---------- Forwarded message ---------- From: Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jun 8, 2008 6:50 AM Subject: telek anjing (2) To: ramu dharmajala <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Cc: tony dharmawan <[EMAIL PROTECTED]>, Robby C < [EMAIL PROTECTED]>, Nyanabhadra <[EMAIL PROTECTED]>, ZiHao Chen <[EMAIL PROTECTED]>, Jimmy Lominto <[EMAIL PROTECTED]>, Chang Tho Shi <[EMAIL PROTECTED]>, Nyanagupta <[EMAIL PROTECTED]>, Yenny <[EMAIL PROTECTED]>, Junarto M Ifah <[EMAIL PROTECTED]>, siwu < [EMAIL PROTECTED]>, Liana chia <[EMAIL PROTECTED]>, Juliani < [EMAIL PROTECTED]>, Merita123 <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Tonny Chua <[EMAIL PROTECTED]>, yessy ayu < [EMAIL PROTECTED]>, Wilis Rengganiasih <[EMAIL PROTECTED]>, sanjaya < [EMAIL PROTECTED]>, ekayana <[EMAIL PROTECTED]>, Agus Santoso < [EMAIL PROTECTED]>, Susi <[EMAIL PROTECTED]>, Sri Lestari < [EMAIL PROTECTED]>, Suryati Bong <[EMAIL PROTECTED]>
Akhirnya Aranyabho memutuskan bahwa: ia musti lepas-jubah. Karena ia baru beberapa bulan saja tinggal di biara ini, maka Ajahn Chah membiarkannya dengan mudah. Aranyabho lalu naik kereta ke Bangkok, namun hanya beberapa hari kemudian ia balik lagi. Tidak jadi pergi. Tapi ia tetap tidak bisa mengambil keputusan. Kemudian ia tinggal di biara cabang, dan kembali lagi ke Wat Bah Pong beberapa minggu kemudian. Ia bercerita kepada saya bahwa [di biara cabang tsb] setiap pagi ia pergi menghadap kepala-biaranya, menyatakan bahwa ia mau lepas-jubah, sang kepala-biara menjawab oke, silakan berkemas dan pergi ke Wat Bah Pong [untuk melapor]. Tetapi soreharinya ia akan bilang bahwa ia hendak tetap tinggal di situ saja, sang kepala-biara juga akan menjawab oke, silakan. Akhirnya ia memang sungguh mengemasi barangnya dan menghadap ke Ajahn Chah, akan tetapi tatkala sampai di Wat Bah Pong, pikirannya pun berubah lagi. Ia kembali ke biara cabang itu dan bertahan selama masa *vassa*--lalu benar-benar lepas-jubah setelah itu. Dalam waktu 2 tahun ia datang lagi, menjadi lebih tua dan lebih bijak. Kali ini Ajahn Chah memelintirnya habis-habisan. Dikatakan: Aranyabho tidak bakal beliau tahbiskan hingga sampai usianya 60 tahun. Ia musti mengenakan jubah-putih anagarika, menjalankan *astasila *10 tahun--baru boleh ditahbiskan menjadi samanera. Sebagai samanera minimal 8 tahun, baru kemungkinan akan ditahbiskan sebagai bhikkhu. Aranyabho diam saja bersimpuh di situ, sementara Ajahn Chah terus menggertak dan melecehkannya. Ia menunggu dengan patuh. Pada suatu siang, saya barusan pulang dari biara Bung Wai. Aranyabho habis membersihkan pispot-ludah Ajahn Chah. Begitu ia meletakkannya kembali, Ajahn Chah langsung memuntahkan seonggok merah bekas nginang, pispot disodorkannya lagi ke Aranyabho--dengan wajah ketus beliau berkata, "bersihkan, *tuh.*" Ketika Aranyabho selesai, ia ditanya: apakah hal tadi membuatnya marah. Ia menjawab bahwa tadi itu tidaklah buruk-buruk amat, karena sewaktu di Inggris ia bekerja di rumah jompo--tugasnya membersihkan bagian belakang tubuh pasien-pasien. ... (bersambung) [Non-text portions of this message have been removed]
