Artikel ini bagus banget neh... > Republika : Rabu, 01 September 2004 > Orang Beragama atau Orang Baik? > > Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh > waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa > iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan > sebuah pondok kecil dan memberinya > makan,sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan > tenang. > > Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin > melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia > memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita > cantik. ''Masuklah ke dalam pondok,'' katanya kepada > wanita itu,''Peluklah ia dan katakan 'Apa yang akan > kita lakukan sekarang'?'' > > Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan > melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki > itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak > sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu > keluar dari pondoknya. > > Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang > terjadi, si nenek menjadi marah. ''Percuma saya > memberi makan orang itu selama 20 tahun,''serunya. > > ''Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, > tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari > kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun > sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah > seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.'' > > Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada > kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah > dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama > ternyata sama sekali tak menjamin perilaku > seseorang. > > Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. > Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru > mengaji yangsuka memperkosa muridnya. > Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru > ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. > Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka > berselingkuh.Kawan yang lain sangat rajin ikut > pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti > orang lain. Adapula kawan yang Berkali-kali menunaikan > haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di > kantornya. > > Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan > utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak > orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan > fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti > melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan > (bukannya membaca) Alquran. > > Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama > justru pada budi pekerti yang mulia. > > Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian > peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama > telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan > bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan > hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan > kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan > agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah > sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir > (way of thinking). > > Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan > tertinggi manusia.Kita tidak beribadah karena surga > dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. > Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan > kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah > karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan > merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita > berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita > tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan.
[Non-text portions of this message have been removed]
