1129
  Dalam mengarungi dunia, seseorang merasa dihargai jika ia mundur  selangkah 
untuk memberi jalan kepada orang lain, jadi, melangkah mundur  merupakan awal 
untuk melangkah maju. Dalam melayani orang lain perlu  memperlihatkan sedikit 
kemurahan hati. Menguntungkan orang lain  benar-benar merupakan dasar untuk 
mendatangkan keuntungan bagi diri  sendiri
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
  web : www.accuratehealth.blogspot.com
  
  
  
  
  (Tipitaka 60) Siklus
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
  
   
  
  Kisah Seorang Pemuda
  
  Suatu hari Raja Pasenadi dari Kosala sedang berjalan-jalan di kota.  Secara 
tidak sengaja beliau melihat seorang wanita muda berdiri dekat  jendela 
rumahnya dan beliau langsung jatuh cinta. Raja mencoba untuk  menemukan 
berbagai cara dan kesempatan untuk mendapatkannya. Setelah  mengetahui bahwa 
wanita muda itu telah menikah, Raja memanggil suami  wanita muda tersebut dan 
dijadikan pelayan di istana.
  
  Suatu ketika raja memerintahkan suami wanita muda itu untuk melakukan  suatu 
pekerjaan yang sangat sulit. Pemuda itu diperintahkan untuk pergi  ke suatu 
tempat, yaitu satu yojana (dua belas mil) jauhnya dari  Savatthi, serta membawa 
pulang beberapa bunga teratai Kumuda dan  sedikit tanah merah yang dikenal 
dengan nama Arunavati, tanahnya Naga,  dan kembali ke Savatthi pada sore yang 
sama, pada waktu raja mandi.
  
  Tujuan raja adalah untuk membunuh suami wanita muda tersebut, jika ia  gagal 
kembali pada waktu yang telah ditentukan, dan mengambil wanita  muda itu 
sebagai istrinya.
  
  Pemuda itu mengambil ransum makanan dari istrinya dengan tergesa-gesa,  dan 
segera berangkat untuk melaksanakan perintah raja. Di perjalanan,  pemuda itu 
membagi bekal makanannya kepada seorang pengembara. Dia juga  melemparkan 
sedikit nasi ke dalam air dan berteriak: "O,  makhluk-makhluk penjaga dan 
naga-naga penghuni sungai ini! Raja  Pasenadi telah menyuruhku untuk mengambil 
beberapa bunga teratai Kumuda  dan tanah merah Arunavati untuk beliau. Hari ini 
aku telah membagi  makananku dengan seorang pengembara; aku juga memberi 
makanan buat  ikan-ikan di sungai; sekarang aku juga membagi manfaat perbuatan 
baikku  yang telah aku lakukan hari ini denganmu. Berilah aku bunga teratai  
Kumuda dan tanah merah Arunavati." Raja naga mendengarnya. Dengan  menyamar 
sebagai orang tua memberikan bunga teratai dan tanah merah  yang diharapkan.
  
  Sore hari Raja Pasenadi yang cemas, seandainya pemuda tersebut datang  
kembali tepat pada waktunya, telah memerintahkan untuk menutup gerbang  kota 
lebih awal. Setelah mengetahui bahwa pintu gerbang kota telah  ditutup, maka 
pemuda tadi meletakkan tanah merah pada dinding kota dan  menempelinya dengan 
bunga teratai.
  
  Kemudian dia menyatakan dengan keras: "O, para warga kota! Jadilah  saksiku! 
Hari ini aku telah memenuhi tugasku tepat pada waktunya  seperti yang telah 
diperintahkan oleh Raja. Raja Pasenadi, tanpa ada  keadilan, merencanakan untuk 
membunuhku."
  
  Setelah itu pemuda tadi munuju Vihara Jetavana untuk mencari  perlindungan 
dan menghibur dirinya di tempat yang penuh kedamaian  tersebut.
  
  Di lain pihak Raja Pasenadi yang digoda oleh nafsu seksualnya, tidak  dapat 
tidur, dan terus memikirkan bagaimana menyingkirkan suami wanita  muda itu dan 
memperistrinya. Tengah malam beliau mendengar suara-suara  aneh; yang 
sesungguhnya merupakan suara-suara yang menyayat hati dari  empat makhluk 
menderita di alam Lohakumbhi Niraya. Sang Raja sangat  ketakutan mendengar 
suara-suara yang mengerikan tersebut. Keesokan  paginya Raja Pasenadi 
mengunjungi Sang Buddha, seperti yang disarankan  oleh Ratu Mallika.
  
  Kemudian Sang Buddha menjelaskan tentang empat suara yang didengar raja  pada 
malam hari, beliau mengatakan bahwa suara-suara itu merupakan  suara-suara 
empat makhluk, yang merupakan putra dari seorang hartawan  yang hidup pada masa 
Buddha Kassapa, dan sekarang mereka menderita di  Lohakumbhi Niraya, sebab 
mereka telah melakukan perzinaan dengan  istri-istri orang lain.
  
  Raja akhirnya menyadari perbuatan buruk dan akibat yang diperoleh. Raja  
berjanji tidak akan menginginkan istri orang lain lagi. "Kejadian itu  sama 
dengan nafsu keinginanku untuk memiliki istri orang lain yang  membuatku 
tersiksa dan tidak dapat tidur," pikir beliau.
  
  Kemudian Raja Pasenadi mengatakan kepada Sang Buddha, "Bhante, sekarang  saya 
menyadari bagaimana lamanya malam untuk seseorang yang tidak dapat  tidur." 
Pemuda tadi juga mengatakan, "Bhante, saya telah melakukan  perjalanan penuh 
satu yojana kemarin, saya juga mengetahui bagaimana  panjangnya satu yojana 
bagi seseorang yang lelah."
  
  Sang Buddha kemudian membabarkan syair 60 dengan menggabungkan kedua 
pernyataan di atas seperti berikut ini:
  
  Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
  satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
  sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
  yang tidak mengenal Ajaran Benar.
  
  Pemuda tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah kotbah Dhamma itu 
berakhir.
  
  
  
  
  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke