kunjungi website HIKMAHBUDHI di www.hikmahbudhi .org
----- Forwarded Message ---- From: yabin yap <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; milis sahabat <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, March 31, 2008 6:49:30 PM Subject: [Pengurus_HB] Issue Tibet Dear all, Sharing ini saya tulis berdasarkan spontanitas saja. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Pada dasarnya, menurut pemahaman saya, issue Tibet ini akan long story. Semua ini karena ketakutan pemerintah China akan spiritual Buddhisme di Tibet, terutama di Tibet yang mengenal sistem Tulku atau reinkarnasi seorang guru suci setelah wafat, sehingga ini dipandang sebagai sesuatu yang punya potensi besar untuk mempersatukan banyak orang. Itu sebabnya China di masa lalu bersusah payah menciptakan Tulku tandingan, misalnya Panchen Lama, setelah Panchen Lama yang masih kecil ditangkap. Juga muncul issue 2 Karmapa, juga yang lain. Sbg informasi, berita2 tentang Tibet di negara China sendiri sulit untuk diketahui oleh rakyatnya. Kalau di Indonesia, kan gampang kita melihat CNN, BBC, dll. Tapi di China sendiri, setiap kali muncul suara pembawa berita tentang "Tibet" atau "Dalai Lama", maka semua saluran TV tsb akan dimatikan, sehingga di monitor TV hanya blank (hitam) tanpa tayangan apapun selama berita itu ditayangkan. Kecuali jika pemerintah China sendiri yakin bahwa berita itu aman untuk di'konsumsi' oleh rakyatnya, maka berita tersebut boleh tetap ditayangkan. Itu sebabnya rakyat China sendiri terbatas informasi tentang permasalahan Tibet, apalagi yang rumahnya jauh dipedalaman, tanpa akses komunikasi internet, dll, hanya mengandalkan TV. Kebanyakan mereka hanya berkomunikasi via telp dan itupun tidak sejelas kita mengikuti perkembangan berita tentang Tibet di sini. Sebenarnya, sekali lagi menurut pemahaman saya, persoalan Tibet - China BUKAN PERSOALAN DENDAM ATAU KEBENCIAN. Ini lebih pada persoalan prinsip penerapan sistem Komunis yang kokoh. China takut spiritual Tibet akan melemahkan sistem Komunis China. Hal ini terlihat cukup jelas saat dulu Falun Gong yang mengajar chikung juga sangat ditakuti oleh pemerintah China sehingga pemerintah China mengarang dan menyebar informasi bahwa Falun Gong adalah kelompok sesat yang mengajarkan masyarakat untuk tidak perlu ke dokter kalau sakit meskipun parah, dll. Jadi sekali lagi, persoalan ini terjadi karena pemerintah China sangat mentabuhkan segala sesuatu yang punya kekuatan untuk menghimpun massa, karena dikuatirkan ini akan menghancurkan sistem Komunis di China. Karena itu, menjadi tidak mudah untuk meluluhkan hati pemerintah China. Apalagi China merupakan negara pengekspor terbesar ke seluruh dunia, juga turis no 1 di dunia. Bahkan di Amerika Serikat, yang menjadi musuh politik China, jumlah lulusan S2 dan S3 di universitas2 terkemuka di Amerika sekitar sepertiganya adalah orang-orang dari China. Bayangkan dominasi China yang begitu kuat. Satu2nya yang mungkin akan melemahkan pemerintah China sendiri adalah rakyatnya sendiri. Rakyat China, seperti halnya keturunan Tionghoa di Indonesia, untuk golongan tua akan cenderung membela pemerintah China, apapun alasannya. Ini bisa dimaklumi karena rasa patriotisme yang sudah mengakar. Makanya jika kita bicara dengan orang-orang tua keturunan Tionghoa di Indonesia, kebanyakan akan langsung bilang pemerintah China yang paling benar. Namun sama seperti halnya orang-orang muda di Indonesia, orang-orang muda di China yang sudah lebih banyak mendapatkan informasi dari dunia luar, berhubungan dengan dunia luar, mereka tidak sefanatik golongan tua di China. Kekuatan golongan orang muda di China ini yang menjadi kekuatiran pemerintah China sendiri. Namun tentu pemerintah punya sejumlah trick untuk mendapatkan simpati kuat dari rakyatnya. Kebijakan yang liberal dalam pembangunan berbagai aspek kehidupan yang membuat banyak kemajuan di China, penumpasan korupsi secara besar2an, dll, dedikasi kuat dari tentaranya setiap kali terjadi bencana, telah menciptakan patriotisme yang kuat dari rakyat China sendiri. Namun sekali lagi, dalam dunia yang penuh hiruk pikuk, sebagian masyarakat China juga merindukan spiritualitas. Spiritualitas Buddhis, apalagi yang berhubungan dengan Tibet, bukan sesuatu yang menyenangkan bagi pemerintah China. Sialnya sebagian warga Han yang dikirim untuk menghuni kota-kota di Tibet yang sudah diubah namanya kedalam bahasa mandarin (misalnya Amdo menjadi Qinghai), justru kemudian terpengaruh belajar spiritual Buddhis di Tibet. Makanya pemerintah China bersusah payah menghancurkan spiritual Buddhis di Tibet dengan mendirikan pub-pub/diskotik di tempat-tempat suci seperti di bawah istana Potala, dsb bahkan jika itu harus menghancurkan Buddha-rupang di lokasi tersebut. Sekali menurut pemahaman saya, meski ada banyak upaya untuk membantu Tibet, namun mungkin mengetuk hati warga China sendiri akan menjadi suatu kekuatan untuk melemahkan hati pemerintah China dalam menerapkan prinsip Komunis di China. Saat ini mungkin hanya warga Hongkong lah yang dominasi orang China nya paling mengetahui informasi mengenai Tibet sehingga mereka punya rasa hormat yang mendalam pada Dalai Lama dan tidak menyetujui sikap pemerintah China. Lucunya, di saat pemerintah China menyebarluaskan berita-berita di Tibet yang direkam sendiri, justru TV Hongkong yang menyebarluaskan tayangan2 tandingan tentang tank-tank dan pasukan China yang berusaha menangkap orang2 Tibet sampai naik ke atap rumah. Sekian dulu dari saya. terima kasih. salam, yabin
