TELAH TERBIT !
  The Truth of Nature
  Tanya Jawab dengan Bhikkhu Buddhadasa tentang Ajaran Buddha 
  Judul Asal : The Truth of Nature, The Master Buddhadasa Explains the Buddha’s 
Teachings 
  Pustaka Karaniya, Copyright © 2006 by Amarin Printing and Publishing Public 
Co., Ltd.
   
   
  Pesan dari UNESCO 
   
  “Yang Mulia Bhikkhu Buddhadasa adalah pionir dalam upaya mempromosikan 
kedamaian dan kerukunan beragama melalui dialog antar agama. Beliau dikenang di 
seluruh dunia dan masuk di dalam daftar Unesco sebagai tokoh dengan kepribadian 
sangat mengagumkan. 
   
  “Penekanannya terhadap kesalingtergantungan antara semua makhluk membuatnya 
menjadi pionir dalam hal pemikiran ekologis dan pemenang dalam perdamaian antar 
negara.”
   
  - Pernyataan resmi UNESCO dalam peringatan 
  100 tahun kelahiran Yang Mulia Bhikkhu Buddhadasa 
   
  “Bagaimana berlatih tidak melekat?” 
   
  Ketika menjelaskan esensi ajaran Buddha, kita tidak perlu menjawab dengan 
pemahaman kita sendiri. Penjelasan Buddha tentang bagaimana melatih diri 
mengikis kemelekatan sudah cukup singkat dan lengkap. Melihat hanya melihat. 
Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya mencium bau. Mengecap hanya 
mengecap. Sentuhan hanyalah sentuhan. Ketika bentuk-bentuk pikiran muncul, hal 
yang negatif misalnya, kenali dan sadari bahwa bentuk pikiran itu negatif.
  Mari kita ulangi sekali lagi, khususnya bagi Anda yang belum pernah mendengar 
hal ini. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya 
mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Sentuhan hanyalah sentuhan. Sadari 
bentuk-bentuk pikiran yang muncul. Artinya, semua aktivitas tersebut dilakukan 
tanpa ada sebuah “aku”. Buddha mengatakan jika seseorang mampu mencapai tahap 
ini, konsep “aku” yang ada di dalam dirinya akan hilang. Ketiadaan konsep “aku” 
inilah yang dimaksud dengan lenyap dan terhentinya “dukkha”.
  Instruksi “Ketika Melihat suatu obyek dengan mata, maka hanya lihatlah.” 
Kalimat ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ketika mata melakukan kontak 
dengan sebuah obyek, amati dan kenali obyek tersebut. Tetapi jangan biarkan 
perasaan suka atau tidak suka muncul. Jika Anda membiarkan perasaan suka terus 
hadir, keinginan untuk memiliki akan muncul. Sebaliknya, jika Anda membiarkan 
perasaan tidak suka hadir, Anda malah ingin menghancurkan obyek tersebut. 
Demikianlah perasaan suka dan tidak suka muncul. Inilah yang disebut dengan 
“aku”. Hanyut terbawa oleh “aku” menghasilkan penderitaan dan membuat diri 
tertipu. Ketika melihat, bawa serta kebijaksanaan dan kesadaran. Jangan biarkan 
kekotoran batin1 memaksa Anda untuk melekat. Tumbuhkan kebijaksanaan untuk 
memahami bagaimana bertindak dengan benar dan tepat. Jika tidak ada yang perlu 
dilakukan, abaikan obyek itu. Jika ada sesuatu yang diinginkan dari obyek 
tersebut, lanjutkan saja, tetapi dilakukan dengan kesadaran dan
 kebijaksanaan, tanpa gagasan tentang “aku”. Dengan cara ini, Anda bisa 
mendapatkan apa yang Anda harapkan, tanpa ada ketidakpuasan. Inilah sebuah 
latihan sederhana tetapi yang paling membawa kesempurnaan. 
  Buddha mengajarkan: Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium 
bau hanya mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Merasakan sentuhan hanya 
merasakan sentuhan. Melihat bentuk-bentuk pikiran hanya melihat bentuk-bentuk 
pikiran. Berhenti sampai di situ saja dan insight (pemahaman) yang akan bekerja 
secara otomatis. Pilih arah yang benar dan tepat. Jangan biarkan “si suka” dan 
“si benci” membuat kita bertindak berdasarkan pilihan suka atau tidak suka, 
yang merupakan wujud hadirnya “aku”. Pikiran tersebut adalah pikiran yang 
bergejolak, tidak bebas dan tanpa insight (pemahaman) sama sekali. Inilah yang 
diajarkan oleh Buddha kepada kita. 
  Mengapa kita tidak menyebut latihan menjaga sila dan perilaku, konsentrasi, 
kebijaksanaan, berbuat kebajikan2, dan berdana makanan kepada bhikkhu sebagai 
latihan yang paling bermanfaat? Karena mereka adalah kondisi pendukung, tetapi 
bukan intisari Dharma, bukan yang penting. Kita melakukan kebajikan, berdana, 
menjaga sila, mengembangkan konsentrasi dan mencapai kebijaksanaan untuk 
membuat kita menjadi kokoh dan mantap dalam berlatih. Melihat hanya melihat. 
Mendengar hanya mendengar. Dengan latihan ini, pikiran menjadi kokoh, mantap, 
dan seimbang. Walaupun segala macam obyek membombardir diri kita dengan beragam 
cara lewat indera kita, sang “aku” tidak akan muncul. Berdana dan melakukan 
kebajikan bertujuan untuk melenyapkan ego. Menjalankan sila adalah sebuah 
proses untuk mendapatkan kemampuan untuk mengatasi keakuan dan juga latihan 
konsentrasi. Kebijaksanaan ditujukan untuk menghancurkan “sang aku”. Kita tidak 
membahas sesuatu yang berbeda melainkan sesuatu yang terjadi
 setiap hari. Mata melihat, telinga mendengar, hidung mencium dan begitu 
seterusnya yang terjadi kepada keenam pintu indera yang lain. Kita harus 
waspada, terus awasi keenam pintu tersebut. Latihan ini sudah mencakup seluruh 
latihan yang ada. Ini adalah latihan yang paling pokok. 
   
  Disadur dari buku The Truth of Nature karya Bhikkhu Buddhadasa
   
  Online order : www.karaniya.com
  Yayasan Penerbit Karaniya
  Telp / HP : 021-5687929 atau 081-315-315-699

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke