*Kanker Itu Lenyap*
Dituturkan langsung oleh Erlina Kang, Bali
 ------------------------------

Bagi kalangan umat Buddha di Bali, nama Ibu Erlina Kang Adiguna tentunya
tidak asing lagi. Di samping aktif melakukan berbagai kegiatan di Vihara
Buddha Sakyamuni, beliau juga sibuk mengelola usaha garmennya, "Mama &
Leon". Kesuksesan beliau dalam dunia usaha bukan muncul begitu saja, tapi
berkat usahanya yang gigih dan pantang menyerah.
Ibu Erlina dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup mampu di Baturiti,
Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sekarang beliau hidup
bahagia bersama suami dan kelima anak, tiga putera dan tiga puterinya.
Beliau pernah menderita sakit kanker yang sudah cukup parah dan harus
dioperasi, tetapi dengan keyakinannya yang amat besar terhadap Sang Tri
Ratna dan tekadnya yang kuat untuk menjadi abdi siswa Sang Bhagava, serta
melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh beliau dinyatakan
sembuh tanpa melalui operasi. Inilah kisah sejati beliau yang berjuang
dengan gigih untuk mengatasi sakit kanker yang dideritanya.

*AWAL MULANYA*

Pada suatu hari di akhir tahun 1992, saya mendadak mengalami perdarahan yang
serius, padahal saya telah menopause sejak dari tahun 1984. Setelah saya
periksakan ke dokter di Bali, dokter itu mengatakan ada gejala benjolan di
rahim saya, setelah beberapa kali saya berobat ke rumah sakit, saya kemudian
tidak memperhatikannya dengan serius.

Pada tahun 1993 saya kembali mengalami sakit perut di sebelah kiri, yang
terasa sakit apabila saya jongkok dan sulit untuk berdiri kembali. Akhirnya
saya berangkat ke Singapura, bertemu dengan Dokter Wong, di salah satu rumah
sakit di sana. Ternyata setelah diperiksa dokter mengatakan saya menderita
kanker rahim, hampir stadium tiga. Saya sangat kaget, dokter lalu
menganjurkan beberapa saran pengobatan, karena benjolan yang saya derita
cukup besar: Sampai pada pemeriksaan yang ketiga kalinya saat saya berobat
ke Singapura, Dokter Wong tetap menganjurkan saya untuk segera dioperasi
saja.

Akhirnya saya nekat memutuskan untuk tidak mau dioperasi, saya pulang ke
Indonesia, dan saya ingin tahu bagaimana risiko kalau orang yang kena kanker
itu dikemoterapi. Saya mengunjungi Rumah Sakit Kanker di Jakarta, tidak
terbayangkan bahwa penyakit yang saya derita itu sangat mengerikan, setelah
saya melihat kenyataan ini, saya memutuskan untuk tidak dioperasi, tidak
dikemoterapi, juga tidak makan obat. Saya siap menghadapi kenyataan ini.

Karena pada masa-masa tahun 1994 itu saya banyak sekali memiliki kegiatan
dalam pengembangan Dhamma, saya melupakan sakit saya dan tidak
henti-hentinya saya melakukan kebajikan dan belajar meditasi, serta
mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha secara lebih mendalam, untuk
menguatkan keyakinan saya bahwa Sang Tri Ratna pasti akan memberikan jalan
yang terbaik bagi saya karena saya tidak percaya bisa terkena penyakit
kanker, karena dalam keturunan keluarga saya tidak ada yang sakit kanker.

Pada suatu hari saya mendapat telpon dari Dokter Wong, yang mengharuskan
saya untuk segera dioperasi, namun saya sudah memutuskan untuk berjuang
dengan cara saya sendiri. Sakit saya semakin hari semakin bertambah, muka
saya semakin pucat, perut saya semakin kaku, keluarga saya tidak tahu sama
sekali, termasuk suami saya.

*KESEMBUHAN *

Pada suatu hari saya memutuskan akan bermeditasi secara kontinyu,
terus-menerus selama 40 hari, setiap pagi dan sore hari. Saya tidak tahu
mengapa saya mempunyai keputusan untuk bermeditasi selama 40 hari. Setiap
hari saya membacakan Paritta lengkap mulai dari Namakara Gatha, Karaniya
Metta Sutta, Saccakiriya Gatha dan seterusnya sampai diakhiri dengan
Ettavatta. Setelah selesai membacakan Paritta Suci, saya selalu meminum tiga
cangkir air yang saya persembahkan di Altar. Saya selalu berdoa,mengucapkan
kata-kata yang sama, memohon untuk diberkahi jalan yang terbaik, mengucapkan
janji dan tekad saya. Dan pada saat saya meminum air, saya selalu berdoa
seperti ini:

1.      Pertama-tama saya ambil cangkir yang di tengah, saya berdoa di
hadapan Sang Bhagava, kalau memang saya harus menghadapi kematian, saya
mohon Sang Bhagava memberikan jalan yang terbaik.

2.      Lalu saya ambil cangkir air yang di sebelah kiri, saya berdoa; Sang
Bhagava kalau saya diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan
bersungguh-sungguh mendalami dan menjalankan Dhamma, Ajaran Sang Bhagava
dengan baik.

3.      Yang terakhir, saya mengambil cangkir yang di sebelah kanan, saya
berdoa; Sang Bhagava kalau saya kini diberi kesempatan untuk tetap hidup,
saya akan mengabdi menjadi siswa Sang Bhagava.
Setiap hari dengan tekun saya membaca Paritta Suci, bermeditasi dan berdoa
dengan sungguh-sungguh.

Hingga pada hari yang ke-35, biasanya saya dari duduk untuk berdiri saja
sulit, saya harus memegangi perut di sebelah kiri, baru saya bisa berdiri.
Tetapi pada hari itu, pada saat bermeditasi saya mendengar sepertinya ada
orang yang masuk ke dalam ruangan saya bermeditasi, seperti ada suara
injakan kakinya yang sangat keras, dan sepertinya duduk di sebelah saya,
suara nafasnya keras sekali, saya benar-benar takut tetapi saya tidak berani
membuka mata, saya takut kalau saya sampai melihat orang itu. Beberapa menit
kemudian saya mendengar orang itu meninggalkan tempat dan perlahan-lahan
saya membuka mata, ternyata orang itu sudah tidak ada lagi. Saya lupa
bagaimana caranya saya berdiri pada saat itu, saya lalu ke dapur dan setelah
minum saya baru sadar bagaimana ya caranya saya bangun. Saya mencoba kembali
duduk dan bangun kembali, saya bisa melakukannya, rasa sakit itu hilang.
Saya terus melakukan meditasi selama 40 hari, di dalam hati saya berjanji
akan melakukan kebajikan terus menerus dan saya selalu merasa berbahagia,
dan saya tidak tahu mengapa, apa saya sudah lupa bahwa saya akan mati.

Sejak hari ke-35 itu, saya selalu bermimpi yang aneh-aneh, tetapi di dalam
mimpi saya selalu berhubungan dengan para Bhikku. Di dalam mimpi itu saya
naik gunung, sampai di puncak gunung saya terperosok masuk lumpur, dan saya
mengucapkan *"Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa"* ke hadapan
Sang Bhagava, dan di bawah gunung, puluhan para Bhikkhu memanggil-manggil
nama saya, mendadak ada air bah yang mendorong saya sehingga saya sampai di
bawah, saya diberi bungkusan oleh salah seorang Bhikkhu.

Banyak teman-teman saya selalu memimpikan saya selalu bersama para Dewa, dan
keajaiban terakhir yang saya dapatkan adalah telepon dari Dokter Wong yang
menanyakan keadaan saya, dokter itu menyarankan agar saya mengambil
keputusan untuk dioperasi, tetapi rasa sakit di perut saya sudah berkurang,
akhirnya saya putuskan untuk memeriksakan kembali penyakit saya di
Singapura.

Pada tanggal 20 Februari 1995 saya berangkat bersama suami saya menuju
Singapura. Namun ada satu keanehan, sejak saya berangkat ke Airport, saya
merasa sangat mengantuk, begitu naik pesawat terbang saya minta kepada suami
saya untuk jangan membangunkan pada saat dibagikan makanan. Begitu tidur,
saya bermimpi dari Bali ke Singapura saya berjalan di atas lautan, dan di
pinggir banyak sekali para Bhikkhu yang berdiri di atas lautan. Begitu
mendarat di Singapura, saya dibangunkan dan saya bertanya, saya jalan apa
naik pesawat, suami saya menjawab sedikit sewot, tentu saja naik pesawat
masak jalan kaki katanya. Tetapi pada sore hari itu saya memutuskan, untuk
bertemu dokter esok hari saja.
Pada pagi hari tanggal 22 Februari 1995 saya diperiksa oleh dokter,
berkali-kali saya disuruh minum air dan diperiksa berkali-kali, sepertinya
dokter itu bingung, komputernya dicek, diperiksa kalau-kalau rusak. Lalu
dilihat lagi hasil-hasil pemeriksaan yang dulu; saya diperiksa lagi,
kemudian saya dikirim ke Rumah Sakit lain untuk diperiksa lagi oleh satu tim
dokter yang terdiri dari 5 orang dokter ahli, memeriksa saya berulang kali,
sampai saya teler, kecapaian diperiksa bolak-balik, setelah itu dokter
menyatakan sakit kanker saya tidak bisa ditemukan, hanya ada tanda seperti
petikan buah anggur. Saya dikembalikan lagi ke Dokter Wong, beliau tidak
memeriksa lagi hanya bertanya, agama saya apa, saya bengong, beliau hanya
mengucapkan Amitabha dan menyuruh saya berdoa ke Vihara. Saya terkejut dan
sungguh bahagia, saya bisa sembuh dari penyakit kanker, tanpa melalui
operasi.

Inilah berkah Sang Buddha yang demikian besar kepada saya, sehingga saya
benar-benar percaya bahwa karma itu bisa dirubah dengan cara melaksanakan
Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh.

Karena itu tumbuhkanlah keyakinan yang kuat kepada Sang Tri Ratna, menjadi
siswa Sang Buddha yang baik, melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan
sungguh-sungguh, perbanyaklah perbuatan bajik, sucikanlah pikiran.

Saya telah berusaha menjalankan segala kebajikan, dengan materi yang saya
miliki, saya pergunakan sebaik-baiknya di dunia ini, agar ada kenangan yang
berarti untuk menuju kehidupan yang akan datang.
Semoga pengalaman saya ini menjadi kesaksian nyata untuk dijadikan cermin
bagi saudara-saudara se-Dhamma, di dalam memperoleh kebahagiaan dengan
melaksanakan Ajaran Sang Guru Agung kita, Sang Buddha Yang Maha Sempurna.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu... sadhu... sadhu.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/b0VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke