Tidak bijak kalau hanya mengandalkan logika untuk menghormati objek-objek suci. Banyak objek-objek suci yang timbul di luar atau belum terjangkau logika.
Pikiran manusia umumnya mudah berinteraksi dengan objek-objek yang TERLIHAT di sekelilingnya. Seorang yang bekerja di ruangan yang biasa dijadikan tempat kerja akan memberikan hasil yang lebih maksimal bila dia bekerja di ruangan yang biasa digunakan untuk keperluan lain seperti makan, ngobrol, atau tidur. contoh lain sebuah piring makan yang sudah biasa kita jadikan tempat rokok meskipun sudah dicuci bersih, pikiran tetap akan mengingatnya sebagai tempat rokok, makan dari piring ini tak akan selahap dari piring yang tidak kita ketahui dijadikan fungsi lain, kecuali mungkin bagi orang yang kelaparan atau begitu laparnya. Dalam hal ini bila menginginkan kekuatan relik dalam mempengaruhi orang2 di sekitarnya bisa maksimal maka relik harus diposisikan pada tempat terhormat dan orang2 yang ingin memberikan penghormatan tidak dipengaruhi oleh kesan yang timbul oleh objek2 yang tidak berhubungan. Karena penghormatan akan objek2 suci biasanya lebih berkaitan dengan perasaan hormat atau keyakinan dibandingkan logika, maka faktor kesan terhadap perasaan orang yang berkunjung harus diperhatikan. Kalau mengaitkan atas bawah dengan khatulistiwa memang benar namun hal ini kemungkinan muncul pada pikiran orang datang pada saat itu sangat kecil. Pikiran orang yang datang umumnya akan bereaksi atau merespons objek2 yang mudah dilihatnya pada saat datang apakah itu di atas ada supermarket, toko makanan, di bawah ada toko bangunan, dll. So, terserah anda... mau menginginkan hasil yang maksimal atau biasa-biasa aja. --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Sitojohan: > Masalahnya, lokasi tersebut, sekali lagi, menurut saya, kurang > terhormat. Di atasnya, merupakan supermarket, yang tentu saja, siapa > pun dapat berdiri tepat di atas relik suci. Apalagi pada malam hari, > lokasi tersebut sangat ramai sebagai tempat bermain bowling (pada > lantai atas gedung tersebut). > > Abin: > So what gitu loh. > Sebetulnya mana atas mana bawah sih? > Kalau kita berada di garis Kathulistiwa, maka sesungguhnya posisi berdiri > kita tidak vertikal, tetapi horizontal. > Jadi kalau O adalah bumi dan - adalah manusia, maka posisi kita adalah O- > Jika relik adalah + dan diletakkan di bawah manusia, maka posisinya akan > seperti ini: O+- (menyamping). > tidak akan berjejer ke atas, kecuali kalau anda berdiri persis di kutub > utara. > > Jangan hamburkan kapasitas otak untuk hal-hal yang gak penting man. > > [Non-text portions of this message have been removed] >
