1098
 Maklumi kekurangan orang lain dan ciptakan kesempatan  untuk orang agar 
menyadari kemampuannya. Mereka yang hanya melihat  kesalahan adalah bodoh
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
  
  
  
  
   
  (Tipitaka 47) Bunga desa
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
  
  
  Kisah Vitatubha
  
  Raja Pasenadi dari Kosala, yang berharap dapat menikah dengan seorang  putri 
dari suku Sakya, mengirimkan beberapa utusan ke Kapilavatthu  dengan suatu 
permohonan meminang salah seorang putri suku Sakya.
  
  Tanpa bermaksud untuk menyakiti Raja Pasenadi, pangeran suku Sakya  membalas 
bahwa mereka akan memenuhi permintaan tersebut, tetapi mereka  tidak 
mengirimkan seorang putri, melainkan seorang gadis cantik yang  lahir dari Raja 
Mahanama dengan seorang budak wanita. Raja Pasenadi  mengangkat gadis tersebut 
sebagai permaisuri, kemudian berputera dan  diberi nama Vitatubha.
  
 Ketika sang pengeran berusia 16 tahun,  Raja Pasenadi mengirimnya untuk 
mengunjungi Raja Mahanama dan  pangeran-pangera suku Sakya. Di sana sang 
pangeran diterima dengan  ramah.
  
 Tetapi semua pangeran suku Sakya yang lebih muda dari  Vitatubha telah pergi 
ke suatu desa, karena mereka tidak akan  memberikan penghormatan kepada 
Vitatubha.
  
 Setelah tinggal  selama beberapa hari di Kapilavatthu, Vitatubha dan 
rombongannya  berniat untuk pulang. Segera setelah sang pangeran dan 
rombongannya  pergi, seorang budak wanita mencuci tempat-tempat dimana 
Vitatubha  duduk dengan susu. Dia juga mengutuk sambil berteriak: "Ini adalah  
tempat dimana putra seorang budak telah duduk,.....".
  
 Waktu  itu, salah seorang pengikut Vitatubha kembali untuk mengambil barang  
yang tertinggal, dan kebetulan mendengar apa yang diucapkan oleh gadis  itu. 
Budak wanita itu juga mengatakan bahwa ibu Vitatubha,  Vasabhakhattiya, adalah 
putri dari seorang budak wanita milik Mahanama.
  
  Ketika Vitatubha diberi tahu tentang kejadian tersebut, dia menjadi  sangat 
marah dan mengatakan bahwa suatu hari dia akan menghancurkan  semua suku Sakya. 
Untuk membuktikan ucapannya, ketika Vitatubha menjadi  raja, dia menyerbu dan 
membunuh semua suku Sakya, terkecuali beberapa  orang yang bersama Mahanama.
  
 Dalam perjalanan pulang,  Vitatubha dan pasukannya berkemah di muara Sungai 
Aciravati. Akibat  hujan turun dengan lebatnya di kota bagian atas pada malam 
yang gelap  itu, sungai meluap dan mengalir ke bawah dengan derasnya 
menghanyutkan  Vitatubha dan pasukannya ke samudera.
  
 Mendengar dua kejadian  tragis ini, Sang Buddha menerangkan kepada para 
bhikkhu bahwa  saudara-saudaranya, pangeran-pangeran suku Sakya, pada kehidupan 
mereka  sebelumnya, mereka menaruh racun ke dalam sungai untuk membunuh  
ikan-ikan. Kematian para pangeran suku Sakya dalam suatu pembantaian  merupakan 
buah dari perbuatan yang telah mereka lakukan pada kehidupan  sebelumnya.
  
 Berkaitan dengan kejadian yang menimpa Vitatubha  dan pasukannya, Sang Buddha 
mengatakan: "Bagaikan banjir besar  menghanyutkan penduduk desa pada sebuah 
desa yang tertidur, demikian  juga, kematian menghanyutkan semua makhluk yang 
memiliki nafsu  keinginan kesenangan indria."
  
  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 47 berikut:
  
   
  
  Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
  yang pikirannya kacau,
  akan diseret oleh kematian.
  Bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.
  

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke