From: "z" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Mahasathi" <[EMAIL PROTECTED]>, "milis semedi" <
[EMAIL PROTECTED]>, "milis meditasizen" <[EMAIL PROTECTED]>,
"milis mabindo" <[email protected]>
Date: Thu, 1 Jan 1998 00:21:25 +0700
Subject: Satipatthana Course, 29 February - 8 Maret 2008
Satipatthana Course, 29 February – 8 Maret 2008.

Kursus yang rencananya diadakan setahun sekali ini merupakan kursus
Satipatthana yang ke-4 yang diselenggarakan di Dhamma Java - Gn.Geulis Ciawi
Bogor. Kursus kali ini diikuti 6 pria dan 8 wanita, termasuk di dalamnya
seorang bhikkhu dari STI, seorang kakek yang baru berulang tahun yg ke-70,
seorang wanita lajang berkewarganegaraan Prancis yang kerap tinggal di Bali,
seorang ibu berputra satu yang mengaku beragama katolik.

Kursus berjalan baik dan lancar, hampir tanpa gangguan yang berarti, baik
gangguan dari lingkungan luar maupun gangguan dari sesama peserta. Hal ini
mungkin disebabkan karena persyaratan yang 'cukup berat', diantaranya :
-       Sudah mengikuti setidaknya 3 x meditasi yang @ 10 hari.
-       Berpraktek meditasi pagi sore masing-masing 1 jam setiap hari selama
1
tahun.
-       Tidak minum beralkohol dan tidak melakukan perbuatan sexual yang
salah
setidaknya sejak kursus yang terakhir.

Dengan demikian, peserta telah terseleksi secara alami bahwa  hanya yang
benar-benar serius mau belajar saja yang terdaftar.

Sedikit keluhan datang dari wanita Prancis saat bincang-bincang di hari
terakhir setelah noble silence berakhir. Wanita ini bercerita bahwa dia
sudah bermeditasi di hampir semua tempat diseluruh penjuru dunia dalam
tradisi U Ba Khin/Goenka, tapi hanya center di Indonesia sini saja yang
tidak punya 'sel', sehingga hampir seharian harus bermeditasi di Dhamma
Hall. Dinamakan sel, karena memang seperti sel penjara. Masing-masing
peserta mendiami satu sel. (Hanya 3x sehari @ 1 jam yang diwajibkan
bermeditasi bersama di hall). Walaupun selnya berjeruji, tapi pasti tanpa
gembok dan rantai yang menyeramkan neh hehehe… Maksudnya si tante bule ini,
kalau di center yang mempunyai sel seperti di Thailand, India, Prancis,
Australia dll, peserta bisa bermeditasi sambil sandaran di sel sendiri, jadi
gak pegal-linu. (Belon tau kali dia, orang Indonesia tuh sarapannya aja jamu
pegal linu. Tulangnya udah dilabelin anti pegal, seperti terbuat dari
stainless, 'metal look' kayak punyanya om gatotkoco hehehe…).

Lain lagi dengan Ibu yang katholik itu. Meskipun keluarganya belum
mendukung, tapi dia datang diantar oleh suami dan anaknya yang berumur 6
tahunan. Ibu ini tidak punya background siapa-siapa yang berhubungan dengan
buddhisme, tapi secara alami sejak kecil hobi berlama-lama memperhatikan
napas di sekitar lobang hidung. Akhirnya dia menemukan website:
www.dhamma.org dan nelfon ke bag. pendaftaran. Tapi katanya dia 'diuji'
karena penerima pendaftaran tidak begitu welcome, maksudnya karena dia tidak
tahu apa-apa tentang meditasi, maka dia bertanya ini dan itu, tapi menurut
penilaiannya, jawabannya 'kurang sweet' hehehe. Maka dia tidak jadi ikut,
print-out disimpan, dan baru setahun kemudian dia baru ikut. Ketika sudah
memenuhi syarat untuk ikut Satipatthana tahun lalu, dia pending lagi karena
katanya 'diuji kembali', tapi akhirnya kali ini dia berhasil. Selamat yah
kak sudah lulus ujian, boleh naik kelas dua hehehe…


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke