Halo saudara Gunadipo, salam kenal yah.
Namo Buddhaya, Amitofo.

Demikianlah yang saya rasakan, diantara semua yang berlabel agama tidak
kutemukan yang lebih toleransi dalam menerima tradisi, adat istiadat, yang
dapat ditimbang melalui kebijaksanaan maupun kepintaran, daripada yang
berlabel agama Buddha.

Mungkin saudara Gunadipo bisa sharing contoh yang dimaksud sehingga banyak
saudara-saudara kita yang dapat memberikan masukan, sharing satu dengan yang
lain, kenapa dikatakan agama Buddha tidak toleran dengan tradisi.

Demi perkembangan agama Buddha yang selaras Buddha Dhamma, seharusnya kita
lebih memperhatikan praktik Dhamma yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pendapat saya pribadi: banyak sekali umat Buddha yang mengerti akan
teori Dhamma bahkan sampai tahu bagaimana karma berbuah, namun realitanya
kehidupan yang dijalankan sehari-hari tidak menunjukan apa yang diketahui
dan dipelajarinya, contoh: berpikir benar (Dhammapada pertama kali
mengutarakan hal ini: Pikiran adalah Pelopor, Pikiran adalah Pemimpin,
Pikiran adalah Pembentuk, pikiran adalah menjadikan, bila seseorang berpikir
baik maka kebahagiaan akan selalu menyertainya bagaikan bayang-bayang yang
tidak pernah meninggalkan bendanya, sebaliknya bila seseorang berpikir buruk
maka penderitaan akan selalu mengikatnya bagaikan roda pedati yang selalu
mengikuti keretanya kemanapun pergi.
Pada realitanya, banyak umat Buddha tidak tahu praktek nyata dari hal ini
sehingga mereka sering frustasi, putus asa, merasa selalu menerima karma
buruk, selalu rendah diri dan sebagainya.
Sedangkan umat dari agama lain, walaupun mereka tidak mengerti akan teori
diatas, bahkan tidak mengerti akan buah karma yang dilakukan seseorang,
namun pada realitanya mereka selalu positive thinking, mereka selalu
berpikir baik, mereka selalu optimis akan kehidupan, mereka merasa selalu
bahagia, mereka selalu mengerjakan sesuatu dengan bangga dan kebahagiaan,
yang walaupun dilakukan dengan konsep yang "membuta" sekalipun, sehingga
mereka menjadikan hidupnya lebih baik dan lebih baik lagi.
Inilah salah satu contoh dari banyak kejadian nyata dalam kehidupan
sehari-hari (inilah pendapat saya kenapa banyak orang berlabel agama Buddha
pindah ke agama lain).

Mengenai untuk melengkapi tradisi, seharusnya seorang siswa Buddha dituntut
untuk mempunyai mata kebijaksanaan, mata kepintaran dalam menimbang bahwa
apakah tradisi yang dilakukan ini baik dan bermanfaat atau sebaliknya atau
bahkan tidak menghasilkan apa-apa namun hanya menyita waktu dan sia-sia pada
akhirnya.
Sebagai satu contoh: Didaerah tertentu ada yang mempunyai tradisi
turun-temurun dari nenek moyangnya yang sudah ribuan tahun dan dianggapnya
sacral, suci, dan harus dilaksanakan dan bila tidak akan mendatangkan
bencana besar, dimana untuk setiap tahunnya diharuskan membunuh makhluk
hidup (binatang) yang dijadikan sebagai korban persembahan kepada yang
dianggap yang Mutlak.
Kita sebagai siswa Buddha dituntut untuk mempunyai mata kebijaksanaan untuk
menimbang dengan hati murni (hati nurani), hati yang bersih, kepintaran,
apakah tradisi tersebut harus dikembangkan atau sebaliknya atau bahkan
diubah sehingga mendatangkan berkah mulia kepada umatnya (penduduknya),
inilah siswa Buddha seharusnya bertindak.

Satu contoh lagi: Di Afrika, mereka mempunyai tradisi yang kental dan turun
temurun ribuan tahun lamanya, dan tradisi ini harus dilaksanakan bila tidak
dilaksanakan maka akan dikutuk sebagai pembawa petaka datangnya bencara
besar bagi seluruh desa dan penduduknya, tradisi mengharuskan setiap wanita
harus di Sunat (dengan membuang genital wanita clitoris), dan ini harus
dilaksanakan untuk setiap wanita selaku penduduk desanya.
Kita sebagai siswa Buddha dituntut harus mempunyai mata kebijaksanaan
menilai apakah perbuatan seperti ini baik dan membawa manfaat atau tidak
baik atau tidak mempunyai pengaruh apapun dan sia-sia atau bagaimana, inilah
yang dituntut agar siswa Buddha mengembangkan kebijaksanaan.

Tradisi yang turun temurun dan berumur ribuan tahun lamanya, belum tentu itu
baik, juga belum tentu itu jelek, maka dari itu guru Buddha selalu
mengedepankan Ehipasiko, Wisdom, Loving kindness, dan holy.
Untuk memiliki Ehipasiko, Wisdom, Loving kindness dan holy, siswa Buddha
dituntut untuk belajar dan mengembangkan Samadhi Benar, tanpa melalui
Samadhi benar adalah hal yang mustahil seseorang memiliki Wisdom dan holy.
Dengan Pemurnian pikiranlah seseorang akan timbul kebijaksanaan (Wisdom).

Jadi mengenai apakah ajaran Buddha dijadikan pelengkap tradisi? Saya pribadi
merasa seharusnya statement ini diubah dengan statement: seharusnya ajaran
Buddha dijadikan dasar pemahaman suatu tradisi, dengan Wisdom, Loving
kindness, Ehipasiko, dan holy, maka suatu tradisi tersebut akan mengalami
suatu evolusi baru yang dituntut akan perubahan kearah yang lebih baik dan
inilah yang dapat mendatangkan berkah bagi kita semua.

Salam Metta selalu, Namo Buddhaya, Amitofo.

"membuta" adalah suatu konsep yang tidak diketahuinya dengan baik, yang
tidak pernah dilihatnya, yang tidak tahu apapun tentangnya, namun selalu
berpikir dengan awal Ter, contoh Terbaik, Tertinggi, Terhebat, Terkuasa,
Terkasih, dan sebagainya. Sehingga walaupun membuta tapi tetap mendatangkan
hal baik (dalam hal ini umat agama lain percaya dengan TUHAN, konsep ini
dijadikan patokan dan pegangan sehingga setiap harinya berpikir positive).
Untuk mengetahui ini lebih jelas, bisa melihat film "The Secret", dimana
bila seseorang selalu berpikir baik, positive dan bahagia maka energy yang
dipancarkan adalah baik ke alam semesta, maka kehidupan pun menjadi baik
selaras dengan cita-cita orang yang menjalankannya.



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
andreas gunadipo
Sent: 26 September 2008 21:33
To: [email protected]
Subject: [MABINDO] Agama Buddha pelengkap tradisi?

Met mlm rekan-rekan yg budiman,

hampir seminggu ini saya berpetualang di milis tetangga yg juga di
moderatori dan meninggalkan milis yg sejak lama saya huni hampir seminggu
lamanya, saya pikir berdiskusi pada milis yg dimoderatori akan lebih tertib
dan memperoleh jawaban dari topik diskusi yg diajukan ke forum. Namun
ternyata tidak demikian adanya, bahkan sampai sang moderator menutup topik
pembahasan yg saya ajukan, saya tidak memperoleh jawaban dari kebingungan
saya itu. Diskusi ditutup moderator karena beberapa member telah
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yg kurang baik.

Lalu bagaimana dgn rekan-rekan di Mabindo ini, ada yg bisa bantu share
tidak? Begini, dewasa ini ada sebagian besar umat Buddha yg pindah ke agama
lain. Salah satu alasannya karena agama lain itu lebih toleran terhadap
tradisi yg dijalankan oleh masyarakat dewasa ini. Dlm upaya  pemertahanan
eksistensi dan pemaparan ajaran Buddha guna meningkatnya umat baik dari segi
kuantitas maupun kualitas. Ada teman yg menyarankan agar agama Buddha juga
sejalan, mendukung, dan melengkapi tradisi. Saya sebenarnya keberatan jika
ajaran Buddha digunakan utk melengkapi tradisi, krn tidak semua tradisi baik
dan sesuai dgn Dharma.
Mungkin temans disini bisa membantu?


Salam,
Gunadipo 



Kirim email ke