DASAR FILOSOFI SEBAGAI SIKAP MENTAL
    DIDALAM MENDANDANI DIRI SEBAGAI UMAT
  http://groups.yahoo.com/group/semedi/message/121
  
  Kita tentu ingat ungkapan pelakon iklan di televisi sebagai berikut :
  "Ah ....... teooooooori !".
  Inilah cerminan dari sikap mental yang disebut "skheptism" itu.  Senantiasa menolak dan tidak siap menerima pandangan-pandangan baru dari siapa saja kecuali pandangan sendiri.
  Orang skeptik dapat saja tampak patuh dan tunduk akan perintah, namun dibaliknya (didalam batinnya) ia menolak mentah-mentah.  Mengingat yang satu ini, saya telah mengamati beberapa orang di lingkungan keluarga dekat saya.
  Mereka cendrung dogmatis dan sangat fanatik dengan apa yang (mampu) mereka ketahui. Umumnya mereka dengan sifat "Buddhi Carita" yang rendah dan Awidya yang tinggi.  Ini amat realistik dan benar-benar saya amati didalam kehidupan saya sehari-hari.
  
  Sebetulnya, tanpa kita sadari kita sering berhubungan dengan tipe-tipe seperti ini.  Yakni tipe-tipe yang layak dikasihani, tipe-tipe perlu disadarkan.
  Saya yakin mereka tidak pernah manangisi dirinya sendiri, kekeliruan hidup mereka sendiri. Bahkan mereka menyangka kita yang berpandangan hidup sesat (Sakkya Ditthi), memang aneh, tapi begitulah mereka itu.  Untuk manusia-manusia seperti ini kita mesti extos-sabar menghadapi, karena mereka cenderung agresive dan agitative. Namun bila sekali waktu terpuruk dan rubuh, mereka cendrung cepat Agitatif dan desersif.
  
  Demikianlah pengamatan saya, tentang tipe skheptic itu. Mungkin saja anda punya pengamatan lain yang lebih ilmiah didukung oleh latar belakang pendidikan maupun profesional. Itu sah-sah saja bagi saya yang hanya orang awam.
  
               Kini lebih jauh lagi marilah kita cermati, beberapa aliran filsafat
  Buddhistik hasil suntingan saya berikut ini (tentang hakekat dunia).
  
  HAKIKAT DUNIA
  
               Mengenai hakikat dunia, ada empat aliran dalam Buddhisme :
  
  1.Vaibhashika
  
  Aliran ini lebih dikenal sebagai pandangan realisme majemuk.  Unsur-unsur dhamma pembentuk dunia empiris itulah yang membentuk hakikat dunia (realitas akhir).
  Unsur-unsur ini merupakan isi pokok pengalaman akan realitas.  Oleh karena menekankan banyaknya pengalaman terhadap realitas yang ada maka paham ini disebut realisme pluralistis.
  
  Aliran Vaibhashila yang erat berkait dengan Buddhisme purba (Theravada) berpendapat bahwa proses kegiatan pembentuk dunia (realitas lahir) terdiri dari unsur-unsur tak terbatas serta kekuatan-kekuatan penggerak yang terus-menerus mendorong terjadinya gerak.  Unsur-unsur ini merupakan daya-daya hakiki dalam jagad raya dan menjadi penanggung jawab segala apa yang ada.  Unsur-unsur hakiki dunia ada secara mandiri dalam hakikatnya masing-masing dan setiap hal yang lain ada karena unsur-unsur hakiki.  Dalam tempo yang singkat unsur-unsur hakiki mampu menghasilkan bentuk seperti batu, meja, kursi, yang merupakan suatu pengalaman biasa.
  
  Hubungan antara uinsur-unsur hakiki dengan dunia pengalaman biasa dapat dibandingkan sebagai hubungan antara teori ilmu modern mengenai susunan benda-benda dari atom-atom dengan persepsi umum mengenai kekursian, kemejaan.  Meja kayu itu (persepsi umum) terdiri dari atom-atom kayu (unsur-unsur hakiki "kemejaan" tersebut). Jadi pandangan umumnya : bahwa meja-meja atau kursi-kursi itu tetap dan permanen adanya.  Namun para ilmuwan menjelaskan bahwa apa yang dipandang sebagai benda-benda permanen sesungguhnya merupakan susunan berbagai daya-daya hakiki yang terus bergerak tetap.
  
  
  Cara pandang ilmuwan tersebut, seperti cara pandang sekolah ini, tidak bermaksud menolak pandangan umum dunia, tidak pula mau menyangkal objeknya.  Yang dikatakan adalah bahwa dunia luar (lahir) ada diluar sana yang  hanya 'real" pada saat seseorang memikirkannya sebagai yang ada.  Tetapi realitasnya tersusun secara lain dengan apa yang biasanya dibayangkan.  Dan realitas dunia ini disusun oleh berbagai kombinasi dari daya-daya hakiki elemental yang bergerak "ageg".  Karena realitas dipandang sebagai proses susunan daya-daya hakiki inilah Vaibhashika mendapat nama 'realisme'.
  
  2.Sautrantika
  
  Aliran ini berpendapat hampir sama dengan aliran Vaibhashika, namun
  menolak pandangan bahwa unsur-unsur hakiki dari pengalaman biasa itulah
  yang membangun unsur-unsur dasar realitas tidak bisa diketahui langsung,
  tetapi berada di atas isi-isi pokok pengalaman dan ditampilkan oleh
  pengalaman-pengalaman itu.
  
  3.Madhyamika
  
               Aliran ini menekankan realitas unsur-unsur hakiki penyusun dunia dan
  menjadi masyhur karena teorinya mengenai shunyata, yang berarti "ketiadaan"
  (devoid = tiada). Pandangan ini berpendapat bahwa semua unsur dunia ini
  "ketiadaan" dari realitas akhir.  Karena itu tak ada sesuatu yang tanpa
  ketiadaan, tak ada eksistensi mandiri dalam atau dari diri sendiri.  Semua
  eksistensi (apa yang ada) saling bergantung satu sama lain. Apa pun yang
  ada, selalu ada dalam hubungan dengan, atau tergantung pada yang lain.
  
  4.Yogacara
  
               Mengenai hakikat realitas, Yogacara berpendapat : apa saya yang ada
  bersifat realitif terhadap kesadaran (ada karena disadari, dihubungkan
  dengan kesadaran). Kesadaran diberi posisi sebagai realitas hakiki dan
  mutlak dari semua yang ada. Pandangannya : apa saya yang ada, ada sejauh
  berkaitan dengan kesadaran. Pandangan semacam ini dikenal sebagai pandangan
  idealisme.
  
               Perbedaan pokok antara 2 pandangan sebelumnya, relaisme, dengan pandangan
  Yogacara (idealisme) adalah bahwa realisme mengambil realitas hal-hal luar,
  yang lahir, tampak sebagai yang hakiki, sehingga kesadaran itu relatif
  terhadap realitas lahir.  Sedang idealisme memegang kesadaran sebagai yang
  hakiki dari realitas yang ada.  Maka segala sesuatu yang nyata, yang ada
  itu hanya real, nyata, sejauh berkaitan dengan kesadaran.
  
  Pokok-pokok pikiran idealisme Yogacara :
  
  1)Tidak mungkin seseorang mengalami suatu objek di luar kesadaran, sebab
  mengalami 'sesuatu' berarti bahwa sesuatu itu masuk dalam kesadaran.
  Karena itu pandangan realisme yang menyatakan adanya hal-hal di luar
  kesadaran paling baik dipandang sebagai teori spekulatif yang dirancang
  untuk menjelaskan tentang timbulnya kesadaran dan perubahan-perubahan dalam
  kesadaran.  Semua bukti langsung mengenai adanya hal-hal di luar kesadaran
  harus datang dari kesadaran itu sendiri.
  
  2)Tidak ada bukti langsung yang mungkin bagi adanya hal-hal di luar
  kesadaran yang berbeda dari apa yang ada dalam kesadaran. Aliran Yogacara
  menjelaskan pendapat ini dengan warna.  Sering pembedaan dibuat kesadaran
  terhadap warna biru dengan warna biru itu sendiri.  Menurut Yogacara,
  pembedaan ini tidak berdasar, sebab warna biru itu tak pernah ditangkap di
  luar kesadaran akan sesuatu yang biru.  Karena tidak ditangkap tersendiri
  dan terpisah maka tak ada kemungkinan mengandaikan adanya perbedaan antara
  kesadaran akan biru dengan warna biru sendiri.  Dengan kata lain  : biru
  (sebagai warna) selalu berkait dengan kesadaran akan warna biru.  Sehingga
  keduanya bukan dua hal yang berbeda namun identik satu sama lain.  Bila ini
  terjadi, maka realitas-realitas lain di luar penangkapan warna biru berkat
  kesadaran itu melenyap (tidak ada).
  
  
               Salah satu keberadaan intuitif mengenai kesimpulan pendapat di atas
  adalah harus ada perbedaan antara kesadaran akan suatu objek dengan objek
  itu sendiri karena hampir setiap orang secara intuitif merasakan bahwa dua
  hal ini dapat dibedakan.  Yogacara melawan keberatan ini dengan mengambil
  contoh mengenai mimpi.  Kebanyakan orang bermimpi, dan ketika sedang mimpi
  mereka mengira bahwa isi mimpi yang mereka alami itu memiliki eksistensi
  objektif di luar mimi.  Dalam mimpi tak mungkin ada hal-hal yang sedang
  diimpikan yang lepas atau berada di luar mimpi itu sendiri.  Maka tidak ada
  objek di luar kesadaran.  Dan isi mimpi itu ada dalam kesadaran.
  
               Bagi aliran Yogacara, adanya berbagai macam objek dalam kesadaran
  sebenarnya hanya merupakan ciptaan dan proyeksi dari kesadaran.  Lalu
  pembedaan yang selama ini dibuat antara subjek dan objek, antara hal-hal
  dan ide-ide, antara eksistensi dan pengetahuan, sesungguhnya hanya
  merupakan pembedaan antara apa yang ada dalam kesadaran dan diluar
  kesadaran.  Konsekuensinya, tema pokok aliran Yogacara adalah apa pun yang
  dialami merupakan hasil kesadaran (akal).
  
               Mengenai kesadaran sendiri, diterangkan adanya bermacan-macam tahap yang
  semuanya bertolak dari suatu kesadaran mutlak, utama, yang disebut
  alayavijnana  atau kesadaran awal (benih kesadaran). Dengan mengacu
  kesadaran mutlak utama ini maka ditegaskan bahwa kesadaran  bisa tampil
  mandiri dan berbagai kegiatan sadar itu bermuara dari potensialitasnya
  masing-masing.  Lalu kesadaran ini  seluruhnya mampu menentukan menyatakan
  diri sendiri.  Mengenai tahap-tahap kesadaran, Yogacara menerangkan bahwa
  pada tahap pertama, terdapat kepekaan terhadap macam-macam objek ke enam
  indra mulai dari mata, telinga, hidung, lidah, peraba dan akal budi.
  
               Pada tahap selanjutnya (kedua), terdapat kesadaran mengenai keenam jenis
  kesadaran indera. Pada tahap ini mulai muncul kesadaran diri yang mendasari
  kesadaran ainnya serta berperan menyatukannya.  Kedua tahap kesadaran ini
  berada dalam lingkup perbuatan yang dialami.
  
               Tahap ketiga, merupakan  yang tak bisa dialami selain dalam anugerah
  penerangan agung.  Inilah kesadaran pokok yang merupakan realitas hakiki
  yang mendasari tahap-tahap dan macam-macam kesadaran yang lain.  Dari
  kesadaran utama inilah berasal seluruh kegiatan-kegiatan lain kesadaran dan
  menjadi tempat kembalinya akibat-akibat.
  
               Bagaimana hakikat kesadaran itu dipaparkan ? Di bawah ini diberikan salah
  satu ilustrasi :
  
               "Consciousness, consisting of the skandhas (five groups), dhatus (elements
  of being), and ayatanas (sense fields), which are without a self or of
  anything of the nature of a self, arises from ignorance, karma, and
  craving, and it functions through being attached to grasping at things by
  means of the eye and all the organs and makes the presentations of its
  storemind (seed-consciousness) appear as bodies and vessels, which are
  manifestations of its own mind (the strore-consciouness)".
  
  Rela.tivisme (Aliran Madhyamika)
  
               Aliran Sautrantika dan Vaibhashika memegang eksistensi unsur-unsur
  lahiriah, sebagai dasar untuk pendapatnya mengenai realitas.  Aliran
  Yogacara memegang kesadaran dasar sebagai basis pokok pandangannya mengenai
  realitas, dan aliran filsafat Madhyamika memandang kedua pendapat itu
  relatif saja.  Sebab Madhyamika tak mau mengakui apa-apa yang konseptual,
  pandangannya itu dikenal sebagai shunyata atau relativisme yang dijelaskan
  sebagai berikut :
  
  
               Kedamaian dan kebijsaksanaan dalam Buddhisme tak bisa ditemukan dalam
  teori-teori konseptual, tetapi hanya bisa disadari dengan mengambil bagian
  langsung dalam proses-proses realitas.
  
               Jati Buddha (hakikat Buddha) merupakan realitas utama, tanpa peduli
  bagaimana dikenal dan dicapai orang.  Jati Buddha itulah dasar utama tiap
  individu.
  
               Nagarjuna (100-165 Masehi), salah satu pemimpin pokok Madhyamika (dalam
  Buddhisme Mahayana) menegaskan ajaran pokoknya, yaitu fakta paling menarik
  dan dasariah manusia adalah kenyataan bahwa ia mempersoalkan "manusia itu
  ingin ada".  Keinginan untuk ada, sebagai yang paling dasariah dari semua,
  mengejawantah dalam kegiatan menciptakan sebuah dunia yang dibangun dari
  pengalaman-pengalaman penghayatan terhadapnya.  Kita melihat sekitar kita
  sebagai "yang lain".  Dan dalam bertanya mengenai "ada", "yang lain"
  merupakan tantangan yang muncul di hadapan kita. "Yang lain" dipandang
  sebagai  "bukan diriku". Ikhtiar paling nyata untuk "menaklukkan" yang lain
  ke "diriku" terjadi dalam proses mengetahui.  Dalam kegiatan mengetahui,
  "yang ;ain" disatukan dengan "aku" (diriku).
  
               Dalam pengetahuan, orang dapat menyatukan "yang lain" dalam dirinya karena
  pengetahuan merupakan penyatuan antara diri dengan "yang lain". Kehausan
  akan pengetahuan hanya salah satu ungkapan kedambaan untuk ada (a quest to
  be) karena dalam usaha untuk memuaskan kehausan, kita mencoba membuat dunia
  menjadi milik kita sendiri, membuatnya menjadi bagian dari "ada" kita.
  Dalam pengetahuan, kita menciptakan dunia sebagai bagian dari keberadaan kita.
  
               Dalam hal ini masalah yang sering muncul adalah kesalahan menyamakan dunia
  yang kita ciptakan dalam pengetahuan (yang sebenarnya hanya dunia nama dan
  bentuk) dengan realitas sendiri.
  Lebih parah lagi, bila dalam pengetahuan kita mencipta nama-nama dan wujud
  "diri", lalu menyamakan konsep diri itu dengan 'diriku sejati'. Akibatnya
  sang diri sejati (yang nyata), karena diselubungi oleh ketidaktahuan, tidak
  dihiraukan lagi.  Diri sejati terjepit diantara diri semu konseptual dan
  realitas semu hasil pengetahuan. Yang terjadi lalu eksistensi manusia yang
  semu, tidak autentik, yang berada dan hidup dalam dunia yang semu pula.
  Situasi inilah sumber dukkha, sengsara manusia yang hendak diatasi oleh
  Buddhisme.
  
               Dengan membedakan antara realitas sendiri dan pandangan kita mengenai
  realitas, Nagarjuna mencoba menunjukkan bahayanya sikap memutlakkan satu
  pandangan mengenai realitas sebagai satu-satunya yang benar. Bagi
  Nagarjuna, pandangan itu selalu merupakan ciptaan penamaan konseptual dari
  realitas. Maka memutlakkannya sebagai satu-satunya yang sejati/benar itu
  sama dengan menolak untuk mengenali pandangan mendalam dari yang tampak,
  hingga menolak kemungkinan menemukan jalan ke arah penerangan dari dalam.
  
               Segi positif dari pandangan Nagarjuna adalah : karena teori-teori dan
  pendapat-pendapat itu merupakan hasil konstruksi nama dan forma konseptual,
  maka tak dapat disamakan dengan realitas sendiri, meskipun teori-teori
  konseptual tersebut mampu menunjuk ke realitas. Konsep, pandangan, atau
  pendapat tersebut bisa menjadi sarana bantu untuk mengenali dan menyadari
  realitas, asal tidak dipandang mutlak dan tersendiri, namun harus dipandang
  relatif dan membantu.
  
  
               Segi negatif dari relativisme Nagarjuna ini : orang memutlakkan
  relativisme sendiri (yang tetap merupakan teori atas realitas) sebagai
  satu-satunya yang benar. Meskipun dalam hal ini Nagarjuna sudah jauh-jauh
  menyatakan : "namun bila orang lalu terikat (memutlakkan) konsepsi
  relativitas ini, mereka itu tak bisa dituntut kembali" (Lih. Madhyamika
  Karika, XIII, 8, dalam Th. Stcherbatsky, The Conception of Buddhist
  Nirvana, The Haque : Monton and Co, 1965, hlm. 49).
  
               Segi positif lain dari relativisme Madhyamika terletak pada visinya yang
  menegaskan : dalam menghayati hidup dalam sikap relatif (tak mengikat diri
  pada sesuatu) dan melalui meditasi, orang dapat langsung menyadari
  kepenuhan "ada"nya (eksistensinya).  Tugas utama filsafat adalah menghantar
  orang ke kesadaran ini, dengan menanggalkan konsep-konsep penghalang, lalu
  langsung masuk mengambil bagian dalam realitas sejati.
  
               Keberadaan shunyata ajaran Nagarjuna adalah : bahwa tak ada teori atau
  pandangan yang pada dirinya sempurna dan seluruhnya benar.  Konsep dan
  sistem konsep itu relatif satu terhadap yang lain, merupakan kebenaran
  sebagian saja.
  Pandangan ini diajarkan dengan tujuan menyiapkan seseorang menapak ke jalan
  kebijaksanaan yang lebih agung (Prajnaparamita) yang mengatasi
  kebijaksanaan terbatas eksistensi manusia yang telatif terbatas pula.
  
  Aliran Madhyamika Karika
  
  Teori-teori filosofis tak akan mampu mengungkapkan kebenaran sejati
  mengenai realitas.  Bagian pertama tulisan Karika adalah :
  
  "Tidak di tempat mana pun, dan tidak di waktu kapan pun entitas (realitas
  sejati) mampu ada dengan tampil dari dirinya sendiri, atau daru yang lain,
  atau dari keduanya atau dari keterbatasan penyebab-penyebabnya itu"
  (Kenneth K. Inada, Nagarjuna : Mulamadhyamakakarika, Tokyo, Hokuseido
  Press, 1970, hlm. 39).
  
  
               Dari pernyataan di atas bisa disarikan adanya empat pandangan mengenai
  kausalitas yang tidak mencukupi :
  
  1.Apa pun yang ada, itu mengadakan/mengasalkan adanya dari dirinya;
  2.Apa pun yang ada, mengasalkan adanya dari yang lain;
  3.Apa pun yang ada, mengasalkan adanya baik dari dirinya sendiri
  maupun dari yang lain ;
  4.Apa pun yang ada, mengasalkan adanya tidak dari dirinya, tidak dari yang
  lain, tidak perlu dari kekosongan.
  
               Dari empat pendapat ini nyatalah bahwa yang akan ditekankan bukannya teori
  mengenai hakikat realitas, tetapi mempertanyakan hakikat pokok realitas itu
    sebagai sesuatu yang tak bisa dibenarkan.
  
               Pandangan pertama kausaitas yang ditolak adalah bahwa apa saja yang ada
  itu ada karena dirinya sendiri. Kausalitas bentuk pertama yang ada itu ada
  karena dirinya sendiri. Kausalitas bentuk pertama ini ditolak dengan dasar
  : kesamaan (identitas) antara sebab dan akibat tak bisa dipakai untuk
  menjelaskan kausalitas. Alasannya : bila sebab akibat itu identik-sama lalu
  tidaklah masuk akal membicarakan kausalitas sebab kausalitas hanya mungkin
  dalam bentuk  hubungan antara dua hal, dimana yang satu merupakan hasil
  dari yang lain.  Sedang identitas mengatur kemungkinan semua hubungan
  antara dua hal, termasuk hubungan kausalitas. Dalam identitas dileburlah
  segala macam perbedaan yang ada.
  
  
               Pandangan kedua : hal-hal yang ada itu disebabkan oleh sesuatu yang lain,
  jelas merupakan pandangan biasa mengenai penyebaban (kausalitas).
  Pandangan ini dianut oleh Vaibhashika dan Sautrantika.
  
  Bertentangan dengan pendapat ini, aliran Madhyamika Karika menegaskan bahwa
  kausalitas ini sama saja dengan menyatakan bahwa "keberadaan" (being) itu
  bisa dihasilkan dari "ketidakberadaan" (non-being), artinya sama dengan
  mendapatkan sesuatu dari ketiadaan.  Apakah itu mungkin ?
  
               Bila mengatakan bahwa antara keduanya (sebab-akibat) ada hubungannya,
  sejauh yang satu disebut sebab dan yang kedua disebut akibat, ini berarti
  mau menghindar dari pertanyaan pokok : atas dasar apa pembedaan sebab dan
  akibat ?
  
               Pandangan ketiga sebenarnya konsekuensi dari pandangan yang lain : bila
  tak ada hubungan yang bisa diandaikan antara akibat dan sebab, maka tidak
  ada artinya berbicara mengenai kausalitas.  Sehingga kalau sama sekali tak
  ada kaitan antara satu hal sebagai sebab dengan lain hal sebagai akibat,
  tak bisa terjadi kausalitas.  Apa yang ada tidak diasalkan dari dirinya
  maupun dari yang lain, maka juga tidak akan ada kausalitas. Ini sebenarnya
  kesimpulan dari pendapat-pendapat di bawah ini :
  
               Bila hal-hal yang ada, adanya tak diakui dari dirinya sendiri, dan bila
  tidak diterima pula, asal adanya itu dari yang lain ;
  
               Maka jelas hal-hal tersebut tak dapat berasal dari dirinya sendiri maupun
  dari yang lain.  Sebab, kombinasi dari 2 bukan sebab (non sebab) tak
  mungkin menghasilkan 1 sebab.
  
               Pandangan kausalitas ke-4 yang juga ditolak oleh Madhyamika Karika ini
  sebenarnya berasal dari pandangan kausalitas Chandrakirti yang menyatakan
  bahwa kausalitas terjadi karena terbentuknya koordinasi antara
  kondisi-kondisi tertentu yang bersatu dan membentuk entitas, adanya
  sesuatu. Contohnya : orang yang melihat bunga ungu.  Pertama-tama,
  kondisinya : ada orang, dengan mata lalu melihat.
  
               Ada bunga berwarna ungu, yang karena penangkapan inderawi akan keunguan
  bunga itu, maka muncul penerimaan inderawi akan bunga ungu tersebut.  Pada
  saat faktor ke-3 ini (yaitu mulainya proses penginderaan keunguan bunga)
  maka si bunga (yang ungu) dan mata bisa dipandang sebagai penyebab, dalam
  arti, yang membuat memungkinkan terjadinya proses penginderawian ungu itu.
  
               "We are satisfied with establishing the fact that entities, such as
  sensation, arise in a certain coordination with (other entities), e.g. the
  organ of vision etc. (This as all that we mean, when we assert that the
  existence of an organ of vision, etc. are the conditions under which a
  visual sensation can arise)" (Lih. Stcherbatsky, The Conception of Buddhist
  Nirvana, hlm. 170).
  
               Pandangan ini dinilai lemah oleh Madhyamika Karika karena tidak jelas
  apakah penginderawian keunguan itu dikondisikan oleh mata dan adanya bunga,
  atau sebaliknya.
  Tidak jelas pula apakah keunguan yang ditangkap oleh indera itu sudah ada
  pada saat mata memandang bunga ungu atau baru disadari bahwa itulah ungu
  karena koordinasi penyebaban yang lain.
  
  RINGKASAN
  
               Aliran Madhyamika membedakan antara dunia konsep-konsep (yaitu dunia hasil
  konstruksi logis, dunia yang diciptakan oleh teori-teori filosofis mengenai
  realitas) dengan realitas itu sendiri.  Yang kedua ini (yaitu realitas)
  sebaaimana adanya, memang seluruhnya mengatasi konsep-konsep atau
  macam-macam pandangan/teori.  Dunia konseptual tak bisa menjadi realitas
  sejati karena penuh dengan kontradiksi dan ketidakkonsekuenan.  Meski
  demikian, dunia konseptual itu tetap berpijak dari realitas sendiri, yang
  kadang tidak mewakilinya namun kerap tampil sebagai dunia tersendiri.
  
  
               Dalam dunia konseptual, buatan penangkapan logis akal budi inilah
  kebanyakan orang hidup. Memang ada dunia sebagaimana adanya, tetapi orang
  seringkali tidak menghayatinya secara demikian.
  
               Mengapa orang bisa hidup dalam dunia yang tidak sejati ? Karena
  ketidaktahuan.
  
               Dengan menyadari relativitas penuh (shunyata) dunia konseptual dan hasil
  konstruksi mental maka semua akar-akar keterikatan pada sesuatu yang mutlak
  akan lenyap.
  
               Semua perbedaan, termasuk perbedaan antara nirvana dan samsara (eksistensi
  biasa) hanya akan dilihat relatif saja.  Dengan melepas ketidaktahuan yang
  kerap memegang dunia konseptual sebagai realitas sejati dan dengan mau
  masuk ke partisipasian aktif langsung dalam realitas sejati maka seperti
  kata Nagarjuna, akan disadarilah "tidak ada bedanya sama sekali antara
  samsara dan nirvana (Lih. Madhyamika Karika, XXV,19).
  
               Kemudian cobalah simak sebuah suntingan lain, dari salah satu sudut
  pandang faham hinduisme berikut (tentang Jnana Yoga dan Doa)
  
  JNANA YOGA
  
  DASAR-DASAR DARI JNANA YOGA
  
  BRAHMAN
  
               Kadang-kadang anda bermimpi, bahwa anda mati dan bahwa kaum keluarga anda
  meratapinya. Bahkan dalam keadaan yang benar-benar mati, anda melihat dan
  mendengar ratapannya.
  Hal ini dengan jelas menyatakan, bahwa walaupun telah mati sesungguhnya
  kehidupan itu tetap ada.  Anda tetap ada, walaupun selubung phisik ini
  telah hancur.  Keberadaan itu adalah ATMA atau "Sang AKU" yang sejati.
  
               Didalam Brhadaranyaka Upanisad II-4, 13, anda akan menemukan : "Kemudian
  dengan apa ia dapat melihat siapa?".  Hal ini secara jelas menunjukkan
  bahwa Atman bukanlah objek persepsi. Ia senantiasa merupakan subjek yang
  mengetahui. Tak ada suatu wakil ataupun objek dari kegiatan, ataupun suatu
  alat. Hanya pada badan phisik saja, terdapat TRIPUTI atau Tritunggal, yaitu
  : sipenglihat, penglihatan dan yang dilihat. Siapakah yang mengetahui YANG
  MENGETAHUI itu ? Bagaimanakah seseorang dapat mengetahui-Nya, dengan siapa
  ia mengetahui semuanya ini ? Anda tak dapat melihat SIPENGLIHAT dari
  PENGLIHATAN, tak dapat mendengar SIPENDENGAR dari PENDENGARAN; anda tak
  dapat mengamati SIPENGAMAT dari PENGAMATAN ini ; anda tak dapat mengetahui
  YANG MENGETAHUI dari PENGETAHUAN ini.
  
               Apapun yang anda lihat, merupakan Bhawa Padartha. Padartha artinya
  sesuatu. Yang ada adalah Bhawa. Bila anda berkata : "Itu amat besar, itu
  amat manis, London merupakan kota teramat besar", maka perkataan "amat"
  disini menunjukkan "ABHAWA PADARTHA". Ia tak dapat dibayangkan, bahkan oleh
  pikiran sekalipun. Brahman atau Yang Mutlak, tergolong dibawah katagori
  "ABHAWA PADARTHA", karena tak terbatas.
  
               Semua perbedaan disebabkan oleh UPADHI atau tambahan, pembatasan.  Karena
  tambahan pembatasan itu sifatnya khayalan atau palsu, maka perbedaan yang
  disebabkan olehnya juga palsu.  Karena itu, hanya Brahman sendirilah
  satu-satunya tanpa yang kedua, yang merupakan keseimbangan, dibelakang
  semuanya ini.  Hanya Dia sendirilah yang ada pada 3 periode waktu.
  
               Anda akan menyatakan bahwa Tuhan, yang didalam suasana kegelapan anda puja
  seperti terpisah dari diri anda sendiri, tidak jauh dari anda dan tidak
  bersemayam diluar.  Dia  merupakan DIRI SEJATI atau ATMA, yang  bersemayam
  dilubuk hati anda. Dia adalah PENGAWAS didalam bathin (ANTARYAMIN).
  
  
               Panggilah DIA dengan nama apapun yang anda sukai, tenang atau damai,
  sempurna atau bebas, lengkap, hidup atau Nirwana, Nirwikalpa Samadhi atau
  Sahaja Awastha, Kaiwalya atau Moksa, kearahnya anda berusaha dalam segala
  aktivitas tanpa sadar, karena objek-objek duniawi ini tidak memberikan
  kepuasan yang penuh kepada anda. Setiap gerakan kaki ditujukan kepada
  SACCIDANANDA BRAHMAN. Bahkan seorang bajingan atau seorang pengembarapun
  maju kearah kota Brahman yang abadi, walaupun ia dalam jalan yang
  berbelok-belok atau berputar-putar.
  
  MAYA DAN AWIDYA
  
               Ibarat cermin yang menjadi redup oleh lapisan debu yang menyelimutinya,
  demikian juga Pengetahuan, diselimuti oleh tabir Awidya.  Oleh karena itu
  semua orang ditipunya. Mereka terpukau pada benda-benda yang tidak nyata
  dan mengelirukan badan sebagai Atma murni.  Mereka berpikir, bahwa dunia
  khayalan ini, dari nama dan masuknya, benar-benar nyata.
  
               Mula Prakrti adalah dalam keadaan tidur-tidur ayam atau keadaan Alam
  semesta yang terpendam, yang disebut MAHA SUSUPTI, apabila Guna berada
  dalam keadaan seimbang.  Bila keseimbangan GUNA terganggu, maka MULA
  PRAKRTI disebut dengan nama yang berbeda, sebagai MAYA WIDYA, TAMAS dan
  sebagainya. Brahman itu tanpa awal dan tanpa akhir. MAYA, juga tanpa awal,
  tetapi ia memiliki akhir.  Ia akan lenyap, segera setelah seseorang
  mendapatkan Pengetahuan tentang Sang Diri atau DIRI SEJATI.
  WAIRAGYA
  
               Mengapa anda tertawa terbahak-bahak, kawan, apabila anda seharusnya
  menangis ? Anda telah memboroskan kehidupan ini dalam kebodohan dan
  kenikmatan duniawi.  Anda teleh melakukan bermacam-macam perbuatan dosa.
  Anda tidak melakukan sesuatupun untuk meningkatkan martabat anda.  Anda
  tidak mengemukakan kata hati anda.  Hati anda dipenuhi dengan segala macam
  ketidak murnian. Anda tidak memiliki kedamaian pikiran.  Ingatlah, bahwa
  segala kenikmatan duniawi, akan menggigit dan menyengat anda, diakhir
  kematian anda.
  
               Dalam Bhagawadgita XVII-38, anda akan menemukan : "Bahwa kenikmatan yang
  muncul dari hubungan organ indriya dengan objek, pada awalnya seperti
  nektar, tetapi akhirnya seperti racun. Bukalah mata anda sekarang.
  Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang bajik. Carilah perkumpulan dari
  orang-orang bijak. Ingatlah kepada-Nya, lakukanlah meditasi. Anda akan
  memiliki suatu kehidupan mulia yang baru.
  
               Wairagya adalah pemurnian bathin, keadaan mental. Seseorang dapat saja
  tetap didunia, di tengah-tengah kemewahan, wanita, kekayaan dan sebagainya,
  namun tetap memiliki Wairagya yang sempurna, sedangkan seorang Sadhu, yang
  menetap di dalam Gua dipegunungan Himalaya mungkin terikat dengan
  Kamandala-nya, berupa sepotong pakaian sebatas pinggangnya.  Raja Janaka,
  adalah seorang penyabar yang sempurna, walaupun ia memerintah sebuah
  kerajaan yang luas. Demikian pula Raja Bhagiratha. Ratu Cudalai, memiliki
  Wairagya yang sempurna, walaupun ia memerintah sebuah dominion, sementara
  suaminya yang mengundurkan diri ke dalam hutan, terikat secara ketat pada
  badan dan Kamandalanya.
  
  Anda tak dapat memandang dengan benar  seorang Sanyasin atau seorang kepala
  rumah tangga, mengenai Wairagyanya, hanya dengan cara bercakap-cakap
  dengannya beberapa saat atau tinggal dengannya selama beberapa hari. Anda
  harus tinggal dengannya, dalam jangka waktu tertentu sambil mempelajari
  prilaku mentalnya. Umumnya orang-orang membuat kekeliruan-kekeliruan yang
  fatal.Mereka tertipu oleh penampakan luar. Mereka menganggap seorang Sadhu,
  yang secara phisik telanjang, sebagai seorang Mahatma yang hebat, pada
  awalnya. Selanjutnya, mereka merubah kesannya, setelah terjadi kontak
  (hubungan) yang rapat.  Ketelanjangan secara phisik itu sendiri tidak akan
  menyatakan Wairagya sejati.Yang diinginkan adalah kesederhanaan mental,
  yaitu pancaran wasana yang sempurna, tanpa keakuan dan sebagainya.
  Janganlah diperdaya oleh penampakan luar saja.
  
  
  JNANA YOGA SADHANA
  
  Jnana Yoga Sadhana, juga dikenal dengan nama lain, seperti Nirguna Dhyana,
  Meditasi pada OM, Pranawa Upasana atau Brahma Upasana.
  
  * Sucikanlah CIPTA (BUDDHI) dengan melakukan NISKAMYA KARMA selama satu
  tahun. Akibat dari CITTA SUDDHI, adalah pencapaian WIWEKA dan WAIRAGYA.
  
  * Capailah ke-4 kemampuan atau SADHANA  CATUSTAYA,  yaitu :
  * WIWEKA WAIRAGYA,
  * SAD  SAMPATH dan
  * MUMUKSATTWA.
  * Kemudian dekatilah seorang SAD GURU, lakukanlah SRAWANA, MANANA, dan
  NIDHIDHYASANA.
  
  * Pelajarilah secara seksama dan cermat, ke-12 UPANISAD klasik (CHANDOGYA,
  TAITTRIYA, KAUSITAKI, AITAREYA, MUNDAKA, BRHADARANYAKA, KATHA, KENA,
  PRASNA, SWETASWATARA, MANDUKYA dan ISAWASYA), dan YOGA WASISTHA.
  
  * Milikilah pengertian yang mendalam dan menyeluruh tentang LAKSYARTHA atau
  arti yang sesungguhnya dari MAHAWAKYA "TATTWAMASI".
  
  * Lalu, secara terus-menerus, cerminkanlah arti yang sebenarnya selama 24
  jam penuh. Inilah yang merupakan BRAHMA CINTANA atau BRAHMA WICARA.
  
  
  * Jangan membiarkan suatu pemikiran Duniawi memasuki pikiran. Perwujudan
  WEDANTA, timbul bukanlah melalui akal penalaran, tetapi melalui
  NIDHIDHYASANA yang terus menerus, seperti persamaan dengan BHRAMARAKITA
  NYAYA (ulat dan kepompong).
  
  Anda akan mendapatkan TADAKARA TARUPA, TANMAYA, TADIYATA, TADLINATA
  (kesatuan, kesamaan).
  
  Untuk melakukan Wedanta Sadhana, tak diperlukan Asana. Anda dapat
  bermeditasi selama berbicara, berdiri, duduk, berbaring pada suatu kursi
  malas, dengan sikap setengah rebah, berjalan-jalan dan makan.
  
               Munculkanlah BRAHMAKARA WRTTI dari SATTWIKA ANTAHKARANA anda, melalui
  pengaruh dari pencerminan pada arti yang sesungguhnya dari Maha Wakya "AHAM
  BRAHMASMI" atau "TATTWAM ASI". Bila anda mencoba untuk merasakan, bahwa
  anda tak terbatas, maka Brahmakara  Wrtti muncul.  WRTTI ini membinasakan
  AWIDYA, menginduksi BRAHMAJNANA dan akhirnya mati dengan sendirinya,
  seperti benih yang Nirmala, atau semacam ganggang yang melepaskan
  endapan-endapan dalam air dan akhirnya tenggelam bersama lumpur dan
  kotoran-kotoran lainnya.
  
  SUNTINGAN PILIHAN KARYA SANKARACARYA
  
               Wahai, Shiwa ! Sebagai seorang bayi didalam kandungan, hamba dibungkus
  oleh air seni dan nanah, dan dihanguskan oleh api rasa lapar.
  
  Ketika hamba mencapai usia remaja, hamba dibanggakan dengan kebanggaan akan
  kenikmatan indriya, benda-benda,dan sebagainya.
  
  Sebagai seorang tua hamba menjadi lemah jasmani dan pikiran.  Hamba
  diarahkan pada suatu kehidupan khayalan, ditengah-tengah para wanita, uang
  dan objek-objek indriyani.  Hamba tidak pernah memuja KAKI PADMA-MU !
  Ampunilah hamba sekarang ini.  Berkahilah hamba, Wahai YANG MAHA PEMURAH.
  
               Daun-daun kehidupan berguguran. Keremajaan mengalami kemunduran.
  Hari-hari berlalu, dimana sang waktu, sebagai pembinasa, mencengkeramkan
  tangannya keseluruh dunia.  Keberadaan didunia ini hanya sesaat bagaikan
  gelembung atau kilat.  Wahai, Shiwa, lindungilah hamba.
  
               Wahai, Shiwa ! yang menggenggam mangkuk peminta-minta dari tulang
  tengkorak Brahma, awasilah pikiran liar yang melompat-lompat pada
  keinginannya yang lemah lembut, pada cabang-cabang keinginan, pada
  bukit-bukit dada, dalam hutannya nafsu dan jagalah ia selalu bersama-Mu.
  
               Wahai pikiran ! kekayaan, kendaraan, anak-anak, wanita, kekuasaan harta
  benda, kesemuanya tak ada nilainya. Semuanya dapat lenyap.
  
  Telusurilah KAKI PADMA  SIWA dan capailah keabadian, kebahagiaan yang kekal
  dan kedamaian yang tertinggi. Bila anda tidak bermeditasi pada Tuhan, anda
  akan memperoleh kelahiran yang berderajat rendah, seperti seekor babi.
  
               Dari keduanya, tampak jelas bahwa Shiwa dan Buddha adalah satu adanya.
  Hanya kita saja yang memandang berbeda, karena dari sudut budaya berbeda
  dan melalui keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia dengan kadar
  Moha, Lobha dan Dosa yang tinggi***
  
  ----------------------------------------------------------------------------
  ---------------
  Tulisan ini disunting dari "Shiwa-Buddha Nusantara", Prajna Vaskhita - 1997,
  oleh anatta-bali.

           
---------------------------------
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2ยข/min with Yahoo! Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **




SPONSORED LINKS
Buddha Buddhism Buddhism religion
Different religions beliefs


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke