Thanks for respons.

Saya baru pulang dari Jepang. Di Jepang saya sempatkan mampir ke kuil
Amaterasu Omikami, Ise Shrine, Gaiku dan Naiku (Outer dan Inner) yang
merupakan kuil utama dan tertua penganut Shinto. Kuil itu memang masih
dihormati, daerah tertentu tidak boleh dimasuki umat awam. Memang
masih ada pendetanya tapi saya tak yakin apakah benar2 penganut tulen,
karena dari pakaiannya yang demikian rapih tampaknya hanya berfungsi
sebagai pajangan. Tak saya perhatikan lebih lama, karena saya pikir
tak sopan menatap orang lain lama2, dan kata pemandu tidak boleh
diajak berbicara. Saya tanya kepada pemandu, apakah ada upacara
ritual. Jawabnya ada, khususnya upacara pernikahan dan hari2 besar.
Masih di dalam area, terdapat shop atau toko yang menjajakan semacam
'jimat', macam2 fungsinya, terutama untuk perlindungan kata si wanita
penjaga toko yang juga berpakaian adat jepang, kimono, putih2. Di luar
area terdapat deretan toko2 suvenir, restoran, dll. Saya sempatkan
makan dan belanja oleh2. Benar2 pengalaman wisata yang menarik. Nah,
saat itulah, terbersit di pikiran saya, astaga, Tibet! tampaknya tak
lama lagi nasibmu pun seperti demikian, tempat perlancongan. Daerah
datar di dekat istana Potala yang tadinya dijadikan tempat
bernamaskara, kini jadi areal parkir, didirikan toko2, lama kelamaan
bukan tak mungkin mobil berseliweran, Tettt! Tettttttt! Klakson mobil
disana sini mengalahkan bunyi terompet ritual Tibet yang tak lagi
terdengar. Omituofo....

Ciputra:
Sebagai catatan saja, bantuan dunia internasional tidak ada yang
gratis. Ada
yang di-bargain. Terlihat bahwa bantuan baru ada bila syarat dipenuhi.
Tidak ada yg gratis.
Sudah baca buku The Economic Hitman?

I ask you:
Berapa harga sebuah pencerahan? [!]
YG

Albert Einstein pernah berkata suatu saat nanti orang2 tidak akan
percaya bahwa orang2 seperti dirinya, seperti Sidharta Gautama, pernah
lahir di dunia. Mungkin ramalan ini akan segera menjadi kenyataan.

Secara duniawi mungkin kamu tidak naif, tetapi secara spiritual,
sorry, ya, kamu naif.

--- In [email protected], "Ciputra Sanjaya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bro Yadi,
> 
> Terima kasih sudah tulis panjang lebar di milis ini. Mungkin ada jalan
> tengahnya untuk pertikaian di Tibet.
> 
> Urusan kenegaraan serahkan saja ke pemerintahan China. Pembangunan
dilakukan
> oleh mereka saja. Saat ini mereka telah membangun lapangan terbang
dan jalur
> kereta ke Tibet. Transportasi ke Tibet saat ini sudah jauh lebih mudah
> ketimbang masa lalu. Bila memang ada kekayaan alam di sana, silahkan
saja
> mereka mengambilnya. Kita bisa melihat bahwa Tibet dibawah pemerintahan
> China tidak ditelantarkan. Pembangunan berjalan dan pendidikan juga
> berjalan.
> 
> Untuk urusan spiritual, YM Dalai Lama lah pemimpinnya. Mengapa YM
Dalai Lama
> tidak kembali saja dan menjadi pemimpin spiritual di sana? Hehehe...
saya
> tidak tahu, sebaiknya urusan keduniawian ditinggalkan saja. Kalau
figur YM
> Dalai Lama bebas dari unsur politik saya rasa pemerintah China bisa
menerima
> beliau menjadi pemimpin spiritual. Dulu, tatkala komunis berjaya di
China
> agama dilarang (berdasar paham komunisme Karl Marx). Tapi saat ini telah
> terjadi pergeseran. Mereka juga belajar dari sejarah revolusi kebudayaan
> yang kelam. Saat ini kebebasan beragama sudah ada di sana.
> 
> Bila demikian halnya, akan sangat baik. Secara ekonomi Tibet ikut kuat
> sejalan dengan menguatnya ekonomi China. Secara spiritual Tibet
menunjukkan
> tingkat pemahaman agama Buddha yang tinggi dalam bimbingan YM Dalai
Lama.
> 
> Spiritualitas rakyat Tibet perlu dibina kembali. Jangan sampai kerusuhan
> yang baru2x ini terjadi terulang kembali. Apakah ada diantara member
milis
> ini melihat berita kerusuhan di TV? Mirip kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.
> Mobil di-terbalik-kan dan dibakar. Ambulans yang lewat dilemapari
batu dan
> dokter cedera karena timpukan batu. Pengendara motor yang melintas
dihadang
> dan dipukul kepalanya dengan batu. Toko2x dengan pintu besinya
dirusak oleh
> sekelompok massa persis seperti kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Salah
satu
> penghuni ruko (seorang kakek dan anak perempuan muda usia 18 tahun)
tidak
> berani keluar dari ruko, dibakar rukonya oleh pengrusuh dan mereka tewas
> terbakar. Perusuh berkeliaran dijalan dengan senjata tajam terhunus.
> 
> Demikianlah, saya hanya bisa menulis apa yang menjadi pendapat saya
disini.
> Semoga saja pertikaian di Tibet bisa benar2x dituntaskan dimana
semua pihak
> mendapat peran masing2x sesuai dengan bidangnya masing2x. Kalau saya
dirasa
> naif, mohon dimaafkan.
> 
>[deleted]
>


Kirim email ke