Salam kenal juga saudara Akwang,
singkatnya begini;
didaerah kami perkembangan Buddhisme sudah mulai merambah ke daerah-daerah 
terpencil di kalimantan. Dengan masuknya beberapa guru agama Buddha yg dulunya 
juga memang putra/i daerah setempat yg kuliah di jawa. Di daerah pedalaman 
khususnya teman-teman kita dari suku dayak ternyata leluhur mereka sebagian 
besar memang dahulu sudah mempelajari dan memeluk agama Buddha pada masa 
pendudukan kerajaan mataram & sriwijaya, bukti nyatanya adalah ada sebagian 
kata dlm bahasa dayak setempat yg sama dgn bahasa pali. Juga pada beberapa 
tradisi persembahan org dayak ada yg mirip tradisi dlm buddhisme antara lain: 
mereka mengunakan obor (kita pake lilin), bunga, dupa (stik batangan yg terbuat 
dari kayu gaharu), dll. Nah, berhubung org dayak setempat dgn tradisi leluhur 
yg amat kental, ini juga menjadi salah satu kendala bagi rekan-rekan didlm 
pemaparan agama Buddha disana. Namun saya yakin, teman-teman kita itu akan 
mampu mengembangkan Buddhisme disana, toh mereka sudah ditempa bertahun-tahun 
utk menjadi guru agama buddha yg handal.
Sedikit banyak posting'an saudara sudah memberikan gambaran dan masukkan yg 
bermanfaat bagi saya dan teman-teman guru agama Buddha ditempat kami, hal tsb 
pun akan segera saya sampaikan ke teman-teman, anumodana utk saran-saran yg 
bagus Bro Akwang yg saya pikir juga sudah amat jelas menunjukkan bahwa 
sebenarnya pemaparan ajaran Buddha tdk harus semata-mata melengkapi tradisi yg 
ada.


Salam,
Gunadipo

Akwang Wu wrote:
>             Halo saudara Gunadipo, salam kenal yah.
> Namo Buddhaya, Amitofo.
> Demikianlah yang saya rasakan, diantara semua yang berlabel agama tidak
> kutemukan yang lebih toleransi dalam menerima tradisi, adat istiadat, yang
> dapat ditimbang melalui kebijaksanaan maupun kepintaran, daripada yang
> berlabel agama Buddha.
> Mungkin saudara Gunadipo bisa sharing contoh yang dimaksud sehingga banyak
> saudara-saudara kita yang dapat memberikan masukan, sharing satu dengan yang
> lain, kenapa dikatakan agama Buddha tidak toleran dengan tradisi.
> Demi perkembangan agama Buddha yang selaras Buddha Dhamma, seharusnya kita
> lebih memperhatikan praktik Dhamma yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
> Demikian pendapat saya pribadi: banyak sekali umat Buddha yang mengerti akan
> teori Dhamma bahkan sampai tahu bagaimana karma berbuah, namun realitanya
> kehidupan yang dijalankan sehari-hari tidak menunjukan apa yang diketahui
> dan dipelajarinya, contoh: berpikir benar (Dhammapada pertama kali
> mengutarakan hal ini: Pikiran adalah Pelopor, Pikiran adalah Pemimpin,
> Pikiran adalah Pembentuk, pikiran adalah menjadikan, bila seseorang berpikir
> baik maka kebahagiaan akan selalu menyertainya bagaikan bayang-bayang yang
> tidak pernah meninggalkan bendanya, sebaliknya bila seseorang berpikir buruk
> maka penderitaan akan selalu mengikatnya bagaikan roda pedati yang selalu
> mengikuti keretanya kemanapun pergi.
> Pada realitanya, banyak umat Buddha tidak tahu praktek nyata dari hal ini
> sehingga mereka sering frustasi, putus asa, merasa selalu menerima karma
> buruk, selalu rendah diri dan sebagainya.
> Sedangkan umat dari agama lain, walaupun mereka tidak mengerti akan teori
> diatas, bahkan tidak mengerti akan buah karma yang dilakukan seseorang,
> namun pada realitanya mereka selalu positive thinking, mereka selalu
> berpikir baik, mereka selalu optimis akan kehidupan, mereka merasa selalu
> bahagia, mereka selalu mengerjakan sesuatu dengan bangga dan kebahagiaan,
> yang walaupun dilakukan dengan konsep yang "membuta" sekalipun, sehingga
> mereka menjadikan hidupnya lebih baik dan lebih baik lagi.
> Inilah salah satu contoh dari banyak kejadian nyata dalam kehidupan
> sehari-hari (inilah pendapat saya kenapa banyak orang berlabel agama Buddha
> pindah ke agama lain).
> Mengenai untuk melengkapi tradisi, seharusnya seorang siswa Buddha dituntut
> untuk mempunyai mata kebijaksanaan, mata kepintaran dalam menimbang bahwa
> apakah tradisi yang dilakukan ini baik dan bermanfaat atau sebaliknya atau
> bahkan tidak menghasilkan apa-apa namun hanya menyita waktu dan sia-sia pada
> akhirnya.
> Sebagai satu contoh: Didaerah tertentu ada yang mempunyai tradisi
> turun-temurun dari nenek moyangnya yang sudah ribuan tahun dan dianggapnya
> sacral, suci, dan harus dilaksanakan dan bila tidak akan mendatangkan
> bencana besar, dimana untuk setiap tahunnya diharuskan membunuh makhluk
> hidup (binatang) yang dijadikan sebagai korban persembahan kepada yang
> dianggap yang Mutlak.
> Kita sebagai siswa Buddha dituntut untuk mempunyai mata kebijaksanaan untuk
> menimbang dengan hati murni (hati nurani), hati yang bersih, kepintaran,
> apakah tradisi tersebut harus dikembangkan atau sebaliknya atau bahkan
> diubah sehingga mendatangkan berkah mulia kepada umatnya (penduduknya) ,
> inilah siswa Buddha seharusnya bertindak.
> Satu contoh lagi: Di Afrika, mereka mempunyai tradisi yang kental dan turun
> temurun ribuan tahun lamanya, dan tradisi ini harus dilaksanakan bila tidak
> dilaksanakan maka akan dikutuk sebagai pembawa petaka datangnya bencara
> besar bagi seluruh desa dan penduduknya, tradisi mengharuskan setiap wanita
> harus di Sunat (dengan membuang genital wanita clitoris), dan ini harus
> dilaksanakan untuk setiap wanita selaku penduduk desanya.
> Kita sebagai siswa Buddha dituntut harus mempunyai mata kebijaksanaan
> menilai apakah perbuatan seperti ini baik dan membawa manfaat atau tidak
> baik atau tidak mempunyai pengaruh apapun dan sia-sia atau bagaimana, inilah
> yang dituntut agar siswa Buddha mengembangkan kebijaksanaan.
> Tradisi yang turun temurun dan berumur ribuan tahun lamanya, belum tentu itu
> baik, juga belum tentu itu jelek, maka dari itu guru Buddha selalu
> mengedepankan Ehipasiko, Wisdom, Loving kindness, dan holy.
> Untuk memiliki Ehipasiko, Wisdom, Loving kindness dan holy, siswa Buddha
> dituntut untuk belajar dan mengembangkan Samadhi Benar, tanpa melalui
> Samadhi benar adalah hal yang mustahil seseorang memiliki Wisdom dan holy.
> Dengan Pemurnian pikiranlah seseorang akan timbul kebijaksanaan (Wisdom).
> Jadi mengenai apakah ajaran Buddha dijadikan pelengkap tradisi? Saya pribadi
> merasa seharusnya statement ini diubah dengan statement: seharusnya ajaran
> Buddha dijadikan dasar pemahaman suatu tradisi, dengan Wisdom, Loving
> kindness, Ehipasiko, dan holy, maka suatu tradisi tersebut akan mengalami
> suatu evolusi baru yang dituntut akan perubahan kearah yang lebih baik dan
> inilah yang dapat mendatangkan berkah bagi kita semua.
> Salam Metta selalu, Namo Buddhaya, Amitofo.
> "membuta" adalah suatu konsep yang tidak diketahuinya dengan baik, yang
> tidak pernah dilihatnya, yang tidak tahu apapun tentangnya, namun selalu
> berpikir dengan awal Ter, contoh Terbaik, Tertinggi, Terhebat, Terkuasa,
> Terkasih, dan sebagainya. Sehingga walaupun membuta tapi tetap mendatangkan
> hal baik (dalam hal ini umat agama lain percaya dengan TUHAN, konsep ini
> dijadikan patokan dan pegangan sehingga setiap harinya berpikir positive).
> Untuk mengetahui ini lebih jelas, bisa melihat film "The Secret", dimana
> bila seseorang selalu berpikir baik, positive dan bahagia maka energy yang
> dipancarkan adalah baik ke alam semesta, maka kehidupan pun menjadi baik
> selaras dengan cita-cita orang yang menjalankannya.
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] .com [mailto: [EMAIL PROTECTED] .com ] On Behalf Of
> andreas gunadipo
> Sent: 26 September 2008 21:33
> To: [EMAIL PROTECTED] .com
> Subject: [MABINDO] Agama Buddha pelengkap tradisi?
> Met mlm rekan-rekan yg budiman,
> hampir seminggu ini saya berpetualang di milis tetangga yg juga di
> moderatori dan meninggalkan milis yg sejak lama saya huni hampir seminggu
> lamanya, saya pikir berdiskusi pada milis yg dimoderatori akan lebih tertib
> dan memperoleh jawaban dari topik diskusi yg diajukan ke forum. Namun
> ternyata tidak demikian adanya, bahkan sampai sang moderator menutup topik
> pembahasan yg saya ajukan, saya tidak memperoleh jawaban dari kebingungan
> saya itu. Diskusi ditutup moderator karena beberapa member telah
> mengeluarkan pernyataan-pernyata an yg kurang baik.
> Lalu bagaimana dgn rekan-rekan di Mabindo ini, ada yg bisa bantu share
> tidak? Begini, dewasa ini ada sebagian besar umat Buddha yg pindah ke agama
> lain. Salah satu alasannya karena agama lain itu lebih toleran terhadap
> tradisi yg dijalankan oleh masyarakat dewasa ini. Dlm upaya  pemertahanan
> eksistensi dan pemaparan ajaran Buddha guna meningkatnya umat baik dari segi
> kuantitas maupun kualitas. Ada teman yg menyarankan agar agama Buddha juga
> sejalan, mendukung, dan melengkapi tradisi. Saya sebenarnya keberatan jika
> ajaran Buddha digunakan utk melengkapi tradisi, krn tidak semua tradisi baik
> dan sesuai dgn Dharma.
> Mungkin temans disini bisa membantu?
> Salam,
> Gunadipo
>





Kirim email ke