Tampilkan 45 Diorama Perjalanan Hidup Sang Buddha Gautama ( bag. 1 )
Ribuan
tahun lalu, dalam perjalanan hidupnya, Sang Buddha Gautama telah
melihat betapa manusia selalu mengalami penderitaan. Perjalanan
tersebut terangkum dalam 45 diorama yang dipamerkan pada Festival Seni
Budaya Buddhist 2008, Lake Side,
Mall GTC Tanjung Bunga, 22-31 Agustus.
ADA yang berbeda saat Anda memasuki kawasan Lake Side, Mall GTC Tanjung Bunga.
Di pelataran yang langsung berhadapan
dengan danau tersebut, terdapat gerbang menyerupai pintu candi. Saat Anda
melintas, akan bertemu dengan Taman Rusa
Isipatana. Di taman itu, terdapat patung Sang Buddha Gautama yang sedang
mengajarkan “dhamma” kepada lima muridnya.
Paling
menyita perhatian adalah Reclining Buddha, yakni patung Sang Buddha
dengan tinggi 7,6 meter dan panjang 23, 5 meter. Patung berwarna kuning
ini menandakan Maha Parinibbana, yakni Sang Buddha meninggalkan
rajagaha (dunia) pada saat usia 80 tahun.
Dalam areal pameran, masih terdapat tujuh ruangan lagi.pada Ketujuh ruangan
tersebut antara
lain, ruang diorama, bukti-bukti sejarah, budaya dan ritual, hingga ruang puja
relik, dan meditasi.
Ruang ini berisi relik Buddha Gautama dan para arahat (murid) yang disusun
dalam sebuah altar puja.
Untuk mengetahui latar belakang munculnya Buddhism, dapat melalui sejarah dan
riwayat hidup Sang Buddha Gautama.
Riwayat ini tergambar secara lengkap melalui 45 diorama, yang masing-masing
memiliki
tinggi dua meter dan panjang empat meter. Diaroma yang menyerupai akuarium itu
cukup
representatif. Tidak saja karena didukung dengan miniatur para pelaku. Namun
didukung pula
dengan penjabaran gambar dengan versi bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
Pada Diorama pertama, misalnya. Diorama yang berjudul “Tekad menjadi Buddha”
ini menceritakan dimana pada masa
Sang Buddha Gautama, pernah hidup seorang pertapa bernama Sumedha. Dia
dilahirkan sebagai
orang yang kaya raya. Kemudian hari, ia mendanakan semua hartanya dan menjadi
pertapa.
Pada suatu hari, Sumedha bertemu dengan Buddha Dipankara. Sumedha lantas
menjulurkan tubuhnya sebagai jembatan
agar Sang Buddha Dipankara tidak menjejakkan kakinya di tanah. Itulah mulanya,
Sang Buddha Gautama bertekad menjadi
“Samma Sambuddha” pada suatu saat nanti. “Tekad dalam artian di sini adalah
untuk mencapai sesuatu harus disertai pengorbanan
dan
tindakan. Seperti yang kita lihat di diorama ini, Sumedha menjulurkan
tubuhnya untuk jadi jembatan,” jelas Harjoyo, salah satu pemandu.
Menurut
Harjoyo, setiap diorama memiliki satu makna tersendiri namun saling
berkaitan. Jika dilanjutkan pada diorama kedua, yang berjudul “Dana
Parami” atau kedermawanan tersebut menceritakan awal mula Sang Buddha
Gautama menjadi seorang yang dermawan.
Hal itu diperolehnya dengan
melihat raja bernama Visantara yang kerap memberikan dana tanpa
keragu-raguan kepada yang membutuhkan. “Di sini maknanya memberi tanpa
pamrih,” lanjut Harjoyo.
Jika diikuti perjalanan hidup Sang
Buddha Gautama dari diorama pertama hingga ke-45, akan diketahui
berbagai proses perjuangan dirinya untuk mencapai tujuan hidup yang
lebih sempurna. Diorama ini menceritakan banyak hal, mulai perdamaian,
kesetaraan status (antidiskriminasi) maupun kesetaraan gender. “Setiap
orang sebenarnya punya bibit untuk menjadi Buddha asalkan ia mau
melewati langkah- langkah seperti yang dilakukan Sang Buddha Gautama,”
kata Harjoyo.
Bersambung ...
Sumber : Harian Fajar - Makassar.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Relik Berusia 2.500 Tahun, Didatangkan dari Myanmar ( Bag. 2 - Selesai )
Tidak saja berisi diorama, Festival Seni Budaya Buddhist 2008
memamerkan relik Sang Buddha Gautama. Relik yang berusia lebih
dari 2.500 tahun itu sengaja dikirim dari Myanmar.
MENGUNJUNGI
festival yang berlokasi di Lake Side, Mall GTC Tanjung Bunga itu, bak
menjawab penasaran seperti apa sesungguhnya ajaran Buddha. Selain
karena hampir tiap objek yang terpajang disertai keterangan, juga
didukung para pemandu di hampir tiap sudut. Untuk memasuki arena
pameran, cukup merogoh kocek Rp5.000 per orang. Selain diorama,
perhatian pengunjung banyak yang tersita pada relik Sang Buddha
Gautama. Relik merupakan sisa jasad Buddha Gautama yang dibakar dan
menyisakan kristal.
“Relik ini dipercayai sebagai kristalisasi
hasil latihan dan pengamalan kehidupan suci Buddha Gautama pada masa
hidupnya,” ungkap Miguel, seorang pemandu. Relik Buddha Gautama
tersebut diletakkan dalam wadah menyerupai botol. Jumlahnya ada empat
dan merupakan kristalisasi dari tubuh Buddha Gautama, seperti darah,
hati, otak, maupun tulang. “Relik ini telah berusia sekitar 2.500 tahun
dan
disimpan di Myanmar,” terangnya. Tidak hanya relik Buddha
Gautama, masih ada 10 relik lainnya. Relik ini milik murid murid Sang
Buddha Gautama, termasuk seorang putranya bernama Rahula. Beberapa
pengunjung memanfaatkan momen ini untuk berdoa di depan relik. Sebagian
ada membawa bunga sedap malam. Menurut Miguel, hal itu dilakukan
sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha.
Pada festival
yang sebelumnya telah digelar di Surabaya itu, terdapat juga Ruang
Bukti-bukti Sejarah. Ruang itu berisi kitab suci Tipitaka ajaran Buddha
Gautama. Bumi Horas, pemandu lainnya mengatakan kitab suci orang Buddha
berisi tiga kelompok besar; Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma
Pitaka. “Ini tipitaka dari Srilanka yang ditulis 300 tahun sejak
kematian Sang Buddha Gautama,” papar Bumi.
Pria berkacamata ini
menunjukkan beberapa kitab Tipitaka kuno lainnya dengan versi bahasa
seperti Myammar dan Mandarin. Bahkan di ruang ini bisa diakses online
jika pengunjung masih penasaran dengan kitab Tipitaka.
“Saya merasa ada pencerahan batin di sini. Perjalanan hidup Pangeran Buddha
ternyata tidak gampang,” ungkap Titin, seorang
pengunjung
yang ditemani suaminya, Hendrik. Pasangan yang bermukim di Jl Abd Dg
Sirua ini merasa bersyukur pameran itu bisa hadir di Makassar.
Festival
Buddhist yang menghabiskan anggaran Rp 200 juta ini tergolong akbar.
Ini tak mengherankan, mengingat arsitektur objek yang disajikan pun
memiliki cita rasa seni tinggi. Itu bisa terlihat pula pada tiga altar,
theravada, mahayana, dan tantrayana. Termasuk miniatur
empat suci
Sang Buddha Gautama seperti Umbini (tempat lahir), Bodhgaya (lokasi
pertapaan), Sarnath (tempat mengajar kali pertama), maupun Kushinagar
(tempat mangkat).
Ketua Panitia, Yonggris, menyebut festival itu
bertujuan untuk mengenalkan seni dan budaya kepada masyarakat. “Kami
ingin memperkenalkan bentuk seni dan budaya sejak zaman Majapahit dan
Sriwijaya yang bersumber dari nilai-nilai buddhist.
Termasuk kisah dan riwayat hidup Buddha Gautama,” kata Yonggris yang juga
sebagai Wakil Ketua Walubi Sulsel.
Sumber : Harian Fajar - Makassar
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]