Namo Buddhaya,

Pagi ini saya telah menjenguk Sdr. Hendra Wijana, dan pagi ini
harus di operasi sekali lagi. Kepala Sdr. Hendra sangat bengkak,
mungkin karena ada gumpalan darah di daerah kepala.

Beliau dalam keadaan Koma.

Mohon bantuan teman-teman untuk dapat meringankan beban biaya
Istri Sdr. Hendra Wijana. Sejenak ketika saya berbicara dengan
isrinya, saya diinformasikan bahwa biaya terhutang ke rumah
sakit adalah lebih kurang: Rp. 170 juta. Dari asuransi sudah
keluar Rp. 20 juta.

Rp. 170 juta itu adalah per hari ini, tidak termasuk biaya
per hari yang dikeluarkan di ICU.

Mettacitena,
Sutedja Tjandra

----- Forwarded Message ----
From: Nelly Winata <[email protected]>


Jakarta , 16 Desember 2008 


Omitofo…

Menindaklanjuti kabar berita duka dari salah satu saudara sedhamma 
kita Bapak Hendra Wijana yang sedang dinyatakan dalam kondisi kritis 
(koma) oleh dokter di rumah sakit Siloam, maka perkenankanlah saya, 
Nelly Winata (salah satu staff Pak Hendra di kantor) mewakili rekan-
rekan yang lain menulis bagaimana Pak Hendra dimata kami dan 
bagaimana kronologis kejadian sejauh yang saya ketahui dari keadaan 
yang saya lihat dan dengar dari pihak keluarga, lebih dan kurang saya 
mohon maaf.

Pada hari Senin pagi tanggal 15 Desember 2008 kemarin, seperti biasa 
Pak Hendra dan istri tercinta berangkat ke kantor untuk memulai 
aktivitas, mereka ke kantor dengan menggunakan kendaraan umum, kata 
Pak Hendra "Untuk mengurangi Global Warming Nell dan bisa beli koran 
dari asongan, itung-itung bantu mereka sedikit", saya hanya tertawa 
dan berkata "Ya Pak, kalo bukan dimulai dari kita siapa lagi". Pak 
Hendra orang yang sangat baik dan asik, sebagai atasan beliau sangat 
sabar dan bijak, kami sering meminta masukan saran dan kritik dari 
beliau (walaupun beliau jarang mengkritik orang lain). Pak Hendra 
sering melaksanakan apa yang sering dia katakan, Pak Hendra bukan 
orang dengan tipe NATO (no action talk only alias omdo, omong doank).

Pak Hendra naik mini bus melalui pintu belakang dan sang istri di 
pintu depan, Pak Hendra bilang ke istri "Sudah saya bayar ya" maksud 
Pak Hendra, ongkos angkutannya sudah dibayari (jika kami bertemu di 
angkutan umum dengan Pak Hendra, tak jarang Pak Hendra membayar 
ongkos kami juga, kata Pak Hendra "Sekalian"). Sebelum turun dari 
angkutan Pak Hendra masih sempat bilang ke istri "Hati-hati ya", sang 
istri menjawab "Iya". 

Pak Hendra turun di Slipi kemudian naik bis (biasanya Patas 6) ke 
arah Gatot Subroto, hari itu entah bagaimana Pak Hendra jatuh dari 
bis saat hendak turun di halte bis Farmasi/Senayan, dan langsung 
tidak sadarkan diri. Pak Hendra ditolong oleh Polantas wanita bernama 
Lusi dan masyarakat sekitar, kemudian dibawa ke RS AL Mintohardjo 
sebagai rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. 

Ci Liana (istri Pak Hendra) dihubungi dan datang ke RS AL 
Mintohardjo, Benhil. Karena kondisi Pak Hendra yang sangat serius 
serta peralatan dan fasilitas yang terbatas di rumah sakit tersebut 
maka pihak keluarga memutuskan membawa Pak Hendra Wijana ke RS. 
Siloam Glean Eagles Karawaci dengan heli (karena butuh penanganan 
yang cepat). 

Dokter mengatakan kondisi Pak Hendra kritis, Pak Hendra mengalami 
lumpuh setengah badan, dikarenakan pendarahan dan pembengkakan di 
otaknya, sehingga tindakan operasi harus segera dilakukan. Pak Hendra 
mengalami benturan yang sangat keras sehingga tengkorak kepalanya 
retak dan tulang kepala masuk ke otak, sehingga mengalami pendarahan 
di sebelah kanan yang cukup hebat, otak mengalami stress (penekanan 
yang cukup hebat), dalam beberapa hari ini akan membengkak, untuk 
memberikan ruang dalam proses pembengkakan otaknya maka batok kepala 
sebelah kanan harus dilubangi. Operasi pada hari itu tanggal 15 
Desember 2008 dilaksanakan sekitar 5,5 jam dari pukul ±12.00WIB 
sampai dengan ±17.30WIB. 

Pada hari ini tanggal 16 Desember 2008 pihak rumah sakit memutuskan 
untuk melakukan operasi ke 2 karena otak Pak Hendra kembali mengalami 
pendarahan. Operasi dilakukan dari pukul ±12.00WIB, sampai saat saya 
menulis ini pukul ±14.30WIB belum diketahui kondisinya. Sejak jatuh 
sampai dengan saat ini beliau tidak sadarkan diri dan dinyatakan 
dalam kondisi kritis (koma). Masa kritis 4-7 hari. 

Kami semua rekan rekan dan sahabat Pak Hendra Wijana berharap agar 
Pak Hendra Wijana dapat melewati fase masa kritis ini, sehingga dapat 
segera pulih tanpa kekurangan satu apapun dan tidak mengalami hal hal 
yang tidak diinginkan.

Sebagai informasi tambahan:
1.      Dokter yang menangani Pak Hendra Wijana adalah dr. Eka W. J 
2.      Sekarang Pak Hendra ada di RS. Siloam Karawaci, ruang ICU, 
jam besuk 
•       11.00WIB – 13.00WIB dan 
•       18.00WIB – 20.00WIB

Karena biaya rumah sakit yang sangat besar dan kepedulian serta 
menanggapi usulan dari rekan-rekan sedhamma maka melalui milis ini 
kami ingin berbagi ladang menanam karma baik kepada teman-teman 
sedhamma, mulai hari ini kami membuka Dompet Peduli untuk sedikit 
membantu meringankan beban keluarga.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 
•       Ci Liana (istri Pak Hendra Wijana) di nomor 0818 0703 6951
•       Nelly Winata (staff Pak Hendra) di nomor 0817 865 705 

Penggalangan dana melalui:
1.      Rekening                : BCA 
                Nomor Rekening  : 527 049 6867
                Atas Nama               : Nelly Winata
                        
atau

        2.      Rekening                : Lippo
                Nomor Rekening  : 572 100 66 101
                Atas Nama               : Nelly Winata

Mohon untuk menambahkan angka 1 dibelakang dana yang ditransfer, guna 
memudahkan administrasi pembukuan penggalangan dana. 
Contoh: Rp 100.000 menjadi Rp 100.001
Rp 500.000 menjadi Rp 500.001

Konfirmasi dana yang telah ditransfer:
Saudari Nelly Winata di nomor 0817 865 705, e-mail: 
[email protected]

Laporan pemasukan dan pengeluran dana akan diupdate setiap minggu.
Semoga karma baik dapat berbuah tepat pada waktunya.

Terima kasih.

Omitofo… 


Kirim email ke