Ketulusan
Sri Pannyavaro
Malam itu Pangeran Siddharta merasa gelisah. Berbagai fenomena penderitaan yang
baru disaksikan di balik tembok istana mengusik nuraninya dan membuat hatinya
terguncang.
Ia bergulat dengan pikirannya, "Mengapa penderitaan itu harus terjadi". Muara
kehidupan haruslah kebahagiaan, bukan penderitaan. Kebahagiaan akan terwujud
manakala tak ada lagi ketakutan akan usia tua, sakit, kematian. Tak ada lagi
air mata, diskriminasi, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan
ketidakadilan.
Akhirnya Pangeran Siddharta mengambil keputusan radikal. Kalau banyak orang
menjadi pemimpin dengan mencari istana, Pangeran Siddharta justru meninggalkan
istana. Kalau orang berjuang keras untuk menjadi kaya, Pangeran Siddharta
dengan penuh kesadaran meninggalkan gemerlap kehidupan istana untuk hidup
sederhana, sebagaimana layaknya rakyat biasa.
Ia rela melepas gelar kebangsawanan, kemewahan, kenikmatan hidup dunia, bahkan
keluarga yang dicintainya. Pelepasan agung ini tak pernah bisa dicari
analoginya dalam kenyataan sekuler.
Berpuluh tahun lalu, para pejuang kemerdekaan dengan tekad bulat, mengusir
penjajah yang menjarah kekayaan alam dan mencabik-cabik harga dirinya dan
saudara sebangsa. Mereka mengorbankan segalanya; harta, kehormatan, bahkan
nyawa. Mereka adalah pahlawan.
Kekuatan ketulusan
Komitmen dan sikap Pangeran Siddharta serta para pahlawan pejuang untuk
mengatasi penderitaan dan memerdekakan manusia adalah wujud semangat
solidaritas, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial. Mereka disatukan oleh
kesederajatan, senasib, sepenanggungan sebagai makhluk yang sama-sama tercecer
dan tersingkir ke pinggir-pinggir kehidupan.
Di atas semua itu, tak ada misi sedikit pun yang terselip dalam benak Pangeran
Siddharta untuk mendirikan agama; pun tak ada secuil kepentingan untuk mencari
pengikut. Pengorbanan dan perjuangan tanpa pamrih Sang Pangeran dan para
pahlawan pejuang untuk mencari jalan pembebasan itu yang terus menggugah kita.
Mereka dikenang karena ketulusan hatinya. Mereka akan tetap hidup dalam
semangat luhur untuk menolong sesama; peduli pada pergumulan kehidupan.
Kekuatan ketulusan membuat para pejuang kehidupan tak pernah menyesali setiap
pengorbanan yang telah dilakukan. Mereka meyakini apa yang dilakukan; bahwa
melakukan kebajikan akan berbuah kebahagiaan. Sementara orang yang tidak tulus
akan lebih banyak gelisah dan khawatir, bahkan tak jarang kecewa dan menyesal
manakala mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Dalam Anggutara Nikaya V, 2 Buddha Gotama menyatakan, "Seseorang yang
sungguh-sungguh (tulus) dalam kebajikan, tidak perlu ada pemikiran yang
bertujuan, semoga aku terbebas dari penyesalan; karena seseorang yang bajik
dengan sendirinya akan terbebas dari penyesalan. Dan bagi seseorang yang
terbebas dari penyesalan, tidak perlu ada pemikiran yang bertujuan, semoga aku
berbahagia; karena orang yang terbebas dari penyesalan dengan sendirinya akan
berbahagia".
Tanpa pemilik kebajikan
Menurut Buddha Gotama, kita harus menghancurkan egoisme pribadi untuk
menghentikan penderitaan secara total. Namun, sikap tanpa keakuan itu tidak
dapat dimiliki hanya karena mengerti, keakuan adalah ilusi. Keakuan juga tidak
akan lenyap karena telah memahami, keakuan menjadi sumber penderitaan.
Pengertian "tanpa aku" dan "tanpa diri" hanya kunci untuk membuka pintu
kebenaran dan kebebasan, tetapi kebenaran tidak terletak pada kunci.
Pengertian bahwa keakuan hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiran sendiri dan
bermuara pada kehancuran pribadi maupun masyarakat merupakan pengertian yang
harus menjadi wawasan kita. Namun, pengertian "tanpa aku" itu harus terwujud
dalam setiap perilaku kita.
Perilaku bajik yang dilakukan dengan penuh kesadaran (sati) itulah ketulusan
sebenarnya. Kesadaran penuh tidak memberi peluang pada hadirnya pemikiran
keakuan, baik keakuan sebagai pribadi yang telah berbuat baik, apalagi keakuan
yang amat kasar, seperti kehausan akan pahala, keuntungan materi maupun
ketenaran.
Kedamaian sejati akan tumbuh manakala kita mempraktikkan ketulusan altruistik
yang sadar dilakukan dalam setiap tindakan. Ini berarti "aku" yang melakukan
perjuangan dan pengorbanan tidak teridentifikasi. Tidak ada "aku" utuh yang
melakukan perjuangan dan pengorbanan karena tidak ada "aku" yang berdiri
sendiri tanpa ada kondisi-kondisi lain.
Betapa berharganya kesadaran akan hal ini karena gagasan "milikku,
perjuanganku, pengorbananku", lagi-lagi hanya akan menyuburkan ketamakan dan
penderitaan mental yang tak berkesudahan. Gagasan tentang "aku" hanya akan
membunuh perkembangan spiritual kita.
Pikiran sulit dikendalikan
Secara alamiah, pikiran yang tidak terlatih akan amat sulit dikendalikan.
Pikiran itu merayu orang untuk menjadikannya sebagai makhluk yang diperbudak
indera. Pikiran yang tidak terlatih itu menggoda manusia yang telah melakukan
kebaikan menjadi sombong dan memamerkan kebaikannya, keilmuannya, hartanya,
kedudukannya, pengalamannya, kekuatannya, dan aneka topeng duniawi lainnya yang
dianggap dapat mengangkat citra dan pujian kepada dirinya. Demikianlah,
khayalan dan emosi selalu menyesatkan manusia jika pikirannya tak pernah
dilatih dengan benar.
Jadi, perbuatan baik saja tak cukup untuk mencapai kebebasan. Kebahagiaan
tertinggi tak dapat dicapai tanpa memurnikan pikiran. Buddha Gotama
mengajarkan, meditasi adalah pendekatan psikologis yang dapat dilakukan untuk
melatih, mengembangkan, dan memurnikan pikiran.
Bangsa ini sudah terlalu lama jauh dari ketulusan; ketulusan yang membebaskan
kita dari keserakahan, kebencian, dan berbagai ilusi yang selalu membakar
mental.
Mari kita, mulai dari diri sendiri, melangkah kembali di jalan ketulusan.
Berbuat baik dengan ketulusan hati, menganut agama dengan ketulusan beriman,
memangku jabatan dengan ketulusan menunaikan kewajiban, memimpin dengan
ketulusan mengabdi.
Selamat Trisuci Waisak 2551. Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan.
Sri Pannyavaro Bhikku, Kepala Vihara Mendut
Nyanabhadra Yeshes bZangpo
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Study & Research
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. byang chub sems dpai spyod pa nyid 'jug pa
bzhugs so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse
18-19]~ Shantideva
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.
[Non-text portions of this message have been removed]