---------- Forwarded message ---------- From: Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jul 29, 2008 11:21 PM Subject: ZEN Practice: Peran Guru, Mengenali Guru yg Cocok (2) ~ Master Shengyen To: ramu dharmajala <[EMAIL PROTECTED]> Cc: tony dharmawan <[EMAIL PROTECTED]>, Robby C < [EMAIL PROTECTED]>, Nyanabhadra <[EMAIL PROTECTED]>, ZiHao Chen <[EMAIL PROTECTED]>, Jimmy Lominto <[EMAIL PROTECTED]>, Chang Tho Shi <[EMAIL PROTECTED]>, Nyanagupta <[EMAIL PROTECTED]>, Yenny <[EMAIL PROTECTED]>, Junarto M Ifah <[EMAIL PROTECTED]>, siwu < [EMAIL PROTECTED]>, Liana chia <[EMAIL PROTECTED]>, Juliani < [EMAIL PROTECTED]>, Merita123 <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Tonny Chua <[EMAIL PROTECTED]>, yessy ayu < [EMAIL PROTECTED]>, Wilis Rengganiasih <[EMAIL PROTECTED]>, sanjaya < [EMAIL PROTECTED]>, ekayana <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], Sri Lestari < [EMAIL PROTECTED]>, Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]>, Susi < [EMAIL PROTECTED]>
Tanya: Apakah praktisi-ahli (*adepts*) adalah yang telah mengalami pencerahan? Dan apabila mereka sudah mengalami pencerahan, apakah mereka masih perlu berlatih? Shifu : Praktisi-ahli bisa pernah atau belum pernah mengalami pencerahan; dan ya, orang yang sudah pernah mengalami pencerahan musti tetap terus berlatih di bawah bimbingan guru yang piawai. Mengalami pencerahan itu bukan berarti bahwa Anda sudah berhasil mematahkan atau meninggalkan semua kekesalan-batin (*klisha*). Malah sebaliknya, kadang bisa jadi kamu menghadapi gangguan klisha dan tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bergerak maju. Praktisi berpengalaman mungkin memang belum tercerahkan, akan tetapi ia punya tekad tulus untuk terus bergerak maju di dalam praktik. Boleh jadi ia masih menanggung *klisha* berat, sehingga banyak mengalami gangguan kekesalan, namun ia bersedia untuk menghadapi *klisha* ini berikut kepedihan yang ditimbulkan olehnya. Kecemasan bisa datang dari banyak sebab. Seorang praktisi bisa tegang karena praktiknya macet, sebagai contoh, tak mampu menembus sebuah *gong'an*(koan), atau bahkan sekedar tak bisa mengendapkan pikirannya sampai level agar bisa mengerjakan metode *gong'an*. Ada pula beberapa orang yang sudah dapat menyelesaikan banyak segi dari sebuah *gong'an* tertentu, kemudian ia mulai cemas akan apa yang musti dikerjakan berikutnya. Situasi-situasi demikian sebenarnya wajar saja ketika terjadi di dalam proses berlatih. *Sebenarnya orang-orang yang musti merasa cemas adalah mereka yang abai terhadap perkembangan batin, atau ia yang malah merasa bahwa dirinya tidak punya masalah. Orang-orang semacam ini kebodohan batinnya sangatlah parah (deeply deluded), dan yang jenis begini adalah jauh lebih sulit lagi untuk diajak bekerja sama. * Kemudian ada beberapa orang yang mampu mengalami samadhi mendalam, atau duduk dalam hening bebas dari kekesalan selama berjam-jam, akan tetapi ketika ia mulai bangkit dari bantal-meditasinya, segala kekesalan dan keruwetan pikiran datang lagi. Ia hanya bisa menjadi tenang hanya ketika sedang duduk-meditasi. Ada pula mereka yang pernah mengalami pencerahan, namun tidak mengembangkan kekuatan samadhi, dengan demikian ia pun menderita diaduk oleh *klisha*. Mereka semua itu, entah tua ataupun muda, boleh dipandang sebagai praktisi-ahli, namun mereka tetap perlu berlatih dan bekerja dengan seorang guru yang bagus. Tanya: Bagaimanakah cara Anda, sebagai seorang guru, menilai pengalaman-praktik-meditasi dan level-level dari para murid-murid Anda? Apakah yang menjadi panduanmu, dan bagaimana kita bisa tahu pasti bahwa observasi Anda adalah tepat? Shifu : Pertanyaan semacam ini sudah menunjukkan suatu sikap yang keliru. Jika murid punya sikap seperti itu ketika hendak mencari guru, maka ia tidak bakal bisa mendapatkannya. Seorang pemula maupun praktisi-ahli musti punya rasa-percaya (*trust*) kepada guru yang mereka cocoki. Jangan selalu bimbang dengan bersikap mencari-cari atau skeptis. Misal, beberapa guru mungkin bisa melakukan hal-hal ganjil guna menguji si murid. Ketika belajar pada seorang guru, sikap batin Anda musti tulus dan terbuka. Namun juga sebaliknya, apabila guru tersebut ternyata memang berulangkali mempertunjukkan perilaku salah dalam hal hubungan antar pribadi, uang, atau kekuasaan, maka sebaiknya memang kalian tinggal pergi saja. Tanya: Shifu, Anda membuat saya bingung. Semula Shifu bilang bahwa murid musti punya rasa-percaya kepada gurunya dan jangan gampang menghakimi, namun kemudian Anda berkata bahwa murid-murid harus cermat mengenali tatkala sang guru bertindak tidak pantas. Jadi bagaimana? Bagaimana kita bisa mengenali seorang guru palsu? Shifu: Yang paling utama dalam mengenali seorang guru adalah adanya kemampuan untuk menentukan apakah mereka memiliki *pandangan-benar* tentang Buddhadharma (*right-view*). Kalau pandangan mereka benar, walau mungkin masih ada kelemahan dalam perilakunya, jangan langsung dianggap sebagai seorang guru yang palsu. Sebaliknya, kalau sang guru tidak memiliki pandangan-benar, mereka tidak bisa dianggap sebagai guru yang bijak atau sejati. Tentu saja, di sini dipakai asumsi bahwa orang yang menilai itu sendiri telah memahami Dharma dengan benar. Tanpa mengerti Dharma, seorang praktisi tak akan mungkin bisa menentukan apakah seorang guru itu benar atau salah. Ada beberapa kriteria dasar yang dapat dipakai dalam memilih seorang guru. Pertama, pertimbangkan sebab & kondisinya. Artinya, tindakan mereka harus didasarkan kepada kekosongan – tidak ada kemelekatan dalam tindakan mereka. Kedua, pertimbangkan sebab & konsekuensi atau karma mereka. Makna kekosongan yang menyertai tindakan para guru yang bijak (*causes and conditions*) haruslah selaras dengan karma mereka (*causes and consequences* ). Begitulah, tindakan mereka harus diiringi oleh rasa tanggung jawab. Mereka harus, pada setiap saat, sadar penuh akan akibat tindakan mereka. Makanya, ada hubungan yang erat antara sikap bertanggungjawab dan ketidakmelekatan. *Itulah pertanda seorang guru yang sejati: mereka memiliki pandangan yang benar tentang Dharma, tindakan mereka tidak menyiratkan kemelekatan, dan mereka punya rasa tanggung jawab yang jernih.* Tanya: Berkait dengan guru dan praktisi yang keliru, saya pernah mendengar istilah "rubah liar Ch'an (*wild fox Chan*)" – saya ingin tahu apa maksud istilah itu. Shifu : "Rubah-liar Ch'an" adalah julukan olok-olok bagi orang yang meski sebenarnya belum pernah mengalami-langsung *shunyata* akan tetapi ia berani mengaku-aku tidak punya kemelekatan. Ini berarti menganggap yang palsu sebagai riil – berani menyatakan telah mencapai sesuatu padahal belum, berlagak tercerahkan padahal tidak, menyampaikan ajaran yang keliru, serta berbicara dengan gaya seolah ia sudah cerah. Istilah "rubah-liar" berasal dari kisah perjumpaan Master Baizhang (720-814) dengan seorang bhiksu misterius yang datang menghadap untuk bertanya soal Dharma. Setelah memperoleh penjelasan atas pertanyaannya, sang bhiksu memohon agar kesokan harinya Baizhang berkenan mengadakan upacara bagi mayat seekor rubah yang tergeletak di sebalik bukit di belakang biara. Dikatakan bahwa di 500 kehidupannya yang lalu, bhiksu ini telah memberi ajaran keliru sehubungan dengan pencerahan dan karma, akibat dari pandangansalahnya itu ia jadi berulang-ulang terlahir sebagai seekor rubah-liar. Master Baizhang akhirnya telah mengoreksi pandangansalah si bhiksu, dengan demikian telah membebaskan dari rangkaian tumimballahirnya sebagai seekor rubah-liar. Orang terpelajar yang pandai bicara acapkali bisa berlagak tercerahkan dengan membual secara meyakinkan perihal shunyata. Ada berjilid buku tentang dialog antara para guru Zen dengan muridnya dalam serial *gong'an*. Kadang seorang siswa bisa mendandani bualannya dengan gagasan yang dicomot dari buku serial gong'an tersebut. Kata-katanya tidak didukung oleh pengalaman-langsung. Repotnya, biasanya agak sulit bagi orang biasa, atau bahkan bagi beberapa guru tertentu, untuk bisa mendeteksi hal tersebut. Namun kenyataan ini bakal tersingkap apabila orang itu berdialog lebih panjang dengan seorang guru sejati yang sudah tercerahkan. Tanpa pengalaman yang tulen seseorang kendati pintar akhirnya bakal terungkap kepalsuan dan ketidaktulusannya. Tanya: Apakah yang dimaksud dengan guru-puja, apa hal ini ada di tradisi Ch'an? Shifu : Dalam guru-puja, para siswa memandang guru mereka sebagai suatu perwujudan pencerahan, mereka membaktikan praktik mereka untuk memuja serta menghormati sang guru. Ini semacam menggabungkan ketiga aspek Buddha, Dharma, Sangha ke dalam satu pribadi. Praktik demikian tidak ada dalam tradisi Ch'an, namun memang terjadi dalam tradisi Tibetan. Di Buddhisme Tibet, ajaran, atau transmisi, hanya bisa diberikan langsung dari guru ke murid. Dengan kata lain, tanpa adanya guru maka ajaran pun juga tidak ada. Di tradisi Ch'an, peran seorang guru adalah untuk membantu serta menegaskan praktik kita. Guru tidak mentransmisikan ajaran; mereka lebih berperan guna mengenali dan menentukan apakah sang praktisi sudah merealisasi hakekat kebuddhaan atau belum (*buddha-nature*). Guru Ch'an hanya dapat membimbingmu untuk merealisasi serta menyingkap hakekat kebijaksanaan-mu sendiri, dan kemudian memverifikasi pengalaman-kebijaksanaan tersebut. Jadi, dalam tradisi Ch'an: relasi antara guru dengan murid itu cenderung lebih bersifat sebagai sahabat-spiritual ketimbang urusan guru dengan siswanya. Di Ch'an ada satu pameo yang mengatakan bahwa: relasi tersebut 30 % bersifat guru dengan murid dan 70 % adalah sebagai sobat sesama praktisi. [Non-text portions of this message have been removed]
