Dari: milis Samaggiphala Dari: yolanda sugani [yolanda2...@...]
Kalau boleh saya ikutan menjawab dalam bahasa umat awam, berdasarkan pengalaman saya sejak mulai belajar meditasi 4 bulan yang lalu... Pengertian meditasi bagi saya adalah mempertahankan suatu sikap badan tertentu, kemudian pikiran dipusatkan pada suatu objek yang dipilih. Sasaran meditasi awalnya adalah mengendalikan tubuh kita yang kasar.. misalnya menahan kesemutan, sakit dipinggang, menahan gatal, dsbnya... Setelah tubuh yang kasar ini bisa kita kendalikan, kita mulai belajar menyadari pikiran yang jauh lebih halus dari jasmani kita.. Dengan konsentrasi dan menyadari setiap pikiran yang timbul, nantinya kita akan mulai belajar mengendalikan pikiran. Waktu 6 hari pertama saya mengikuti meditasi, saya merasa seperti orang bodoh.. Duduk diam dan menahan sakit disana sini , tanpa saya ketahui untuk apa... Namun pada hari pertama saya kembali ke masyarakat, selesai dari meditasi yang saya ikuti, saya langsung menyadari manfaat meditasi... Setiap gerak tubuh, bahkan langkah kaki kanan kiri pun, begitu saja saya sadari.. Pikiran dan perasaan juga demikian.. Kalau dulu saya marah besar, baru kemudian menyesal, sepulang dari meditasi tidak demikian... Saat kemarahan timbul, langsung saya sadari.. kemudian diamati dan akhirnya saya kendalikan sehingga tidak jadi diwujudkan dalam ucapan ataupun perbuatan... Itu manfaat meditasi buat saya... menjadi lebih sabar, lebih tenang secara batin, dan lebih mudah puas dan bahagia. Karena dengan meditasi kita dapat selalu menyadari hidup hanya pada saat ini, kekinian.. Juga dalam segi kesehatan, punggung belakang saya yang dulu kala selalu sakit, sembuh seketika waktu saya bermeditasi.. mau coba ?? Manfaat meditasi yang lebih dalam ( bukan pengalaman saya, tapi menurut petunjuk Bhante) adalah melatih melepaskan keegoan.. Jadi ketika belajar bermeditasi, tidak usah berpikir apa yang akan kita dapat dari meditasi.. Justru kita melepaskan ke-aku-an kita saat bermeditasi.. Dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya dalam dhamma.. Semoga sharing ini bisa bermanfaat. Salam metta, Yolanda ================================== HUDOYO: Anumodana dan turut bermudita-citta, Rekan Yolanda, atas sharing pengalaman & manfaat yang Anda rasakan setelah Anda mengikuti retret vipassana. Apa yang Anda alami itu dialami pula oleh teman-teman yang mengikuti retret MMD, dengan beberapa perbedaan penting sebagai berikut: (1) Dalam retret MMD tidak ada meditasi yang ditandai sebagai "mempertahankan suatu sikap badan tertentu, kemudian pikiran dipusatkan pada suatu objek yang dipilih". Yang ditekankan dalam retret MMD adalah 'sati', bukan 'konsentrasi' (samadhi) dalam arti memusatkan perhatian pada SATU objek terus-menerus untuk waktu lama. 'Duduk diam', dalam arti tidak ada satu otot pun bergerak memang dianjurkan untuk dialami, untuk memperoleh pengalaman tentang 'sati' yang kuat, tapi 'duduk diam' itu sendiri tidak dianjurkan untuk dilakukan lebih dari setengah jam, sekalipun ada banyak peserta yang mampu 'duduk diam' sampai satu jam atau bahkan lebih. Tetapi yang ditekankan di sini ialah bahwa 'duduk diam' itu tidak dijadikan sebagai suatu 'metode', suatu 'tujuan', untuk 'mencapai sesuatu'. Kalau terjadi yang demikian, hendaklah disadari bahwa itu adalah keserakahan dari si aku yang ingin mencapai sesuatu dari meditasi yang dilakukannya. Jadi dalam retret MMD tidak ada "sasaran untuk MENGENDALIKAN badan jasmani, lalu MENGENDALIKAN pikiran." -- Yang penting adalah 'sati', bila 'sati' berkembang, maka DENGAN SENDIRINYA orang bebas dari rongrongan badan jasmani, pikiran dan si aku, tanpa suatu usaha untuk "mengendalikan". (2) Dalam retret MMD, yang ditekankan adalah 'menyadari gerak-gerik aku/diri/atta' sedalam-dalamnya, termasuk keinginan & usaha dari aku/diri/atta ini untuk berkonsentrasi, untuk bermeditasi, untuk mampu mengendalikan jasmani & pikiran, untuk memperoleh kebahagiaan meditasi, untuk menjadi "orang baik", yang lebih sabar, lebih puas, lebih bahagia dalam kehidupan sehari-hari, dsb, oleh karena keadaan-keadaan seperti itu tetap saja terkena dukkha, terkena anicca, dan pada akhirnya tidak akan pernah memuaskan. Jadi, dalam retret MMD semua itu tidak dianggap sebagai 'hasil' dari vipassana, malah kalau orang merasa itu sebagai 'hasil' dari vipassana, itu masih termasuk 'kotoran vipassana' (vipassana-upakilesa). Titik berat dalam retret MMD adalah menyadari munculnya aku/diri/atta yang selama ini telah mendorong manusia lahir kembali berulang-ulang dalam eksistensi/keberadaan yang sesungguhnya adalah dukkha. Kalau mau dibilang "tujuan" retret MMD adalah menyadari munculnya aku/diri/atta itu sendiri dari saat ke saat, karena begitu disadari aku/diri/atta itu akan langsung lenyap kembali. Di situ kita belajar fakta yang diajarkan oleh Sang Buddha: itulah dukkha dan lenyapnya dukkha. Itu saja. Retret MMD tidak mencari 'kebahagiaan tertinggi', karena tidak seorang pun yang masih dirongrong oleh aku/diri/atta ini tahu apa itu 'kebahagiaan tertinggi'. Dan dukkha serta lenyapnya dukkha itu bisa dirasakan langsung oleh pemeditasi MMD yang benar-benar--seperti kata Anda--berada pada saat kini, tanpa dirongrong oleh aku & pikirannya (sesuai dengan Bahiya-sutta). Itu bisa dialami sendiri oleh para peserta retret MMD, terutama yang satu minggu, tanpa harus bergantung pada apa kata bhante. Di situ ia bisa mengalami sendiri kebenaran fakta yang ditunjukkan oleh Sang Buddha, tentang aku/diri yang melekat pada badan & batin ini sebagai dukkha dan tentang lenyapnya dukkha itu, yakni berhentinya aku/diri/atta beserta pikrian & keinginan dsb, dalam keheningan ketika semua itu berhenti, sekalipun hanya untuk satu detik, dua detik, satu menit, dua menit dst. Inilah yang oleh alm. Ajahn Buddhadasa Mahathera disebut "mencicipi nibbana pada saat ini di sini". Salam, Hudoyo Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com
