RENUNGAN WAISAK 2551/2007
Hidup Itu Saling Bergantungan
Mahathera Nyanasuryanadi
Sejumlah negara telah merayakan Waisak pada hari purnama 2 Mei lalu. World
Fellowship of Buddhists menetapkan bahwa Hari Buddha jatuh saat bulan purnama
pada bulan Mei. Apabila ada dua purnama, yang dipilih adalah yang pertama.
Namun, negara-negara yang memerhatikan kalender Imlek merayakan Waisak tanggal
31 Mei agar bertepatan dengan bulan 4 (si-gwee) penanggalan Tionghoa. Untuk
menyesuaikan perhitungan berdasar peredaran Bulan dengan peredaran Matahari,
kalender Imlek memiliki bulan sisipan (lun). Beberapa negara lain, berdasar
tradisi Mahayana, merayakan hari kelahiran Pangeran Siddharta yang kemudian
menjadi Buddha pada 8 si-gwee, tepatnya 24 Mei 2007. Di Indonesia, Waisak baru
dirayakan 1 Juni 2007 sesuai perhitungan astronomi.
Tiga peristiwa
Ada tiga peristiwa yang sekaligus diperingati pada hari Waisak, yaitu saat
kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinirwana atau meninggalnya
Buddha Gotama.
Peringatan itu terutama untuk mengenang kehadiran Buddha serta menangkap makna
dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia sekarang. Yang diperingati adalah
peristiwa, bukan waktu. Bagaimanapun satu momen waktu ada dalam keseluruhan
waktu, sedangkan setiap satu detik mengandung waktu lampau, kini, dan yang akan
datang. Melalui waktu lampau, orang dapat melihat waktu sekarang dan yang akan
datang. Pada waktu sekarang, orang dapat melihat waktu lampau dan yang akan
datang. Melalui waktu yang akan datang, orang dapat melihat waktu lampau dan
sekarang.
Detik Waisak, saat purnama sidi, tepatnya jatuh pukul 08.03.27 menjadi sebuah
kesempatan untuk memasuki keheningan yang penuh kedamaian. Dalam keheningan
kita memusatkan perhatian, yang seperti dikemukakan Anthony de Mello, membuat
kita dapat menyadari kehadiran Tuhan, menyertai hirupan dan embusan napas. Kita
belajar mendengarkan irama dari napas dan denyut kehidupan sosok tubuh kita.
Kita mendengar irama dari desir angin, gesekan dedaunan, kicau burung, simfoni
bisikan alam yang menakjubkan. Satu suara memengaruhi semua suara, semua suara
memengaruhi satu suara. Setiap eksistensi saling memengaruhi.
Kita menemukan bahwa segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita tidak
berdiri sendiri. Segalanya saling berhubungan dan saling bergantungan. Semua
mengambil bagian dalam hidup yang sama. Matahari, Bintang, Bumi, lautan, pohon,
burung, ikan, dan manusia mempunyai asal ontologis yang sama. Tidak ada
fenomena di alam semesta ini yang tidak memengaruhi hidup manusia, dari setetes
air di dasar samudra sampai gerakan galaksi yang ada jutaan tahun cahaya
jauhnya.
Mengatasi penderitaan
Setiap orang tahu, jika jantung berhenti berdetak, maut menjemput. Namun,
sejauh mana manusia memerhatikan hal-hal di luar tubuhnya yang juga menentukan
kelangsungan hidupnya? Bila ozon yang melapisi Bumi lenyap, manusia akan mati.
Setiap orang tahu, jika paru-parunya rusak, ia akan sekarat. Seharusnya ia juga
menyadari bahwa hutan adalah paru-paru yang ada di luar tubuh manusia. Tanpa
tumbuh-tumbuhan, bagaimana manusia dapat hidup? Jadi, kita tidak boleh
membiarkan jutaan hektar hutan dibabat, atau mencemari udara, sungai, dan
sebagainya.
Manusia tidak dapat hidup sendiri. Selalu ada interaksi dan interdependensi.
Maka, kita seharusnya saling melindungi. Bagaimana manusia dapat hidup bahagia
di atas penderitaan orang lain? Kita tentu amat peduli dengan mereka yang
kelaparan dan yang ketakutan, yang tak berdaya menghadapi tekanan. Waisak
mengingatkan kita bahwa mengatasi penderitaan adalah tema sentral ajaran Buddha.
Segala hal yang kita pikirkan, setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan
yang kita lakukan menciptakan sebuah riak dalam hubungan yang saling
bergantungan. Tak ada kontak, tak ada persepsi, tak ada keterlibatan yang tidak
penting. Setiap hubungan memberi kita kesempatan untuk belajar bagaimana
mengesampingkan keakuan, memberi dan menerima dengan cinta dan hati yang
terbuka. Buddha mengatakan, segala sesuatu didahului dan dibentuk oleh pikiran.
Hidup kita kini adalah cermin pikiran-pikiran pada masa lalu. Pikiran kita kini
menciptakan kehidupan masa depan. Para ahli fisika kuantum mencoba untuk
menjelaskan bahwa seluruh semesta muncul dari pikiran!
Rhonda Byrne mengungkapkan rahasia dari banyak orang yang sukses: saat ia
memikirkan suatu pikiran, ia juga menarik pikiran-pikiran serupa ke dirinya.
Pikiran bersifat magnetis dan memiliki frekuensi. Ketika kita berpikir,
pikiran-pikiran itu dikirim ke Semesta dan secara magnetis pikiran akan menarik
semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang
dikirim ke luar akan kembali ke sumbernya: si pemikir. Dia menyebutnya mukjizat
berpikir positif. Jika kita merasa benci atau iri, itu menjadi jalan kita dan
dunia akan merespons sesuai dengan itu sehingga kita sendiri menderita. Jika
kita memiliki kesadaran, belas kasih, dan kebijaksanaan, itu menjadi jalan kita
dan dunia akan merespons sesuai dengan itu sehingga membawa kebahagiaan bagi
kita. Hukum tarik-menarik ini, yang dipandang sama pentingnya dengan hukum
gravitasi, menunjukkan sebuah bentuk interdependensi atau kesalingbergantungan.
Apa saja yang ada di jagat raya ini dimungkinkan hadir karena terkondisikan
dengan adanya kehadiran yang lain. Ketika ini hadir, itu terjadi; karena
munculnya ini, maka muncullah itu. Sebaliknya, ketika ini tidak ada, itu tidak
ada; dengan berhentinya ini, maka berhentilah itu. Kesalingbergantungan atau
hubungan yang terkondisi sebagai sebab-akibat ini merupakan esensi ajaran
Buddha. Karena itu dikatakan, barang siapa melihat sebab-musabab yang saling
bergantungan, ia melihat Dharma.
Ada banyak sebab yang saling terkait. Tidak hanya dalam peristiwa alam, seperti
letusan gunung berapi, gempa, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan, hukum
tersebut juga bekerja dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, mental dan
psikologi, dan lain-lain. Hukum sebab-musabab yang saling bergantungan
menjelaskan kenapa dan bagaimana makhluk-makhluk terlahir di dunia. Mengapa ada
yang terlahir sehat, ada yang cacat, ada yang cantik ada yang jelek. Karma tak
lain dari perbuatan dalam konteks sebab akibat, yang sering diilustrasikan
sebagai menabur dan menanam benih. Setiap orang akan memetik buah yang sesuai
benih yang ia tanam. Ada karma individual, ada karma kolektif.
Konsep kesatuan
Kesalingbergantungan tidak dapat dipisahkan dari konsep kesatuan. Satu dalam
semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan. Dapat
dikatakan, kesatuan adalah perbedaan, dan perbedaan adalah kesatuan. Manusia
hidup bersama pun dalam perbedaan, dan perbedaan itu sudah menjadi kebutuhan.
Perbedaan menjadi suatu yang saling melengkapi, saling mendukung. Pemahaman
akan kesatuan dan perbedaan semakin perlu ketika sebuah komunitas tidak lagi
dapat menutup diri menghadapi globalisasi yang membuat dunia kehilangan
batas-batas budaya, rasial, bahasa, dan geografis.
Pluralisme menjadi sebuah keniscayaan. Dalam kehidupan spiritual berarti kita
tidak dapat memaksakan kebenaran kita sendiri kepada orang lain. Berdasar cara
pandang ini seharusnya kita mengembangkan inklusivisme dan universalisme agar
dapat menghadirkan kedamaian. Adapun sikap sektarian hanya akan menimbulkan
disharmoni. Tidak pelak lagi, inilah yang ingin dikemukakan Empu Tantular dalam
pernyataan bhinneka tunggal ika, tan hana dharmma mangrwa, berbeda-beda namun
satu, tiada kebenaran bermuka dua.
Saat berhadapan dengan misteri alam semesta, kita bertanya dari mana semua itu
berasal? Apa arti semua itu? Planet, bintang, musim, makhluk, mereka semua
muncul dan menghilang. Setiap akhir menjadi awal dari permulaan yang baru.
Setiap kematian memberi kelahiran dari bentuk baru kehidupan. Jika kita mau
melihat secara mendalam, dapat dikatakan hidup dan mati adalah dua realitas
yang sama. Tumbuh-tumbuhan lahir, hidup untuk beberapa saat, lalu kembali ke
bumi. Daun-daun dan bunga yang segar akan menjadi layu dan busuk. Setelah
mereka terurai, menjadi pupuk yang menyuburkan taman kita. Pupuk dan daun atau
bunga saling membutuhkan. Beberapa waktu kemudian, dari unsur yang membusuk itu
muncul kembali tumbuh-tumbuhan dengan daun dan bunga segar. Tumbuh-tumbuhan dan
tanah saling bergantung. Begitu pula dengan sinar matahari, awan, hujan, dan
segala yang ada di alam semesta ini.
Dengan cara pandang ini, Biksu Thich Nhat Hanh mengajak kita semua melihat
kepada diri sendiri. Kita akan menemukan baik bunga maupun pupuknya. Semua
orang mempunyai kemarahan, kebencian, kekhawatiran, berbagai bentuk tekanan,
dan banyak sampah busuk lainnya. Seperti tukang kebun yang tahu bagaimana
mengubah bagian dari tumbuh-tumbuhan yang membusuk menjadi pupuk, dan mengubah
pupuk menjadi bunga, kita dapat belajar seni mengubah sampah dalam diri menjadi
sesuatu yang indah. Apa itu yang indah? Cinta, pengertian, kebijaksanaan, dan
kedamaian yang membuat hidup kita bahagia. Dengan mengubah diri, kita dapat
membawa perubahan pada dunia luar.
Ketika tidak lagi bisa mengendalikan atau menghentikan sebuah situasi yang
sulit, kita dapat belajar untuk menemukan sebuah keseimbangan.
Selamat Hari Waisak 2551.
Mahathera Nyanasuryanadi Ketua Umum Sangha Agung Indonesia; Pembina Majelis
Buddhayana Indonesia
Nyanabhadra Yeshes bZangpo
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Study & Research
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. byang chub sems dpai spyod pa nyid 'jug pa
bzhugs so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse
18-19]~ Shantideva
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
[Non-text portions of this message have been removed]