar sesuai dengan Dhamma winaya saya
> bertahan, tapi Bhikkhu ke-3 tsb diatas memberi
> alternative untuk saya memilih agar saya keluar dari
> anggota STI atau tetap tinggal disitu karena hal itu
> sudah keputusan peraturan STI. Namun, yang heran bin
> ajaib, aneh tapi nyata ketika saya mematuhi aturan
> STI dan keluar dari wihara Metta Palmerah Jakarta,
> tidak lama kemudian dalam Rapat Pesamuhan STI di
> Saung Paramita Ciapus Bogor (Silahkan cek/periksa
> saat ini juga atau tanyakan) ada B. Khemanando
> anggota STI justru di tugaskan berwassa th 2005 di
> wihara Metta Palmerah Jakarta itu sampai saat ini.
> Dengan bukti ini saya
>  menilai bhikkhu STI tidak konsisten, tidak komit
> dengan keputusan peraturannya sendiri yang telah
> dibuatnya.  Kesimpulan: bhikkhu STI membuat/menambah
> keputusan peraturan sendiri yang sudah keluar dari
> Dhamma Winaya, tapi kemudian dilanggar juga oleh
> bhikkhu STI sendiri.
>   
>    
>    Menerbitkan buku ada etika dan aturan mainnya
> (lihat artikel di buku Pratik Dhamma menuju
> Nibbana).
>   
>         STI menerbitkan buku “Paritta Suci” lalu
> dijual diseluruh toko buku khususnya 
>         Gramedia dengan harga Rp39.000,-, sedangkan
> isinya hasil terjemahan dari buku
>         bahasa Inggris, tapi tidak mau mencantumkan:
> Judul asli, Penulis asli
>         (sumbernya), tidak ada kata pengantar ijin
> dari penerbit aslinya, padahal buku
>         STI itu menulis dilarang mengkopy, mencetak
> ulang dst..
>   Kita tahu peraturan hak cipta dan pelanggarannya
> apa jika dilakukan, hal itu sudah termasuk kriminal,
> yakni harus bayar Rp100 juta atau sekurang-kurangnya
> di penjara selama sekian tahun dan ini kalau diusut
> melalui Dhamma Winaya sudah termasuk pelanggaran
> “Parajika” yang akibatnya siapapun dia bhikkhu itu
> atau sekelompok bhikkhu yang menjadi kepengurusan
> dalam STI harus lepas jubah semua karena hal ini
> sudah menjadi tanggung jawab dan
> konsenkwensinya/resiko mau melakukan tindakan itu
> yang harus dipertanggung jawabkan, dengan
> sesadar-sadarnya, tanpa beralasan apapun lagi. 
>   
>    
>    STI menyimpan dana/uang di Bank sebanyak kurang
> lebih Rp5.milyar, jumlah ini belum asset yang lain,
> mobil-mobil mewah, tanah-tanah bersertifikat baik
> yang sudah di bangun wihara maupun yang belum, dll,
> padahal dalam Dhamma Winaya bhikkhu tidak boleh
> memiliki uang, tanah, barang mewah, budak
> (pegawai/pembantu), alasannya tentu masuk akal sebab
> bhikkhu ketika ditahbiskan/upasampada tidak membawa
> apapun, bahkan kepala saja harus digundul, kecuali
> mangkuk pata untuk makan, jubah satu set, ikat
> pinggang, jarum-benang, tempat simpan garam.
>         Tapi ada lagi yang lebih tidak masuk akal
> ialah, mengapa hanya untuk mencetak buku “Paritta
> Suci” dengan biaya puluhan juta saja, bukunya sampai
> dijual di toko Gramedia Rp 39.000,- hampir di
> seluruh Indonesia, kecuali saya bisa terima kalau
> STI tidak punya simpanan dana/uang sebesar itu, hal
> ini sungguh keterlaluan, apa bedanya dengan
> “Pedagang sayur” yang mau mencari nafkah untuk
> sesuap nasi.
>         Kita semua tahu bahwa dalam Dhamma Winaya
> bhikkhu tidak boleh berdagang atau jual-beli apalagi
> yang dijual itu buku Dhamma dan terlebih itu
> merupakan buku doa bagi umat Buddha. Kemudian untuk
> apakah simpanan dana/uang sebanyak itu? Jika tidak
> digunakan sesuai Dhamma, padahal dalam ceramahnya
> mengatakan bhikkhu STI tidak pegang uang, tapi
> mengapa selalu terus menerus mengumpulkan uang,
> untuk apa?    Kata-katanya (ceramahnya) bertentangan
> dengan tindakan! Ini namanya disebut……?
>   
>   Buddha sejak keluar Istana mengembara selama 6 th
> di hutan, lalu mencapai Pencerahan batin Yang
> sempurna, hingga Parinibbana selalu hidup di
> hutan-hutan dan di bawah pohon, coba periksa buku
> Dhamma, tidak punya wihara, apalagi kemewahan, sebab
> Beliau sudah jenuh dengan semua itu dan akhirnya
> ditinggalkan/dilepaskan, namun sekarang zaman
> berubah jauh, bhikkhu ada yang memiliki mobil
> pribadi bahkan 2 mobil, pakai Hp nokia 9500 harga
> Rp7jutaan meskipun tidak becus menggunakannya,
> laptop padahal tidak pernah cetak buku bikin naskah,
> handycam merk Sony yang paling top dan mahal, kamera
> digital Sony, belum di rumah orang-tuanya punya apa
> lagi…? serba wah… Kalau dinilai melebihi umat yang
> cukup kaya, kekayaan bhikkhu zaman sekarang,
> pantaskah? atau tidak itu semua dihalalkan sendiri
> saja, selama umat yang bodoh tidak tahu dan masih
> mau berdana lagi.
>    
>    
>    Saya berkeliling di Thailand, Myanmar dan
> Malaysia termasuk hampir di seluruh Indonesia keluar
> masuk wihara-wihara, tapi belum pernah melihat di
> satu wiharapun yang memasang kotak dana diberi nama
> bhikkhu A, B, C, hanya sepesial adanya di wihara
> Dhammacakkajaya Jakarta, kotak dana diberi nama
> b.sukhemo, b.pannavaro, b.khantidharo, dulu ada
> b.subalaratano pelopor yang pertama, lalu STI, dan
> para bhikkhu.
>        Kalau mau jujur siapakah yang keluar
> uang/dana membiayai pembangunan wihara
> Dhammacakkajaya Jakarta? Setahu saya Alm.Bpk. Anton
> Haliman yang berdana tanah, dan umat dari mana-mana
> menyumbang pembangunan wihara tersebut, sedangkan
> para bhikkhu termasuk STI tidak keluar uang/dana
> untuk membangun wihara.
>   Apakah tidak ada jalan lain minta-minta uang/dana
> kepada umat hingga senista itu? Cobalah renungkan!
> Mestinya (ceng li) keluarga Bpk. Anton Haliman yang
> berhak buka kotak dana di wihara itu untuk mengganti
> balik harga tanah, kalau mereka gila uang tapi
> ternyata umat justru tahu diri, sedangkan para
> bhikkhu STI yang….? Wah…berat…Silahkan datang, lihat
> dan buktikan (ehipasiko). 
>   
>         8. Di Negara Buddhis seperti Sri Lanka,
> Myanmar, dan Thailand, yang saya tahu meskipun
> disana umat dan para bhikkhu dari berbagai
> aliran/sekte dan membentuk Sanggha sendiri-sendiri
> tetapi mereka semua tidak ada yang berani
> membuat/menambah peraturan baru di luar Dhamma
> Winaya, bahkan di Thailand hanya ada satu Sanggha
> Raja yang di pimpin oleh Y.M. Somdet Nyanasangwara,
> padahal sekte Therawadanya ada terbagi dua yakni;
> Dhammayuta dan Mahanikaya, lalu ada juga Mahayana
> dan Tantrayana, namun dikepalai oleh satu Sanggha,
> dan tidak ada yang berani membuat/menambah peraturan
> baru di luar Dhamma Winaya.
>   
>   Jadi saya berkata kepada mereka dalam sidang Rapim
> STI: Bahwa jika orang sudah digundul dan pakai jubah
> lalu di upasampada/tahbiskan jadi bhikkhu itu harus
> patuh dan mengikuti peraturan Dhamma Winaya yang
> telah ditentukan oleh Buddha, kalau bhikkhu (orang
> itu) tidak mau mengikuti Dhamma Winaya lalu dia
> disebutnya apa?  Bhikkhu bukan! Umat juga bukan!
> sebab, jika disebut bhikkhu mestinya mengikuti
> peraturan Dhamma Winaya, namun kalian ini bhikkhu
> STI tidak mau mengikuti peraturan Dhamma Winaya,
> bahkan membuat/menambah peraturan sendiri diluar
> Dhamma Winaya, dan setelah membuat aturan sendiripun
> dilanggar lagi, jadi kalau disebut Umat, tidak
> pantas karena kepala digundul dan pakai jubah
> maksudnya tidak umum kelihatannya seperti umat yang
> lain dengan berpakaian celana dan baju, kepala tidak
> gundul, sedangkan kalian ini kepala gundul pakaian
> jubah, lalu apa namanya? TUYUL atau PETRUK?  Kalau
> menurut hukum karma sangat berat akibatnya nanti
> kita lihat saja kelak dikemudian
>  hari pasti akan terbukti akibatnya.
>    
>   Berbeda dengan umat biasa jika melakukan kesalahan
> pelanggaran yang ringan maupun yang berat, meskipun
> harus masuk penjara mereka (umat) tetap jadi umat,
> tapi kalau seorang sudah menjadi bhikkhu dan
> melakukan pelanggaran berat maka hukumannya ialah
> harus lepas jubah dan kembali lagi menjadi umat
> biasa tidak perlu di gundul dan pakai jubah jadi
> ribet, sebenarnya simple saja asal tidak rewel, dan
> mau mangakui dan menerima hasil dari perbuatan yang
> sudah bertahun-tahun dan baru ketahuan saat ini.
> Kasihan juga kepada umat yang sudah berbakti tapi
> dikelabui terus menerus.
>        
>         Sekilas untuk diketahui oleh seluruh umat
> Buddha, bahwa STI banyak membuat peraturan sendiri
> yang isinya diluar Dhamma Winaya bahkan bertentangan
> dengan Dhamma Winaya. Misalnya ada umat pergi ke
> Negara buddhis lalu di upasampada di Myanmar oleh
> Sayadow U. pandita Rama atau Sayadow U. Janaka,
> setelah kembali ke Indonesia mau masuk anggota STI
> harus di upasampada/tahbiskan ulang oleh Bhikkhu
> ke-3 tsb diatas sebagai uppajjaya, jika tidak mau
> resikonya tidak boleh masuk menjadi anggota STI.
> Padahal Sayadow U.Pandita Rama dan sayadow U.Janaka
> wassanya lebih dari 60 dan Beliau-beliau itu adalah
> Guru Meditasi tingkat Dunia yang masih aktif
> mengajar meditasi, sering datang ke Indonesia,
> sampai saat ini meskipun umurnya sudah lebih dari 87
> th.
>   Hal itu tidak sesuai dengan Dhamma Winaya,
> alasannya yang disebutkan Sanggha dalam Dhamma
> ajaran Buddha itu adalah kumpulan para bhikkhu dari
> mana saja asal dan datangnya (empat penjuru), dengan
> fakta ini saya mengatakan berarti STI menjual nama
> Sanggha untuk mencuri keuntungan duniawi tapi
> praktiknya tidak mau patuh/mengikuti Dhamma Winaya,
> nama Sanggha hanya sekadar untuk kedok menarik
> kepercayaan umat agar mau berdana kepada nama
> Sanggha, yang sebenarnya tidak sesuai dengan Sanggha
> yang utuh sesuai Dhamma Winaya ajaran Buddha, ini
> sangat berbahaya, selain merugikan seluruh umat
> Buddha Indonesia juga menghancurkan nama baik
> Sanggha dan agama Buddha secara keseluruhan, cobalah
> RENUNGKAN!.
>   
>   Seandainya, ada sebuah pohon besar berbuah banyak,
> namun tiba-tiba karena terkena racun, atau hama,
> atau dirusak oleh hewan, terkena banjir, dll, maka
> pohon besar itu “Mati”, pasti secara langsung akan
> berakibat buah-buahnya rontok berjatuhan, atau
> busuk, kalaupun diambil dan dimakanbuahnya maka
> rasanya sudah tidak enak atau tidak bermanfaat
> apapun, inilah ilustrasinya harap umat mengerti dan
> bisa menangkap artinya.
>       
>          Dalam penahbisan/upasampada bhikkhu atau
> samanera, STI membuat/menambah  peraturan sendiri di
> luar Dhamma Winaya, dengan sebutan “Skrining” yang
> berisi banyak pertanyaan kurang lebih sampai ratusan
> soal yang tidak ada didalam Dhamma Winaya, hal ini
> sangat jauh melampui Dhamma Winaya yang diajarkan
> oleh Buddha sebagai Guru Junjungan, namun terus
> melakukannya, membenarkan, mengakui dan menggunakan
> nama Sanggha, saya tidak habis pikir mengapa hingga
> sejauh itu? Dan tidak ada seorangpun yang berani
> menegur atau mengingatkan agar diperbaiki, sebab hal
> itu sangat fatal akibatnya nanti, bahkan mengerikan!
> kalau umat tidak percaya silahkan datang, lihat,
> periksa langsung buktikan! (EHIPASIKO).
>   
>           Kesimpulan akhir.
>   
>          Uraian Klarifikasi & Kronologis ini
> berdasarkan bukti-bukti, yang tujuannya agar umat
> tahu dan mengerti yang sesungguhnya, lalu kelak akan
> bisa menilai mana yang benar dan salah, kemudian
> terserah kepada umat Buddha sendiri untuk menentukan
> sikap yang bijak, karena yang rugi diri sendiri jika
> menunjang bhikkhu yang hidup tidak sesuai dengan
> Dhamma Winaya sama ibaratnya membuang sampah, dan
> yang mendapatkan berkah juga diri sendiri jika
> bhikkhu itu memang hidup sesuai dengan Dhamma
> Winaya, hingga bisa berakibat terlahir di alam Dewa
> atau mencapai Nibbana kelak di kemudian hari. Saya
> mengharap semua umat Buddha jangan salah
> paham/pengertian atau berprasangka buruk dulu
> sebelum tahu asal-usulnya segala persoalan,
> sebaiknya datang, lihat dan buktikan (ehipasiko)
> itulah yang diajarkan oleh Guru kita Buddha Gotama.
>   
>          Pesan saya kepada Umat Buddha Indonesia
> harus waspada dan hati-hati kepada mereka yang
> mengaku bhikkhu tapi palsu, yang sebenarnya bukan
> bhikkhu yang utuh alias Tuyul atau Petruk, ingat
> Kalama Sutta sabda Buddha Gotama (sungguh hebatnya
> Buddha mengingatkan kita jauh sebelum terjadi).
>   Rupanya peristiwa ini merupakan awal gejala-gejala
> runtuhnya agama Buddha di Indonesia, mirip dengan
> zaman kerajaan Sriwijaya yang hingga candi Borobudur
> tertimbun ratusan tahun, rusak parah, dilupakan
> dst.. dan sesuai dengan sabda Buddha bahwa: “Kelak
> Dhamma Winaya akan lenyap…Anicca. Sebab itu
> berusahalah, bejuanglah sungguh-sungguh, dan Jangan
> Lengah/Lalai”.
>   Apa yang saya tulis disini maupun dalam kata
> pengantar dalam buku terbitan “Sri Manggala”
> semuanya ada bukti, dan boleh dibuktikan.
>         Ingatlah! Hidup ini hanya sementara bung!
> bahkan Buddha bersabda hanya sekejap bagai gelumbung
> busa, jika anda saat ini berumur 63-68 th cobalah
> hitung tinggal berapa tahun lagi lamanya anda masih
> bisa makan-minum, jalan-jalan dan tidur? Kemanakah
> kelak anda akan perginya? Sadarlah…Sungguh kasihan
> mengapa kesia-siaan yang terus menerus dicari dan di
> genggam? Makin hari makin gelap dan akhirnya..
> Maranusati. Selamat jalan…
>   
>   Tidak ada niat sedikitpun dalam hati saya untuk
> memecah-belah Sanggha atau mendiskritkan para
> Bhikkhu STI yang saya sebutkan di atas.
>   Murni semua tulisan ini demi perbaikan dalam STI
> yang sudah demikian parah.
>   Mudah-mudahan semua Umat Buddha, Para Pembina,
> Pemimpin dan Anggota organisasi Buddhis terutama
> yang tergabung dalam mashab Theravada dapat dan mau
> angkat bicara dan berbuat sesuatu demi perkembangan
> agama Buddha yang baik dan benar sesuai Dhamma
> Winaya di Indonesia.
>   
>   Itulah sebabnya dalam buku penerbitan Sri Manggala
> saya selalu mengawali dalam kata pengantarnya Sabda
> Buddha Gautama:
>   Oh, para bhikkhu, kehidupan suci ini bertujuan
> bukan untuk mencari keuntungan duniawi (mengumpulkan
> uang/ kekayaan), bukan untuk mencari popularitas
> (merebutkan jatah/ pangkat), bukan untuk mencari
> gelar kehormatan, bukan untuk menipu orang lain
> (berkata tidak pegang uang tapi mengumpulkan uang),
> bukan untuk mencari nama harum, bukan untuk menjadi
> orang munafik (kata-katanya berlawanan dengan
> tindakan), bukan...bukan...bukan itu, Kehidupan
> bhikkhu ini dijalani hanya untuk mengikis kekotoran
> batin (kilesa) yaitu lobha, dosa dan moha
> (keserakahan, kebencian dan kegelapan batin), untuk
> mencapai pembebasan dan pengabdian, kebahagiaan
> Nibbana. Dan akhirnya demi kesejahteraan dan
> kebahagiaan semua makhluk.

>   (Itiwuttaka)
>   
>         Terima kasih atas perhatian saudara
> seperjalanan dalam Dhamma Winaya, semoga kita
> memiliki kekuatan keyakinan kepada Buddha, Dhamma
> dan Sanggha serta bekal kebajikan yang cukup dalam
> perjalanan hidup kita selanjutnya demi meraih
> cita-cita kebahagiaan abadi Nibbana. Sabbe Satta
> Bhawantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup
> berbahagia. 
>   
>                                                    
>            Jakarta, 15 April 2006.
>                                                    
>            Salam damai dan bahagia
>                                                    
>            Bhikkhu Sudhammacaro.
>                                                    
>                (Pengklarifikasi)  
>   
>   Tembusan:
>   - Yang Mulia Bhikkhu Dhammaduta Thailand,
> Bhante Win Vijjano (Phra Rajwaracharn)
>   - Direktur Urusan Agama Buddha, Bpk.
> Cornellis Wowor MA.
>   - KASI
>   - Ekayana Buddhist Centre
>   - Magabudhi
>   - Patria
>   - Wandani

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

  Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **



   
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS

   
    Visit your group "Dharmajala" on the web.
   
    To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
   
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

   
---------------------------------
 



           
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.

[Non-text portions of this message have been removed]



** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke