Pedagang Ikan dan Rajawali 
 
(Erabaru.or.id) Orang yang bisa menjalankan kewajiban sendiri, baru dapat
mencurahkan kemampuannya. Seperti burung yang terbang di angkasa, bunyi
kicauan-nya yang nyaring, jelas dan merdu, menambah dinamika kehidupan alam,
inilah kewajiban dan kemampuan mereka. 
Ada pun manusia, kewajibannya adalah patuh pada hukum dan disiplin diri,
berkelakuan baik, sedangkan kemampuan adalah mengembangkan kecakapan
intuitif melayani orang lain. Tetapi ada yang hanya ingin memamerkan
kemampuan, namun tidak tahu kewajibannya, tidak mau mematuhi kewajibannya,
akibatnya keluar dari prosedur dan melanggar aturan, ini sungguh merupakan
hal yang sangat mengerikan! 
Alkisah pada suatu masa disebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang bermata
pencaharian dengan berdagang ikan. Suatu hari seperti biasa dia berjualan
ikan di ujung jalan desa, "Ikan…ikan….!" sambil berteriak dan memandang ke
sekitar, mungkin ada orang yang akan lewat dan membeli dagangannya. Namun
tiba-tiba, WUSS… dari angkasa seekor rajawali menukik ke bawah, dan
menyambar seekor ikan dari lapaknya lalu terbang lagi ke angkasa. Dengan
sangat marah pedagang ikan itu berteriak lantang "Hai kembalikan ikanku!"
sambil berteriak ia mengacung-acungkan kepalan tangannya ke angkasa namun
teriakannya sia-sia, ia hanya bisa memandangi rajawali itu terbang semakin
jauh dan tinggi dengan sedih. 
Sambil berguman, ia berkata, "sayang aku tidak punya sayap, jika punya kau
tidak akan kulepaskan!" Sambil ia melangkah lemas. 
Ketika dia pulang ke rumah, melewati sebuah Kuil Dicang , ia berlutut di
depan kuil, berdo'a memohon pada Bodhisatwa agar menjadikannya seekor burung
rajawali, agar bisa terbang ke angkasa. " Ya Bodhisatwa yang Agung, hamba
mohon jadikanlah hamba burung agar bisa terbang ke angkasa." Sejak saat itu,
setiap hari ia lewat Kuil Dicang, dan akan berdo'a dengan sepenuh hati. 
Kebiasaan itu diamati oleh sekelompok pemuda yang melihat ia setiap hari
berdo'a memohon pada Bodhisatwa, dan dengan rasa penasaran mereka saling
membicarakannya, salah satu di antaranya berkata: "Ia berdoa setiap hari
agar dapat berubah menjadi seekor rajawali agar dapat terbang ke angkasa." 
Yang lainnya lantas berkata : "Aduh! Betapa tololnya dia, mau berdoa'a
sampai kapan? Lebih baik dia kita kerjain!" 
Keesokan hari, mereka masuk kuil dan menunggu pedagang ikan itu datang
seperti biasanya. Salah satu di antara pemuda itu bersembunyi di belakang
patung Bodhisatwa. Tidak lama kemudian, pedagang ikan itu datang, seperti
biasa ia sembahyang dan memohon dengan tulus, pemuda yang sembunyi di
belakang patung Bodhisatwa berkata: "Kau memohon dengan begitu tulus, aku
akan memenuhi keinginanmu, pergilah ke desa dan cari sebuah pohon yang
paling tinggi, lalu panjatlah pohon itu." 
Pedagang ikan gembira sekali mengira benar-benar telah mendengar petunjuk
Bodhisatwa, kemudian bergegas ke desa dan menemukan sebuah pohon yang paling
tinggi, lalu naik ke atas pohon itu. Pohon itu benar-benar tinggi sekali.
Makin naik ke atas ia semakin cemas. 
Ia memanjat sampai ke puncak pohon, dan begitu melongok kebawah dalam hati
ia berkata : "Wah! Tinggi sekali! Apa benar aku bisa terbang?" Sekelompok
pemuda itu datang, mereka sengaja ramai-ramai memperbincangkannya dan
berteriak : "Hei!, Coba kalian lihat di atas puncak pohon itu, ada seekor
rajawali besar, entah dia bisa terbang atau tidak? Kalau memang rajawali,
pasti bisa terbang dong!" 
Pedagang ikan itu gembira sekali, dia berpikir: "Ternyata aku telah berubah
menjadi seekor Rajawali, kalau memang Rajawali, mana mungkin tidak bisa
terbang?" Kemudian ia membentangkan kedua tangannya seperti sayap hendak
terbang, ia membayangkan bagaimana seekor burung akan terbang, kemudian ……
UPS!" ia meloncat seperti burung hendak terbang tetapi ia ……WOOOOOO terbang
ke bawah. 
Tapi, kenapa bukan terbang ke atas, malah merosot jatuh ke bawah? O..ngeri
sekali! Namun, sudah terlambat. Dan untung saja, ia terjatuh di antara
lumpur dan rumput, hanya mengalami luka kecil. 
Pemuda-pemuda itu datang menghampiri, dan mengolok-oloknya "Apa yang kalian
tertawakan? Ini karena kedua sayap saya patah, bukannya tidak bisa terbang!"
Kata pedagang ikan itu tak tahu malu. 
Cerita ini dapat memberi kita moral:
Seseorang harus memenuhi kewajiban pribadinya, baru dapat mencurahkan
kemampuannya. Jika hanya ingin mendapatkan kemampuan yang besar, namun tidak
mematuhi kewajibannya, tidak tahu diri dan secara membabi buta melakukan hal
yang melampaui batas kemampuan diri sendiri, itu sangat berbahaya. 
(Sumber: minghui school)
 

[Non-text portions of this message have been removed]






** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke