sosok Pak Hendra di mata saya,

Secara personal, saya tidak pernah bertemu muka dengan sosok Pak
Hendra Wijana ini, selama ini hanya berkomunikasi lewat email, tp
beliau sangat help full & sangat royal untuk berbagi ilmu ... rendah
diri & senang belajar dhamma...

Semoga Pak Hendra segera pulih seperti sedia kala, 
Semoga karma baik Pak Hendra berbuah pada saat sekarang.

Thanks Opa atas informasinya 

with metta,
rindi

--- In [email protected], "sutedja_tj88" <sutedja_t...@...> wrote:
>
> Namo Buddhaya,
> 
> Pagi ini saya telah menjenguk Sdr. Hendra Wijana, dan pagi ini
> harus di operasi sekali lagi. Kepala Sdr. Hendra sangat bengkak,
> mungkin karena ada gumpalan darah di daerah kepala.
> 
> Beliau dalam keadaan Koma.
> 
> Mohon bantuan teman-teman untuk dapat meringankan beban biaya
> Istri Sdr. Hendra Wijana. Sejenak ketika saya berbicara dengan
> isrinya, saya diinformasikan bahwa biaya terhutang ke rumah
> sakit adalah lebih kurang: Rp. 170 juta. Dari asuransi sudah
> keluar Rp. 20 juta.
> 
> Rp. 170 juta itu adalah per hari ini, tidak termasuk biaya
> per hari yang dikeluarkan di ICU.
> 
> Mettacitena,
> Sutedja Tjandra
> 
> ----- Forwarded Message ----
> From: Nelly Winata <winata_ne...@...>
> 
> 
> Jakarta , 16 Desember 2008 
> 
> 
> Omitofo…
> 
> Menindaklanjuti kabar berita duka dari salah satu saudara sedhamma 
> kita Bapak Hendra Wijana yang sedang dinyatakan dalam kondisi kritis 
> (koma) oleh dokter di rumah sakit Siloam, maka perkenankanlah saya, 
> Nelly Winata (salah satu staff Pak Hendra di kantor) mewakili rekan-
> rekan yang lain menulis bagaimana Pak Hendra dimata kami dan 
> bagaimana kronologis kejadian sejauh yang saya ketahui dari keadaan 
> yang saya lihat dan dengar dari pihak keluarga, lebih dan kurang saya 
> mohon maaf.
> 
> Pada hari Senin pagi tanggal 15 Desember 2008 kemarin, seperti biasa 
> Pak Hendra dan istri tercinta berangkat ke kantor untuk memulai 
> aktivitas, mereka ke kantor dengan menggunakan kendaraan umum, kata 
> Pak Hendra "Untuk mengurangi Global Warming Nell dan bisa beli koran 
> dari asongan, itung-itung bantu mereka sedikit", saya hanya tertawa 
> dan berkata "Ya Pak, kalo bukan dimulai dari kita siapa lagi". Pak 
> Hendra orang yang sangat baik dan asik, sebagai atasan beliau sangat 
> sabar dan bijak, kami sering meminta masukan saran dan kritik dari 
> beliau (walaupun beliau jarang mengkritik orang lain). Pak Hendra 
> sering melaksanakan apa yang sering dia katakan, Pak Hendra bukan 
> orang dengan tipe NATO (no action talk only alias omdo, omong doank).
> 
> Pak Hendra naik mini bus melalui pintu belakang dan sang istri di 
> pintu depan, Pak Hendra bilang ke istri "Sudah saya bayar ya" maksud 
> Pak Hendra, ongkos angkutannya sudah dibayari (jika kami bertemu di 
> angkutan umum dengan Pak Hendra, tak jarang Pak Hendra membayar 
> ongkos kami juga, kata Pak Hendra "Sekalian"). Sebelum turun dari 
> angkutan Pak Hendra masih sempat bilang ke istri "Hati-hati ya", sang 
> istri menjawab "Iya". 
> 
> Pak Hendra turun di Slipi kemudian naik bis (biasanya Patas 6) ke 
> arah Gatot Subroto, hari itu entah bagaimana Pak Hendra jatuh dari 
> bis saat hendak turun di halte bis Farmasi/Senayan, dan langsung 
> tidak sadarkan diri. Pak Hendra ditolong oleh Polantas wanita bernama 
> Lusi dan masyarakat sekitar, kemudian dibawa ke RS AL Mintohardjo 
> sebagai rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. 
> 
> Ci Liana (istri Pak Hendra) dihubungi dan datang ke RS AL 
> Mintohardjo, Benhil. Karena kondisi Pak Hendra yang sangat serius 
> serta peralatan dan fasilitas yang terbatas di rumah sakit tersebut 
> maka pihak keluarga memutuskan membawa Pak Hendra Wijana ke RS. 
> Siloam Glean Eagles Karawaci dengan heli (karena butuh penanganan 
> yang cepat). 
> 
> Dokter mengatakan kondisi Pak Hendra kritis, Pak Hendra mengalami 
> lumpuh setengah badan, dikarenakan pendarahan dan pembengkakan di 
> otaknya, sehingga tindakan operasi harus segera dilakukan. Pak Hendra 
> mengalami benturan yang sangat keras sehingga tengkorak kepalanya 
> retak dan tulang kepala masuk ke otak, sehingga mengalami pendarahan 
> di sebelah kanan yang cukup hebat, otak mengalami stress (penekanan 
> yang cukup hebat), dalam beberapa hari ini akan membengkak, untuk 
> memberikan ruang dalam proses pembengkakan otaknya maka batok kepala 
> sebelah kanan harus dilubangi. Operasi pada hari itu tanggal 15 
> Desember 2008 dilaksanakan sekitar 5,5 jam dari pukul ±12.00WIB 
> sampai dengan ±17.30WIB. 
> 
> Pada hari ini tanggal 16 Desember 2008 pihak rumah sakit memutuskan 
> untuk melakukan operasi ke 2 karena otak Pak Hendra kembali mengalami 
> pendarahan. Operasi dilakukan dari pukul ±12.00WIB, sampai saat saya 
> menulis ini pukul ±14.30WIB belum diketahui kondisinya. Sejak jatuh 
> sampai dengan saat ini beliau tidak sadarkan diri dan dinyatakan 
> dalam kondisi kritis (koma). Masa kritis 4-7 hari. 
> 
> Kami semua rekan rekan dan sahabat Pak Hendra Wijana berharap agar 
> Pak Hendra Wijana dapat melewati fase masa kritis ini, sehingga dapat 
> segera pulih tanpa kekurangan satu apapun dan tidak mengalami hal hal 
> yang tidak diinginkan.
> 
> Sebagai informasi tambahan:
> 1.    Dokter yang menangani Pak Hendra Wijana adalah dr. Eka W. J 
> 2.    Sekarang Pak Hendra ada di RS. Siloam Karawaci, ruang ICU, 
> jam besuk 
> •     11.00WIB – 13.00WIB dan 
> •     18.00WIB – 20.00WIB
> 
> Karena biaya rumah sakit yang sangat besar dan kepedulian serta 
> menanggapi usulan dari rekan-rekan sedhamma maka melalui milis ini 
> kami ingin berbagi ladang menanam karma baik kepada teman-teman 
> sedhamma, mulai hari ini kami membuka Dompet Peduli untuk sedikit 
> membantu meringankan beban keluarga.
> 
> Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 
> •     Ci Liana (istri Pak Hendra Wijana) di nomor 0818 0703 6951
> •     Nelly Winata (staff Pak Hendra) di nomor 0817 865 705 
> 
> Penggalangan dana melalui:
> 1.    Rekening                : BCA 
>               Nomor Rekening  : 527 049 6867
>               Atas Nama               : Nelly Winata
>                       
> atau
> 
>       2.      Rekening                : Lippo
>               Nomor Rekening  : 572 100 66 101
>               Atas Nama               : Nelly Winata
> 
> Mohon untuk menambahkan angka 1 dibelakang dana yang ditransfer, guna 
> memudahkan administrasi pembukuan penggalangan dana. 
> Contoh:       Rp 100.000 menjadi Rp 100.001
> Rp 500.000 menjadi Rp 500.001
> 
> Konfirmasi dana yang telah ditransfer:
> Saudari Nelly Winata di nomor 0817 865 705, e-mail: 
> winata_ne...@...
> 
> Laporan pemasukan dan pengeluran dana akan diupdate setiap minggu.
> Semoga karma baik dapat berbuah tepat pada waktunya.
> 
> Terima kasih.
> 
> Omitofo…
>


Kirim email ke