Namo Buddhaya teman-teman,

Numpang permisi mau ikut update
mengenai perkembangan kondisi Vanessa di Singapore, yang mungkin
bermanfaat dan menggembirakan untuk diketahui oleh para donatur dari
DKD setelah mendapat kabar dari DKD, teman2 IBC-Sing (Indonesian Buddhist 
Community in Singapore) juga membuka kota dana bantuan dan pada hari Jumat 29 
Aug, telah terkumpul dana sebesar $1800 yang langsung diserahkan pada orang tua 
Vanessa sebelum operasi.

Untuk sementara, Vanessa dan kedua orang tuanya tinggal di tempat salah seorang 
teman IBC. Mengingat kondisi keuangan mereka yang masih berat, kami dari IBC 
akan tetap membuka kotak dana untuk teman-teman di Singapore dan juga akan 
mengusahakan akomodasi untuk keluarga Vanessa sampai pengobatan selesai. 
Perkembangannya sudah cukup baik dan semoga Vanessa mendapatkan kesembuhan.

Berikut saya postkan update yang ditulis oleh Sdr. Gimun Sulaiman dari IBC dan 
juga beberapa foto kunjungan anak2 IBC pada hari minggu kemaren ke keluarga 
Vanessa.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Mettacittena,
Luis

Update Vanessa - 1 Sept 2008
Dear All,

Update Vanessa:

29 Aug 2008:
Operasi
pencangkokan kornea mata dimulai jam 14:00 dan kemudian selesai hampir
3 jam kemudian. Vanessa harus nginap di rumah sakit satu malam. Ketika
kita jenguk pada malam harinya, mata Vanessa telah selesai dioperasi
dan tidak menunjukkan tanda2 komplikasi. Namun, pada hari ini Vanessa
tidak boleh duduk sama sekali, harus selalu berbaring. OPERASI MATA
VANESSA berhasil dengan sukses. Terima kasih kepada teman-teman yang
telah mendoakan Vanessa.

30 Aug 2008
Vanessa meninggalkan rumah sakit dan tinggal di rumah salah satu rekan IBC di 
daerah Hougang.

31 Aug 2008
IBC
mengunjungi Vanessa di Hougang dan terus terang Vanessa sudah seperti
anak-anak kecil lainnya. Ceria, penuh tawa dan tidak merasakan gangguan
dimatanya. Tawa dan canda riang Vanessa menghangati sore yang dingin
karena kebetulan pada sore itu hujan deras mengguyur Hougang begitu
kita sampai di rumah rekan kita. Pada sore itu juga salah satu rekan
kita yang tinggal di JB menawarkan keluarga Vanessa untuk tinggal di
Johor Bahru seandainya Vanessa cuma perlu dikontrol seminggu sekali.
Ini untuk membantu menekan biaya hidup. Hal ini akan dibicarakan lebih
lanjut setelah Vanessa menjalani kontrol pertama besok, 2 September
2008 di SNEC.

Dalam kesempatan ini juga, saya mewakili kedua
orang tua Vanessa mengucapkan terima kasih kepada semua donatur.
Bersama email ini, saya lampirkan foto Vanessa dan kedua orang tuanya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta.

--
Gimun Sulaiman

* UNtuk melihat foto vanessa beserta keluarga dapat mengakses LInk 
DhammaCitta.org  => http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=4174.new#new


--- Pada Sab, 23/8/08, felix thioris <felixthioris@ yahoo.co. id> menulis:
Dari: felix thioris <felixthioris@ yahoo.co. id>
Topik: [MUBI] [Help] DKD: Kotak Dana Vanessa, 4 th, Transplantasi Kornea Mata 
Kanan
Kepada: "MUBI" <[EMAIL PROTECTED] com>
Tanggal: Sabtu, 23 Agustus, 2008, 11:41 PM








            Para donatur yang budiman, sekuntum teratai untuk anda semua, para 
calon Buddha.

 

Vanessa,

4 thn, anak tunggal dari Dedi dan Liny (saat ini tinggal bersama di

rumah ayah dedi, di gang semangka no 3, tomang, jakbar). Mata kanan

Vanessa, tepatnya pada bagian kornea, rusak parah. Setelah dilakukan

pemeriksaan secara intensif oleh dokter, bagian retina dan syaraf mata

yang lain masih cukup bagus.

Karena kornea sudah rusak, diperlukan

operasi transplantasi kornea di Singapore National Eyes Center dengan

lebih kurang SGD 8000. Operasi akan dilakukan pada tanggal 29 Agustus

2008, setelah itu harus menjalani kontrol selama sebulan.

 

Orang

tua Vanessa adalah karyawan pada perusahaan swasta yang sama, tanpa

cover asuransi. Untuk kesembuhan Vanessa, mereka telah berusaha selama

1.5 tahun diberbagai rumah sakit di Jakarta. Kronologisnya diceritakan

secara detail oleh mama Vanessa (terlampir dibawah email ini).

Saat

ini, Vanessa masih kecil, Vanessa tetap ceria, mungkin karena dia belum

mengerti dengan jelas apa yang menimpanya saat ini. Bila Vanessa sudah

lebih dewasa dan kondisinya tetap seperti ini apakah dia bisa masih

tetap ceria?

 

DKD telah mensurvey kasus ini minggu lalu dan

terharu melihat komitmen yang kuat dari orangtua Vanessa untuk

kesembuhan anaknya. Mereka telah melakukan semua hal didalam jangkauan

mereka dan sejauh ini, belum ada hasil yang berarti. Operasi ini adalah

harapan mereka agar mata kanan Vanessa dapat melihat kembali secara

normal.

 



 

Anumodana. Semoga kita bisa membantu Vanessa agar mata kanannya bisa terbuka 
kembali.

Semoga dia bisa mendapatkan kesembuhan.

 

Berikut adalah kronologisnya, seperti yang diceritakan oleh mama Vanessa, Liny.

Berawal

tanggal 02 desember 2006, sabtu pukul  15.00 WIB. Kami di rumah sedang

bersih-bersih mengunakan cairan soda api yang kami letakan di ember

plastic, saat itu Vanessa turun dari kamar atas. Segera oma berniat

membuang cairan tersebut karena mengetahui betapa membahayakannya

cairan tersebut. Akan tetapi tiba-tiba hanger ember patah dan ember

jatuh ke lantai sehingga cairan itu terpercik kemana-mana, saat itu

Vanessa yang sedang duduk diam (tidak melakukan kegiatan apa-apa) pada

jarak -/+2meter dari tempat kejadian juga terkena percikan tepat di

mata sebelah kanannya.

 

Saat itu kami segera ke RS. AINI

(rumah sakit khusus mata), tiba di rumah sakit dokter langsung

mengambil tindakan dengan menyemprotkan cairan ke bola matanya

(membersihkan) . Setelah tindakan tersebut dokter berkata “sudah

terlambat��?cairan tsb sudah merusak dalam hitungan detik, seperti putih

telur kena panas langsung keruh. Malam itu Vanessa di rawat karena

dokter ingin menetralizir cairan tersebut agar tidak semakin dalam

merusak jaringan matanya.

Dari RS. AINI dengan perasaan hancur

kami bawa Vanessa pulang ke rumah, dokter memberikan beberapa macam

obat untuk kami terus tetes 1 jam sekali. Dari situ kami terus berusaha

bertanya kepada rekan-rekan, dan saudara-saudara kemana kami harus

mengobati Vanessa.

Ada sepupu yang memberitahukan pada kami bahwa

di Singapura  RS. Mount Elizabeth (Rumah sakit yang terkenal mahal dan

besar itu, mendengarnya saja ngeri) katanya si sana ada dokter ahli

kornea yg bagus Dr. Donald Tan, tapi saat itu kami bertanya padanya

kira-kira biayanya berapa? (Karena dia telah menjalani kasus serupa dan

berhasil) dia mengatakan biaya yang telah di keluarkan saat itu  -/+

Rp.100.000.000, - (tahun 2000). Itu merupakan biaya yang sangat besar

bagi kami yang suami-istri hanya sebagai pegawai biasa di salah satu

perusahaan swasta apalagi kami tidak punya asuransi baik pribadi maupun

dari perusahaan tempat kami bekerja. 

 

Saat itu kami  hanya

sanggup membawa Vanessa ke dokter-dokter ahli kornea-mata di Jakarta

sampai ke Dr.Istiantoro di Jakarta Eye Center yang cukup terkenal.

Selama mengalami pengobatan -/+10bulan, kami melihat keadaan mata

Vanessa bukan makin membaik malah makin mengecil. (Karena kelopak

matanya semakin hari semakin menempel dan matanya tidak terbuka

maksimal lagi). Kemudian dokter menganjurkan kami melakukan general

check-up untuk Vanessa dalam keadaan di bius total. Setelah selesai

dokter berpendapat “Sudah tidak tertolong lagi, bolamata Vanessa sudah

mengecil, dan menjadi rusak.”�?

Sampai satu hari ada teman kantor

yg memberikan Koran KOMPAS bekas yg isinya iklan rumah sakit pemerintah

di Singapura di pojok kanan bawah tertera telpon perwakilan RS tersebut

di Jakarta, Medilink. Kami segera menghubungi ke sana dan mereka

merekomendasikan Singapore National Eye Centre (SNEC) yang biasa

menanggani kasus2 mata berat seperti ini. Kemudian saya teringat dan

bertanya “Apakah Dr. Donald Tan praktek di SNEC?��?, ternyata Dr. Donald

Tan ini adalah Dokter Kepala di RS. SNEC, kemudian mereka minta kami

mengirimkan “medical record��?Vanessa terlebih dahulu.

 

Sampai

September 2007 kami dapat jawaban dari sana, bahwa seluruh conjungtiva

dan cornea Vanessa memang sudah rusak berat (terbakar) sehingga untuk

proses pemulihan membutuhkan biaya yang cukup besar -/+ Sing $15.000

(estimasi biaya saat itu), kemungkinan penglihatannya akan kembali 90%

(dalam arti huruf-huruf besar vanessa akan bisa lihat kemudian terus di

terapi sampai kembali 100% penglihatannya) , sebagai orangtua kami

gembira bahwa masi ada harapan Vanessa dapat sembuh, saat itu juga kami

bertekad untuk meminjam uang pada bank dan meminta rekomendasi dari

perusahaan kami bekerja. Akhirnya bank memberikan pinjaman Rp.

50.000.000,- yang dicicil selama 36 bulan yang di potong dari gaji kami

Rp. 2.000.000,-/ bulan. Akhirnya kami mengurus paspor, tiket, dan sewa

apartement murah yang di rekomendasikan  oleh Medilink untuk ke

Singapura.

Sampai di Singapura Vanessa menjalani general check-up

yang luar biasa canggih sampai ke saraf mata ke otak yang kami bisa

lihat sendiri (di layar komputer) kalau saraf mata itu masih bergerak

tapi lemah (karena lama tidak di gunakan), setelah itu dokter

menyatakan masih ada harapan, hanya perlu beberapa kali tindakan sampai

ke transplantasi kornea.

 

Tindakan-tindakan yang akan dilakukan dokter :



 

 1. Mengambil selaput bibir bagian dalam dan selaput mata kiri yang

sehat, untuk di kembangbiakan selama tiga minggu guna di cangkokkan

pada saat pembedahan kelopak mata yang terlanjur melekat ke bola mata

dan membuat lensa pembatas untuk membatasi kelopak yg akan di operasi

dengan bola mata. Biaya yang dikeluarkan Sing $885.



 



 

 2. Setelah tiga minggu berkembangbiak Vanessa kembali datang untuk

menjalani operasi bedah buka kelopak mata kemudian lensa tersebut di

pasangkan di mata kanannya. Biaya yang di keluarkan Sing $ 3350.



 



 

 3. Mengambil selaput bibir bagian dalam dan selaput mata kiri yang

sehat, untuk di kembangbiakan selama tiga minggu guna transplantasi

kornea. Biaya yang di keluarkan Sing $1145.



 Transplantasi kornea. Biaya yang akan dikeluarkan +/- Sing $8850. 

Sudah

hampir 1 tahun kami membawa Vanessa berobat jalan ke singapura

(bolak-balik) , hampir tiap bulan saya(mama) dan Vanessa ke singapura

karena dokter mau melihat perkembangan mata Vanessa, hanya saya (berdua

dengan Vanessa)  karena kami harus hemat biaya, perjalanan ke Singapura

itu pun saya lakukan lewat Batam. Saat ini pengobatan Vanessa mendekati

FINAL tgl 29 Agustus 2008 dokter menyatakan Vanessa siap untuk

melakukan Transplantasi Cornea +/- Sing $8850, setelah di hitung-hitung

dana yang kami pinjam kemarin ternyata kurang, dan kami coba untuk

mengajukan pinjaman lagi ke bank. Dan kami mendapatkan pinjaman sebesar

Rp. 20.000.000,- sehingga saat ini kami hanya punya sing $-/+3000. Kami

semakin bingung setelah dokter mengatakan Vanessa harus tinggal di

singapura (biaya yang besar untuk tinggal disana) selama 1 bulan

setelah operasi untuk menindak lanjuti kemungkinan- kemungkinan yang

terjadi setelah transplantasi (karena menurut dokter kornea yang di

cangkokkan itu benda asing buat tubuh Vanessa, sekecil apapun penolakan

itu mesti ditangani secara dini).

Dengan keterangan di atas kami

mohon kiranya saudara-saudara bisa membantu meringankan beban kami

untuk biaya pengobatan Transplant cornea Vanessa. Terima Kasih.

Kirim email ke