Menanggapi tulisan BCLT dan juga Mahasi Sayadaw, saya ingin membagikan apa yang pernah saya baca dari buku "The Phantom in the Brain" untuk meluaskan konsep body image tersebut dan juga beberapa insight yg pernah saya dapatkan.
Kita menganggap tubuh ini sebagai "saya" karena bagian-bagian tubuh itu menempel dan terus menerus berada dalam arus kesadaran yang muncul-lenyap. Bagaikan orang yang terbangun dari mimpi, berada kembali dalam dunianya yg kemudian diregistrasi dan dibanding-bandingkan oleh memorinya sebagai "konsisten" sehingga kita menganggapnya inilah "realita". Saya rasa anda pernah terbangun dari tidur dan tiba-tiba merasa asing di tempat anda sendiri. Baru setelah beberapa saat otak anda meregistrasi kesan sensory tersebut dengan memori2 anda, barulah anda 'sadar' dalam keberadaan anda (eksis dalam suatu ruang spatial dan temporal tertentu). Anda bisa lihat disini bagaimana konsep "aku", "ada", "real" dsb berasal dari jalinan kerja otak kita untuk meregistrasi sesuatu menjadi suatu konstruk yang sistematis dan logis. Buku TPITB itu menceritakan bagaimana seseorang yang kehilangan sebuah tangannya karena amputasi, seringkali masih bisa merasakan anggota badannya yang hilang itu. Kadang terasa gatal, kadang bisa terasa sakit , kadang bisa terasa mengambil sebuah benda dihadapannya, dsb. Betapa sengsaranya apabila tangan bayangan (phantom) itu tiba2 terasa gatal. Bagaimanakah cara menggaruk sesuatu yang tiada? Fenomena itu diselidiki oleh para ahli psychoneurologist sebagai sebuah reaksi dari pemetaan ulang bagian2 penginderaan di otak. Misalkan di otak kita ada sebuah bagian kecil yang bertugas untuk mengatur sensory dan gerakan dari tangan kanan kita. Maka ketika tangan kanan kita itu diamputasi, maka bagian A di otak itu masih terus bekerja. Setelah jangka waktu tertentu barulah bagian A di otak itu melakukan penyesuaian dalam pemetaannya terhadap bagian2 otak yg lain. Akan tetapi kadangkala, proses pemetaan itu tidak terjadi dengan sempurna, sehingga terjadi cross-reference dengan bagian2 yang lain. Orang yang naif dan para agamawan yg berpaham atta, tentu dengan cepat akan memvonis bahwa yang merasakan itu adalah rohnya. Mereka berpandangan bahwa anggota badan yg hilang secara fisik tapi rohnya masih berada disana. Pandangan ini ditolak oleh para ilmuwan. Semua itu tidak lain adalah permainan mekanisme biokimiawi dan elektrik otak belaka. Penanganan untuk masalah itu tadinya adalah dengan cara operasi rumit untuk memanipulasi bagian otak tersebut. Tapi Dr.Ramachandran memiliki kegeniusannya sendiri utk mengatasi masalah itu dengan cara yang sederhana. Premisnya sederhana : bila gangguan itu disebabkan oleh kekacauan bagian otak itu karena tiba2 kehilangan peripheral fisiknya, maka latihlah bagian otak itu secara bertahap dengan cara seolah2 bagian tangan itu masih ada. Dan hal itu bisa dilakukan dengan cermin! Seseorang yang misal bagian tangan kanannya teramputasi, maka dia dilatih untuk berdiri di tengah sebuah cermin vertikal yang diatur sedemikian rupa hingga seakan-akan ia memiliki badan yang lengkap. Ilusi simetris dari cermin itu memantulkan bayangan tangan kirinya menjadi seolah2 tangan kanannya. Dengan cara itu, ia dapat melatih seseorang dengan seolah-olah menggaruk tangan kanannya yg gatal itu, dan hasilnya? Gatalnya hilang!! Bisakah anda menyimak fenomena apa yang saya ceritakan di atas? Ada sebuah contoh percobaan lagi. Seseorang dicoba untuk meletakkan sebelah tangannya diatas sebuah meja. Namun demikian, penempatan diatur sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa melihat tangannya tersebut (dengan cara ditutupi). Si experimentor kemudian mengetuk2 meja itu dengan suatu irama konstan sembari mengetuk2 punggung tangan si obyek dengan suatu irama yang sinkron. Setelah suatu saat tertentu, maka si obyek akan merasakan bahwa meja itu adalah bagian dari tubuhnya. Kedirian yg dirasakan melalui sensori sentuhan ditangannya yg tertutupi itu diidentifikasikan dengan sensori pengelihatan dan aural dari ketukan ke atas meja tersebut. Bisakah anda melihat implikasinya? Hal itu berarti bahwa, konsep "diri" itu adalah muncul dari penilaian2 dan konstruk2 pikiran kita sendiri. Mungkin anda pernah mendengar suatu untaian pengalaman seorang pemain pedang yang mengatakan bahwa pedang itu adalah merupakan perpanjangan tangannya. Atau, dalam peristiwa sehari2 kita , kala mengendarai mobil, pada saat-saat tertentu kita merasa 'lupa' / tidak aware untuk menyetir. Tapi dengan lincahnya anda bisa berkelit-kelit secara lincah dalam kemacetan lalu lintas tanpa menyerempet sedikitpun, seakan-akan mobil itu bagian dari diri anda. Dari penuturan di atas, kiranya dapat kita ambil suatu pelajaran, yaitu bahwa konsep "diri" itu adalah nisbi, tidak memiliki suatu inherent existence, melainkan merupakan fenomena yang muncul karena suatu pengkondisian2. Kemampuan batin kita untuk mengkonstruk-kan sesuatu dan memberinya suatu label itulah yang memunculkan konsep diri vs bukan diri itu sendiri. Seseorang yang dalam proses pengamatan secara pasif (mindfull / sati) dalam sebuah meditasi vipassana, akan mampu melihat sendiri dan membuktikan apa yang dituliskan di atas. Pada saat itu, ia bisa merasakan dirinya 'meluas' atau 'berkembang', 'menyatu' dsb, tapi itu semua diamati dalam sebuah kesadaran yang melihat hal itu sebagai pesan ilusif belaka. Pikiran yang mengamati pikiran itu sendiri juga adalah suatu fenomena yg muncul dari rentetan momen pikiran silih berganti (multitasking) yg register meregister belaka. Selama hal itu terjadi (ada pengamat dan yg diamati) maka konsep 'diri' akan selalu ada. Sampai disini kita akan melihat bahwa konsep "aku" tersebut adalah ilusif, tetapi "aku" tersebut belum hilang. Nah, selanjutnya saya masih belum tahu harus menjelaskan gimana. Tapi setidaknya, pemaparan ini mungkin ada gunanya buat menambah pemahaman secara konseptual (intellectual knowledge) dari apa yg dikatakan oleh Mahasi Sayadaw. Salam, Suchamda Note : Tulisan ini adalah opini pribadi dari seorang siswa Buddhism yg masih dalam tahap belajar. Oleh karena itu saya menyatakan bahwa apa yg saya tulis ini bukan tidak bisa salah (infallible). Saya sepenuhnya fallible. Oleh karena itu, mohon maaf atas kekurangan disana-sini. Meskipun demikian, saya bisa saja tetap bersikukuh dengan pandangan saya selama belum ada argumentasi yg relevan dan bisa diterima. Saya berharap bahwa sikap spt ini jangan disalah artikan sebagai "mau benar sendiri", melainkan sebagai suatu steadfastness yg sehat untuk menggali kebenaran lebih lanjut. --- In [email protected], BCL T <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sedikit ralat , postingannya semestinya jadi berbunyi seperti di bawah. > > > Kesan itu bukan Anda . > > Dalam berdiskusi, dalam berinteraksi dengan orang lain, seringkali kita itu gampang marah, apalagi kalau ada yang tidak sependapat dengan kita apalagi dengan orang-orang yang mengkritik kita atau bahkan tentu saja orang yang mencela atau menghina kita. Seolah-olah ada bagian dari diri kita yang tercuil, tergumpilkan atau terkoyak karenanya. Ini umum sekali sifatnya, hanya kalau itu terjadi pada orang-orang yang katanya telah mengerti apa itu Anatta dan terlebih lagi mengartikannya itu sebagai "tanpa aku" dan lalu mengatakan bahwa aku itu tiada atau aku nya telah tiada, tentulah ini menjadi suatu paradoks atau kontradiksi. Terlebih lagi jika kemarahan itu tertumpah dalam diskusi via email, yang sebetulnya jika ybs itu bisa sedikit menahan diri, tentu dengan gampang bisa memberikan jawaban yang manis dan elegan, seolah-olah datang dari petinggi spiritual yang telah benar-benar tercerahkan dan benar-benar sabar, ya, seolah-olah, kan tidak berarti sesungguhnya demikian, > namun, dalam dunia yang penuh kesan dan upaya membangun kesan ini, kan bisa saja suparman jadi terbang, seolah-olah supermen eh superman, tapi yah, mungkin sumbu jengkelnya sudah tersulut, apa mau dikata .. hehehehehehe. > > Sudah sering saya menjelaskan bahwa Anatta sebagai salah satu konsepsi yang sangat mendasar dalam ajaran Buddha itu hendaknya tidak diterjemahkan sebagai tanpa (an) aku (atta), namun, sepertinya penjelasan saya itu hampir tidak pernah digubris, apa lagi ditelaah dan coba di cari pemahaman yang lebih mendalam darinya. Saya sangat senang jika ada yang bisa mencari dan menggali lebih jauh sutta-sutta atau bagian-bagian dari kitab suci Ajaran Buddha yang menjelaskan tentang Anatta ini dengan lebih lengkap. Salah satu tokoh yang menurut pandangan saya, bisa memberikan penjelasan yang cukup lengkap tentang Anatta ini adalah YA Mahasi Sayadaw, saya katakan cukup lengkap itu karena sesungguhnya penjelasan yang paling lengkap itu, mesti anda pahami sendiri dalam batin anda, tanpa itu, tidak akan pernah lengkap. > > Semoga dengan memahami uraian singkat ini anda bisa mengerti bahwa kalau anda punya pandangan, kesan atau pemahaman, itu bukanlah anda, itu adalah proses pemahaman yang ada pada diri anda, proses kesan yang ada para diri anda. Persepsi atau kesan itu bisa benar, bisa juga salah. Kalau anda dikritik, yang dikritik itu bukan anda, tetapi adalah hasil dari proses pemahaman itu. Ketika hasil proses pemahaman anda itu sudah benar, tentu tidak akan ada kritik atau kalau pun ada kritik, anda bisa memberikan jawaban dengan mudahnya. Sebaliknya kalau hasil proses pemahaman anda itu masih salah, tentu kritik, saran dan pandangan itu akan memberikan suatu perbaikan pada proses persepsi anda kesan anda, yang tentunya akan memberikan perbaikan pada sistem internal anda secara menyeluruh, dan pada akhirnya kalau siklus perbaikan sistem anda ini berjalan terus, anda akan mempunyai pandangan benar sebagai suatu bagian dari delapan jalan utama .. J Tapi tentunya ada tujuh sistem lain yang > mesti anda pelajari untuk menjadikannya lengkap, namun itu tidak dibahas kali ini :D hehehehehe > > Sama halnya dengan yang disampaikan dalam ajaran islam bahwa kita tidak boleh membenci orang, seberapa jahatnya dia, yang kita benci adalah kejahatannya, perbuatannya, kesan kita kepadanya. Ketika dia berubah baik, tentu kejahatannya telah berhenti, dan semestinya kesan kita kepada dia itu juga berubah, maka agar kita tidak malu atau salah menilai orang, jangan terlalu gampang menghakimi, dan yang dihakimi atau dibenci itu perbuatannya, bukan orangnya yang sebetulnya kan sama-sama ciptaanNya. > > Semoga berguna, minal aidin walfa idzin . > Salam > Irwan Sutjipto > > THE GREAT DISCOURSE ON NOT-SELF > (ANATTALAKKHAṆA SUTTA) > Venerable MAHASI SAYADAW > -III- PERCEPTION AND VOLITIONAL FORMATIONS > -ooOoo- > Saññā bhikkhave anattā saññā ca h' idaṁ bhikkhave attā abhavissa nayidaṁ saññā ābādhāya saṁvatteyya labbhetha ca saññāya 'evaṁ me saññā hotu, evaṁ me saññā mā ahosīti.' Yasmā ca kho bhikkhave saññā anattā tasmā saññā ābādhāya saṁvattati. Na ca labbhati saññāya evaṁ me saññā hotu evaṁ me saññā mā ahosīti. > "Monks, saññā, (perception or memory) is not self..." > Perception is sixfold in kind: > 1. Perception born of eye-contact. > 2. Perception born of ear-contact. > 3. Perception born of nose-contact. > 4. Perception born of tongue-contact. > 5. Perception born of body-contact. > 6. Perception born of mind-contact. > Whenever an object is seen, heard, touched, or known, we usually think, "It is I who perceives; this object is perceived and remembered by me." On seeing a sight, it is remembered as a man or a woman, or as an object perceived at such and such a time at such and such a place. The same applies to audible objects and other forms of sensory awareness. This process of perception or memory is wrongly held to be a personal feat: "It is I who remembers, my memory is excellent." The Blessed One explains here that this view is wrong, that there is nothing individual or personal in the process of remembering, just insubstantial phenomena; it is not self. > > Explaining how perception is not self, the Buddha continued: > > "Monks, perceptions, saññā, are not self. If perceptions were self, then they would not tend to afflict or oppress, and one should be able to control perceptions thus: 'Let my perceptions be thus (all pleasant), let my perceptions be not thus (unpleasant)'." > > Ada enam bentuk persepsi: > > Persepsi (kesan) yang timbul dari kontak mata > Persepsi (kesan) yang muncul dari kontak telinga > Persepsi (kesan) yang muncul dari kontak hidung > Persepsi (kesan) yang muncul dari kontak lidah > Persepsi (kesan) yang muncul dari kontak fisik/tubuh > Persepsi (kesan) yang muncul dari kontak pikiran > > Kapanpun suatu objek terlihat, terdengar, tersentuh atau diketahui, kita sering berpikir,"Oh ini persepsi (kesan) saya, objek ini dipersepsikan dan dingat oleh saya.". Ketika melihat pemandangan, kita mengingat nya sebagai pria atau sebagai wanita, atau sebagai objek yang dipersepsikan pada tempat ini dan waktu ini. Sama halnya juga dengan objek suara dan bentuk kesadaran sensorik.lainnya. Proses munculnya persepsi (kesan) atau ingatan ini dipahami dengan salah sebagai kemampuan pribadi kita,"Sayala yang mengingat, memori saya sempurna," Yang Dimuliakan menjelaskan bahwa pandangan ini salah, bahwa dalam proses pengingatan, tidak ada individu atau pribadi, yang ada hanyalah bagian dari fenomena, dia itu bukan anda. > > Menjelaskan bahwa persepsi (kesan) it bukanlah anda, sang Buddha mengatakan: > "Oh Para bhikkhu, persepsi (kesan), Sanna, bukanlah anda, kalau persepsi (kesan) itu adalah anda, maka mereka tidak akan cenderung untuk menyakiti atau menekan, dan seseorang tentu akan bisa mengendalikan persepsi (kesan) misalnya dengan cara ,"Semoga Persepsi (kesan) saya semuanya adalah yang menyenangkan, semoga persepsi (kesan) saya semuanya bukanlah yang tidak menyenangkan. > > ===sisanya anda bisa cari di sini.... > http://www.buddhanet.net/budsas/ebud/mahasi-anat/anat01.htm > atau di > http://www.buddhistinformation.com/great_discourse_on_not-self.htm > > > --------------------------------- > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. > > [Non-text portions of this message have been removed] > ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
