Bentuk itu kosong, kosong itu bentuk....

Berdasarkan penjelasan Pak Akwang, maksud dari kalimat tersebut merujuk kepada 
pengertian 'Anatta'

Tiadanya inti dari suatu bentuk / benda termasuk manusia, semuanya hanyalah 
gabungan unsur yang tak pantas dilekati.
Ini dapat saya mengerti secara intelektual, tetapi untuk penerapannya ke 
kehidupan sehari-hari sangat susah, kita selalu menganggap diri kita sebagai 
subyek lengkap dengan 'ego' kita. 
Mungkin baru bisa diterapkan kalau telah mencapai suatu 'pencerahan'.

Apa kira-kira begitu....

Salam,
Willibordus

---
  ----- Original Message ----- 
  From: Akwang Wu 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, October 20, 2006 2:01 PM
  Subject: RE: [MABINDO] Bentuk Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ????? Saya 
Bingung...!!!


  Saudaraku Erlin yang terkasih dalam Dhamma,

  "BENTUK (ISI) ITU KOSONG, KOSONG ITU BENTUK (ISI)"
  Sebenarnya ini inti dari ajaran Buddha, tetapi semestinya disadari bahwa ini
  bukanlah pelajaran, tetapi aum-an Singa dari seorang yang telah tercerahkan,
  dan ini bukan untuk dipelajari ataupun dimengerti, pertanyataan ini timbul
  bagi mereka yang telah tercerahkan.

  Saudaraku Erlin yang terkasih, namun ada cara bagaimana kita dapat menyelami
  yang dimaksud, bukan dengan pikiran bukan dengan yang lainnya tetapi
  menyadari sifat alami dari pancaskanda.

  Yang disebut makhluk merupakan gabungan dari berbagai unsur yang tidak
  terpisahkan. Unsur tersebut adalah: Bentuk kasar (RUPA) yang dapat dilihat
  (unsur padat, unsur cair, unsur gerak, unsur panas), sedangkan Bentuk halus
  (NAMA) yang tidak dapat dilihat (unsur pencerapan, unsur bentuk pikiran,
  Unsur kesadaran, unsur perasaan).
  Gabungan semua unsur ini yang tidak terpisahkan membentuk makhluk hidup.
  (RUPA sangat tergantung makhluknya)

  Seperti layaknya makhluk manusia.
  Perhatikan dengan hati (bukan dengan pikiran kita), lihat secara mendalam,
  perubahan dari RUPA, semenjak dari kecil ke dewasa, yang setiap harinya sell
  berubah, disini tidak ada bentuk yang tetap, yang ada hanya perubahan,
  bentuk padat berubah (tulang, gigi, tengkorak, kuku) bentuk cair berubah
  (darah, lendir, kelenjar, organ tubuh), pergerakan terus terjadi (sell
  bergerak setiap detiknya), panas dari tubuh ini ada akibat pergerakan sell
  yang terus tumbuh dan mati, jika terserang infeksi, panas meninggi karena
  sell darah melawan, semua bentuk dari RUPA ini berubah setiap saat, dapatkah
  dikatakan inilah RUPA yang sebenarnya? Atau dapat dikatakan inikah RUPA
  sesaat? Ataukan dapat dikatakan inilah RUPA-ku?
  Tentu tidak, dimanakah dan bagaimanakah yang disebut sebagai RUPA-ku? Semua
  tidaklah ada.

  Perhatikan dengan hati (bukan dengan pikiran kita), lihat secara mendalam,
  unsur pencerapan yang selalu kita serap dari berbagai pintu indera (mata =
  melihat, telinga = mendengar, hidung = mencium bau, mulut (termasuk lidah
  perasa), kulit = sentuhan, dengan yang kita serap ini akan berproses ke
  pikiran, otak membantu merecord, kita memikirkan, perasaan bermain, ini
  nikmat, ini tidak, kesadaran selalu ada, di record terus melalui otak kita,
  inilah yang enak, inilah yang tidak enak, terus berubah dari dahulu hingga
  sekarang, yang ada hanya perubahan.

  Perhatikan perasaan kita, dari kecil hingga sekarang, yang terus berubah
  detik demi detik, adakah yang pada satu saat dikatakan inikah perasaan kita?
  Inilah perasaan saya? Saat inilah perasaan milik saya?
  Tentu tidak.

  Perhatikan kesadaran kita, dari kecil hingga sekarang, yang terus berubah
  detik-demi detik, adakah yang pada satu saat dikatakan inikah kesadaran
  kita? Inilah kesadaran saya? Saat inilah kesadaran milik saya? 
  Tentu Tidak.

  Perhatikan pikiran kita, yang kian hari berpikir terus menerus yang berubah
  ini dan itu, dapatkah pada satu saat atau saat ini dikatakan inilah pikiran
  saya? Saat inilah yang sekarang, inilah pikiran saya?
  Tentu Tidak.

  Bila dari semua gabungan baik RUPA dan NAMA selalu berubah dan tidak dapat
  dikatakan walaupun sesaat, inilah RUPA dan NAMA saya? Jadi Apakah semua ini?
  Adakah dikatakan inilah RUPA dan NAMA saya?
  Tentu tidak.

  Bila semua adalah tidak maka semua adalah KOSONG (Tidak ada). Namun
  ketahuilah KeKOSONGan ini memberikan yang Ada, sehingga kita semua ada
  disini, dengan RUPA dan NAMA, kita melakukan satu tindakan, perbuatan.
  Untuk itu tidak bisa pula dikatakan bahwa semua itu tidak ada, karena pada
  nyatanya kita bertindak dengan RUPA dan Nama ini.

  Bila kita telah mengerti ini, sifat makhluk itu pada umumnya melekat pada
  RUPA dan NAMA ini, dianggapnya hal itu ada.
  Seperti contoh, bila orang tua kita meninggal, kita akan bersedih, kenapa?
  Karena kita melekat dan membuat ADA bahwa demikianlah RUPA dan Nama dari
  orang tua kita, yang sebenarnya itu tidaklah ada.
  Coba dilihat lebih mendalam: wajah ayah atau ibu, perhatikan dari sewaktu
  kecil hingga tua sekarang, yang berubah dan terus berubah, yang manakah
  wajah yang asli dari orang tua kita? Dan sebenarnya seperti apa wajah orang
  tua kita? Timbulnya pertanyaan inipun karena kita melekat pada adanya wajah
  demikian dari orang tua kita, yang sebenarnya hanyalah tumpukan RUPA dan
  Nama yang tersusun rapi, semua itu sebenarnya tidaklah ada.

  Karena kemelekatan dan kebodohan menyebabkan manusia terus menginginkan hal
  yang tidak ada dan dibuatnya menjadi ada.
  Inilah penyebabnya berlangsungnya mata-rantai kelahiran yang berulang.

  Seharusnya bila telah mengerti akan hal ini, apa yang patut dibanggakan dari
  kumpulan daging, lendir, kotoran, yang tersusun rapi membentuk RUPA ini?
  NAMA inilah yang bertindak: pencerapan, kesadaran, bentuk pikiran, perasaan,
  membuat suatu tindakan (karma), penyebab dari adanya: Kesombongan,
  Keserakahan, Kebencian, Kebodohan, Irihati.

  Untuk itu seharusnya orang Bijak tidak lagi melekat pada tubuh yang jijik
  ini, tidak lagi melakukan tindakan yang dianggapnya sebagai Kesombongan,
  Keserakahan, kebencian, serta kebodohan.

  Semoga dapat dimengerti, dan bermanfaat.
  Salam Metta selalu,

  Akwang

  ----- Original Message ----- 
  From: Fatahillah 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ;
  [email protected] 
  Sent: Wednesday, October 18, 2006 6:15 AM
  Subject: [MABINDO] Bentuk Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ????? Saya
  Bingung...!!!

  Namo Buddhaya,

  Kalyana mitta,
  Maaf kalau sebelumnya pernah di post ( sebab saya tidak bisa menemukan
  post-nya
  ).
  Apakah ada yang bisa memberikan entah itu penjelasan, pengertian,
  perincian
  ataupun contoh mengenai " Bentuk Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ". Saya
  sering
  sekali mendengar kalimat ini tetapi baru semalam saya berpikir pengertian
  dari
  kalimat ini apa ?? Ketika saya ditanya, apa yang dimaksud dengan " Bentuk
  Itu
  Kosong dan Kosong Itu Bentuk ".

  Apakah ini termasuk dalam ucapan dari Sang Buddha ? Jika Iya terdapat di
  Khotbah
  / Sutta yang mana ??

  Salam Metta,

  Erlin



   

[Non-text portions of this message have been removed]




** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke