--- On Sun, 11/30/08, Yadi Go <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Yadi Go <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Dharmajala] Buddha Bar: Eksploitasi komersil 'Buddha image'?
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, November 30, 2008, 10:56 PM










Barat tidak akan bisa dikritik soal kebebasan, alkohol, bahkan kebahagiaan sex 
adalah pahala/buah 'kematangan' mereka. Langkah pemerintah Srilanka tahun 2004 
saya pikir sudah tepat dan cerdas bahwa yang bisa diperdebatkan dari fenomena 
itu adalah dimana kesensitifan/ kepekaan barat terhadap simbol-simbol agama 
yang dipeluk masyarakat dunia? Kalau memang itu dikatakan dapat mengekspos 
kalangan ekslusif dengan Buddhisme sehingga dapat memicu keingintahuan mereka 
terhadap Buddhisme/Dharma, sejauh mana kebenaran dan keefektifannya. Saya 
sertakan berikut dua foto tentang kehidupan malam di sebuah nightclub di Las 
Vegas, tepatnya Tao Night Club, Las Vegas.
Dua buah patung Buddha bercorak Thailand berada di tengah-tengah gedung 
discotik. Jika dalam keremangan dan alunan musik disco seperti itu saya tidak 
melihat adanya korelasi Buddharupang bercorak demikian untuk menimbulkan 
keingintahuan tentang Buddhisme. Saya melihat Buddharupang tersebut hanya 
sebagai ornament bahkan terkesan sebagai bodyguard.
Foto kedua, saran saya percuma mengkritik apa yang sedang dilakukan kedua gadis 
berwajah asia tersebut, Yang bisa kita pertanyakan, seberapa efektif 
kemungkinannya patung-patung Buddha bercorak pindapatta tersebut bisa memicu 
keingintahuan orang tentang Buddhisme sementara mereka disibukkan dengan hingar 
bingar musik dan senda guraw kerabatnya.
YG

Catatan tambahan:
1. Kebuddhaan lahir tidak memilih tempat. Dia bisa lahir di tempat yang bersih 
juga di tempat yang kotor sekalipun. Batin yang bersih tidak tergantung tempat.
2. Budaya mewujudkan Buddha dalam bentuk patung adalah pengaruh Eropa tepatnya 
helenisme. Bukti-buktinya dapat ditemukan di wilayah yang sekarang telah 
menjadi Afganistan. Sebelumnya Buddha diwujudkan dalam bentuk-bentuk simbol 
seperti telapak kaki.





Free Web Hosting 250MB space, 100GB bandwidth

--- On Sun, 11/30/08, Sutar Soemitro <sutarday_night@ yahoo.com> wrote:

From: Sutar Soemitro <sutarday_night@ yahoo.com>
Subject: Re: [Dharmajala] Buddha Bar: Eksploitasi komersil 'Buddha image'?
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Sunday, November 30, 2008, 9:36 PM




Di salah satu televisi lokal Jakarta, saya pernah melihat berita tentang 
peluncuran sebuah seri terbaru handphone yang dipakai James Bond di film 
terbarunya. Saya kaget begitu melihat tepatnya ternyata di Buddha Bar. Di 
berita itu juga terlihat gambar-gambar pengunjung sedang memegang minuman 
beralkohol di depan patung dan tembok bergambar Buddha! Wow! Mereka 
berhaha-hihi tanpa ada ras risi sedikitpun. Terang saja, mereka kebanyakan 
adalah clubhopper dan hampir bisa dipastikan bukan Buddhis.

Mungkin inilah efek negatif dari sebuah ajaran yang selama ini mengagungkan 
tentang kebebasan, walaupun kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan spiritual. 
Tapi kata 'kebebasan' itu pula yang sering membuat kita terlalu toleran dan 
kurang bisa membedakan apakah kebebasan itu baik atau malah justru menjadi 
bumerang buat kita.

Melihat profilnya, ternyata salah satu pemegang saham Buddha Bar Jakarta ini 
adalah anak mantan orang nomer satu Jakarta, Renny Sutiyoso, yang jelas-jelas 
bukan seorang Buddhis. Siapapun pasti akan menyimpulkan bahwa motifnya memakai 
nama Buddha demi kepentingan komersial semata. Dan memang rasanya mustahil 
kalau dia punya motif untuk kebaikan agama Buddha, agama yang bukan dianutnya.


 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke