1088
Cara alami adalah mengurangi yang berlebih dan menambahkannya pada yang
kekurangan untuk memastikan adanya keseimbangan, masyarakat harus mematuhi
cara alami agar dapat menjamin keharmonisan sosial
Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
(Tipitaka) Derajat
Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
Kisah Soreyya
Suatu hari Soreyya beserta seorang teman dan beberapa pembantu pergi dengan
sebuah kereta yang mewah untuk membersihkan diri (mandi). Pada saat itu,
Mahakaccayana Thera sedang mengatur jubahnya di pinggir luar kota, karena ia
akan memasuki kota Soreyya untuk berpindapatta. Pemuda Soreyya melihat sinar
keemasan dari Mahakaccayana Thera, berpikir: "Bagaimana apabila Mahakaccayana
Thera menjadi istriku, atau bagaimana apabila warna kulit istriku seperti itu."
Karena muncul keinginan seperti itu, kelaminnya berubah menjadi seorang wanita.
Dengan sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari, pada jalan menuju ke
arah Taxila. Pembantunya kehilangan dia, mencarinya, tetapi tidak dapat
menemukannya.
Soreyya, sekarang seorang wanita, memberikan cincinnya sebagai ongkos kepada
beberapa orang yang bepergian ke Taxila, dengan harapan agar ia diizinkan ikut
dalam kereta mereka. Setelah tiba di Taxila, teman-teman Soreyya berkata
kepada seorang pemuda kaya di Taxila, tentang perempuan yang datang bersama
mereka. Pemuda kaya itu melihat Soreyya yang begitu cantik dan seumur
dengannya, menikahi Soreyya.
Perkawinan itu membuahkan dua anak laki-laki, dan ada juga dua anak
laki-laki dari perkawinan Soreyya pada waktu masih sebagai pria.
Suatu hari, seorang anak orang kaya dari kota Soreyya datang di Taxila dengan
limaratus kereta. Perempuan Soreyya mengenalinya sebagai seseorang yang telah
diutus oleh teman lamanya. Laki-laki dari kota Soreyya itu merasa senang bahwa
ia diundang oleh seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Ia berbicara dengan
Soreyya bahwa ia tidak mengenalnya, dan bertanya kepada Soreyya apakah Soreyya
mengetahui dirinya. Soreyya menjawab bahwa ia tahu tentang dirinya dan
menanyakan kesehatan keluarganya dan beberapa orang-orang di kota Soreyya.
Laki-laki dari kota Soreyya berbicara tentang anak orang kaya yang hilang
secara misterius ketika pergi ke luar kota untuk mandi. Soreyya mengungkapkan
identitas dirinya dan menghubungkan semua apa yang telah terjadi, tentang
pikiran salahnya kepada Mahakaccaya Thera, tentang perubahan kelamin, dan
perkawinannya dengan orang kaya di Taxila.
Laki-laki dari kota Soreyya menasehatinya untuk meminta maaf kepada
Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera diundang ke rumah perempuan Soreyya
dan menerima dana makanan darinya. Sesudah bersantap perempuan Soreyya dibawa
menghadap Mahakaccayana Thera, dan laki-laki dari kota Soreyya berbicara
kepada Mahakaccayana Thera bahwa perempuan ini pada waktu dulu adalah seorang
anak laki-laki orang kaya di kota Soreyya. Ia kemudian menjelaskan kepada
Mahakaccayana Thera bagaimana Soreyya menjadi perempuan karena berpikiran
jelek pada saat menghormati Mahakaccayana Thera. Perempuan Soreyya dengan
hormat meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera berkata,
"Bangunlah, saya memaafkanmu." Segera setelah kata-kata itu diucapkan,
perempuan tersebut berubah kelamin menjadi seorang laki-laki. Soreyya kemudian
merenungkan bagaimana dengan satu keberadaan diri dan dengan satu keberadaan
tubuh jasmani ia berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah
dilahirkannya. Merasa sangat cemas dan jijik terhadap segala hal itu, ia
memutuskan untuk meninggalkan hidup berumah tangga, dan memasuki Pasamuan
Sangha dibawah bimbingan Mahakaccayana Thera.
Sesudah itu ia sering ditanyai, "Siapa yang kamu cintai, dua anak laki-laki
pada saat ia sebagai seorang laki-laki, atau dua anak lain pada saat ia
menjadi seorang istri?" Terhadap hal itu ia menjawab bahwa cinta kepada mereka
yang dilahirkan dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan ini seringkali
seringkali muncul, ia merasa sangat terganggu dan malu. Kemudian ia menyendiri
dan dengan rajin, merenungkan penghancuran dan proses tubuh jasmani.
Tidak terlalu lama kemudian, ia mencapai kesucian arahat, bersamaan dengan
pandangan terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kepadanya, ia
menjawab bahwa ia telah tidak mempunyai lagi kesayangan pada sesuatu yang
khusus. Bhikkhu-bhikkhu yang lain mendengarnya berpikir bahwa ia pasti berkata
tidak benar.
Pada saat dilapori dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha berkata,
"Anakku berkata benar, ia telah berbicara benar. Jawabannya sekarang lain
karena ia sekarang telah mencapai tingkat kesucian arahat, sehingga ia tidak
lagi menyayangi sesuatu yang khusus. Dengan pikiran terarah benar, anak-Ku
telah membuat dirinya berada pada suatu kehidupan baik, yang diberikan oleh
ayah maupun ibu."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 43 berikut:
Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga;
namun pikiran yang diarahkan dengan baik,
yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.
Banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu
berakhir.