Email ini emang sedang saya cari" di arsip saya tapi tidak ketemu", email ini 
sebenarnya akan saya berikan pada koko sepupu saya yang sakit kanker juga yang 
sudah patah semangat. Setelah sekian lama saya cari di arsip email tidak ketemu 
juga sekarang baru ada yang kirim lagi Thanks deh, meski sudah terlambat email 
ini saya dapatkan kembali karena koko sepupu saya itu baru hari jum'at kemaren 
meninggal, tapi email ini akan saya simpan kembali dan taro di tempat yang 
mudah saya dapatkan, agar nanti bila ada yang membutuhkan bisa sebagai menambah 
semangat untuk tetap berjuang melawan penyakit.

Thanks.

  ----- Original Message ----- 
  From: Xing Shan_Shan 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, July 21, 2006 11:38 AM
  Subject: [MABINDO] Kanker Itu Lenyap


  *Kanker Itu Lenyap*
  Dituturkan langsung oleh Erlina Kang, Bali
  ------------------------------

  Bagi kalangan umat Buddha di Bali, nama Ibu Erlina Kang Adiguna tentunya
  tidak asing lagi. Di samping aktif melakukan berbagai kegiatan di Vihara
  Buddha Sakyamuni, beliau juga sibuk mengelola usaha garmennya, "Mama &
  Leon". Kesuksesan beliau dalam dunia usaha bukan muncul begitu saja, tapi
  berkat usahanya yang gigih dan pantang menyerah.
  Ibu Erlina dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup mampu di Baturiti,
  Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sekarang beliau hidup
  bahagia bersama suami dan kelima anak, tiga putera dan tiga puterinya.
  Beliau pernah menderita sakit kanker yang sudah cukup parah dan harus
  dioperasi, tetapi dengan keyakinannya yang amat besar terhadap Sang Tri
  Ratna dan tekadnya yang kuat untuk menjadi abdi siswa Sang Bhagava, serta
  melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh beliau dinyatakan
  sembuh tanpa melalui operasi. Inilah kisah sejati beliau yang berjuang
  dengan gigih untuk mengatasi sakit kanker yang dideritanya.

  *AWAL MULANYA*

  Pada suatu hari di akhir tahun 1992, saya mendadak mengalami perdarahan yang
  serius, padahal saya telah menopause sejak dari tahun 1984. Setelah saya
  periksakan ke dokter di Bali, dokter itu mengatakan ada gejala benjolan di
  rahim saya, setelah beberapa kali saya berobat ke rumah sakit, saya kemudian
  tidak memperhatikannya dengan serius.

  Pada tahun 1993 saya kembali mengalami sakit perut di sebelah kiri, yang
  terasa sakit apabila saya jongkok dan sulit untuk berdiri kembali. Akhirnya
  saya berangkat ke Singapura, bertemu dengan Dokter Wong, di salah satu rumah
  sakit di sana. Ternyata setelah diperiksa dokter mengatakan saya menderita
  kanker rahim, hampir stadium tiga. Saya sangat kaget, dokter lalu
  menganjurkan beberapa saran pengobatan, karena benjolan yang saya derita
  cukup besar: Sampai pada pemeriksaan yang ketiga kalinya saat saya berobat
  ke Singapura, Dokter Wong tetap menganjurkan saya untuk segera dioperasi
  saja.

  Akhirnya saya nekat memutuskan untuk tidak mau dioperasi, saya pulang ke
  Indonesia, dan saya ingin tahu bagaimana risiko kalau orang yang kena kanker
  itu dikemoterapi. Saya mengunjungi Rumah Sakit Kanker di Jakarta, tidak
  terbayangkan bahwa penyakit yang saya derita itu sangat mengerikan, setelah
  saya melihat kenyataan ini, saya memutuskan untuk tidak dioperasi, tidak
  dikemoterapi, juga tidak makan obat. Saya siap menghadapi kenyataan ini.

  Karena pada masa-masa tahun 1994 itu saya banyak sekali memiliki kegiatan
  dalam pengembangan Dhamma, saya melupakan sakit saya dan tidak
  henti-hentinya saya melakukan kebajikan dan belajar meditasi, serta
  mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha secara lebih mendalam, untuk
  menguatkan keyakinan saya bahwa Sang Tri Ratna pasti akan memberikan jalan
  yang terbaik bagi saya karena saya tidak percaya bisa terkena penyakit
  kanker, karena dalam keturunan keluarga saya tidak ada yang sakit kanker.

  Pada suatu hari saya mendapat telpon dari Dokter Wong, yang mengharuskan
  saya untuk segera dioperasi, namun saya sudah memutuskan untuk berjuang
  dengan cara saya sendiri. Sakit saya semakin hari semakin bertambah, muka
  saya semakin pucat, perut saya semakin kaku, keluarga saya tidak tahu sama
  sekali, termasuk suami saya.

  *KESEMBUHAN *

  Pada suatu hari saya memutuskan akan bermeditasi secara kontinyu,
  terus-menerus selama 40 hari, setiap pagi dan sore hari. Saya tidak tahu
  mengapa saya mempunyai keputusan untuk bermeditasi selama 40 hari. Setiap
  hari saya membacakan Paritta lengkap mulai dari Namakara Gatha, Karaniya
  Metta Sutta, Saccakiriya Gatha dan seterusnya sampai diakhiri dengan
  Ettavatta. Setelah selesai membacakan Paritta Suci, saya selalu meminum tiga
  cangkir air yang saya persembahkan di Altar. Saya selalu berdoa,mengucapkan
  kata-kata yang sama, memohon untuk diberkahi jalan yang terbaik, mengucapkan
  janji dan tekad saya. Dan pada saat saya meminum air, saya selalu berdoa
  seperti ini:

  1. Pertama-tama saya ambil cangkir yang di tengah, saya berdoa di
  hadapan Sang Bhagava, kalau memang saya harus menghadapi kematian, saya
  mohon Sang Bhagava memberikan jalan yang terbaik.

  2. Lalu saya ambil cangkir air yang di sebelah kiri, saya berdoa; Sang
  Bhagava kalau saya diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan
  bersungguh-sungguh mendalami dan menjalankan Dhamma, Ajaran Sang Bhagava
  dengan baik.

  3. Yang terakhir, saya mengambil cangkir yang di sebelah kanan, saya
  berdoa; Sang Bhagava kalau saya kini diberi kesempatan untuk tetap hidup,
  saya akan mengabdi menjadi siswa Sang Bhagava.
  Setiap hari dengan tekun saya membaca Paritta Suci, bermeditasi dan berdoa
  dengan sungguh-sungguh.

  Hingga pada hari yang ke-35, biasanya saya dari duduk untuk berdiri saja
  sulit, saya harus memegangi perut di sebelah kiri, baru saya bisa berdiri.
  Tetapi pada hari itu, pada saat bermeditasi saya mendengar sepertinya ada
  orang yang masuk ke dalam ruangan saya bermeditasi, seperti ada suara
  injakan kakinya yang sangat keras, dan sepertinya duduk di sebelah saya,
  suara nafasnya keras sekali, saya benar-benar takut tetapi saya tidak berani
  membuka mata, saya takut kalau saya sampai melihat orang itu. Beberapa menit
  kemudian saya mendengar orang itu meninggalkan tempat dan perlahan-lahan
  saya membuka mata, ternyata orang itu sudah tidak ada lagi. Saya lupa
  bagaimana caranya saya berdiri pada saat itu, saya lalu ke dapur dan setelah
  minum saya baru sadar bagaimana ya caranya saya bangun. Saya mencoba kembali
  duduk dan bangun kembali, saya bisa melakukannya, rasa sakit itu hilang.
  Saya terus melakukan meditasi selama 40 hari, di dalam hati saya berjanji
  akan melakukan kebajikan terus menerus dan saya selalu merasa berbahagia,
  dan saya tidak tahu mengapa, apa saya sudah lupa bahwa saya akan mati.

  Sejak hari ke-35 itu, saya selalu bermimpi yang aneh-aneh, tetapi di dalam
  mimpi saya selalu berhubungan dengan para Bhikku. Di dalam mimpi itu saya
  naik gunung, sampai di puncak gunung saya terperosok masuk lumpur, dan saya
  mengucapkan *"Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa"* ke hadapan
  Sang Bhagava, dan di bawah gunung, puluhan para Bhikkhu memanggil-manggil
  nama saya, mendadak ada air bah yang mendorong saya sehingga saya sampai di
  bawah, saya diberi bungkusan oleh salah seorang Bhikkhu.

  Banyak teman-teman saya selalu memimpikan saya selalu bersama para Dewa, dan
  keajaiban terakhir yang saya dapatkan adalah telepon dari Dokter Wong yang
  menanyakan keadaan saya, dokter itu menyarankan agar saya mengambil
  keputusan untuk dioperasi, tetapi rasa sakit di perut saya sudah berkurang,
  akhirnya saya putuskan untuk memeriksakan kembali penyakit saya di
  Singapura.

  Pada tanggal 20 Februari 1995 saya berangkat bersama suami saya menuju
  Singapura. Namun ada satu keanehan, sejak saya berangkat ke Airport, saya
  merasa sangat mengantuk, begitu naik pesawat terbang saya minta kepada suami
  saya untuk jangan membangunkan pada saat dibagikan makanan. Begitu tidur,
  saya bermimpi dari Bali ke Singapura saya berjalan di atas lautan, dan di
  pinggir banyak sekali para Bhikkhu yang berdiri di atas lautan. Begitu
  mendarat di Singapura, saya dibangunkan dan saya bertanya, saya jalan apa
  naik pesawat, suami saya menjawab sedikit sewot, tentu saja naik pesawat
  masak jalan kaki katanya. Tetapi pada sore hari itu saya memutuskan, untuk
  bertemu dokter esok hari saja.
  Pada pagi hari tanggal 22 Februari 1995 saya diperiksa oleh dokter,
  berkali-kali saya disuruh minum air dan diperiksa berkali-kali, sepertinya
  dokter itu bingung, komputernya dicek, diperiksa kalau-kalau rusak. Lalu
  dilihat lagi hasil-hasil pemeriksaan yang dulu; saya diperiksa lagi,
  kemudian saya dikirim ke Rumah Sakit lain untuk diperiksa lagi oleh satu tim
  dokter yang terdiri dari 5 orang dokter ahli, memeriksa saya berulang kali,
  sampai saya teler, kecapaian diperiksa bolak-balik, setelah itu dokter
  menyatakan sakit kanker saya tidak bisa ditemukan, hanya ada tanda seperti
  petikan buah anggur. Saya dikembalikan lagi ke Dokter Wong, beliau tidak
  memeriksa lagi hanya bertanya, agama saya apa, saya bengong, beliau hanya
  mengucapkan Amitabha dan menyuruh saya berdoa ke Vihara. Saya terkejut dan
  sungguh bahagia, saya bisa sembuh dari penyakit kanker, tanpa melalui
  operasi.

  Inilah berkah Sang Buddha yang demikian besar kepada saya, sehingga saya
  benar-benar percaya bahwa karma itu bisa dirubah dengan cara melaksanakan
  Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh.

  Karena itu tumbuhkanlah keyakinan yang kuat kepada Sang Tri Ratna, menjadi
  siswa Sang Buddha yang baik, melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan
  sungguh-sungguh, perbanyaklah perbuatan bajik, sucikanlah pikiran.

  Saya telah berusaha menjalankan segala kebajikan, dengan materi yang saya
  miliki, saya pergunakan sebaik-baiknya di dunia ini, agar ada kenangan yang
  berarti untuk menuju kehidupan yang akan datang.
  Semoga pengalaman saya ini menjadi kesaksian nyata untuk dijadikan cermin
  bagi saudara-saudara se-Dhamma, di dalam memperoleh kebahagiaan dengan
  melaksanakan Ajaran Sang Guru Agung kita, Sang Buddha Yang Maha Sempurna.
  Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

  Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu... sadhu... sadhu.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke