Date: Aug 25, 2008 9:07 AM
Subject: [buddhavacana] Mohon Dukungan: PSK Ingin Lepas Dari Dunia
Prostitusi (RESEND)
To:


PSK Ingin Lepas Dari Dunia Prostitusi

Namo Buddhaya,
Sebetulnya agak sulit bagi saya untuk mengangkat kasus ini di forum ini,
karena mungkin akan ada yang berpandangan negatif terhadap saya berhubung
saya jalan-jalan (bukan jajan-jajan) ke Dolly & Jarak, dua lokalisasi
terkenal di Surabaya. Tapi biarlah, mungkin ini sebuah resiko yang harus
diambil.

Hari Sabtu kemaren, setelah cangkruk dengan teman-teman di sebuah kafe
pinggir jalan di daerah Basra, Surabaya hingga lewat tengah malam, saya
sempatkan bertandang ke rumah almarhum Aris di kawasan lokalisasi Dolly
(baca posting berjudul Aris Telah Pergi Menyusul Belahan Jiwanya, Melly).
Kedatangan saya hanya bermaksud bersilaturahmi dengan orang tua dan kakak
Aris. Istilahnya sekedar say hello, karena dulu sewaktu Aris masih hidup,
saya juga sering mampir bermain ke rumahnya. Suasana di lokalisasi Dolly
agak sepi, kemungkinan karena tanggal tua.

Saya tidak lama-lama di rumah Aris (persis di belakang wisma milik Aris)
karena pembicaraan masih seputar kematian Aris sehingga suasana menjadi
tidak nyaman. Setelahnya saya pamit lalu mampir ke kos Ari (Asyari) di
kawasan lokalisasi Jarak. Kedua lokalisasi ini memang berdekatan. Ari
bekerja sebagai tukang kredit yang menyuplai kebutuhan perawatan tubuh dan
kecantikan (mulai dari alat kosmetik sampai breast holder alias BH) bagi
PSK-PSK di lokalisasi tersebut. Mungkin rekan sekalian baru tahu kalau
ternyata ada profesi seperti ini. Tapi inilah realita kehidupan.

Saya cukup lama di tempat Ari. Hingga akhinya, perbincangan kami berujung
pada cerita Ari mengenai seorang PSK yang sudah lama dikenalnya. Sebut saja
Bunga. Bunga merupakan salah satu pemakai jasa kredit Ari. Bunga berasal
dari daerah Banyumas, Jawa Tengah, demikian juga Ari, karenanya tidak heran
keduanya akrab.

Menurut cerita Ari, Bunga menjadi PSK karena dijual oleh suaminya. Setelah
dinikahi bawah tangan (siri) tahun 2003 lalu, Bunga diajak ke Surabaya.
Namun ternyata setelah tiga bulan, Bunga dijual ke Dolly. Suami Bunga saat
ini sudah tidak jelas keberadaannya. Hingga saat ini, keluarga Bunga tidak
mengetahui keadaaan Bunga yang sebenarnya.

Ada berbagai pengalaman dan perlakuan yang cukup mengundang rasa kasihan
yang dialami oleh Bunga (baik dari pembeli maupun dari germo), yang juga
lazim dialami oleh PSK, namun kayaknya kurang etis untuk dibeberkan di sini.
Bunga sering curhat ke Ari mengenai keinginannya untuk keluar dari
lokalisasi tersebut, mencari kerja, dan pulang ke desanya. Namun hari ini, 5
tahun lebih sudah lewat, keinginan tersebut belum juga terwujud.

Bunga dijual suaminya seharga 5 juta rupiah, jadi minimal Bunga harus
membayar seharga tersebut untuk melepaskan diri dari germonya. Namun pada
kondisi ekonomi yang semakin sulit, pemakai jasa semakin berkurang,
pendapatan dan setoran semakin kecil, Bunga kini malah memiliki hutang
sebesar hampir 3 juta rupiah pada germonya. Lilitan hutang sering terjadi
pada bulan puasa, lantaran lokalisasi tidak beroperasi selama sebulan penuh,
otomatis para PSK tidak memiliki penghasilan apa-apa selain mengandalkan
tabungan selama 11 bulan sebelumnya, itupun kalau ada. Jika tidak ada, maka
satu-satunya solusi adalah mengandalkan pinjaman dari germonya.

Pada penggalangan dana amal terakhir, saya sudah menyatakan akan berhenti
dulu karena saat ini waktu dan tenaga saya sangat minim. Namun, kasus ini
cukup menarik perhatian saya sehingga saya merasa perlu mengangkatnya.
Kebetulan saya sedang liburan semester dan perkuliahan baru akan mulai lagi
pertengahan bulan September depan.

Tadi sekitar jam 11 siang saya ke kos Ari dan bersamanya pergi ke wisma
tempat Bunga. Bunga terlihat kusut karena baru bangun tidur. Prosesnya agak
rumit, karena Ari harus menjelaskan ke Bunga bahwa dia telah menceritakan
semua ke saya tanpa seijin Bunga, dan setelahnya saya harus meyakinkan Bunga
bahwa identitas dirinya tetap akan dirahasiakan. Walau sulit, tapi saya
tekankan padanya juga bahwa saya tidak menjanjikan apa-apa, termasuk tidak
menjanjikan bahwa saya pasti bisa membantunya keluar dari situ.

Seperti janji saya pada Bunga, seluruh jati diri Bunga tidak dapat saya
sampaikan, termasuk nama aslinya. Hanya ini yang dapat saya lakukan,
selebihnya saya serahkan pada rekan-rekan sekalian di sini. Jika ada cukup
banyak rekan yang ingin membantu menyelesaikan kasus ini dan memberi
kesempatan baru pada Bunga, saya baru akan memfasilitasi penggalangan dana,
apalagi mengingat dana yang dibutuhkan untuk menebus dan membayar hutang
Bunga cukup besar.

Malam minggu depan, saya akan kembali ke sana dan menginformasikan apakah
ada jalan keluar bagi Bunga atau tidak. Jika ada, saya akan ajak Ari untuk
berbicara dengan germonya. Namun jika tidak, saya yakin Bunga bisa
memakhluminya.

Abin Adika Ranggala



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke