----- Original Message ----- 
From: "Adrian Dharma Wijaya (Adri)" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, 09 December, 2007 13:35



Ada seseorang yang terlahir dan hidup di lingkungan sampah. Sejak kecil 
telah diajarkan tentang kebaikan dan manfaat sampah serta hal ihwal mengenai 
sampah. Meskipun kenyang tentang teori persampahan bahkan sampai menjadi 
guru tentang persampahan, tetapi dianya tidak mau atau tidak 
sempat/menyempatkan terjun langsung ke lapangan merasakan bagaimana posisi 
sampah sebenarnya di masyarakat. Yang dia mau tahu dan rasakan adalah 
tentang hal-ikhwal sampah yang ada di lingkungannya sejak dia kecil, dan 
pasrah bongkokan 100% persen bahwa apa-apa tentang sampah dan dirinya telah 
menjadi garis hidupnya dan harus diterima dan dijalani, tanpa harus tengok 
kiri kanan.

Suatu saat masuklah internet ke wilayah persampahannya. Kemudian masuklah si 
Dia ke komunitas internet yang beragam dan sangat bebas berkomentar. 
Bertemulah si Dia dengan berbagai corak dan warna manusia yang datang dari 
berbagai macam latar belakang.

Dari berbagai diskusi yang terjadi banyak hal yang membuatnya terheran heran 
dan seakan tidak percaya dengan berbagai info yang diterimanya. Menurutnya 
bagaimana mungkin sampah bisa menjadi sumber Masalah, bahkan bisa 
menyebabkan banjir bandang...... Ketika sempat berdialog dengan orang yang 
mengalami bagaimana sampah menjadi sumber Problem di masyarakat.

Dia sangat heran, sehingga dia berpraduga orang ini terkena penyakit benci 
yang luar biasa terhadap sampah. Bahkan ketika disodorkan satu bukti nyata 
di lapangan bagaimana sampah bisa membuat banjir di Jakarta, si Dia ini malah 
mengira ini cerita bohong yang dibuat-buat.

Menurut pikiran si Dia bagaimana mungkin warga Jakarta idiot semua bahken 
hanya masalah sampah saja tidak becus mengurusnya. "Ini tidak mungkin, tidak 
mungkin," hatinya berontak menolak.

Bahkan ada juga disodorkan bukti tempat sampah yang bikin heboh karena 
ditempatkan tidak pada posisi yang tepat, lebih bingung lagi si Dia ini.

Bukan cuma sebatas itu dialognya, bahken si Dia ditawari untok pindah tempat 
saja ke Komplek perumahan yang banyak taman bunga yang harum baunya dan 
menyelamatkannya dari berbagai macam penyakit yang bisa ditimbulkan dari 
persampahan.

Dia lebih kaget dan terheran-heran, karena sepanjang hidupnya yang dia 
pelajari, tidak ada tempat seindah dan seharum komplek tempat sampahnya, 
bagaimana mungkin dia pindah ke tempat lain yang katanya lebih sehat 
...????.

Untuk melindungi dan melestarikan komplek sampahnya beserta keyakinannya 
atas sampahnya maka diputuskan untuk menutup diri dari kemungkinan pemahaman 
lain atas sampah. Kalau toch sekali waktu kebetulan lewat taman bunga ... 
maka tutup hidungnya sambil berkata dalam hati bahwa bunga pasti busuk 
baunya, sebagaimana doktrin para Petinggi sampah.

Maka demikianlah, sepanjang hidunya tidak akan tahu dengan kesadarannya 
bahwa ada tempat lain yang begitu indah dan harum baunya. Serta tiak pernah 
tahu bahwa sampah ternyata berpotensi sebagai sumber berbagai penyakit 
mematikan.

Kecuali si Dia ini mau membuka diri dan kemudian dengan kejujuran pada diri 
sendiri tanpa rasa taqut, mencoba menyinggahi taman bunga dan menghirup 
baunya yang apa adanya, serta jauh dari prasangaka, maka akan terbukalah 
dunia dan dapat mengerti serta menempatkan sampah dalam pikirannya 
sebagaimana kenyataannya.

Sekian... sampai jumpa di cerita berikutnya.......................

dokter cinta.



Kirim email ke