Dalai Lama Hipokrat?? (Menengahi pertikaian di Tibet)
Haruskah Dalai Lama menampilkan wajahnya sesungguhnya? Pertama yang harus kita sadari bahwa gambaran orang2 Tibet sebagai orang2 yang ramah dan lembut seperti halnya yang ditampilkan oleh Dalai Lama XIV adalah 'image' yang berhasil ditanamkan oleh Buddhisme yang telah memasuki Tibet sejak abad 8 masehi di masa Raja Trisong Detsen berkuasa. Wajah Tibet sesungguhnya tidaklah demikian. [!] Kalau anda pernah membaca riwayat Milarepa, Yogi agung yang mencapai keBuddhaan dalam satu masa kehidupannya, maka kehidupan Milarepa sebelum mempraktikkan ajaran Buddha, seperti itulah wajah Tibet sesungguhnya. Kekerasan dan keserakahan, tak terkecuali orang2 Tibet, telah memilikinya. Bahkan lebih dari itu orang Tibet dibalik keluguannya adalah pendendam. [!] Tak terkecuali dengan sanak keluarga sendiri seperti konflik antara Milarepa muda dengan pamannya. Milarepa pendendam, mudah dihasut, dan menggunakan segala cara untuk mencapai apa yang dimauinya. Lihat saja, tak punya kekuatan untuk melawan pamannya yang merebut harta ayahnya, dia mempelajari ilmu hitam.[!] (agama Bon saat itu). Seperti itulah wajah Tibet yang sesungguhnya. Jadi kalau anda berpikir bahwa orang Tibet adalah orang yang lembut dan tak mengenal kekerasan maka anda sudah salah orang, anda akan salah alamat melontarkan tuduhan2 anda. Adalah Buddhisme yang telah mengubah Tibet. Adalah Dharma yang telah menaklukkan Milarepa menjadi seorang petapa Agung. Kebayang bagi saya kalau Dalai Lama tidak hipokrat, yang berarti menampilkan yang 10% wajah aslinya; Hanya Buddhisme yang bisa menaklukkan Tibet. Hanya Buddhisme yang bisa menentramkan Tibet. Hanya Buddhisme yang bisa memimpin Tibet.[!] Percayalah, kekuatan politik manapun tak terkecuali Demokrasi Amerika atau sosialis komunis China tak akan mampu menaklukkan Tibet, KARENA, paham2 ini tidak lain merupakan representasi kekuatan materi yang terselubung kemajuan ekonomi, hal yang bukan menjadi aspirasi terdalam orang-orang Tibet. Di luar dugaan kita orang2 Tibet bukanlah orang-orang bodoh seperti yang terlihat sepintas di mata banyak orang. Mereka sudah tidak dapat didikte, nenek-buyut mereka sudah lebih tahu alasan dan tujuan manusia hidup dibanding manusia2 lainnya di planet bumi. Sudah saatnya orang menyadari bahwa Buddhisme merupakan salah satu kekuatan di planet bumi. Sudah saatnya orang2 sadar seorang anak manusia yang lahir ke dunia bukan hanya kebahagiaan materi yang dijadikan sebagai tujuan akhir, tetapi kebahagiaan spiritual juga merupakan sebuah pilihan. Bahkan di mata para dewa dan bodhisattva ini adalah pilihan yang mulia. Kounter atau sanggahan2 yang dilakukan orang2 China terhadap isu yang berkembang tiap terjadinya kerusuhan yang melibatkan China lebih terdorong oleh kekhawatiran isu anti-China yang dapat merusak sendi2 perekonomian China yang telah mengglobal. Hal yang seharusnya dijadikan pegangan dalam menilai informasi2 dari sumber2 RRC. Namun demikian memang agak menjadi tanda tanya besar, mengapa RRC yang ekonomi-nya tidak se-bagus2 amerika mau begitu ngotot ingin menguasai daerah gersang seperti Tibet yang sejak dulu telah ditinggalkan oleh kaisar-kaisar China. Meskipun ada catatan bahwa Tibet adalah bagian dari China ribuan tahun yang lalu apakah itu saja yang dijadikan alasan untuk menguasai daerah gersang Xicang atau Tibet? Mongolia, Jepang, Korea, adalah wilayah yang duhulu dijadikan sasaran wilayah kekaisaran China, mengapa bukan negara2 subur ini yang layaknya dikuasai China setelah kekuatan militer mereka berkembang massive.[?] Saya pikir, idealisme China bersatu telah menggelapkan mata para pemimpin komunis China tentang nilai2 yang lebih pantas dikedepankan di masa sekarang yakni kemanusiaan. Jangan2 RRC akan berakhir seperti Holocost Nazi, isu Genocide, seperti pemusnahan muslim Bosnia oleh Serbia, atau semacamnya di saat di belahan dunia lain orang2 telah menikmati persamaan hak dan perlindungan hak azasi manusia. Jadi apa sebenarnya yang sedang terjadi di Tibet? Yang terjadi di Tibet saat ini sebenarnya adalah perseteruan antara paham spiritualisme dengan materialisme, antara paham Siddharta Gautama (Buddhisme dalam hal ini khususnya Vajrayana) dengan dengan paham Mao Che Tung(MCT) dalam hal ini sosialis-komunis. MCT bukannya orang jahat, dia orang baik. Kalau kita orang Tionghoa, MCT mirip dengan kakek leluhur kita yang dahulu merantau ke Indonesia. MCT lahir di keluarga miskin, masa muda tinggal di kamar sepetak, belajar dan bekerja keras menghidupi dirinya, dan prihatin dengan persoalan bangsanya. Prinsip MCT adalah kemiskinan dapat diatasi dengan kerja keras, dan percekcokan dapat diatasi dengan kontrol yang ketat dan tegas, persis seperti orangtua kita dulu dalam mengatur keluarganya, dan tidak suka kalau anaknya pergi ke vihara atau gereja. [!] Bagi MCT spiritualitas tidak ada pentingnya karena bagi Mao atau MCT kalau orang mau 'happy' dan sejahtera yang penting ekonomi tercukupi. Spiritualitas bagi MCT hanya membuat orang malas. Di sisi lain Buddhisme (dalam hal ini diwakili oleh Yang Mulia Dalai Lama XIV) tidak bisa menyerahkan Tibet begitu saja kepada RRC. Buddhisme berjasa banyak bagi perkembangan Tibet sejak masa Raja Trisong Detsen (740M) yang mengundang Padmasambhawa (Maha Guru Agama Buddha) ke Tibet untuk mengatasi permasalahan2 di Tibet. Dahulu Tibet adalah negeri yang gersang, dipenuhi siluman, betul2 siluman! Agama yang ada adalah agama Bon, yang upacaranya menggunakan darah, tulang, tengkorak, dan barang2 menyeramkan lainnya. Buddhisme-lah yang kemudian mengubah wajah angker Tibet menjadi lembut seperti sekarang. Tetapi prinsip Buddhisme dalam menaklukan berbeda dengan MCT. Buddhisme tidak mengenal memberangus, dalam hal ini kebudayaan Bon Tibet tak dapat dimusnahkan begitu saja tetapi dengan cara bijaksana Buddhisme mengganti sendi2 dasarnya. Tradisi atau agama Bon sudah mulai ditinggalkan, masih ada sampai sekarang hanya ada di sekte2 tertentu seperti Nyingma (di Tibet sekarang ada Gelug, Sakya, Kagyud, dan Nyingma). Saat ini Buddhisme sudah sangat menyatu dengan Tibet, sampai2 melihat Tibet seolah melihat wajah Buddhisme khususnya Buddhisme vajrayana. Jadi tidak mudah bagi Buddhisme dengan prinsip kehidupan spiritualitas menyerahkan Tibet dikelola oleh tangan2 yang menganut paham materialisme seperti RRC karena itu hanya akan membuat Tibet maju secara fisik (yang tampak) selama 100 tahun ke depan tetapi mundur secara Batin selama 1000 tahun ke masa silam. Bagi Buddhisme kekuasaan materialisme tidak berbeda dengan kekuasaan siluman yang pada akhirnya menenggelamkan manusia dalam penderitaan. Ini makanya negara2 barat seperti Amerika tidak dapat/mau membantu banyak karena pada prinsipnya mereka sama dengan komunis yang juga mengutamakan materi sebagai alasan kebahagiaan. Kalaupun RRC membangun Tibet secara fisik, ini tidak akan menyelesaikan persoalan karena mayoritas rakyat Tibet tidak menyukai kebahagiaan materi! Bukan wajah Tibet! RRC hanya akan buang2 anggaran saja menarik hati rakyat Tibet dengan bangunan2 fisik, jalan2 tol, jembatan, dll. Rakyat Tibet ingin agar Buddhisme-lah yang menguasai negaranya bukan saja karena jasa Buddhisme yang telah mengubah wajah angker Tibet tetapi lebih dari itu karena rakyat Tibet, berbeda dengan dengan bangsa2 lainnya, telah menemukan kebahagiaan di dalam Dharma! (ajaran Buddha). Jika RRC terus memaksakan kehendaknya maka dapat dipastikan RRC seiring waktu akan terus mengganti seluruh penduduk Tibet dengan penduduk China seperti yang sudah terjadi sekarang. Dan ini berarti RRC bukan telah mensejahterakan rakyat Tibet[!] tetapi berbalik menjadi menduduki atau mencaplok Tibet yang menjadikan RRC sebagai agresor bahkan tuduhan Genocide seperti perlakuan nazi kepada yahudi, ataupun kasus serbia-muslim bosnia. Saya sebagai orang Tionghoa yang juga beragama Buddha melihat seharusnya Presiden Hu Jin Tao yang tidak lagi sekolot MCT sudah bisa melihat hal ini bahwa Tibet, karena 'ikatan karma' yang begitu kuat, tidak akan bisa lepas dari spiritualisme. Jika dia ingin Tibet sejahtera maka tak ada cara lain selain membiarkan YM Dalai Lama XIV yang memimpin rakyat Tibet karena hanya ketulusan hati dan cintakasih-lah yang bisa membuat orang TIbet bekerja keras, bukan karena keseganan akan 'Bapak Pembangunan Bangsa' atau iming2 kebahagiaan materi yang menjadi bahan tertawaan Buddhisme. Pun mereka tidak bisa lagi berpikir bahwa Dalai lama adalah orang kolot atau ketinggalan zaman karena Dalai Lama telah membuktikannya dengan 'survive' di negara2 barat bahkan sekaligus mem'Buddhis'kan banyak orang2 barat yang terkenal ke'science'tifikannya dan skeptisitasnya. Dalai Lama dalam siaran2 medianya pun selalu menegaskan bahwa kemerdekaan yang diinginkannya adalah Otonomi daerahnya bukan kemerdekaan total[!]. Melihat tak ada jasa sama sekali oleh RRC kepada perbaikan kebudayaan Tibet di masa dahulu maka pandangan saya, RRC sudah kelewatan dan terlalu pongah jika tak bisa merundingkan hal ini dan hanya ingin pandangannya saja yang didengarkan. RRC juga harus bercermin bahwa bangsa Tiongkok atau China menjadi bangsa yang besar tak lepas dari didikan dunia spiritualitas bahkan peran Buddhisme di China tidak kecil dalam membentuk wajah China di mata dunia. Pun kalau pada akhirnya jika setelah dipimpin oleh Dalai Lama, RRC menginginkan kekayaan alam Tibet (seperti yang diduga sebagian banyak orang), saya yakin Dalai Lama akan memberikannya. Bantuan dunia INTERNASIONAL pasti akan mengalir untuk membangun Tibet jika dipimpin Dalai Lama. YG
