Wah wah... tergelitik sedikit membaca postingan ini:

Sepengetahuan saya seorang Arahat itu sudah tidak akan dilahirkan di alam 
manapun juga atau dengan kata lain sudah mencapai Nibbana.
Dalam beberapa buku yang pernah saya baca menyebutkan Arahat itu adalah seorang 
Pacceka Buddha (Buddha yang mencapai penerangan / 
Arahat dengan bantuan seorang Samma SamBuddha)

Ada yang bisa menambahkan selengkapnya ?

Terlahir sebagai Bodhisatva adalah bagian dari Tumimbal Lahir, bagaimana bisa 
dikatakan menjadi Bodhisatva tidak mengalami Tumimbal 
Lahir lagi ?

Hanya seorang Buddha dan Arahat yang tidak akan pernah bertumimbal lahir lagi 
setelah meninggal/mati/tewas.

Dan dari baca-2 juga, sejauh yang saya tahu, dalam masa 1 kalpa hanya ada satu 
Samma SamBuddha yang terlahir di dunia.
Sisanya adalah para Pacceka Buddha (Arahat) yang menjadi murid-2 dari Samma 
SamBuddha.

Hanya dengan melafal Namo Amithofo saja tidak akan membantu apapun kalo 
perilaku dan pikiran masih belum dapat dikendalikan.
Masih tetap doyan makan makanan yang berasal dari sesama makhluk hidup bernyawa.
Masih egois dengan kepentingan diri sendiri. Bla bla bla...

CMIIW


Best Regards,


YUNARTO GOH  |  Mr_Five   `WenZ  |  +628163116137  |  +6281310186137
K-LINK Your Global Link - We Turn From Zero To Hero
Hidup Sehat Alami Bersama K-LINK www.artikel.vithost.com/k-ayurveda
www.wenz.web.id/myblog/  |  www.virtual-dalnet.com  |  www.sic.or.id


----- Original Message ----- 
From: "Eric Ronaltan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, 10 July 2007 19:21 PM
Subject: [MABINDO] Berapa tahun lamanya waktu 1 kalpa




Berapa tahun lamanya waktu 1 kalpa



Di kutip dari  : http://en.wikipedia.org/wiki/Kalpa_(time_unit)



Dalam agama Buddha, dikenal ada empat jenis ukuran kalpa. 1 kalpa biasa sama 
dengan kira-kira 16 juta tahun dan setiap 1000 kalpa 
biasa menjadi 1 kalpa kecil atau sekitar 16 milyar tahun, seterusnya setiap 20 
kalpa kecil membentuk 1 kalpa menengah atau setara 
dengan 320 milyar tahun. Sedangkan 1 kalpa besar sama dengan 4 kalpa menengah 
atau setara dengan 1,28 trilyun tahun.



1 ) Sang Buddha tidak pernah mengatakan secara khusus berapa tahun lamanya 1 
kalpa. Buddha hanya memberikan beberapa analogi untuk 
memahami itu .

Andaikata kita membayangkan 1 kubus kosong yang sangat besar sebagai mulanya 
kalpa, kira-kira setiap sisi masing-masing panjangnya 
ada 16mil (1mil=1,609km). Sekali setiap 100 tahun kamu masukkan 1 biji sawi 
kecil ke dalam kubus tsb, menurut Sang Buddha kubus yg 
sangat besar ini bahkan sudah penuh sebelum 1 kalpa berakhir .



2 ) Andaikata kita membayangkan gunung batu yang sangat besar sebagai mulanya 
kalpa , kira-kira ada 16 x 16 x 16 mil. kamu mengambil 
1 potongan kerikil kecil di sisi gunung tersebut sekali setiap 100 tahun, 
menurut Sang Buddha gunung itu bahkan sudah datar sebelum 
1 kalpa berakhir .



Beberapa Bhikksu para murid Sang Buddha ingin mengetahui berapa banyaknya kalpa 
yang sudah kita lewati sejauh ini. Buddha memberikan 
analogi sbb: jika kamu menghitung jumlahnya butir pasir pada pedalaman sungai 
Gangga, dari hulu hingga ke hilir sampai ketemu laut, 
bahkan jumlah itu juga lebih kecil dari jumlah kalpa yang sudah kita lewati.





Pesan  kami  :

Amitabha Buddha sudah menjadi Buddha kira-kira 10 kalpa yang lalu, sedangkan 
kita masih berputar-putar di Tumimbal Lahir ini dalam 
jumlah kalpa yang tak terhitung seperti jumlah pasir Gangga tadi, mulai dari 
alam Binatang sampai alam Brahma mungkin semua sudah 
pernah kita rasakan. Dalam jumlah waktu yang tak terhitung ini juga kita bahkan 
belum keluar dari lingkaran ini minimal sampai ke 
tingkat Arahat. Sedangkan dari tingkat Arahat sampai tingkat Buddha masih butuh 
waktu 3 Asam kheya Kalpa. (1 Asam Kheya kalpa setara 
dengan 100.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 tahun 
atau 47x nol)

Jadi kapan kita bisa jadi Buddha? Padahal Sang Buddha mengatakan tiap mahkluk 
hidup punya benih keBuddhaan.



Saat ini tiada cara lain selain kita sama2 melafal "Namo Amitabha Buddha (atau 
Namo Amitofo)" agar di akhir kehidupan ini bisa 
dijemput Amitabha Buddha menuju Tanah Barat Surga Sukhavati dan terlahir dari 
teratai yang sudah kita pupuk. Karena di sana kita 
langsung sebagai Bodhisatva dan tidak ada lagi Tumimbal Lahir sampai kita 
mencapai Kebodhian tertinggi Anuttara Samyak Sambuddha 
atau jadi Buddha. Di Sukhavati ada 9 tingkat, andaikata kita terlahir di 
tingkat yang paling rendah sekalipun kita hanya butuh waktu 
12 kalpa untuk mencapai Buddha atau sama dengan waktu yang dibutuhkan oleh 
Bodhisattva tingkat ke-8). Sebagai gambaran Bodhisattva 
Avalokitesvara  & Tsitigarbha  ada di tingkat ke-10 atau sudah siap jadi 
Buddha. Namun karena welas kasihNya Mereka tetap masih akan 
menolong kita2 yang karena kebodohannya (susah dibujuk) dan masih tetap mau 
berputar2 di lingkaran Tumimbal Lahir ini.



Dengan melafal Namo Amitbha Buddha walaupun mungkin di akhir kehidupan ini 
belum bisa ke Sukhavati dan harus Tumimbal Lahir lagi, 
Amitabha Buddha berikrar sewaktu nanti kita pasti akan dijemput menuju 
Sukhavati setelah jasa pahala kita sudah cukup terkumpul. 
Ingat hanya dengan 1 kali pernah melihat patung, lukisan atau nama besar 
Beliau, kita sudah mengikat jodoh dengan Amitabha Buddha 
(ikrar lainnya).



Catatan : pesan kami tadi dikutip dari intisari ceramah Suhu Wu Wen - Yayasan 
Amitabha Buddha Jakarta



Kalo ada kritik, pertanyaan maupun pesan buat kami mohon alamatkan langsung di 
email kami : [EMAIL PROTECTED],  pertanyaan yang 
tidak bisa kami tanggapi akan kami teruskan ke Suhu Wu Wen.



Terima kasih.



Namo Amitofo,





Eric Ronaltan


Kirim email ke