saya sedikit menanggapi sering saya katakan , kita tidak bisa mencampuradukkan pandangan spiritual dengan kewajiban kita sebagai warga Negara
bahwa kita semua umat Buddha, paling tidak bersatu, untuk memberikan satu atau lebih masukan pada pemerintah dalam hal ini pihak terkait(departemen agama, departemen dalam negeri, kantor menkoinfo) , karena fenomena2 seperti ini jelas jelas ini melanggar hukum positif di Indonesia, kita tidak bisa cuek bebek, lalu menganggap, apalah arti sebuah nama, jujur, kita masih membutuhkan nama dan rupa, dan kita masih dalam tahap belajar untuk tidak lagi membutuhkan nama dan rupa, sehingga dalam proses belajar ini alangkah baiknya juga kita harus melihat sekeliling kita, termasuk tindakan2 pelanggaran undang2 yang terjadi( pemakaian simbol2 agama untuk hal tidak jelas salah satunya), apalagi di Indonesia, sekrg lagi getol2nya, meningkatkan proses toleransi umat beragama ditengah isu2 perpecahan dan pertentangan agama, dengan melakukan tindakan2 yang saya pikir lebih bijaksana, dan tidak salah bila ditengah peran pemerintah yang sedang aktif ini kita juga ikut sekali lagi memberi masukkan, sehingga tidak ada kesan bahwa pemerintah hanya bertindak atas nama satu agama meski kadang saya pesimis juga, karena sorotan publik yang menganggap kita 'kecil' tapi saya menyadari bahwa meski kecil, tapi kita harus membuktikan bahwa kita exist dan berperan serta dalam mewujudkan toleransi umat beragama kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa simbol Buddha rupang adalah pengaruh budaya helenisme dll dll, atau beberapa bagian Buddha rupang sebenarnya adalah toga model Yunani, pose contrapposto Buddha yang rambut keriting gaya Laut Tengah dan sanggul atas yang diambil dari gaya Belvedere Apollo , yang dibawa oleh penaklukan alexander agung abad 4 sm, lalu kita 'membiarkan' fenomena fenomena Buddha bar atau film seperti anger managemen atau beberapa video klip lagu yang dianggap 'melecehkan' sejarah pengaruh budaya ke agama Buddha sudah banyak diketahui dan memang segala hal diatas bukanlah hal utama dalam agama Buddha tapi saya pikir bukan alasan bagi kita untuk tidak memberikan masukan bagi pemerintah kita tetap bisa memberikan protes cerdas dan elegan dalam menanggapi masalah2 ini tanpa harus takut dianggap menyamai apa yang dilakukan beberapa pihak lain terkait masalah pelecehan agama mereka .dan harus dingat bahwa agama Buddha dan segala accesorisnya, tetap merupakan bentuk kesepakatan dan kesepakatan itu telah dilindungi oleh undang2 di Indonesia(salah satu contoh candi Borobudur, dengan rupang2 nya yang juga merupakan pengaruh helenisme)yang menurut saya tetap wajib kita jaga, dan sepatutnyalah pihak lain menghormati hal itu, karena harus diingat bahwa sepanjang pengetahuan saya,hanya Indonesia yang mengakui 5 agama sebagai agama 'negara', dimana negara2 lain tidak ada yang melakukannya, dimana berarti tindakan yang dianggap 'mengganggu' satu agama berarti melanggar undang yang berlaku di Indonesia mungkin demikian tanggapan saya thx On 12/2/08, hanry uttamo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > > > --- On Sun, 11/30/08, Yadi Go <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Yadi Go <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [Dharmajala] Buddha Bar: Eksploitasi komersil 'Buddha image'? > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Sunday, November 30, 2008, 10:56 PM > > Barat tidak akan bisa dikritik soal kebebasan, alkohol, bahkan kebahagiaan > sex adalah pahala/buah 'kematangan' mereka. Langkah pemerintah Srilanka tahun > 2004 saya pikir sudah tepat dan cerdas bahwa yang bisa diperdebatkan dari > fenomena itu adalah dimana kesensitifan/ kepekaan barat terhadap > simbol-simbol agama yang dipeluk masyarakat dunia? Kalau memang itu dikatakan > dapat mengekspos kalangan ekslusif dengan Buddhisme sehingga dapat memicu > keingintahuan mereka terhadap Buddhisme/Dharma, sejauh mana kebenaran dan > keefektifannya. Saya sertakan berikut dua foto tentang kehidupan malam di > sebuah nightclub di Las Vegas, tepatnya Tao Night Club, Las Vegas. > Dua buah patung Buddha bercorak Thailand berada di tengah-tengah gedung > discotik. Jika dalam keremangan dan alunan musik disco seperti itu saya tidak > melihat adanya korelasi Buddharupang bercorak demikian untuk menimbulkan > keingintahuan tentang Buddhisme. Saya melihat Buddharupang tersebut hanya > sebagai ornament bahkan terkesan sebagai bodyguard. > Foto kedua, saran saya percuma mengkritik apa yang sedang dilakukan kedua > gadis berwajah asia tersebut, Yang bisa kita pertanyakan, seberapa efektif > kemungkinannya patung-patung Buddha bercorak pindapatta tersebut bisa memicu > keingintahuan orang tentang Buddhisme sementara mereka disibukkan dengan > hingar bingar musik dan senda guraw kerabatnya. > YG > > Catatan tambahan: > 1. Kebuddhaan lahir tidak memilih tempat. Dia bisa lahir di tempat yang > bersih juga di tempat yang kotor sekalipun. Batin yang bersih tidak > tergantung tempat. > 2. Budaya mewujudkan Buddha dalam bentuk patung adalah pengaruh Eropa > tepatnya helenisme. Bukti-buktinya dapat ditemukan di wilayah yang sekarang > telah menjadi Afganistan. Sebelumnya Buddha diwujudkan dalam bentuk-bentuk > simbol seperti telapak kaki. > > Free Web Hosting 250MB space, 100GB bandwidth > > --- On Sun, 11/30/08, Sutar Soemitro <sutarday_night@ yahoo.com> wrote: > > From: Sutar Soemitro <sutarday_night@ yahoo.com> > Subject: Re: [Dharmajala] Buddha Bar: Eksploitasi komersil 'Buddha image'? > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Date: Sunday, November 30, 2008, 9:36 PM > > Di salah satu televisi lokal Jakarta, saya pernah melihat berita tentang > peluncuran sebuah seri terbaru handphone yang dipakai James Bond di film > terbarunya. Saya kaget begitu melihat tepatnya ternyata di Buddha Bar. Di > berita itu juga terlihat gambar-gambar pengunjung sedang memegang minuman > beralkohol di depan patung dan tembok bergambar Buddha! Wow! Mereka > berhaha-hihi tanpa ada ras risi sedikitpun. Terang saja, mereka kebanyakan > adalah clubhopper dan hampir bisa dipastikan bukan Buddhis. > > Mungkin inilah efek negatif dari sebuah ajaran yang selama ini mengagungkan > tentang kebebasan, walaupun kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan > spiritual. Tapi kata 'kebebasan' itu pula yang sering membuat kita terlalu > toleran dan kurang bisa membedakan apakah kebebasan itu baik atau malah > justru menjadi bumerang buat kita. > > Melihat profilnya, ternyata salah satu pemegang saham Buddha Bar Jakarta ini > adalah anak mantan orang nomer satu Jakarta, Renny Sutiyoso, yang jelas-jelas > bukan seorang Buddhis. Siapapun pasti akan menyimpulkan bahwa motifnya > memakai nama Buddha demi kepentingan komersial semata. Dan memang rasanya > mustahil kalau dia punya motif untuk kebaikan agama Buddha, agama yang bukan > dianutnya. > > [Non-text portions of this message have been removed] > >
