Reinkarnasi
OLEH : Y.M.Sering Tulku Yongdzin Rinponche TEMPAT : Vihara Tharpa Ling, Jakarta TANGGAL : 28 February 2004 Makna dan Ajaran di balik tradisi reinkarnasi Guru-guru Besar Agama Buddha di Tibet dan wilayah Himalaya. 1.Pendahuluan Tradisi mencari inkarnasi atau titisan seorang Guru Besar secara berkelanjutan, berdasarkan catatan yang ada, dimulai kira-kira sekitar tahun 1288 Masehi, Kala itu seorang Yogi Besar Tibet bernama Orgyenpa mengenali seorang balita berumur 4 tahun sebagai reinkarnasi dari Gurunya sendiri bernama Karma Pakshi, Karmapa ke-2. Anak ini dikemudian hari dikenal sebagai Karmapa ke-3 yang sangat terkenal, Rangjung Dorje. Sebelumnya di sekitar abad ke-8 Guru Padmasambhava, pendiri Agama Buddha Tantrayana di Tibet, telah meramalkan bahwa di masa yang akan datang para murid dekatnya kelak akan dilahirkan kembali dengan kekuatan untuk mengingat kehidupan masa lalunya serta menemukan lokasi-lokasi di mana Beliau menyembunyikan Pusaka-pusaka Ajarannya di seluruh wilayah Tibet demi manfaat makhluk generasi yang akan datang. Terton Sangye Lama, penemu Pusaka ajaran tersembunyi generasi pertama, sebagai reinkarnasi murid Padmasambhava seperti yang telah diramalkan, hidup di sekitar tahun 1.000 1.080 Masehi. 2. Kelahiran Kembali dan Reinkarnasi Di dalam tradisi agama Buddha kita percaya bahwa setelah meninggal, batin pikiran seseorang itu akan terus berlanjut. Ke arah mana seseorang akan dilahirkan itu sangat erat kaitannya dengan kondisi keadaan mental orang tersebut di dalam kehidupan ini. Secara umum, kita tidak memiliki kemampuan untuk secara sadar memilih bagaimana kita akan dilahirkan kembali. Itu semua akan sangat tergantung kepada kekuatan-kekuatan karma kita. Meskipun begitu, dikatakan bahwa saat-saat menjelang kematian adalah saat yang sangat penting dan menentukan. Karma yang aktif pada saat-saat ini akan sangat berpengaruh pada ke mana kita akan dilahirkan. Apabila pada saat yang kritis tersebut kita bisa membangkitkan sikap mental yang positif, maka besar kemungkinan salah satu dari karma bajik kitalah yang akan menjadi menonjol dan aktif sebagai kekuatan bagi kelahiran kembali kita. Bagaimanapun juga, sukses atau tidaknya ini akan sangat tergantung kepada kekuatan kebiasaan sikap mental kita di dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, persiapan yang paling baik untuk itu adalah berupaya membiasakan diri menjalankan praktek-praktek kebajikan dan spiritual dengan sungguh-sungguh di dalam kehidupan ini. Latihan pembiasaan diri ini diharapkan akan secara perlahan-lahan mentransformasi sikap mental kita. Pada detik-detik terakhir pada dasarnya kekuatan spiritual inilah yang akan menjadi bekal kita satu-satunya yang tidak ternilai. Bagi seseorang yang telah mencapai tingkat realisasi yang tinggi di bidang spiritual, maka ia akan memiliki kemampuan untuk secara sadar mengendalikan bagaimana ia akan dilahirkan kembali. Inilah yang disebut dengan reinkarnasi. Jadi reinkarnasi bukanlah hanya sekedar kelahiran kembali. Guru-guru Besar yang memilih berinkarnasi untuk melanjutkan pekerjaannya, belajar, berlatih, bermeditasi ataupun mengajar dan membimbing, di Tibet disebut dengan istilah Tulku. Melalui sistem Tulku ini, tradisi agama Buddha Tantrayana di Tibet seperti kita ketahui telah dipertahankan lebih dari 1.000 tahun lamanya hingga saat ini, bahkan telah mampu menyebar luar hingga ke Eropah, Amerika dan sebagainya. Sistem Tulku ini juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh mulia di bidang spiritual, sebut saja Tulku-tulku Besar yang hidup di jaman ini seperti Y.M. Dalai Lama, Y.M. Karmapa, Y.M. Sakya Trizin, Y.M. Dilgo Kyentse Rinpoche, Y.M. Dudjom Rinpoche, Y.M. Minling Trichen dan sebagainya. Terlepas dari apakah lahirnya para tokoh-tokoh suci ini adalah karena faktor lingkungan dan pendidikan semata atau apakah ini merupakan suatu bukti bahwa sistem ini cukup bisa dipercaya dan efektif, yang ingin kita bahas di sini adalah apa makna dibalik sistem Tulku ini dan hubungannya dengan ajaran agama Buddha. 3. Bodhicitta Dikatakan bahwa Sang Buddha telah mengajarkan sebanyak 84.000 jalan yang dapat membantu para makhluk dengan berbagai kepribadian dan kecendrungannya untuk mencapai kebahagiaan sejati. Inti dari seluruh jalan ini bisa dibagi ke dalam dua kelompok praktek, yaitu: 1. Metode (Upaya): Praktek bagaimana mengikis sikap keegoan. Dengan kata lain, melepaskan sikap mementingkan diri sendiri dan mengembangkan sikap cinta kasih serta welas asih terhadap yang lain. Ini adalah praktek yang berkaitan dengan dengan aspek kebenaran konvensional atau relatif (Sambrithsatya). 2. Kebijakasanaan (Prajna): Pelatihan pengembangan pemaham akan kebenaran sejati atau sifat kekosongan dari keberadaan segala sesuatu. Ini merupakan praktek yang berhubungan dengan kebenaran tertinggi atau absolut (Paramarthasatya). Salah satu dari cara mengatasi cengkeraman ego yang diajarkan adalah praktek pengembangan Bodhicitta atau disebut juga pikiran pencerahan. Ini merupakan sebuah latihan yang dapat secara perlahan-lahan menumbuhkan sikap mental yang bajik di dalam diri kita. Bodhicitta memiliki arti: keinginan dan tekad mulia untuk mencapai Pencerahan (Kebuddhaan) agar bisa membantu membebaskan semua makhluk dari roda penderitaan. Di dalam tradisi Vajarayana, Bodhicitta dipandang sebagai sebuah praktek yang sangat penting. Ibaratnya bangunan maka Bodhicitta disamakan dengan pondasi, di mana seluruh kekuatan dari bangunan bertumpu. Bila pondasinya tidak kokoh maka seluruh bangunannya juga akan rapuh. Dikatakan bahwa melalui praktek Sila, Samadhi dan Prajna seseorang akan bisa melampaui rintangan terhadap kebebasan ataupun jerat roda samsara. Namun kekotoran-kekotoran batin sangat halus dan rintangan tehadap pengetahuan belum mampu tuntas terhapus. Hanya dengan juga menjalankan praktek Bodhicittalah maka kita akan bisa menghapus kekotoran-kekotoran sisa tersebut sekaligus melampaui rintangan pengetahuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan adanya Bodhicittalah seseorang bisa menjadi seorang Buddha, yaitu seseorang yang telah dibekali dengan kekuatan-kekuatan sempurna dan kemahatahuan. Dengan demikian ia dapat sepenuhnya efektif menolong para makhluk lainnya. Dalam kenyataannya dikatakan bahwa pencerahan yang sebenarnya adalah tidak memungkinkan bagi seseorang yang tidak secara tulus menjiwai pikiran pencerahan ini. Di dalam kisah hidup Y.M. Atisha diceritakan bahwa, setelah sekian lama Beliau bergelut mencari jalan menuju ke Pencerahan, akhirnya Beliau menyadari betapa jalan mengejar kebebasan bagi diri sendiri bagaimanapun tidak akan membawa Beliau menuju ke Pencapaian tertinggi. Kebuddhaan hanya akan bisa dicapai melalui jalan melepaskan cengkeram ego dengan mengedepankan kepentingan makhluk lain. Y.M. Atisha kemudian secara khusus berlatih praktek Bodhicitta di bawah bimbingan Y.M. Serlingpa selama 12 tahun di Sumatera. Bodhicitta dikatakan merupakan jalan yang paling cepat bagi seseorang untuk menghimpun berkah dan membawa seseorang menuju ke Pencapaian tertinggi. Segala aktivitas seseorang bila didasari dengan niat Bodhicitta maka niscaya akan memberikan hasil yang jauh lebih besar. Diibaratkan sebuah kendaraan yang menaiki sebuah tanjakan terjal, maka Bodhicitta adalah bagaikan kekuatan mesinnya. Semakin besar dan kuat kapasitas mesin, maka semakin cepat pula kendaraan ini akan mencapai ke puncak bukit. Kendaraan dengan mesin kapasitas kecil mungkin hanya akan mampu mencapai tingkat ketinggian tertentu saja. Landasan dari Bodhicitta terdiri atas 4 (Empat) Sikap Tanpa Batas, yaitu: 1. Cinta Kasih (Metta): kasih tidak bersyarat terhadap semua makhluk; keinginan agar makhluk lain berbahagia. 2. Welas Asih (Karuna): bisa ikut merasakan penderitaan makhluk lain; tekad secara pribadi menolong makhluk lain keluar dari penderitaan mereka. 3. Suka cita (Mudita): turut bersuka secara spontan atas setiap kebahagiaan dan kebajikan makhluk lain. 4. Kesamarataan Rasa (Upekkha): batin seimbang tanpa membeda-bedakan, yang timbul dari pengertian mendalam akan sifat keberadaan segala sesuatunya. Di dalam Bodhicaryavatara (Tuntunan Cara Hidup Seorang Boddjisattva), Shantideva mengatakan: Bodhicitta adalah saripati mentega Yang dihasilkan dari mengaduk susu Dharma Artinya, bila seluruh ajaran Dharma kita ringkas menjadi satu inti kata maka Bodhicitta adalah sari kata tersebut. Lebih lanjut dikatakan di dalam Boddhicaryavatara bahwa: Segala kebahagiaan di dunia Datang dari menginginkan kebahagiaan bagi yang lainnya; Segala kesengsaraan di dunia Berakar dari mendambakan kebahagiaan bagi diri sendiri Kalimat di atas perlu kita renungkan lebih jauh sehingga kita dapat melihatnya sendiri dan merasa yakin akan kebenarannya. Ini bisa kita lakukan dengan mengamati misalnya sejarah, kejadian di lingkungan sekitar kita ataupun dari pengalaman kita sendiri. Pandangan seakan-akan terdapat sesuatu inti diri ataupun jati diri secara hakiki; dan kemelekatan terhadap diri yang seolah-olah terpisah dan berdiri sendiri merupakan sumber dari segala permasalahan. Pandangan keliru ini menyebabkan kita bersikap dan merasa seolah-olah diri ini adalah sesuatu yang paling penting. Dari sini timbul sikap mementingkan diri sendiri dan keinginan-keinginan kuat untuk melindungi kepentingan diri atau milik sendiri, berupa: ini adalah aku, punyaku, keluargaku, kelompokku dan sebagainya. Sikap ini lalu akan terwujud ke dalam sikap mental dan tindakan kita sehari-hari berupa nafsu serakah, agresivitas, kesombongan, rasa iri, dengki, keculasan dan sebagainya. Kesemua sikap mental dan emosi negatif ini pada dasarnya adalah akar dari penderitaan baik mental maupun fisik; rasa tidak nyaman, tidak aman, cemas, khawatir, takut, tidak puas, dan seterusnya. Hampir setiap hari kita dapat membaca begitu banyaknya tragedi yang terjadi di dunia ini melalui media masa atas nama kepentingan diri sendiri ini. Agresivitas di antara sesama makhluk, bangsa, suku, sahabat, saudara bahkan antara anak dan orang tua dan seterusnya. Sebaliknya, Bodhicitta adalah bagaikan obat penawar bagi emosi-emosi negatif. Bodhicitta yang tumbuh dengan baik akan membawa suasana sejuk dan damai di dalam hati, yang mana merupakan akar bagi kebahagiaan dan keberuntungan. Jadi, tujuan teetinggi dari ajaran Buddha dapat juga kita ringkas menjadi kalimat:Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata atau Sarwa manggalam atau Semoga Semua Makhluk Berbahagia. Para orang mulia yang bertekad dan berjanji untuk mengemban tugas luhur merealisasikan ideal ini disebut juga Para Boddhisattva. 4. Ideal Boddhisattva Bila makhluk biasa dilahirkan kembali karena karma mereka, maka Para Boddhisattva terwujud karena Bodhicitta mereka, yakni aspirasi untuk mencapai pencerahan guna menolong semua makhluk. Seorang Boddhisattva berjanji akan terus kembali ke dunia ini ataupun ke dunia lainnya selama masih ada makhluk lain yang masih menderita. Para Boddhisattva dikatakan telah melepaskan kemelekatan mereka terhadap keduniawian karena mereka telah mengerti akan sifat hakikat keberadaan. Namun dikarenakan kewelas-asihannya akan penderitaan makhluk lain, mereka menolak untuk berdiam dalam pencerahan mereka sendiri. Dari kitab-kitab suci, kita mengetahui bahwa Sang Buddha Sakyamuni sendiri sering mengisahkan kehidupan masa lalu Beliau sebagai Boddhisattva. Begitu juga kita mengenal banyak Tulku-tulku dari Tradisi Vajrayana di jaman ini yang menjalankan misi Boddhisattva ini. Secara lebih luas dikatakan bahwa, seorang Boddhisattva akan menolong dengan jalan dan wujud yang tidak terhitung banyaknya di segala alam yang ada, tidak hanya terbatas sebagai seorang pemimpin spiritual Agama Buddha di dunia ini. Tujuannya adalah guna membebaskan semua makhluk dari segala bentuk penderitaan dan agar mereka menyadari batin Kebuddhaannya sendiri atau menjadi seorang Buddha. 5. Penutup Di sini kita melihat bahwa seluruh ide mengenai karma, kelahiran kembali, Bodhicitta dan ideal Boddhisattva adalah bersumber dari ajaran Agama Buddha yang telah diterapkan di dalam sistem Tulku ini, dan ini merupakan praktek nyata dari Bodhicitta yang dijalankan bukan saja hanya dalam satu kehidupan namun dalam banyak kehidupan. Silsilah-silsilah Tulku seperti ini ada yang telah berlanjut hingga lebih dari 1.000 tahun lamanya. Silsilah Karmapa yang ada sekarang misalnya adalah suatu reinkarnasi yang ke-17 sedangkan silsilah Dalai Lama saat ini adalah yang ke-14. Ideal Boddhisattva masih bisa kita saksikan terus terlahir kembali di dalam diri Tulku-tulku hingga masa kini. Makna dari ajaran Bodhicitta serta penerapannya yang tiada henti-hentinya kita anggap bisa kita jadikan suri tauladan. Contoh ini sekaligus mengingatkan kita kembali bahwa agama Buddha itu bukanlah sebuah ajaran untuk hanya dipelajari dan dimengerti, namun ajaran ini merupakan sebuah jalan yang harus secara pribadi kita tempuh dan jalani. Melalui praktek Dharma sasaran terpenting kita adalah bagaimana mentransformasikan diri kita sendiri dari dalam . Bodhicitta merupakan sebuah jalan tercepat yang ditawarkan Sang Buddha. Dan metode serta praktek pengembangan Bodhicitta ini telah pula ikut dilestarikan oleh nenek moyang bangsa Indonesia sendiri, yakni melalui Y.M. Serlingpa. Semoga semua makhluk berbahagia Sarwa Manggalam Om Mani Padme Hung Hri Tim Manjusri Nama Samgiti __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
