From: Irwan Sutjipto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wed, 12 Mar 2008 11:27:11 -0700 (PDT)
Subject: Pribadi sekali sifatnya
Ketika kita menilai sesuatu itu dengan ukuran kita sendiri, dan katakanlah
menurut kesimpulan kita, sesuatu itu jelek atau mengarah pada suatu
kejelekan, sering sekali kita mesti ekstra berhati-hati dalam
mengungkapkannya, entah itu karena bisa jadi apa yang kita nilai itu tidak
lah merupakan suatu kesimpulan yang benar atas apa yang kita nilai itu, atau
karena ukuran kita sendiri itu yang memang berdasarkan suatu standard yang
sesungguhnya tidak pas. Mungkin inilah yang menjadi dasar suatu ujaran yang
mengatakan,"Don't judge a book from its cover", atau janganlah menilai
sebuah buku dari sampulnya.

Bukannya tidak mungkin penilaian kita atas sesuatu itu benar, bisa jadi
benar bahkan, bisa jadi 100%, 1000% benar, namun, masalahnya, jika kita
tidak bisa memelihara netralitas kita, menemukan waktu dan cara yang tepat
dalam menyampaikan hasil penilaian itu, bukannya suatu kebaikan dan
perbaikan yang ada, malah akan terjadi suatu pukulan balik yang tidak perlu
alias kerepotan akan malah berbalik pada diri anda-kita, untuk menetralisir
pandangan negatif orang lain atas penilaian kita, yang sangat bisa jadi
dengan gampangnya bisa diarahkan pada sentimen pribadi atau pandang
subjektif. Akibatnya lalu, bisa saja kita marah, benci, dst dst, dan lalu
malah bisa jadi timbul pikiran-pikiran negatif yang sebetulnya merusak diri
anda sendiri, meracuni pola pemikiran anda dan lalu menjadikan anda itu
pribadi yang kurang sehat, sakti dan sangat mungkin anda bisa jadi mengalami
banyak sekali masalah sebagai runutan dari urusan penilaian itu.

Bagi para penekun spiritual, urusan nilai-menilai ini, kadang bisa menjadi
urusan yang sangat sensitif dan berbahaya, mengapa, ya, urusan yang dibahas
di dunia spiritual itu sering sekali tidak kasat mata dan tidak berbukti
yang otentik, objetif dan bisa memenuhi kaidah-kaidan keilmuan atau science,
dan lalu dengan mudahnya akan bisa diputar menjadi suatu perusakan nama
baik, fitnah, dll dll dan membuat yang memberikan penilaian itu malah
menjadi tertuduh atau pesakitan, dan kemudian timbullah amarah, benci dll,
yang malah akan merusak keharmonisan batin si penekun spiritual ini, dan
tentunya bisa saja malah menurunkan derajat spiritualnya.

Salah seorang guru  atau master terkenal, pernah mengajurkan agar kita tidak
gandrung atau senang untuk meracuni pikiran, batin kita dengan
pemikiran-pemikiran akan orang lain, ya, kalaupun kita memberikan penilaian,
sebaiknya disimpan saja di tempat yang tidak dijangkau orang dengan rapi dan
akan lebih baik kalau tidak kita lakukan upaya penialan-peniaian itu, namun
semata-mata memusatkan perhatian kita pada pelatihan diri kita dan penjagaan
perilaku kita sendiri, menjaga pintu-pintu batin kita dan mencegah agar
sampah-sampah spiritual tidak sampai masuk dan mengotori batin kita melalui
pintu-pintu itu tadi, dan tentunya tidak terlalu mengikuti arus emosi,
perasaan dan pemikiran-pemikiran negatif kita sebagai bagian dari urutan
proses penilaian itu tadi.

Secara sederhana, mungkin bisa dikatakan bahwa kita mesti bisa mengijinkan
orang lain itu untuk belajar dari kesalahannya sendiri, belajar dari
pengalamannya sendiri agar lalu dia bisa memahami, bukan sekedar mengerti.
Mungkin ini yang namanya Ehi passiko yang diujarkan oleh Sang Buddha Gautama
kepada para siswanya, datang dan alamilah, ya datang lah dalam hidup ini dan
alamilah, petiklah makna kehidupan yang kamu jalani dan pahamilah dengan
baik agar bisa melihat esensi sesungguhnya dari kehidupan ini.. dengan
pengalaman nyata, yang tentu adalah pribadi sekali sifatnya....

13 03 08

NB: tulisan ini terinspirasi dari posting salah seorang member milis yang
menuliskan uneg-unegnya atas perilaku beberapa orang selebrities. Semoga
bermanfaat dan lalu kita bisa sibuk dengan kehidupan kita
sendiri/masing-masing ... :)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke