---------- Forwarded message ---------- From: Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jun 8, 2008 7:44 AM Subject: telek-anjing (3-selesai) To: ramu dharmajala <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Cc: tony dharmawan <[EMAIL PROTECTED]>, Robby C < [EMAIL PROTECTED]>, Nyanabhadra <[EMAIL PROTECTED]>, ZiHao Chen <[EMAIL PROTECTED]>, Jimmy Lominto <[EMAIL PROTECTED]>, Chang Tho Shi <[EMAIL PROTECTED]>, Nyanagupta <[EMAIL PROTECTED]>, Yenny <[EMAIL PROTECTED]>, Junarto M Ifah <[EMAIL PROTECTED]>, siwu < [EMAIL PROTECTED]>, Liana chia <[EMAIL PROTECTED]>, Juliani < [EMAIL PROTECTED]>, Merita123 <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Tonny Chua <[EMAIL PROTECTED]>, yessy ayu < [EMAIL PROTECTED]>, Wilis Rengganiasih <[EMAIL PROTECTED]>, sanjaya < [EMAIL PROTECTED]>, ekayana <[EMAIL PROTECTED]>, Agus Santoso < [EMAIL PROTECTED]>, Susi <[EMAIL PROTECTED]>, Sri Lestari < [EMAIL PROTECTED]>, Suryati Bong <[EMAIL PROTECTED]>
Aranyabho ditahbiskan menjadi bhikkhu setahun kemudian; namun Ajahn Chah masih saja terus memberinya puntiran. Ketika ia memohon untuk boleh ke biara Bung Wai--tempat dimana sebenarnya bhikkhu-bhikkhu Barat lainnya tinggal--ia ditolak; meski di sisi lain Ajahn Chah mendorong kawan-kawan yang lain agar pergi ke sana. Sebaliknya ia justru dikirim ke sebuah kuil di Ayuthaya untuk masa *vassa*. Nampak ia sudah berhasil menuntaskan kegelisahannya--ia menurut kemanapun Ajahn Chah perintahkan pergi. Setelah *vassa *ia kembali ke Wat Bang Pong tempat saya dan bhikkhu-bhikkhu bule lainnya tinggal. Suatu hari saya mengunjungi *kuti* Ajahn Chah. Aranyabho ada di situ, wajahnya kelihatan tersipu kecut sejalan dengan cacimaki Ajahn Chah yang luwes. Begitu saya duduk Ajahn Chah menggumam, "Aranyabho mengantongi telek-anjing." Saya tidak menjawab apa-apa, cuma diam menanti penjelasan. "Aranyabho mengantongi telek-anjing. Ia pergi ke suatu tempat, duduk, tapi ada bau-busuk, maka ia pun berpikir, hmmm .. , tempat ini tidak bagus. Ia lalu berdiri, pindah ke tempat lain ... Ia tak sadar bahwa ia mengantongi tahi kemana-mana ..." Orang-orang tiada pernah sakit-hati ketika beliau bicara macam begitu kepada mereka, karena kami semua tahu bahwa hal ini datang dari hati yang murni dan penuh kasih; beliau sekedar menawarkan ke kita, di situ dan saat itu juga, solusi tegas dan jelas bagi masalah-masalah kita--sesuatu yang jelas telah beliau praktikkan sendiri. Kata-kata serta seluruh keberadaannya sekedar mengisyaratkan: lepaskan (*let go*)--sekarang juga. ... ~Venerable Father--hidup bersama Ajahn Chah, hal 54, Paul Breiter (Varapanyo). [Non-text portions of this message have been removed]
