Hallo para netters,
Posting soal teriakan ini bukan sesuatu yang baru. Mungkin diantara para
netters sudah pernah mendapatkan forward-an seperti ini. Saya sendiri lupa
sudah berapa kali tapi pernah dapat. Sebelumnya saya hanya baca sekilas dan
setelah itu saya delete. Tetapi kali ini saya coba kupas sedikit untuk
sama-sama melihat soal teriak-teriak ini :).
Diceritakan bahwa setelah meneriaki paling tidak 40 hari berturut-turut
dengan tiap harinya berjam-jam, maka pohon itu akan jadi lebih mudah
ditebang karena tanda-tanda kehidupan menurun seperti daun mengering, dahan
patah dan akhirnya pohon mati. Kemudian dibawahnya langsung dikaitkan dengan
kebiasaan orang-orang saling berteriak satu sama lain.
Teriakan seperti:
- Ayo cepat!
- Dasar lelet!
- Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
- Jangan main-main disini!
- Berisik !
Ini ekspresi orangtua yang sedang tidak sabar menghadapi anaknya.
- Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak!
- Bodoh banget jadi bini nggak bisa apa-apa !
- Aduuuuh, perempuan kampungan banget sih!?
- Dasar laki gak punya nyali, ngapain lu jadi suami, nggak becus!
Ini ekspresi dari pasangannya yang sedang merasa kecewa kepadanya.
- Stupid,
- soal mudah begitu aja nggak bisa!.
- Kapan kamu mulai akan jadi pinter?
Ini ekspresi dari guru yang sedang tidak sabar menghadapi anak didiknya.
- Eh tahu nggak? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
- Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?
Ini ekspresi dari bos yang lagi kecewa berat dengan pegawainya.
Semua ekspresi ini menunjukkan ketidakmampuan seseorang mengatasi hal yang
sedang dihadapinya. Yang muncul adalah kemarahan. Marah adalah sebuah bentuk
emosi.
Saya coba kutip lagi beberapa kalimat dari posting soal teriak-teriak itu:
"Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh
jaraknya, bukan ?"
Mungkin teman2x juga tahu ya, tidak selalu seperti ini. Kadang kala orang di
sekitar kita ada yang dalam bahaya tapi tidak tahu. Kita secara spontan
berteriak untuk mengingatkan atau menghentikannya.
"Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat
tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling
berteriak!"
Apakah ini soal jarak? Apakah ini bukan soal pengendalian diri?
"Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai
mematikan roh pada orang yang kita teriaki. Kita juga mematikan roh yang
mempertautkan hubungan kita."
Apakah ini hanyalah sebuah kesimpulan dari sang penulis email soal teriak?
Apa yang diajarkan penduduk pulau Solomon? Diawal hanya diceritakan bahwa
mereka kesulitan menebang pohon dan dengan 40 hari teriak2x maka pohon
menjadi mudah ditebang. Mungkin bisa dicoba di sini kalo susah nebang pohon,
kita teriakin aja pohon itu selama 40 hari berturut-turut.
Coba kita lihat ekspresi2x dari orangtua, pasangan, guru maupun bos.
Ekspresi ini tertuju pada pribadi orang yang dimarahi bukan? Misal seseorang
berusaha membuka kunci dengan anak kunci yang salah. Kita tahu anak kunci
yang benar untuk membuka pintu itu tapi apa yang akan kita katakan?
A: "Bego banget sih kamu, buka pintu aja pake anak kunci yang salah!"
B: "Hei, kamu pake anak kunci yang salah. Coba deh dengan anak kunci ini."
Ekspresi A keluar karena adanya emosi kemarahan dan kemarahan itu ditujukan
ke orangnya.
Ekspresi B keluar karena adanya kasih kepada orangnya dan memberitahu dia
supaya dia keluar dari kesulitan dia.
2 ekspresi yang berbeda bukan? :)
Jadi marah itu boleh-boleh aja kah?
1 cerita lagi yang mungkin para netters pernah baca atau tahu. Saya
ceritakan ulang, tidak persis, tapi esensinya sama.
Ada seorang pertapa sedang semedhi di tepi sungai. Dia mendengar suara air
kecipak-kecipuk dan melihat seekor kepiting tengah berjuang agar tidak
terseret kuatnya arus sungai. Tergerak oleh belas kasih, dia julurkan jari
tangannya supaya kepiting itu ada pegangan dan menariknya keluar dari arus.
Jarinya terluka tapi dia merasa tidak apa karena bisa menolong hidup sang
kepiting. Kemudian kejadian kedua dan ketiga kalinya lagi. Seorang tua yang
berada dekat di sana menyaksikan semua ini dan menunjukkan kepada pertapa
itu bagaimana dengan ranting yang ada disekitar situ bisa juga dijadikan
pegangan capit kepiting sehingga dia bisa menolong kepiting tanpa harus
melukai jarinya. Seketika itu juga pertapa itu tercerahkan.
Apakah cerita di atas ada hubungannya dengan cerita teriak-teriak tadi? Mari
kita renungkan bersama-sama.
Semoga para netters bisa menarik manfaat dari tulisan ini.
Salam dalam kasih,
-------------------------------------------
T E R I A K
Posted by: "S1D" [EMAIL PROTECTED] phoenix_fo
Tue Sep 16, 2008 11:30 pm (PDT)
Ini cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang
tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.
Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang
menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa ? Kebisaan ini ternyata mereka
lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan
sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lalukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya
adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat
hingga ke atas pohon itu.
Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada
di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu.
Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh
hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki
itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu
dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan
mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka
telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap
mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut
kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah,
sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk
primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang
jelas, ingatlah
baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu
maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?
- Ayo cepat!
- Dasar lelet!
- Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
- Jangan main-main disini!
- Berisik !
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena
Anda merasa sakit hati?
- Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak!
- Bodoh banget jadi bini nggak bisa apa-apa !
- Aduuuuh, perempuan kampungan banget sih!?
- Dasar laki gak punya nyali, ngapain lu jadi suami, nggak becus!
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
- Stupid,
- soal mudah begitu aja nggak bisa!.
- Kapan kamu mulai akan jadi pinter?
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal:
- Eh tahu nggak? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
- Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?
Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa
jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh
penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali
kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita
teriaki. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita.
Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita,
perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan
hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah
untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita
perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh
jaraknya, bukan ?
Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka
dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka
harus saling berteriak!
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha
melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan
dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita
ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang
yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah
menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin
segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah
berteriak.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin
dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus
berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
Mereka yang bekerja hanya dengan otak tanpa menggunakan hati nurani
mereka, maka ia akan mendapat teman-teman kerja yang mati hatinya.s
------------------------------------
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo!
Groups Links