Mengingat pentingnya hal ini, terutama menyikapi iklan SGM4 yang tidak 
berpihak pada pelestarian candi warisan peradaban bangsa Indonesia ini, 
maka artikel ini saya post ulang.

Setelah menyimak artikel ini, saya  mengajak rekan sekalian untuk ikut 
ambil bagian memberi tekanan pada PT. Sari Husada selaku produsen SGM 4 
untuk menghentikan penayangan iklan tersebut (tadi malam saya masih 
menyaksikan iklan tersebut di tv) dengan mengirimkan protes lewat KONTAK 
ataupun nomor telpon yang ada di situs Sari Husada.

Akses ke: http://www.sarihusada.co.id

pada bagian bawah terdapat link CONTACT US. 
http://www.sarihusada.co.id/ina/contact/index.php

atau langsung melakukan protes per telepon:

Jakarta Office
Wisma GKBI Lantai 18
Jl. Jendral Sudirman No. 28
Jakarta 10210, Indonesia
Phone: (62-21) 255 37 333 (hunting)
Fax: (62-21) 255 37 334

Yogyakarta Office:
Jl. Kusumanegara 173
Yogyakarta 55165, Indonesia
Phone: (62-274) 512 990
Fax: (62-274) 563 328

-------------------------------------------
Kembalikan Borobudur Kita
Oleh: Abin Nagasena

Lima belas tahun lalu, untuk pertama kalinya saya mengunjungi candi
Borobudur dengan tujuan sekedar jalan-jalan sekaligus ingin melihat dengan
mata kepala sendiri sebuah maha karya (masterpiece) nenek moyang yang kini
menjadi salah satu landmark dan identitas bangsa kita.

Hingga hari ini, manusia modern masih belum mampu mengungkap secara pasti
bagaimana manusia-manusia pada masa tersebut mampu membangun sebuah candi
yang demikian agung, demikian besar, demikian halus, demikian indah,
demikian menakjubkan dengan hanya bermodalkan peralatan yang sangat
sederhana. Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit
membangun sebuah candi yang mampu menyamai keagungan candi Borobudur.

Keagungan candi Borobudur tidak hanya terletak pada hasil yang tampak saat
ini, yaitu sebuah candi yang berdiri dengan gagah penuh dengan relief yang
indah, tetapi di balik kegagahan dan keindahannya, keagungan Borobudur
terletak pada filisofi yang mendasarinya dan mandala yang menjadi dasar
arsitekturnya. Selain itu, keagungan Borobudur juga tercermin pada
ketidakmampuan kita untuk membayangkan bagaimana sebuah bangunan yang
demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan
paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana
batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area
pembangunan di atas bukit. Perlu diketahui bahwa bahan yang digunakan
untuk membangun candi Borobudur adalah batu kali, sekarang yang menjadi
pertanyaan adalah: adakah kali (sungai) di sekitar Borobudur? Mampukah
pula kita mengungkap misteri ‘kecanggihan’ arsitek pada masa 
tersebut yang
merancang candi Borobudur dengan tanpa menggunakan semen sebagai bahan
perekat?

Bagaimana mengukur dan memastikan kestabilan tanah yang akan digunakan
sebagai lahan candi? Bagaimana memastikan kedataran candi agar tidak
miring? Bagaimana mendesign sudut-sudut potongan batu sehingga membentuk
sudut yang mendukung (memanfaatkan gaya gravitasi bumi)? Bagaimana cara
membangun candi yang demikian tingginya? Masih banyak pertanyaanpertanyaan
yang tidak terjawab sehubungan dengan keagungan Borobudur. Semakin banyak
pertanyaan yang tidak terjawab, semakin agung pula Borobudur.

Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa Borobudur adalah warisan peradaban
manusia yang luar biasa. Borobudur adalah kebanggaan bangsa Indonesia
karena merupakan warisan nenek moyang bangsa ini. Sebagai umat Buddha,
yang kita rasakan lebih dari sebatas bangga, karena nenek moyang yang
mendirikan Borobudur adalah penganut Buddha Dharma.

Umat Buddha secara psikologis memiliki ikatan batiniah dengan candi
Borobudur. Bagi umat awam, Borobudur hanyalah sebuah bangunan cagar budaya
yang punya nilai seni tinggi. Tetapi bagi umat Buddha, Borobudur lebih
dari sekedar cagar budaya, Borobudur adalah tempat suci umat Buddha. Bagi
orang awam, kebanggaan atas Borobudur mungkin hanya muncul saat
mempromosikannya ke wisatawan manca negara. Tetapi bagi umat Buddha,
kebanggaan itu ada dan bersemi kapan saja. Setiap mendengar nama
Borobudur, kebanggaan itu terasa sekali.

Borobudur adalah warisan umat Buddha di masa lalu. Borobudur adalah tempat
suci agama Buddha. Borobudur, bukan hanya sebuah bangunan cagar budaya
semata, tetapi Borobudur adalah sebuah tempat suci. Sungguh disayangkan,
dari 504 arca yang ada, lebih dari 300 buah telah mengalami cacat yang
cukup parah, umumnya tidak memiliki kepala, serta 43 buah telah raib dari
tempatnya. Bagian-bagian relief juga telah banyak yang rusak dan kerusakan
ini jelas akan semakin parah dari hari ke hari akibat perilaku pengunjung
yang tidak semestinya.

Borobudur adalah tempat suci. Bagi umat Buddha, cara memperlakukan cetiya,
altar, rupang Buddha, serta relik para suci dinyatakan dengan sangat
gamblang dalam paritta Puja seperti tersebut di bawah ini:

Vandami cetiya sabbang
Sabbathanesu patitthitang
Saririka dhatu maha bodhing
Buddharupang sakalang sada
Bodhisattatupang sekalang sada
Kuhormati setiap cetiya / altar di mana saja berada.
Kuhormati relik-relik Maha Bodhi.
Dan semua bentuk perwujudan Buddha yang dimuliakan.
Semua bentuk perwujudan Bodhisattva yang dimuliakan.

Stupa dibangun sebagai sebuah tempat penyimpanan relik suci ataupun
sebagai penghormatan pada seorang suciwan. Stupa adalah lambang Buddhisme.
Tidak hanya dikenal dalam ajaran Buddha Gotama, tetapi juga ada dalam
ajaran para Buddha terdahulu serta tetap ada dalam ajaran para Buddha akan
datang. Karena itu, sudah seharusnya kita umat Buddha bangkit berdiri
memberi pengertian pada seluruh warga masyarakat akan makna sakral
Borobudur. Pun kita berikan teladan yang benar dalam berperilaku saat
berkunjung ke Borobudur.

Ratusan bahkan ribuan tahun, bangsa kita berkembang membentuk suku bangsa
yang kaya akan keanekaragaman, baik dalam adat budaya, bahasa ataupun
agama. Di dalam keaneka-ragaman ini terasa adanya keindahan karena kita
saling menghargai, saling menghormati dan menjunjung tinggi rasa
toleransi. Melestarikan warisan leluhur, itu sudah seharusnya. Karena itu,
melestarikan Borobudur adalah kewajiban setiap insan di tanah air ini.
Borobudur akan lestari bila lepas dari tangan-tangan jahil ataupun
perilaku tidak seharusnya yang dilakukan oleh para pengunjung.

Tetapi jangan pula lupa bahwa selain sebagai warisan leluhur, Borobudur
adalah lambang toleransi beragama yang layak kita tunjukkan kepada seluruh
bangsa di dunia ini. Kalau Borobudur merupakan warisan nenek moyang layak
kita tunjukkan, maka toleransi beragama jauh lebih layak untuk kita
tunjukkan.

Sebagai bangsa yang besar, sebagai bangsa yang berjiwa besar, sebagai
negara yang berpandangan jauh ke depan, telah tiba saatnya untuk
mengembalikan Borobudur kita pada fungsinya semula.
Borobudur milik kita bersama!
Lestarikan Borobudur kita!
Kembalikan Borobudur kita sebagai tempat suci umat Buddha!
Kembalikan Borobudur kita sebagai lambang toleransi beragama!

****************

ZIARAH CANDI
Ternyata, tidak hanya pengunjung non-Buddhis yang suka memanjat-manjat
stupa induk Borobudur, merogoh-rogoh stupa dan berlaku tidak pantas di
Borobudur. Tidak dapat dipungkiri dan tidak perlu ditutupi bahwa banyak
umat Buddha yang saat berkunjung ke Borobudur juga sibuk mencari berkah
dengan merogoh arca Buddha dalam candi, duduk di stupa induk untuk
berfoto, naik ke langkan candi dan berlaku kurang pantas saat berada di
atas candi.
Hal ini dikarenakan umat Buddha tersebut memiliki pandangan yang awam atas
candi Borobudur. Banyak umat Buddha masih menganggap bahwa candi Borobudur
hanyalah obyek wisata. Sungguh disayangkan, padahal bagi umat Buddha,
candi Borobudur memiliki nilai yang lebih jauh daripada sebatas obyek
wisata. Borobudur adalah sebuah perwujudan tentang Buddha. Borobudur
adalah sebuah mandala yang penuh dengan relief ajaran Buddha, serta penuh
dengan rupang Buddha yang keseluruhannya adalah perwujudan dari Buddha
Dharma. Seorang umat Buddha, kala berkunjung ke Borobudur hendaknya
memiliki pandangan yang benar bahwa Borobudur bukanlah tempat wisata
tetapi Borobudur adalah tempat ziarah. Ziarah memiliki makna sakral yang
dalam dibanding wisata. Selayaknya seorang Buddhis (pun non-Buddhis) tidak
merogoh patung-patung dalam stupa dan memanjat langkan candi, apalagi
duduk di stupa induk.

Hal ini harus ditanamkan dalam diri umat Buddha dan harus menjadi teladan
bagi umat non-Buddhis. Lalu bagaimana tata cara yang benar kala berkunjung
ke candi, dalam hal ini candi Borobudur?

1. Berpakaian yang rapi dan sopan. Ingat bahwa candi Borobudur bukan obyek
wisata, tapi tempat suci umat Buddha, dengan kata lain, kunjungan ke
Borobudur adalah ziarah religius.
2. Pada tiap tingkat candi, bergerak ke arah kiri searah jarum jam,
sehingga pusat candi selalu berada di sebelah kanan kita.
3. Bernamaskara ataupun berpradaksina dengan obyek stupa induk.
4. Jaga kesopanan baik dalam berperilaku, berfoto ataupun berbicara selama
berada di candi.
5. Jaga kebersihan, jangan membuang sampah sembarangan.


Sumber:
Sinar Dharma 11 - Kathina 2549BE/2005


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke