*Kisah Zen/Chan* *Kisah 1 - Mengenali Semua Orang*
Seorang bhiksu muda datang ke sebuah vihara dan segera menemui pimpinan vihara itu. "Aku baru saja tiba di vihara ini, apa tugas yang pertama kali harus kukerjakan? Mohon perintah dan petunjuk guru." Pimpinan vihara hanya tersenyum dan berkata, "Coba kamu kenali dulu setiap bhiksu di vihara ini." Keesokan harinya, bhiksu muda itu kembali menghadap pimpinan vihara dan dengan setulus hati berkata, "Setiap bhiksu di vihara ini telah kukenali semua." Pimpinan vihara tersenyum dan dengan penuh kebijaksanaan berkata, "Pasti ada yang terlupakan, coba kamu cari dan kenali lagi." Tiga hari kemudian, bhiksu muda itu menghadap lagi ke pimpinan vihara dan dengan penuh percaya diri berkata, "Seluruh anggota Sangha di vihara ini telah kukenali semua. Sekarang sudah waktunya bagiku untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya." Pimpinan vihara masih dengan penuh senyum menjawab, "Masih ada satu orang yang belum pernah kau kenali selama ini. Orang ini sangat berarti bagi dirimu." Bhiksu muda itu keluar dari ruang meditasi pimpinan vihara dengan penuh tanda tanya. Satu demi satu dia menanyai setiap bhiksu, satu demi satu dia memeriksa setiap ruang dalam vihara, di bawah terik matahari, di dalam sorotan rembulan, dia mencari tiada hentinya. Entah berapa hari telah berlalu, bhiksu muda yang sedang 'pusing' ini secara tak sengaja melihat bayangan wajahnya sendiri di atas permukaan air di dalam sumur vihara. Bagaikan tersengat halilintar, saat itu juga dia menyadari 'siapa' yang selama ini belum pernah diketemukannya. Dengan segera dia berlari menghadap pimpinan vihara. *Kisah 2 - Jejak Kaki Jalanan Berlumpur* Master Jian Zhen (688 763 M) yang hidup di masa dinasti Tang adalah tokoh terkenal dalam aliran Lii (Vinaya) Mahayana Tiongkok, beliau juga adalah sesepuh pertama aliran Lii Jepang. Beliau menerima banyak bimbingan dari beberapa Master Buddhis di zaman itu. Tahun 753 tiba di Jepang setelah lima kali mengalami kegagalan akibat halangan gelombang samudera. Kaisar, Ratu dan Pangeran kekaisaran Jepang waktu itu menerima Sila langsung dari Master Jian Zhen. Selain membawa aliran Lii, Jian Zhen juga membawa pengetahuan teknik arsitektur, pahatan, pengobatan dan puisi Tiongkok ke Jepang, membuka lembaran baru bagi dunia kebudayaan dan kesenian Jepang. Berikut adalah kisah beliau sewaktu masih sebagai bhiksu muda. Setahun setelah menjadi bhiksu penuh, pimpinan vihara masih memerintahkan Jian Zhen menjadi bhiksu pindapata, setiap hari harus melakukan perjalanan untuk menerima dana makanan dari umat. Ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, setiap bhiksu di vihara beranggapan ini adalah tugas yang berat dan melelahkan. Suatu ketika, Jian Zhen masih tetap tidur meski hari sudah tidak pagi lagi. Pimpinan vihara merasa heran, lalu memasuki kamar Jian Zhen. Jian Zhen masih tertidur lelap, sedang di sisi ranjangnya terlihat tumpukan sepatu-sepatu yang sudah rusak. Pimpinan vihara membangunkannya dan bertanya, "Kamu hari ini tidak keluar untuk pindapata. Tumpukan sepatu rusak ini untuk apa pula?" Jian Zhen menjawab dengan setengah memprotes, "Orang lain satu tahun sepatunya masih belum rusak, sedang aku baru setahun sudah merusakkan begitu banyak sepatu." Memahami makna di balik ucapan Jian Zhen ini, pimpinan vihara tersenyum kepadanya. "Kemarin malam turun hujan lebat, coba kamu ikut aku ke jalan di depan vihara." Jalan di depan vihara adalah jalanan tanah pegunungan yang menanjak. Karena baru diterpa hujan lebat maka jalanan itu menjadi becek dan berlumpur. Pimpinan vihara menepuk pundak Jian Zhen, "Kamu ingin menjadi bhiksu yang setiap harinya hanya memukul genta dan menghabiskan waktu dengan santai, atau ingin menjadi bhiksu mulia yang mampu menyebarluaskan Buddha Dharma?" "Tentu saja ingin menjadi bhiksu mulia," jawab Jian Zhen. Pimpinan vihara kemudian bertanya lebih lanjut, "Kemarin adakah kamu melalui jalanan ini?" "Ya, benar." "Dapatkah kamu menemukan bekas jejak kakimu?" Jian Zhen merasa heran mendengar pertanyaan itu. "Kemarin jalanan ini kering dan keras, mana mungkin bisa menemukan bekas jejak kaki?" Pimpinan vihara tidak berkata sepatah katapun, melainkan berjalan melangkah menginjak tanah berlumpur itu. Setelah melangkah lebih dari sepuluh langkah, beliau berhenti dan bertanya, "Hari ini aku menapaki jalan ini, apa kamu dapat menemukan jejak kakiku?" Jian Zhen menjawab, "Itu sudah pasti." Mendengar jawaban ini pimpinan vihara menepuk pundak Jian Zhen sambil berkata, "Jalanan yang berlumpur meninggalkan jejak kaki, demikian pula kehidupan ini. Mereka yang sepanjang hidupnya tidak mengalami terpaan angin dan hujan, serta tidak berkarya sedikitpun dalam hidupnya, ibaratnya sepasang kaki yang melangkah di atas jalan yang kering dan keras, mana mungkin meninggalkan jejak?" Jian Zhen mengalami pencerahan: tanah yang berlumpur meninggalkan jejak kaki. Siswa Buddha di tanah air, sudahkah kita mengenali diri kita sendiri? Apakah kita ingin menjadi siswa Buddha yang hidup demi diri sendiri atau hidup demi kebahagiaan semua makhluk? Membaca dua kisah di atas, kita dapat merasakan bahwa para siswa Buddha di tanah air khususnya dan belahan dunia barat umumnya, telah mengenali diri sendiri, tidak lagi tertidur, pun tidak terlena dalam kehidupan yang tidak peduli terhadap sesama dan lingkungan, tidak pula takut pada halangan yang menghadang di depan mata, bahkan semakin mantap melangkahkan kaki meski di jalanan berlumpur sekalipun. Ya, pengenalan diri sendiri dan perjuangan tak kenal lelah yang bertujuan demi kebahagiaan semua makhluk mendorong bangkitnya kembali ajaran mulia di bumi ini. Siapkah kita bergabung dengan barisan peninggal jejak Dharma ini? Tunggu apa lagi? Segeralah bangkit dan ukir jejak-jejak Dharma di bumi ini! Sinar Dharma edisi 11 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> You can search right from your browser? It¿s easy and it¿s free. See how. http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
