---------- Forwarded message ----------
From: Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jul 29, 2008 11:07 AM
Subject: ZEN Practice: Peran Guru (1) ~ Ch'an Master Shengyen
To: ramu dharmajala <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: tony dharmawan <[EMAIL PROTECTED]>, Robby C <
[EMAIL PROTECTED]>, Nyanabhadra <[EMAIL PROTECTED]>, ZiHao
Chen <[EMAIL PROTECTED]>, Jimmy Lominto <[EMAIL PROTECTED]>,
Chang Tho Shi <[EMAIL PROTECTED]>, Nyanagupta <[EMAIL PROTECTED]>,
Yenny <[EMAIL PROTECTED]>, Junarto M Ifah <[EMAIL PROTECTED]>, siwu <
[EMAIL PROTECTED]>, Liana chia <[EMAIL PROTECTED]>, Juliani <
[EMAIL PROTECTED]>, Merita123 <[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED], Tonny Chua <[EMAIL PROTECTED]>, yessy ayu <
[EMAIL PROTECTED]>, Wilis Rengganiasih <[EMAIL PROTECTED]>, sanjaya <
[EMAIL PROTECTED]>, ekayana <[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], Sri Lestari <
[EMAIL PROTECTED]>, Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]>, Susi <
[EMAIL PROTECTED]>

 *Peran Guru***



Tanya:

Seberapa pentingkah mempunyai seorang guru dalam berlatih Buddhadharma? Apa
bisa terjadi masalah jika kita mempraktikkan *sila* dan prinsip-prinsip
buddhist tanpa bimbingan seorang guru?



Shifu:

Sulit untuk mempraktikkan Buddhadharma dengan serius kalau tidak disertai
bimbingan seorang guru yang piawai. Sekedar mengandalkan buku-buku hanya
akan cukup pada level pemula saja, bahkan pada beberapa kasus bisa malah
beresiko. Buku-buku, termasuk juga buku yang Anda baca ini, memang bisa
bicara tentang prinsip-prinsip namun, pada bukunya sendiri, takkan mampu
menjelaskan seluk-beluk liku-liku praktik yang detil dan mendalam. Dan tentu
saja, buku itu *kan* tidak bisa melakukan observasi atau memberikan
petunjuk-petunjuk pada situasi serta kondisi yang spesifik.

Setiap praktisi pada dasarnya pasti unik, dan ada perubahan serta fluktuasi
terus menerus pada kondisi fisiologi, mental, *mood*, dan *chi* atau enerji
vitalnya. Beragam orang bereaksi terhadap situasi dengan cara beraneka-ragam
pula, sehingga diperlukan pelbagai metode bagi si guru untuk menanggapi
setiap situasi dari para murid tersebut. Lebih jauh lagi, situasi-situasi
serta tanggapannya, kendatipun nampak mirip atau bahkan mungkin kelihatannya
sama  bagi mata awam, musti tetap dipahami setiap waktu sebagai event-event
yang unik. Hanya seorang guru yang sungguh berpengalaman yang bisa mengamati
dan menginterpretasikan fenomena yang begitu kompleks dan terus berubah itu,
serta kemudian mampu memberikan petunjuk-petunjuk yang sesuai.



Apa Anda mau percaya kepada seorang dokter atau ahli bedah jika semua
pengetahuannya hanya berlandaskan dari membaca buku?

Setiap pasien pasti berbeda; kondisi serta penyakit pun terus berubah.
Dokter tidak bisa cuma mengandalkan pengetahuan dari buku, ia juga menimba
dari pengalaman praktik-langsungnya, dan dari apa yang mereka pelajari dari
orang lain. Para dokter memanfaatkan segala sumber daya yang mereka punya
guna menolong pasien-pasien. Demikian pula halnya dalam hal berlatih
Buddhadharma.

Begitu kalian mulai menjalankan praktik, kalian bakal menghadapi berbagai
situasi serta tantangan – aneka respon pada tubuh, ucapan dan pikiran –
hal-hal yang tadinya tidak pernah Anda kenal. Akan sungguh bodoh dan
berbahaya kalau hanya mengandalkan seluruhnya pada buku-buku untuk
menyelesaikan aneka macam pertanyaan dan persoalan tersebut.

Pertama, buku-buku itu *kan* tidak mempunyai semua jawaban; kedua, karena
jawaban-jawaban pada buku tersebut boleh jadi tidak sesuai dengan kondisi
spesifik Anda; dan yang ketiga, bisa saja Anda *salah* menafsirkan petunjuk
dalam buku tersebut. Maka dari itu, adalah penting bagi praktisi buddhis
yang serius – apakah jalurnya Tibetan, Zen, Ch'an, ataupun Sukhavati – untuk
mempunyai seorang guru yang berkwalitas di sisinya guna memandu, memberi
saran serta dorongan. Sementara itu, orang-orang yang sekedar praktik
musiman saja memang tidak perlu studi dan berlatih bersama dengan seorang
guru, meski seyogianya tetap juga dianjurkan.



Murid:

Apa peran seorang guru bagi para murid untuk menjalani tiga jalur praktik –
*sila*, *samadhi*, dan *prajna*?



Shifu:

Pertama-tama seorang buddhist musti mengambil Lima *Sila* (*Panca Sila* atau
*Five Precepts*) sebagai panduan dasar bagi perilakunya, yakni: tidak
membunuh, tidak mengambil barang yang bukan miliknya, tidak berbuat asusila,
tidak berbohong, dan tidak mengkonsumsi hal-hal yang melemahkan kesadaran.
Di level permukaan – atau mungkin bagi praktisi yang sekedar coba-coba – *
sila* ini nampaknya seperti gampang dan sederhana; namun bagi praktisi yang
serius, prinsip serta kedalaman seluk-beluk *sila* bisa menjadi lumayan
rumit, dan aneka pertanyaan pun pasti bakal muncul.

Oleh karena bagi beberapa praktisi, atau bagi orang-orang yang tidak kenal
dengan lingkungan budaya dimana Buddhadharma berkembang, karena merasa tidak
jelas tentang *sila*, maka banyak orang yang takut untuk mengambilnya.
Mereka bisa salah paham menganggapnya sebagai perintah agama yang
kaku; *padahal
sila seharusnya dipahami sebagai panduan-arah bagi perilaku kita*.
Orang-orang itu mungkin ragu tentang bagaimana cara menjaga kemurnian
*sila*mereka, atau bingung apakah mereka telah melanggar atau tidak;
atau
andaikata memang melanggar, bagaimana cara menghadapi kenyataan semacam itu.

Guru-guru yang piawai, apalagi mereka yang secara khusus menekuni praktik *
sila*, akan sangat paham dan berpengalaman tentang detil serta liku-likunya.
Mereka tahu jelas beda antara menjaga dengan melanggar sebuah *sila* di
pelbagai situasi yang berbeda. Sebagai misal, ada dua orang yang melakukan
atau atau mengucapkan hal yang meski kelihatannya sama, namun yang satu bisa
melanggar *sila* sementara yang lainnya tidak.



Demikian pula, kebanyakan orang tidak memahami dengan jelas tentang *samadhi
* – atau konsentrasi meditatif – aspek kedua dari praktik Buddhadharma. Di
beberapa kejadian, ada praktisi yang keliru menganggap bahwa keheningan
dangkal atau pikiran yang jernih sebagai keadaan mencapai *samadhi*, atau
bahkan pencerahan. Ini karena mereka tidak pernah mempunyai
pengalaman-langsung (*direct experience*) tentang *samadhi* atau pencerahan.
Apa yang diketahui cuma dari yang mereka baca di buku atau bayangan mereka
sendiri. *Seorang guru yang berkwalitas sangat diperlukan untuk
memverifikasi jenis, tingkat, serta ketulenan dari pengalaman-meditasi
tersebut. *

Guru berkwalitas yang pernah mengalami sendiri *samadhi* dan pencerahan
dapat menentukan keadaan pikiran sang murid dengan lewat mengamati
reaksi-reaksi mereka di aktifitas keseharian, ucapan, dan suasana batin
mereka. Dari observasi semacam itu seorang guru akan mampu menilai tingkatan
praktik serta pencapaian sang murid.



Selama bertahun-tahun, banyak murid-murid saya yang mendatangi saya, yakin
bahwa mereka telah mengalami *samadhi* atau pencerahan. Kebanyakan ternyata
keliru. Tapi hal tersebut *toh* tidak berkembang menjadi urusan yang serius
karena saya ada di situ untuk membetulkan pemahaman mereka serta memberi
panduan ke arah yang tepat. *Namun hal seperti itu bisa jadi berbahaya
manakala si praktisi terjatuh ke dalam "keadaan sesat" (demonic state)*.
Keadaan-sesat ini bisa bermacam-macam; dalam hal ini yang saya maksud
khususnya adalah: keadaan ketika si murid berkhayal (*delusively*) menyangka
bahwa mereka telah mencapai pencerahan, atau telah mengembangkan kesaktian.
Apabila mereka melekat-kuat pada delusinya itu, maka kemelekatannya itu
bakal menjadi penghalang besar bagi jalan praktiknya. Gangguan sesat
tersebut bisa timbul dari respon-respon fisik maupun psikologis terhadap
praktik mereka, dan hal demikian kadang urusannya ruwet dan tidak gampang.
Di permukaan, mereka yang sesat tersebut mungkin nampak sama saja dengan
praktisi yang lain, dan boleh jadi tidak sadar kalau sesat; namun manakala
kumat delusinya, mereka bisa merusak atau mencederai, baik dirinya sendiri
maupun orang lain. Pada kasus yang terburuk, ketika orang yakin sekali bahwa
mereka telah tercerahkan sempurna, acapkali mustahil bagi seorang guru untuk
menolongnya agar kembali ke jalur yang benar.



Murid:

Lalu bagaimana orang demikian itu bisa ditolong?

Shifu:

Tergantung karma mereka. Jikalau mereka punya akar karma yang bagus[1], bisa
nanti akhirnya menginsyafi bahwa mereka sesungguhnya tidak tercerahkan, atau
bahwa sebenarnya mereka tidak punya kesaktian.

*Kebijaksanan (wisdom) sejati adalah ketidakmelekatan (non-attachment). Ini
bukanlah pengetahuan (knowledge), bukan pandangan seseorang, bukan pula
kepintaran ataupun reaksi kesigapan.*

Pandangan-benar yang dijelaskan dalam Jalan Mulia Beruas Delapan bukanlah *
wisdom* yang sama dengan yang disebut sebagai *wisdom* tulen. *Wisdom* di
dalam pandangan-benar mungkin lebih baik kalau disebut sebagai
*wisdom*-kegigihan,
maksudnya adalah: kebijaksanaan yang bisa membuat seseorang untuk tetap
jernih tinggal dan bertahan pada jalan yang berlandaskan prinsip-prinsip
Buddhadharma. Sementara: *wisdom tulen itu berasal dari pengalaman-langsung
akan shunyata (kekosongan)*. Orang yang belum mengalami pencerahan maka dari
itu musti bersandar pada kebijaksanaan Sang Buddha sebagai panduan dan
penunjuk arah. Mendengarkan Buddhadharma adalah langkah awal buat
mengembangkan kebijaksanaan.



Buddhisme menyebut pengetahuan yang diperoleh dari mendengarkan Buddhadharma
sebagai "kebijaksanaan yang diperoleh dari mendengarkan."[2] Langkah
selanjutnya menumbuhkan "kebijaksanaan yang diperoleh dari merenung."
Akhirnya, apabila seseorang bisa menjalankan praktik dengan tekun, maka ia
bisa mencapai "kebijaksanaan yang diperoleh dari praktik [meditasi]." *Wisdom
yang tulen adalah: kebijaksanaan yang terakhir ini, dan datangnya
semata-mata yang berasal dari pengalaman shunyata.*



Murid:

Apakah Shifu bisa menjelaskan lebih lanjut perbedaan antara kebijaksanaan
yang diperoleh dari mendengar, dari berpikir atau merenung, dan yang dari
praktik?

Shifu:

Seseorang yang sudah mendengarkan dan bisa menerima Ajaran dasar Sang Buddha
seperti: Empat Kebenaran Mulia, Duabelas Matarantai Kemunculan Berkondisi,
dan Jalan Mulia Beruas Delapan – berarti telah mencapai kebijaksanaan yang
berasal dari "mendengarkan." Kemudian manakala ia meresapi dan merenungkan
prinsip-prinsip ini lewat analisa serta kontemplasi, maka ia mulai
mengembangkan kebijaksanaan yang berasal dari berpikir atau merenung. Pada
awalnya, kebijaksanaan tersebut masih merupakan buah dari pikiran yang
memilah-milah (*discrimination*) serta akal-budi (*reasoning*); namun suatu
waktu nanti ia bakal mengecap kebijaksanaan ini lewat kontemplasi-langsung (
*direct contemplation*). *Bagi pemula, apa yang baru saja saya jelaskan
mungkin nampak tidak masuk akal; namun pemikiran-intelektual (intellectual
thinking) memang beda dengan kontemplasi-langsung. Perbedaan ini hanya bisa
dikenali semata-mata lewat praktik-meditasi. *

Yang terakhir, adalah kebijaksanaan yang diperoleh langsung dari praktik,
kebijaksanaan yang tertinggi, yang tulen, atau pengalaman
*shunyata*(kekosongan).
*Wisdom-tulen itu memang boleh dibilang asalnya adalah semata-mata dari
hasil praktik-meditasi saja, namun penting untuk dipahami bahwa pencapaian
tersebut tetap dibangun dari kebijaksanaan yang dikembangkan lewat mendengar
serta merenung.* Di tiap-tiap level ini diperlukan petunjuk dari seorang
guru yang berpengalaman. Awalnya kita bisa belajar dari membaca buku, namun
ketika hendak berlatih secara serius, diperlukan bantuan dari seorang guru.



Murid:

Bagaimana sebaiknya cara memilih seorang guru? Adakah petunjuk tertentu buat
membantu kita memutuskan bahwa orang itu memenuhi syarat untuk mengajar atau
tidak?

Shifu:

Guru yang baik musti punya pengetahuan serta pemahaman yang benar, menjaga
kemurnian silanya, punya kemampuan membimbing orang lain, dan penuh
welas-asih. Dengan kwalifikasi seperti itu, ia paling tidak bisa mengajari
praktisi pemula. Akan tetapi, para praktisi serius mesti mencari seorang
guru yang "matanya terang" – seseorang yang pernah mengalami-langsung *
wisdom* yang tulen. Hanya guru-guru yang punya pengalaman pencerahanlah yang
bisa melihat bahwa seseorang sudah punya pengalaman *shunyata* atau tidak.
Tanpa punya pengalaman-langsung-*shunyata* sendiri, seorang guru bisa keliru
menyangka keadaan pikiran yang jernih atau *samadhi* sebagai pencerahan.

Guru-guru yang tidak memiliki pengalaman pencerahan takkan bisa membimbing
orang ke praktik yang mendalam. Pun, andaikata daya *samadhi* mereka sangat
kuat, mereka hanya akan bisa mengajar sampai tingkatan yang pernah mereka
capai; pencapaian tersebut hanya ibarat seperti sebutir batu yang berendam
dalam air dingin, atau hantu yang duduk di dalam gua gelap di tengah gunung.
[3] Ya, bagaimana bisa seseorang membimbing oranglain untuk mencapai suatu
tingkatan yang mereka sendiri belum pernah capai? Dan, kalaupun seandainya
si murid kemudian barangkali mengalami pencerahan, si guru itu sendiri
*toh*tidak punya pengalaman pribadi langsung guna mengkwalifikasi
pencapaian
tersebut.



Murid:

Mengapa terkadang orang berganti guru Dharma?

Shifu:

Kalaupun itu terjadi, biasanya oleh karena si murid tidak puas dengan
praktik mereka sendiri. Barangkali karena mereka merasa macet pada keadaan
tertentu dan tak tahu lagi bagaimana cara melewati celah sempit itu. Buat
memecahkan situasi pribadinya, boleh juga mereka pergi ke tempat lain guna
mencari pertolongan. Dalam perjalanan itu, bisa saja seorang guru tertentu
menolong menjernihkan jalan ataupun mengganti arah mereka. Ini sebuah
indikasi, paling tidak sejauh ini, bahwa guru tersebut memang memenuhi
syarat buat mengajar si murid.

------------------------------

[1] Tradisi Ch'an atau Buddhisme China umumnya: mengistilahkan seseorang
yang punya bakat baik, yang telah banyak melakukan kebajikan, dengan kata
lain: yang punya banyak pahala (*merit* atau *parami*), sebagai: orang yang
mempunyai akar karma mendalam atau tajam (*deep and sharp karmic root*) –
ed.

[2] Istilah "mendengarkan" di sini adalah termasuk pengetahuan yang didapat
dari "membaca" – karena jaman dahulu belum ada buku – ed.

[3] Istilah dalam tradisi Ch'an untuk menunjukkan seseorang yang praktiknya
hanya mandeg pada level *samadhi* – ed.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke